Banyak ibu pekerja dituntut untuk menjadi orang tua yang sempurna. Sialnya, realitas kerasnya ibu kota menghancurkan ekspektasi tersebut.
***
Stasiun Sudirman, tiap pukul tujuh malam, selalu menjadi medan pertempuran yang tak pernah dimenangkan oleh siapa pun. Bela (32) berdiri berdesakan di dalam gerbong kereta komuter yang melaju lambat menuju Bojonggede.
Sebagai seorang pekerja media di Jakarta, ia harus membagi sisa udara dengan puluhan pekerja lain yang sama-sama membawa beban pikiran dari kantor. Berdiri selama lebih dari satu jam dengan kaki yang pegal dalam sepatu kerjanya, adalah harga yang harus ia bayar demi menopang ekonomi keluarga.
Ketika Bela sampai di rumahnya, badannya terasa lengket dan kepalanya berdenyut hebat. Ia hanya menginginkan waktu sepuluh menit untuk duduk bersandar di lantai tanpa ada yang mengajaknya bicara.
Namun, baru saja ia melepaskan sebelah sepatunya, anak balitanya tiba-tiba menangis menjerit.
“Meskipun saya dan suami sudah komit buat membagi peran mengasuh, tapi ya tetap saja tiap anak rewel, harus saya yang nenanginnya,” kisah Bela, saat dihubungi Rabu (9/7/2026) malam.

Di kepala Bela, berbagai teori tentang parenting penuh kelembutan yang setiap hari ia konsumsi dari para artis di Instagram berputar di kepala. Ia tahu harus merendahkan tubuhnya, menatap mata sang anak, memeluknya, dan bicara dengan nada suara yang menenangkan.
Kenyataannya, realitas ibu kota menghancurkan teori itu dalam hitungan detik. Bela justru berdiri kaku, menatap kekacauan di ruang tamunya, dan seketika berteriak membentak sang anak dengan suara yang sangat keras.
Tangisan balita itu semakin pecah karena ketakutan. Bela teriam, suaminya ikutan marah. Mentalnya pun ikutan runtuh, dan ia merasa menjadi ibu paling gagal di dunia.
Hilang kesabaran bukan karena tak sayang
Apa yang pernah dialami Bela sesungguhnya adalah krisis tersembunyi yang meledak diam-diam di jutaan rumah keluarga muda. Keresahan ini terekam jelas, misalnya, di platform media sosial seperti Threads, di mana lini masa hampir setiap hari dibanjiri utas curhatan para ibu pekerja.
Seperti Bela. Mereka mengaku kelelahan, gampang meledak di rumah, lalu dihantui rasa bersalah yang menggerogoti jiwa.
Bahkan, bom waktu kelelahan mental ini kerap tumpah ke ruang publik. Publik tentu belum lupa pada insiden memilukan di Stasiun Pasar Minggu beberapa waktu lalu. Saat itu, seorang ibu yang diduga kuat mengalami depresi dan kelelahan ekstrem nyaris mengakhiri hidupnya dengan mencoba melompat ke perlintasan rel kereta api, sambil tetap memeluk erat bayi di gendongannya.
Keputusasaan yang terekam kamera warga itu menjadi alarm keras betapa rapuhnya kondisi mental kaum ibu pekerja yang harus menyeimbangkan tekanan hidup dan ekspektasi sosial tanpa jeda.
Sumbu sabar yang mendadak putus itu, pada dasarnya tidak berkaitan dengan lunturnya kasih sayang seorang ibu pada anaknya. Itu adalah indikasi nyata habisnya energi di dalam kepala.

Fakta bahwa kesabaran dan pengendalian diri manusia memiliki kapasitas yang sangat terbatas, laiknya baterai ponsel, telah lama dibuktikan oleh pakar psikologi sosial Roy F. Baumeister lewat publikasinya di Journal of Personality and Social Psychology (1998).
Melalui konsep “ego depletion”, Baumeister membedah anatomi dari kesabaran itu sendiri. Menurutnya, kemampuan seseorang untuk menahan amarah, meredam impuls, dan mengambil keputusan yang bijak diproses oleh prefrontal cortex di otak, yang energinya bisa terkuras habis.
Bayangkan otak Bela sebagai sebuah baterai. Saat ia menahan kesal akibat dinamika ruang kerja yang cepat dan melelahkan pada pagi hari, daya baterai itu berkurang tiga puluh persen. Saat ia harus memeras otak menyelesaikan pekerjaan dan berkejaran dengan deadline hingga sore, dayanya susut lagi.
Ketika ia berdiri terjepit di dalam gerbong KRL yang pengap, energi itu merosot tajam. Saat Bela tiba di depan pintu rumahnya, sisa energi untuk mengendalikan emosi mungkin hanya tinggal lima persen.
Alhasil, bentakan yang keluar dari mulut Bela saat melihat anaknya tantrum, terjadi karena otot kognitif di otaknya sudah lumpuh total di jalanan.
Akibat kelelahan kronis yang berulang setiap hari, rutinitas pengasuhan di rumah Bela perlahan berubah wujud menjadi sesuatu yang sangat mekanis. Bela tetap menjadi ibu yang memenuhi kewajibannya. Ia memandikan anaknya, menyuapi makan malam, dan menemani anaknya bermain.
Namun, barangkali pandangan matanya kosong. Ia melakukan semuanya laiknya mesin otomatis yang terprogram. Pikirannya tidak benar-benar hadir di ruangan itu. Ia hanya menghitung mundur waktu, berharap anaknya segera memejamkan mata agar ia bisa berbaring mematung di atas kasur.
Tiga fase parental burnout
Rasa hampa dan hilangnya kehangatan di tengah keluarga ini, nyatanya bukan sekadar keluh kesah “musiman” kaum kelas menengah. Ketika psikolog klinis Isabelle Roskam dan Moira Mikolajczak membedah fenomena ini pada 2017, mereka menemukan wujud nyata dari krisis ini yang disebut sebagai sindrom parental burnout. Kelelahan dalam pengasuhan.
Roskam dan Mikolajczak merumuskan bahwa sindrom ini menyerang orang tua secara sistematis melalui tiga fase yang berurutan.
Fase pertama, adalah kelelahan fisik dan emosional yang ekstrem akibat tuntutan peran yang tidak sebanding dengan sumber daya waktu dan tenaga. Ketika kelelahan ini dibiarkan tanpa pertolongan, orang tua akan masuk ke fase kedua, yakni menjaga jarak emosional.
“Mereka tetap mengasuh, tetapi hati mereka mati rasa,” tulis Roskam dan Mikolajczak.

Pada akhirnya, kondisi ini berujung pada fase ketiga: hilangnya rasa pencapaian, di mana seorang ibu merasa seluruh usahanya sia-sia dan ia membenci perannya sendiri.
Bela sendiri bercerita, ketika malam semakin larut dan keheningan menyelimuti kamarnya, ia kerap terjaga. Ia menatap wajah anaknya yang tertidur pulas dengan sisa air mata di sudut mata balita itu. Rasa bersalah datang menyergap.
“Barangkali saya sudah mewariskan trauma massa kecil bagi anak saya,” kata dia. “Saya sering menyalahkan diri sendiri, nggak bisa meniru ibu-ibu lain yang bisa lebih sabar mengasuh anaknya.”
Mitos orang tua sempurna
Namun, rasa bersalah Bela sebenarnya tidak perlu terjadi andai mitos tentang “orang tua sempurna” berhenti diagungkan oleh masyarakat urban modern. Jauh sebelum era media sosial menuntut ayah dan ibu tampil tanpa cela, psikoanalis sekaligus dokter anak Donald Woods Winnicott sudah memberi peringatan: “anak justru tidak membutuhkan orang tua yang sempurna.”
Melalui konsep “the good enough parent“, Winnicott mematahkan ilusi kesempurnaan tersebut. Menjadi ibu yang selalu hadir seratus persen, yang selalu responsif dan tak pernah menunjukkan emosi negatif, justru merugikan perkembangan psikologis anak di masa depan.
“Anak yang dibesarkan di lingkungan yang terlalu steril dari konflik emosional akan tumbuh tanpa kemampuan adaptasi. Mereka tidak akan siap menghadapi kerasnya realitas dunia yang sering kali tidak berjalan sesuai keinginan mereka,” kata Winnicott.
Reaksi Bela yang sesekali kelepasan, marah karena terlampau lelah, adalah sebuah reaksi yang sangat manusiawi.
Membesarkan anak di tengah cekikan ritme ibu kota memang menuntut banyak pengorbanan. Namun, kewarasan akan jauh lebih mudah dirawat ketika para orang tua, seperti Bela, berhenti mengejar bayang-bayang kesempurnaan sebagaimana digembar-gemborkan artis di media sosial.
Penulis: Ahmad Effendi
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Salah Kaprah Parenting Ala Orang Tua Desa di Mata Ortu Gen Z: Malah Hambat Tumbuh Kembang Bayi, Cium Sana-Sini Tanpa Tahu Konsekuensi atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan













