Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Di Balik Lanyard Startup Jaksel: Digembleng Target Tinggi, Digaji Pas-pasan

Dewi Puji Lestari oleh Dewi Puji Lestari
3 Agustus 2026
A A
Di Balik Lanyard Startup Jaksel: Digembleng Target Tinggi, Digaji Pas-pasan MOJOK.CO

Ilustrasi Di Balik Lanyard Startup Jaksel: Digembleng Target Tinggi, Digaji Pas-pasan. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Keluarga dan teman di kampung halaman menganggap saya telah berada di kasta tertinggi seorang perantau dan fresh graduate, bekera di startup Jaksel. Mereka salah.

Kerja di Jakarta terutama di Jakarta Selatan dengan label pusat perekonomian dan bekerja di perusahaan startup adalah kasta kesuksesan seorang perantau. Begitu pandangan sebagian orang terhadap teman atau keluarga saya.

Iklan

Di mata mereka saya seperti tokoh utama FTV: sarjana yang merantau ke kota besar, berangkat kerja dengan pakaian modis sambil menenteng kopi susu. Lalu duduk di depan laptop dan berbicara menggunakan bahasa separuh Indonesia, separuh Inggris.

‘’Enak yo, saiki kerjo nang jakarta tur kerjone nang kantor, mesti gajine gede (Enak, ya, sekarang kerja di Jakarta dan kantoran. Pasti gajinya besar),” kata salah seorang kerabat ketika kami bertemu saat Lebaran.

Saya yang mendengarnya hanya bisa tersenyum dan mengamini dalam hati. Bukan karena perkataannya benar, melainkan karena saya tidak tahu bagaimana menjelaskan bahwa bekerja di sebuah startup Jaksel tidak otomatis membuat rekening saya ikut naik kelas.

Faktanya, menjadi lulusan S1 yang bekerja di perusahaan rintisan Jakarta Selatan tidak serta-merta membuat saya menjadi crazy rich melalui jalur cepat. Tidak semua startup memiliki investor raksasa yang gemar membakar uang untuk menggaji karyawannya dengan angka fantastis.

Ada satu spesies startup yang belakangan ini menjamur dan menjadi sasaran para fresh graduate seperti saya. Saya tidak mau menyebut istilahnya, takut dibilang SARA, tapi karakter intinya seperti ini: Waktu adalah uang, maka kamu harus siap dalam tekanan. 

Startup ala Jaksel: target maksimal, gaji pas-pasan

Di startup seperti ini, semboyan “waktu adalah uang” bukan sekadar pepatah, melainkan doktrin. Ritme kerja di sini melesat lebih cepat daripada Whoosh. 

Multitasking dan kemampuan bertahan di bawah tekanan bukan lagi nilai tambah, melainkan syarat mutlak. Gelar sarjana yang saya sandang tidak dinilai dari seberapa tebal skripsi yang pernah saya tulis, melainkan dari seberapa cepat saya membalas pesan dan menyelesaikan revisi sebelum matahari terbenam.

Kami harus sigap menerima pekerjaan, cepat mengikuti perubahan, dan selalu siap ketika target datang bertubi-tubi. Jika ada lowongan yang mencari pekerja “mampu bekerja di bawah tekanan”, mungkin orang-orang seperti kamilah bentuk paling harfiahnya.

Di sinilah ironi terbesar menjadi anak rantau yang bekerja di startup seperti ini. Di media sosial, pekerjaan kami memang tampak mentereng. Jika difoto dari sudut tertentu, meja kerja kami bisa terlihat estetik: laptop menyala, botol minum berwarna pastel, meja minimalis, dan lanyard perusahaan yang menggantung di dada.

Namun, di balik penampilan ala pekerja kreatif metropolitan, gaji saya masih berada di bawah Upah Minimum Provinsi (UMP) DKI Jakarta. Lanyard perusahaan mungkin dapat membuka pintu kantor, tetapi jelas tidak dapat membuka pintu menuju kesejahteraan.

Ayam geprek miskin harga 10 ribuan sebagai fondasi

Dengan gaji yang mungil dan biaya hidup Jakarta Selatan yang tidak mengenal belas kasihan, impian makan siang cantik dengan menu lengkap dari restoran mahal harus dikubur dalam-dalam.

Jangankan makan ala sultan, kebutuhan gizi harian saya lebih sering diselamatkan oleh warteg, bakso Rp12 ribuan, dan aneka makanan kaki lima. Puncak kemegahan gastronomi saya adalah ayam geprek Rp10 ribuan yang oleh teman-teman kantor disebut “ayam geprek miskin”.

Dalam situasi ekonomi seperti ini, ayam geprek murah bukan lagi makanan darurat. Ia adalah fondasi ketahanan pangan pekerja startup.

Jika sedang merasa “have” atau sedikit punya uang atau ingin memberikan self-reward setelah seminggu dikejar target dan tenggat, saya tidak pergi fine dining. Pelarian saya paling jauh adalah membeli martabak manis atau memesan minuman cokelat dengan memanfaatkan promo aplikasi pesan-antar makanan.

Itulah healing paling realistis yang masih bisa ditanggung saldo rekening.

Gaya hidup saya pun jauh dari kesan elegan. Dalam bayangan orang-orang di kampung, mungkin saya berangkat ke kantor menggunakan taksi atau setidaknya ojek online, sambil mengenakan outer dan kacamata hitam.

Iklan

Kenyataannya, saya berjalan kaki ke kantor.

Bukan karena saya aktivis lingkungan, duta gaya hidup hijau, atau sedang membangun citra sebagai pekerja urban yang gemar berolahraga. Saya berjalan kaki semata-mata untuk memangkas biaya transportasi agar dompet bisa sedikit bernapas.

Berjalan kaki di Jaksel juga membutuhkan keahlian bertahan hidup tersendiri. Saya harus berbagi trotoar dengan pengendara sepeda motor yang kehilangan kesabaran ketika menghadapi kemacetan. Debu jalanan dan aroma knalpot menjadi sarapan kedua saya setiap pagi.

Ketika tiba di kantor, penampilan saya tentu jauh dari kata modis. Kemeja sudah agak kusut, wajah berkeringat, dan rambut tidak lagi tertata. Saya membutuhkan waktu sekitar 15 menit untuk mendinginkan badan di depan AC sebelum melemparkan senyum profesional dan berpura-pura menjadi pekerja kantoran elegan.

Baca halaman selanjutnya

Saat gaji Jaksel tidak Cukup untuk dikirimkan ke orang tua

Halaman 1 dari 2
12Next

Terakhir diperbarui pada 3 Agustus 2026 oleh

Tags: jakarta selatanJaksellanyardstartup
Dewi Puji Lestari

Dewi Puji Lestari

Anak rantau lulusan S1 yang sedang menikmati kawah candradimuka di sebuah startup Jakarta Selatan. Gemar menulis isu seputar lika-liku kelas pekerja. Penikmat sejati ayam geprek miskin serta pejalan kaki tangguh penakluk trotoar ibu kota.

Artikel Terkait

Seporsi kemenangan kecil yang bisa dirayakan di kehidupan dewasa usai berporsi-porsi kekalahan MOJOK.CO

Menemukan Seporsi Kemenangan yang Layak Dirayakan usai Berporsi Kekalahan dari Kehidupan Dewasa yang Bikin Setengah Gila

7 Juli 2026
Setiabudi Jakarta Selatan, Work Life Balance.MOJOK.CO

Kawasan Setiabudi Strategis buat Ngekos, tapi Menyimpan Masalah yang Menyiksa Perantau Gen Z Jakarta

7 Juli 2026
kebayoran baru, jakarta selatan, jakarta.MOJOK.CO

Punya Kos Murah di Kebayoran Baru adalah Kemewahan, Biar Berisik tapi Setidaknya Menyelesaikan 3 Masalah Besar Perantau di Jakarta

3 Juli 2026
Kopi starling dan kopi keliling: cuma Rp5 ribu tapi beri suntikan kekuatan pekerja kantoran di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan (Jaksel) untuk survive kerja tanpa Work Life Balance MOJOK.CO

Kopi Starling Cuma 5 Ribu tapi Beri Kekuatan Pekerja Jaksel Survive Tanpa Work Life Balance, Ketimbang 50 Ribu di Coffee Shop Elite

14 Mei 2026
Setiabudi Jakarta Selatan, Work Life Balance.MOJOK.CO

Kerja di Kebayoran Baru Jaksel: Cuma Kelihatan Elite tapi Work Life Balance Sulit, Resign Tak Selesaikan Masalah

10 Mei 2026
Blok M dan Jakarta Selatan (Jaksel) dilebih-lebihkan, padahal banyak jamet MOJOK.CO

Blok M dan Jakarta Selatan Aslinya Banyak Jamet tapi Dianggap Keren, Kalau Orang Kabupaten dan Jawa Eh Dihina-hina

14 Maret 2026
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

Warga Yogyakarta Bisa Perbarui Desil yang Tak Sesuai Data secara Mandiri Lewat Aplikasi. MOJOK.CO

Warga Yogyakarta Bisa Perbarui Desil yang Tak Sesuai Data secara Mandiri Lewat Aplikasi

21 Agustus 2026
Sisi lain blusukan kampung di Surabaya Pusat. MOJOK.CO

Sisi Lain Tren Blusukan Kampung: Nggak Seru seperti di Medsos, Malah Dicurigai Pencuri dan Dianggap Tak Tau Adab

20 Agustus 2026
gaya rambut pria, barbershop, potong rambut mojok.co

Alasan Potongan Rambut Jadi “Jelek” setelah Pulang dari Barbershop, Tukang Cukur Sering Disalahkan meski Problemnya Ada di Pelanggan

18 Agustus 2026
Magang pemerintah, rencana mendirikan Universitas Republik Indonesia (URI) dinilai belum bisa jadi solusi fenomena pengangguran dari lulusan perguruan tinggi (sarjana). Apalagi selama ini kuliah cuma dibekali teori MOJOK.CO

Magang Pemerintah Belum Jadi Solusi Pengangguran dari Lulusan Perguruan Tinggi, Apalagi Kuliah cuma Dibekali Teori

18 Agustus 2026
Lansia menjual aksesori kemerdekaan di Malioboro, Yogyakarta. MOJOK.CO

Kisah Istri Pensiunan BPN Turun ke Jalanan untuk Jual Aksesori Kemerdekaan di Masa Tua demi Hadiahkan Cucu

18 Agustus 2026
JPPI, MBG, buku siswa sekolah.MOJOK.CO

RAPBN 2027: Anggaran Pendidikan Tersandera Rp240 Triliun demi Program yang Tak Penting

17 Agustus 2026

Video Terbaru

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Syukur

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Bersyukur

20 Agustus 2026
Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.