Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Sisi Gelap Orang Tua Hebat: Hasilkan Generasi Rapuh yang Lembek Hadapi Kerasnya Dunia

Nur Hidayat oleh Nur Hidayat
8 Juni 2026
A A
Sisi Gelap Orang Tua Hebat: Hasilkan Generasi Rapuh yang Lembek Hadapi Kerasnya Dunia MOJOK.CO

Ilustrasi Sisi Gelap Orang Tua Hebat: Hasilkan Generasi Rapuh yang Lembek Hadapi Kerasnya Dunia (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Indonesia punya generasi “orang tua hebat” yang sukses menyingkirkan setiap kerikil masalah dari jalan hidup anaknya. Namun ironisnya, mereka justru melahirkan generasi rapuh yang mudah remuk menghadapi kerasnya dunia.

Hari ini, kita sedang menyaksikan sebuah anomali sosiologis yang membingungkan sekaligus mencemaskan di ruang-ruang keluarga urban. Di satu sisi, kita memiliki generasi orang tua paling terdidik, paling mapan secara ekonomi, paling sadar kesehatan, dan paling melek informasi pengasuhan (parenting) sepanjang sejarah republik ini. 

Mereka adalah potret kelas menengah-atas yang fasih melahap berbagai jurnalisme populer psikologi anak, rutin menghadiri webinar pakar, menyediakan fasilitas teknologi termutakhir, dan merancang masa depan anak-anak mereka dengan presisi seorang arsitek ulung. Mereka, tanpa ragu, adalah apa yang kita sebut sebagai “orang tua hebat”.

Namun, di sisi lain celah peradaban ini, saksikanlah apa yang lahir dari rahim kenyamanan dan kelimpahan tersebut. Kita justru dihadapkan pada pemandangan generasi muda yang kerap dijuluki sebagai “generasi stroberi”, sebuah metafora yang tepat sekaligus menyakitkan: mereka tampak eksotis, indah, dan cerah di luar, namun langsung hancur, lembek, dan lebam begitu mendapat sedikit tekanan sosial. 

Terjebak pada epidemi kultural bernama hyper-parenting

Muncul sebuah pertanyaan menggugat yang menuntut jawaban jujur dan radikal dari kita semua: mengapa di tangan orang tua yang begitu hebat dan serba tahu, kita justru memanen generasi yang begitu rapuh dan gamang menghadapi dunia?

Akar masalahnya justru terletak pada aspek “kehebatannya” yang telah mengalami disorientasi akut. Kita sedang terjebak dalam epidemi kultural yang disebut hyper-parenting. 

Fenomena ini memanifestasikan diri dalam dua corak asuh yang destruktif: helicopter parenting (orang tua yang terus terbang mengawasi setiap gerak-gerik anak) dan lawnmower parenting (orang tua mesin pemotong rumput yang membabat habis setiap hambatan di depan anak). 

Karena merasa memiliki otoritas, kapital intelektual, dan sumber daya finansial yang lebih dari cukup, orang tua zaman sekarang cenderung bertindak sebagai “buldoser” sosial. Mereka bergerak agresif untuk meratakan setiap kerikil tajam, menyingkirkan setiap rintangan, dan menyapu bersih semua potensi konflik di jalan hidup sang anak.

Kita telah melakukan kekeliruan epistemologis yang fatal dalam pengasuhan: kita tidak lagi menyiapkan anak untuk menghadapi perjalanan dunia yang keras, melainkan sibuk menyiapkan perjalanan yang mulus dan tanpa cela untuk sang anak.

Atas nama kasih sayang, orang tua mengebiri psikologis anak

Dalam praktiknya, hyper-parenting ini mewujud sebagai bentuk domestikasi konflik dan sterilisasi kehidupan. Setiap kali anak menghadapi sedikit saja gesekan atau kesulitan di ruang publik, apakah itu nilai ujian yang buruk akibat kelalaiannya sendiri, konflik interpersonal dengan teman sebaya, atau teguran disiplin dari guru di sekolah, orang tua hebat ini akan langsung pasang badan di garis depan.

Mereka mengirim pesan protes kuratorial kepada pihak sekolah, mengintervensi dinamika pertemanan anak, hingga membelikan solusi instan demi meredam tangis sang anak.

Rumah dan lingkungan privat akhirnya diubah menjadi sebuah laboratorium klinis yang steril. Sebuah ruang buatan yang sepenuhnya bebas dari kuman kekecewaan, bakteri kegagalan, dan virus penolakan. Orang tua bertindak sebagai tameng protektif absolut, memastikan anak-anak mereka tidak pernah mencicipi rasa pahit dari konsekuensi logis atas tindakan mereka sendiri.

Dampak psikologis dari pola ini sangat korosif. Anak-anak tumbuh dewasa tanpa pernah melatih “otot psikologis” mereka yang paling krusial, yaitu resiliensi atau daya lenting. Resiliensi, sama khitahnya seperti otot fisik manusia, hanya bisa terbentuk dan menguat melalui robekan-robekan mikroskopis akibat beban, gesekan, dan latihan yang konsisten.

Ketika orang tua mengambil alih semua beban hidup tersebut atas nama kasih sayang dan perlindungan, mereka sebenarnya sedang melakukan pengebirian psikologis secara perlahan namun terstruktur.

Baca halaman selanjutnya

Anak-anak menjadi raksasa kognitif, akademis, tapi kerdil, rapuh dan memiliki kecemasan akut

Halaman 1 dari 2
12Next

Terakhir diperbarui pada 8 Juni 2026 oleh

Tags: anakesaiorang tuaorang tua hebatparentingpilihan redaksi
Nur Hidayat

Nur Hidayat

Nur Hidayat, S.Pd., M.Pd., M.Si. (Ummu Fatih) adalah dosen di Fakultas Psikologi Universitas Negeri Makassar dengan latar belakang pendidikan magister di bidang Pendidikan Fisika (UNM) serta Sains Psikologi Pendidikan (Airlangga). Akademisi sekaligus penulis yang aktif mengkaji psikologi keluarga dan parenting Islami.

Artikel Terkait

Mengenal konsep Green al-Maun dan jihad ekologi dari masjid untuk menjaga lingkungan MOJOK.CO

Dakwah Tauhid Lingkungan dari Masjid, Mempertanyakan Keimanan dari Kesadaran Menjaga Alam

26 Agustus 2026
S2, sarjana nganggur MOJOK.CO

Curhatan Lulusan Sarjana Lanjut Kuliah S2 Modal FOMO yang Justru Berujung Kesulitan Mencari Kerja

26 Agustus 2026
Yamaha Fazzio Cuma Sebatas Skutik Spek Orang Manja MOJOK.CO kredit motor yamaha

Fazzio, Motor “Anak Skena” yang Bikin Perjalanan Sejam Menembus Kemacetan buat Ngonser Tetap Terasa Chill

24 Agustus 2026
Nasib rentan warga pesisir Kabupaten Batang karena ancaman abrasi dan PLTU MOJOK.CO

Nasib Rentan Warga Pesisir Kabupaten Batang: Rumah Terancam Abrasi Sewaktu-waktu, Nafkah “Tersumbat” PLTU

19 Agustus 2026
Ta'awun, Takaful, dan Masjid Al Muharram Brajan yang Menebar Manfaat dari Sampah Sisa Warga.MOJOK.CO

Taawun, Takaful, dan Masjid Al Muharram Brajan yang Menebar Manfaat dari Sampah Sisa Warga

19 Agustus 2026
gaya rambut pria, barbershop, potong rambut mojok.co

Alasan Potongan Rambut Jadi “Jelek” setelah Pulang dari Barbershop, Tukang Cukur Sering Disalahkan meski Problemnya Ada di Pelanggan

18 Agustus 2026
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

Gus Yahya dalam sambutan pembukaan Muktamar ke-35 NU: Nahdlatul Ulama harus bersinergi dengan pemerintah untuk kemaslahatan rakyat MOJOK.CO

Gus Yahya: NU Tidak Punya Jalan Lain Selain Kerja Sama dengan Pemerintah jika Ingin Hadirkan Manfaat Nyata

27 Agustus 2026
S2, sarjana nganggur MOJOK.CO

Curhatan Lulusan Sarjana Lanjut Kuliah S2 Modal FOMO yang Justru Berujung Kesulitan Mencari Kerja

26 Agustus 2026
Proyek Hutan Tanaman Energi (HTE) untuk co-firing biomassa di PLTU langgengkan praktik perampasan tanah ala kolonial MOJOK.CO

Proyek Bioenergi Kayu di Jawa Langgengkan Praktik Perampasan Lahan ala Kolonial

21 Agustus 2026
Desta pamit dari Vindes rasanya kayak kehilangan dua teman MOJOK.CO

Ketika Desta pamit dari Vindes, saya merasa kehilangan dua teman yang tidak pernah saya kenal

27 Agustus 2026
ilustrasi MBG

Kisah Pilu Pegawai SPPG: Sering Dicap Ikut Korupsi Anggaran MBG, Padahal Niat Bekerja Sepenuh Hati

21 Agustus 2026
Kebiasaan sederhana penjaga warung madura yang bikin respek pembeli MOJOK.CO

Kebiasaan Sederhana Penjaga Warung Madura tapi Bikin Saya Respek Besar

27 Agustus 2026

Video Terbaru

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Syukur

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Bersyukur

20 Agustus 2026
Abdur Arsyad: Dari Matematika sampai Memikirkan Masa Depan Negara

Abdur Arsyad: Dari Matematika sampai Memikirkan Masa Depan Negara

8 Agustus 2026
Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

7 Agustus 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

🤖 PRAYIT AI ×
Salam dari Mojok! Aku Prayit AI. Ada yang bisa dibantu hari ini, Rek?
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.