Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Di Balik Lanyard Startup Jaksel: Digembleng Target Tinggi, Digaji Pas-pasan

Dewi Puji Lestari oleh Dewi Puji Lestari
3 Agustus 2026
A A
Di Balik Lanyard Startup Jaksel: Digembleng Target Tinggi, Digaji Pas-pasan MOJOK.CO

Ilustrasi Di Balik Lanyard Startup Jaksel: Digembleng Target Tinggi, Digaji Pas-pasan. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Saat gaji Jaksel tidak Cukup untuk dikirimkan ke orang tua

Namun, di balik komedi hidup serba hemat itu, ada satu hal yang diam-diam mengiris hati: mengecek mutasi rekening pada akhir bulan.

Sebagai anak rantau bergelar sarjana yang bekerja di “perusahaan Jaksel”, ekspektasi keluarga terhadap saya tentu cukup tinggi. Ada harapan tersirat bahwa saya sudah hidup mapan dan bisa mengirimkan uang kepada orang tua dengan nominal jutaan rupiah setiap bulan.

Iklan

Realitasnya jauh berbeda. Jangankan mentransfer jutaan rupiah, menyisihkan beberapa ratus ribu rupiah untuk dikirimkan ke kampung saja terkadang terasa seperti keajaiban finansial.

Gaji hanya mampir sebentar sebelum berpindah tangan untuk membayar kebutuhan hidup. Saya pun harus menelan gengsi bulat-bulat dan menerima kenyataan bahwa predikat “anak startup Jaksel” tidak selalu seindah nominal yang tertera di slip gaji.

Sesekali muncul rasa bersalah. Saya sudah kuliah, mendapat gelar sarjana, lalu pergi ke Jakarta untuk bekerja. Namun, setelah semua pencapaian yang terlihat bagus di atas kertas itu, saya belum juga bisa menjadi anak yang diandalkan secara finansial oleh keluarga.

Hal semacam itu tentu tidak bisa diceritakan dengan mudah kepada saudara saat Lebaran. Jauh lebih praktis untuk tersenyum ketika mereka mengira gaji saya di kerja Jaksel besar daripada menjelaskan bahwa sebagian besar pendapatan saya habis hanya untuk bertahan di kota ini.

Kerja di Jaksel beri banyak pelajaran, setara dengan S2 Jurusan Bertahan Hidup

Saya tidak memungkiri bahwa bekerja di startup dengan ritme keras telah memberi banyak pelajaran. Saya menjadi lebih cekatan, terbiasa mengerjakan banyak hal sekaligus, dan cukup terlatih menghadapi tekanan.

Saya dan teman-teman menganggapnya sebagai kawah candradimuka di kisah Gatotkaca. Ilmu yang saya terima, mental baja yang terbentuk, dan efisiensi kerja yang tertanam di otak rasanya setara dengan mengambil kuliah S2 urusan Bertahan Hidup.

Kemampuan bertahan hidup saya barangkali sudah setara dengan orang yang mengambil kuliah S2, hanya saja tanpa gelar tambahan.

Namun, saya mulai curiga bahwa istilah “kawah candradimuka” terkadang hanya menjadi cara agar penderitaan pekerja terdengar lebih gagah.

Pada akhirnya, menjadi anak rantau di Jaksel atau Jakarta Selatan membuat saya terus menjaga keseimbangan antara gengsi lanyard dan kenyataan saldo rekening. 

Saya mungkin belum mampu mentraktir keluarga di restoran mewah atau mengirimkan jutaan rupiah kepada orang tua. Untuk sementara, saya baru bisa pulang membawa cerita tentang kerasnya aspal ibu kota dan rekomendasi ayam geprek miskin.

Sekarang saya juga tahu bahwa lanyard perusahaan bukanlah sertifikat kesejahteraan. Ia hanya menunjukkan tempat saya bekerja, bukan seberapa layak saya dibayar.

Jadi, jika nanti ada saudara yang kembali bertanya apakah gaji saya besar setelah bekerja di startup Jaksel, saya sudah menyiapkan jawaban.

Besar, kok.

Besar keinginan saya untuk segera naik gaji.

Penulis: Dewi Puji Lestari
Editor: Agung Purwandono

BACA JUGA Disuruh Pindah Negara, Saya Googling Cara Jadi Warga Selandia Baru dan tulisan menarik lainnya di kanal Esai

Halaman 2 dari 2
Prev12

Terakhir diperbarui pada 3 Agustus 2026 oleh

Tags: jakarta selatanJaksellanyardstartup
Dewi Puji Lestari

Dewi Puji Lestari

Anak rantau lulusan S1 yang sedang menikmati kawah candradimuka di sebuah startup Jakarta Selatan. Gemar menulis isu seputar lika-liku kelas pekerja. Penikmat sejati ayam geprek miskin serta pejalan kaki tangguh penakluk trotoar ibu kota.

Artikel Terkait

Seporsi kemenangan kecil yang bisa dirayakan di kehidupan dewasa usai berporsi-porsi kekalahan MOJOK.CO

Menemukan Seporsi Kemenangan yang Layak Dirayakan usai Berporsi Kekalahan dari Kehidupan Dewasa yang Bikin Setengah Gila

7 Juli 2026
Setiabudi Jakarta Selatan, Work Life Balance.MOJOK.CO

Kawasan Setiabudi Strategis buat Ngekos, tapi Menyimpan Masalah yang Menyiksa Perantau Gen Z Jakarta

7 Juli 2026
kebayoran baru, jakarta selatan, jakarta.MOJOK.CO

Punya Kos Murah di Kebayoran Baru adalah Kemewahan, Biar Berisik tapi Setidaknya Menyelesaikan 3 Masalah Besar Perantau di Jakarta

3 Juli 2026
Kopi starling dan kopi keliling: cuma Rp5 ribu tapi beri suntikan kekuatan pekerja kantoran di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan (Jaksel) untuk survive kerja tanpa Work Life Balance MOJOK.CO

Kopi Starling Cuma 5 Ribu tapi Beri Kekuatan Pekerja Jaksel Survive Tanpa Work Life Balance, Ketimbang 50 Ribu di Coffee Shop Elite

14 Mei 2026
Setiabudi Jakarta Selatan, Work Life Balance.MOJOK.CO

Kerja di Kebayoran Baru Jaksel: Cuma Kelihatan Elite tapi Work Life Balance Sulit, Resign Tak Selesaikan Masalah

10 Mei 2026
Blok M dan Jakarta Selatan (Jaksel) dilebih-lebihkan, padahal banyak jamet MOJOK.CO

Blok M dan Jakarta Selatan Aslinya Banyak Jamet tapi Dianggap Keren, Kalau Orang Kabupaten dan Jawa Eh Dihina-hina

14 Maret 2026
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

Realitas pasangan muda di Jogja: tak sanggup bermimpi punya rumah sendiri, pasrah menua di kosan makan tahu-tempe untuk bertahan MOJOK.CO

Realita Pasangan Muda di Jogja: Tak Sanggup Punya Rumah, Pasrah Menua di Kosan Makan Tahu-Tempe buat Bertahan

21 Agustus 2026
War Tiket Upacara 17 Agustus dan Rakyat yang Selalu Dipaksa Berebut MOJOK.CO

War Tiket Upacara 17 Agustus dan Rakyat yang Selalu Dipaksa Berebut

17 Agustus 2026
Jangan remehkan antrean Stasiun Lempuyangan, Jogja, di jam pagi untuk keberangkatan Kereta Api (KA) Ekonomi Sri Tanjung MOJOK.CO

Antrean Pagi Stasiun Lempuyangan Jogja Selalu “Keos” dan Bikin Tegang, Datang Lebih Awal Tak Jadi Solusi

21 Agustus 2026
Warga Yogyakarta Bisa Perbarui Desil yang Tak Sesuai Data secara Mandiri Lewat Aplikasi. MOJOK.CO

Warga Yogyakarta Bisa Perbarui Desil yang Tak Sesuai Data secara Mandiri Lewat Aplikasi

21 Agustus 2026
Merdeka ala Puskestan dan para petani Sukoharjo: perjuangan sejahtera dari sektor pertanian MOJOK.CO

Merdeka Ala Puskestan dan Petani Sukoharjo: Perjuangan Panjang agar Sejahtera dari Pertanian

18 Agustus 2026
Kiprah dosen pembimbing mahasiswa KKN UGM di Sangurejo. MOJOK.CO

Dulu Dicap Kampung Kumuh, Kini Produk Kulit Salak Kampung Sangurejo Sampai Belanda

21 Agustus 2026

Video Terbaru

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Syukur

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Bersyukur

20 Agustus 2026
Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.