Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Urban

Jadi Gembel di Perantauan tapi Berlagak Tajir saat Pulang, Bohongi Ortu biar Tak Kepikiran Anaknya Remuk-remukan

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
21 Maret 2026
A A
Jadi gembel di perantauan tapi berlagak tajir pas pulang kampung. Siasat pura-pura baik-baik saja agar orang tua tidak kepikiran MOJOK.CO

Ilustrasi - Jadi gembel di perantauan tapi berlagak tajir pas pulang kampung. Siasat pura-pura baik-baik saja agar orang tua tidak kepikiran. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Berlagak tajir saat pulang kampung menjadi siasat agar terlihat baik-baik saja di hadapan orang tua. Semata agar orang tua tidak kepikiran dengan kondisi sang anak yang jadi gembel dan remuk-remukan saat di perantauan. 

***

Belakangan ada istilah “orang kaya palsu”, untuk menggambarkan orang-orang yang berlagak kaya demi status soisal di masyarakat. Padahal kondisi finansialnya tidak aman-aman amat. Motifnya lebih ke arah gengsi. 

Namun, ada juga orang yang pura-pura kaya bukan karena ingin pamer ke tetangga. Melainkan demi menenangkan hati orang tua yang kerap kepikiran dengan nasib anak di perantauan. 

Jadi gembel dan hancur-hancuran di perantauan​​

Lewat tengah malam, saat perut keroncongan, alih-alih membeli sebungkus nasi, Andik (26) justru memilih melipir ke toko kelontong Madura. Ia lalu membeli dua bungkus roti Aoka. Bukan semata untuk mengganjal perut, tapi memang sebagai pengganti makan malam itu. 

Kebiasaan itu sudah Hendi lakukan sejak kuliah hingga sekarang kerja dobel-dobel di Surabaya. 

Di pagi hingga sore hari, Andik bekerja sebagai tukang sablon. Ia akan istirahat sejenak di waktu Magrib hingga Isya. Setelah itu ia akan menyalakan aplikasi oranye-nya: mencari orderan pesan-antar makanan hingga lewat tengah malam. 

“Kalau tukang sablon itu upahnya Rp2,5 juta. Jadi tetep harus nyambi jadi driver buat tambahan. Kalau driver memang sudah zaman kuliah,” tutur Andik. 

Sejak di perantauan—sejak kuliah hingga sekarang—Andik memang lebih sering nggembel. Ia tinggal di kos Rp350 ribu. Memang cari yang murah-murahan meski itu artinya tidak menawarkan kenyamanan. 

Rp350 ribu itu, kata Andik, kosongan. Karena eman mengeluarkan uang untuk beli kasur dan lemari. Andik lebih sering tidur beralas sajadah. Sementara baju-bajunya dibeber di atas alas sarung yang tidak terpakai. 

Begitu juga dengan persoalan makan. Sehari-hari ia makan dua kali. Namun itu pun dengan menu tidak pasti. Misalnya, jika siang hari sudah keluar uang makan Rp10 ribu saja, maka malamnya jangan sampai lebih. Begitu juga sebaliknya. 

“Kalau siang makan soto, anggap lah Rp12 ribu. Malamnya cari makan Rp8 ribuan atau makan roti atau mie instan,” kata Andik.

Momen untung jelas ketika salat Jumat. Jatah uang makan berkurang karena ia akan berebut menu makan gratis di masjid. Apalagi saat Ramadan, ia bisa berpindah dari satu masjid ke masjid lain untuk mencari buka puasa gratis. Sebelum ke masjid pun biasanya ia akan melipir terlebih dulu untuk berburu titik-titik bagi-bagi takjil. 

Numpang di kos teman cuma bayar Rp100 ribu

Nasib tidak jauh berbeda juga diceritakan Ratih (26), sarjana yang kerja 15 jam dengan gaji kerdil dan THR cuma Rp50 ribu di Sidoarjo.

Iklan

Dalam rentang 2022-2024, Ratih bekerja dengan gaji Rp1,8 juta, di sebuah tempat yang tidak mau ia sebut. 

Saat itu, perempuan asal Mojokerto itu, yang baru saja lulus kuliah, memang harus menjadi tulang punggung bagi ibunya yang hidup sebagai single fighters. 

Gaji sekerdil itu dapat apa? Makan sendiri saja tidak cukup. Apalagi untuk lain-lain. Maka, ia gunakan uang tersebut untuk dikirim ke ibu. Sementara ia hanya mengambil sisa-sisanya. 

Untungnya, ia punya seorang teman baik yang memperbolehkannya numpang di kosnya. Sebenarnya ngekos berdua. Tapi karena si teman meminta Ratih hanya membayar Rp100 ribu dari total Rp750 ribu, Ratih lebih suka menyebutnya numpang. 

Lapar melilit di perantauan, tapi bilang sudah kenyang saat orang tua menelepon

Bukan tanpa alasan kenapa Andik memilih nggembel di perantauan. Sebab, sebagian banyak uang yang ia dapat dari kerja sablon, mesti ia kirim ke rumah. Untuk menyokong kehidupan orang tuanya di Bojonegoro, Jawa Timur, yang sehari-hari hanya petani.

Relatif Andik hanya mengandalkan pemasukan dari menjadi driver pesan-antar makanan untuk bertahan hidup. 

“Dulu kuliah sama juga sebenarnya. Jadi aku dapat Bidikmisi (KIP Kuliah), uang dari situ aku bagi juga ke orang tua, walaupun nggak banyak. Makanya dari kuliah udah jadi driver. Tapi sebelum itu sempat juga jaga warkop,” ungkap Andik. 

Sejak kuliah pula Andik terbiasa berbohong kepada orang tuanya di rumah. Setiap orang tua menelepon dan bertanya, “Apakah Andik sudah makan?”, Andik selalu menjawab “Sudah, tadi/barusan.”

“Kujawab kadang nasi goreng, soto, pecel, penyetan. Walaupun sering kali hanya mie instan. Biar mereka nggak kepikiran kalau sebenarnya aku nahan lapar sekali, perut melilit,” ucap Andik. 

Apalagi saat tengah menanti orderan di restoran-restoran tertentu. Bau dapur restoran dan penampakan orang-orang yang tengah menyantap makanan di meja kerap membuat bunyi “krucuk” di perut Andik makin nyaring. 

Capek kerja, berharap tidur nyenyak biar tidak kelaparan 

Sementara Ratih, kerap kali hanya mengandalkan makan siang dan camilan-camilan gratis di tempat kerjanya. Lebih sering makan berat sehari sekali. 

“Kalau teman ada rezeki, biasanya aku dibelikan sesuatu. Dia baik sekali karena kami berteman sudah sejak kuliah. Dia tahu kondisiku,” ungkap Ratih. 

Itulah kenapa Ratih berharap, dari rasa capek yang amat sangat karena kerja hampir 15 jam, ia bisa pulang ke kos dalam kondisi benar-benar kelelahan. Karena dengan begitu, ia bisa tidur dengan nyenyak di kosan. 

Bangun-bangun sudah subuh. Tidak lama kemudian berangkat kerja lagi. Paling tidak, di tempat kerja, sembari menunggu makan siang, ia bisa mengganjal perut dengan camilan yang tersedia. 

Berlagak tajir saat pulang kampung agar orang tua tidak kepikiran

Andik dan Ratih memang jadi seperti gembel di perantauan. Namun, beda soal kalau mereka sudah pulang kampung. Mereka akan berlagak tajir (punya duit banyak). 

Di rumah, Andik berusaha tidak menunjukkan raut susahnya selama di perantauan. Ia justru sangat royal: kerap tiba-tiba membawa martabak dua jenis atau jajanan-jajanan lain untuk disantap bareng orang tua di rumah. Bahkan sesekali juga mentraktir mereka makan di luar. Walaupun dalam kesendirian, Andik kerap mbrebes mili sendiri karena merasa nasibnya tidak kunjung membaik. 

“Kira-kira 2023 lalu. Aku kan menyisihkan uang buat beli tv. Akhirnya aku bli tv buat orang tua. Karena tv di rumah sudah rusak,” ujar Andik. 

Ratih pun sama halnya. Tiap pulang kampung, ia sebisa mungkin tidak akan menunjukkan raut lelahnya. Bahkan ia selalu bilang ke ibunya kalau sejauh ini uangnya alhamdulillah cukup untuk hidup.

“Tapi kalau di kamar sendirian ya nangis sesenggukan, hahaha,” kata Ratih. 

Andik dan Ratih sama-sama tidak ingin orang tua mereka tahu, kalau di perantauan, anak-anak mereka mengalami banyak kesulitan. Mereka tidak ingin orang tua masing-masing kepikiran: lalu membuat orang tua merasa bersalah karena menjadi beban bagi anak-anaknya. 

“Aku nggak mau mereka beranggapan aku jadi beban mereka. Karena ini wujud baktiku,” pungkas Andik. 

Penulis: Muchamad Aly Reza

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Hal Paling Berat dari Mudik Bukan Pertanyaan atau Dibandingkan di Reuni Keluarga, Tapi Ortu Makin Renta dan Pamitan ke Perantauan atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

 

 

Terakhir diperbarui pada 21 Maret 2026 oleh

Tags: kampungorang tuaperantauanpulang kampung
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Sisi Gelap Orang Tua Hebat: Hasilkan Generasi Rapuh yang Lembek Hadapi Kerasnya Dunia MOJOK.CO
Esai

Sisi Gelap Orang Tua Hebat: Hasilkan Generasi Rapuh yang Lembek Hadapi Kerasnya Dunia

8 Juni 2026
Pamer Harta Sudah Ketinggalan Zaman: Tren Terbaru Ibu-Ibu Gang Kampung Adalah Flexing Utang Bank Emok. MOJOK.CO
Esai

Pamer Harta Sudah Ketinggalan Zaman: Tren Terbaru Ibu-Ibu Gang Kampung Adalah Flexing Utang Bank Emok

22 Mei 2026
Setelah Little Aresha, Mengapa Orang Tua Tetap Harus Percaya pada Daycare? MOJOK.CO
Esai

Setelah Little Aresha, Mengapa Orang Tua Tetap Harus Percaya pada Daycare?

29 April 2026
Sesal pernah kasar ke bapak karena miskin. Kini sadar setelah ditampar perantauan karena ternyata cari duit sendiri tidak gampang MOJOK.CO
Sehari-hari

Sesal Dulu Kasar dan Hina Bapak karena Miskin, Kini Sadar Cari Duit Sendiri dan Berkorban untuk Keluarga Ternyata Tak Gampang!

21 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

ilustrasi sepeda klaten.MOJOK.CO

Belajar Makna “Paseduluran” dari Penjual Onthel Lawas yang Sudah Tiga Dekade Hidup dari Pit Kebo

2 Juni 2026
Katanya Sekolah Itu Tiket VIP Hidup Mapan, Ternyata Jadi Ibu Rumah Tangga yang Bikin Goyah Negara MOJOK.CO

Katanya Sekolah Itu Tiket VIP Hidup Mapan, Ternyata Jadi Ibu Rumah Tangga yang Bikin Goyah Negara

5 Juni 2026
Para Jagal Anjing di Jogja dan Mitos yang Terus Dipelihara.MOJOK.CO

Para Jagal Anjing di Jogja dan Mitos yang Terus Dipelihara

8 Juni 2026
Tempat kerja, Standard Good Looking dan Berpenampilan Menarik yang Diskriminatif dan Merugikan Pekerja Perempuan

Standard Good Looking dan Berpenampilan Menarik yang Diskriminatif dan Merugikan Pekerja Perempuan

3 Juni 2026
Tren kalcer dan monopoli olahraga bikin gowes (bersepeda) jadi terlalu ambisius MOJOK.CO

Tren Kalcer dan Monopoli Olahraga bikin Gowes Jadi Terlalu Ambisius, Mau Sekadar Bersepeda tapi Malu Dicap Cupu

3 Juni 2026
Rooftop kos kerap jadi tempat blangkrah, tapi jadi ruang healing terbaik bagi anak kos overthinking MOJOK.CO

Tinggal di Kos dengan Rooftop, Meski Kemproh tapi Jadi Tempat Healing Terbaik dari Tekanan Hidup yang Bisa bikin Gila

3 Juni 2026

Video Terbaru

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026
Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

21 Mei 2026
Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

17 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.