ADVERTISEMENT

Ambisi Beli Mobil Avanza di Usia 23 Demi Disegani di Desa, Berujung Sumpek karena Ekspektasi dan Tetangga Iri-Dengki

Ambisi beli mobil pribadi Toyota Avanza di usia 23 biar disegani. Berujung sumpek sendiri karena tetangga di desa cuma bisa iri-dengki dan seenaknya sendiri berekspektasi MOJOK.CO

Niat awalnya, membeli mobil pribadi Toyota Avanza menjadi upaya agar disegani oleh tetangga di desa. Tapi ujungnya justru sumpek sendiri karena warga di desa tahunya cuma iri-dengki dan seenaknya sendiri dalam berekspektasi

***

Pada awalnya Salik (26) tidak terpikir bahwa sebuah mobil pribadi, milik sendiri, benar-benar akan terparkir di halaman depan rumahnya yang sempit di sebuah desa di Jawa Tengah. 

Toh mobilitas sehari-hari masih bisa dilakukan dengan motor. Kendati sebenarnya Salik sudah bisa menyetir mobil karena sudah belajar dari temannya semasa SMA. 

Ambisi membeli mobil pribadi baru muncul sejak semester awal ia kuliah. Pemicunya adalah omongan tetangga

Anggapan kuliah akan sia-sia kalau ujungnya beli mobil pribadi saja tidak bisa

Pada masa-masa awal kuliah, Salik sudah kerap mendengar suara-suara sumbang tentang dirinya. Pasalnya, kuliah adalah perkara tidak populer di desanya. 

Persepsi kebanyakan orang desanya, terutama tetangga, tentang kuliah adalah aktivitas buang-buang uang yang tidak karuan hasilnya. Belum tentu lulus jadi “orang”. 

“Waktu itu, ada teman desa yang lulus SMA langsung kerja di Malaysia. Baru dua tahun terus bisa beli mobil pribadi. Dari situlah tetangga banding-bandingkan, seandainya aku nggak kemenyek (sok-sok’an) buat kuliah, alias langsung kerja, pasti sudah kebeli mobil,” ujar Salik, Sabtu (14/3/2026). 

Sebagai pemuda 20-an tahun, pada masa itu, pikiran Salik jelas terdistraksi. Ia mulai mempertanyakan keputusannya sendiri yang mantap untuk kuliah. Jangan-jangan benar kata tetangga: kalau setelah lulus ia tidak bisa membuktikan diri bisa mencapai ekspektasi tersebut, habis ia dan keluarga.

Apalagi, standar sukses ala warga di desa Salik adalah harus berwujud “barang besar”: mobil, rumah, atau tanah. Bagi mereka, gelar S1 mah tidak penting-penting amat.

Mobil Toyota Avanza terbeli di ujung usia 23, bikin takjub orang desa

Kalau ada anak muda, kerja, lalu bisa membeli mobil pribadi dari hasilnya kerjanya tersebut, wah akan langsung dielu-elukan. Seperti teman desa Salik, di awal-awal si teman membeli mobil, namanya tak luput dari puji-pujian. 

“Hebat tenan, kerja 2 tahun langsung bisa beli mobil.”

“Ya begitu jadi anak muda. Kerja sungguh-sungguh, hasilnya  kelihatan.” Dan ungkapan-ungkapan sejenis. Jika sudah begitu, orang tua si teman pun turut ketiban rasa segan. 

Singkat cerita, setelah menuntaskan masa kuliah tepat waktu dan bekerja di bidang pertanahan mengikuti saudara, Salik menaruh wishlist: target pertama adalah memarkir mobil pribadi di halaman rumah. 

Wishlist tersebut benar-benar terwujud. Karena syukurnya, tanpa harus menabung lama-lama, ada momen ketika ia “jackpot” dari hasil deal-dealan sebuah properti besar. Uang bonus yang diterimanya pun besar. 

“Tapi ya belum cukup lah kalau langsung beli mobil. Jadi tetap aku ambil tambahan (pinjaman) dari bank. Dan terbeli lah Toyota Avanza bekas, tahun 2017. Gagah lah kalau diparkir di halaman rumah,” ungkap Salik. 

Sesuai ekspektasi dan ambisi Salik, hal itu membuat warga desa—terutama tetangga—takjub dengan pencapaian Salik. Apalagi tidak ada yang tahu kalau Salik belinya juga harus nyari tambahan dari bank. Orang-orang tahunya itu cash. Dan terlebih mobil Toyota Avanza tersebut terbeli di usia Salik yang masih sangat muda: di ujung usia 23 (menjelang 24 tahun). 

Baca halaman selanjutnya…

Berujung sumpek sendiri karena selalu salah di mata orang desa yang bisanya iri dengki!

Terakhir diperbarui pada 4 Juli 2026 oleh .

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.