Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Catatan

Salah Kaprah Parenting Ala Orang Tua Desa di Mata Ortu Gen Z: Malah Hambat Tumbuh Kembang Bayi, Cium Sana-Sini Tanpa Tahu Konsekuensi

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
16 Juni 2026
A A
Parenting ala orang tua desa sering ngawur di mata orang tua Gen Z MOJOK.CO

Ilustrasi - Parenting ala orang tua desa sering ngawur di mata orang tua Gen Z. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Setelah bersinggungan dengan peradaban kota nan modern, orang tua kalangan Gen Z merasa bahwa parenting ala orang tua di desa ternyata cenderung tidak sehat bagi perkembangan anak. Kok bisa begitu?

***

Dalam persoalan tata krama, parenting orang tua di desa memang tidak diragukan. Akan tetapi, dalam persoalan kesehatan dan tumbuh kembang motorik si anak, ada beberapa hal yang memang membedakan dengan parenting ala orang tua modern yang sudah bersinggungan dengan budaya kota. 

Di sejumlah desa di Rembang—-tidak terkecuali di desa saya—kepercayaan terhadap mitos-mitos tertentu masih sangat kuat. Jelas tidak sejalan dengan alam pikir Gen Z. 

Di antara mitos tersebut adalah: larangan untuk keluar desa, entah untuk sekadar cari angin atau main-main. Patokan kapan bayi boleh diajak keluar-keluar adalah ketika dianggap “sudah besar” yang ukurannya sangat relatif. 

Tidak heran jika akhirnya para Gen Z yang mendapat jodoh luar Rembang, apalagi di daerah yang cenderung “lebih kota” dari Rembang, maka mereka akan lebih memilih tinggal di kota saja, menjauh dari desa asalnya di Rembang. 

Parenting ala orang tua desa: banyak larangan hambat tumbuh kembang

Akibat dari larangan untuk keluar-keluar tersebut, interaksi anak dengan dunia luar semakin terbatas. Akibatnya, saya menjumpai sejumlah kasus ketika tumbuh kembang anak terbatas karena tidak punya pemicu untuk perkembangan sensorik dan motoriknya. 

Bahkan di rumah pun terlalu banyak larangan. Misalnya, mau menyentuh dedaunan, rerumputan, pasir atau tanah, tapi dilarang karena takut gatal. 

Padahal telapak tangan dan kaki anak memiliki jutaan saraf sensorik. Menyentuh berbagai tekstur alam (kasar, halus, basah, kering) merangsang otak untuk mengenali lingkungan.

Contoh konkretnya: beberapa waktu lalu, suatu pagi saya hendak mengajak anak saya—bayi usia 6 bulan—bermain di pantai. Beberapa orang tua menentang karena konon nanti anak saya bisa sawan.

Padahal mengajak bayi ke pantai sangat baik untuk menstimulasi perkembangan sensorik (melalui tekstur pasir dan air) serta melatih motorik kasar dan halus. 

Bayi harus anteng

Keresahan serupa juga diutarakan oleh Medina (25), ibu Gen Z asal Rembang, yang memilih melahirkan dan merawat bayinya di rumah suami di Semarang. 

Di desa Medina, bayi diharuskan anteng-teng. Bayi anteng dianggap anak baik. Sementara yang aktif dianggap “polahe ora umum” (dengan konotasi negatif). 

“Padahal semakin aktif si bayi, berarti dia sehat, begitu kata dokterku,” ujarnya. 

Iklan

Sekira beberapa waktu lalu, orang tua dan saudara-saudara Medina berkunjung ke rumah suami Medina, ingin menengok bayi Medina yang menginjak 5 bulan. Masa ketika si bayi sedang gemar-gemarnya memasukkan jemari ke dalam mulut. 

Ketika mendapati bayi Medina memasukkan jemari ke mulut, saudara Medina asal desa langsung menarik tangannya dan menegur Medina. Katanya, kok ya dibiarkan. 

“Sementara itu kan fase oral bayi, normal. Asal dalam pantauan orang tua saja. Alasan orang tua di desa nggak membolehkan (jemari masuk tangan) karena takut keloloden. Niatnya baik, tapi justru menghambat eksplorasi bayi,” beber Medina. 

Parenting ala orang tua desa masa kini: habit sejak kecil bikin anak kecanduan hp

Karena anggapan “bayi baik adalah bayi yang anteng”, di masa kini tidak heran jika orang tua desa mencoba mencari cara cepat untuk menenangkan bayinya yang rewel. 

“Entah kenapa, bayi nangis kalau di desaku iku kayak dianggap nggak wajar gitu. Nangis bayi itu kan wajar, karena itu cara komunikasinya. Kalau di kota (Semarang) nangis ya ditenangkan dengan cara biasa saja, nggak panik, kalau di desa sudah panik dulu,” beber Medina. 

Karena panik lah, akhirnya ada kepercayaan bahwa bayi yang suka nangis bisa jadi diganggu oleh makhluk halus alis sawan. Padahal bisa jadi karena si bayi sedang overstimulus, gerah, atau sedang tidak nyaman dengan situasi sekitar. 

Kalau sudah muncul kepanikan seperti itu, orang tua di desa bisa langsung memanggil dukun bayi untuk nyuwuk atau memberi doa-doa agar si bayi tidak nangis lagi. 

“Kalau sekarang, sejak kecil itu kalau nangis kejer langsung dikasih hp. Malah lebih bahaya seperti saudaraku. Anaknya sekarang kecanduan hp banget, karena kebiasaan kalau nangis dikasih hp, sekarang kebalik: nangisnya karena pengin lihat hp,” ujar Medina. “Jadi kecanduan hp.”

Cium sana-sini tanpa tahu konsekuensi

Sementara yang Zizah (23) resahkan adalah perkara cium-mencium. 

Zizah memang masih tinggal di desanya di Rembang, karena pasangannya sama-sama orang Rembang sendiri. Hanya saja, sebagai orang tua Gen Z, Zizah sudah terliterasi dengan parenting modern. 

Di antara yang Zizah garis bawahi adalah: jangan anggap sepele perkara asal cium ke bayi, khususnya di area seperti pipi, bibir, hingga hidung. Karena dari situlah penyakit bisa menular.

“Tapi susah banget ngasih tahu orang desa. Orang kalau lihat bayi bawaannya pengin nyium. Asal nyicum saja,” keluh Zizah. Bayinya sempat tertular flu usai dicium oleh saudara yang memang sedang flu. 

Yang lebih Zizah khawatirkan adalah ketika ada perokok yang mencium sembarangan. Persis setelah rokok, tanpa cuci tangan atau kumur-kumur, langsung pegang bayi dan mencium bayinya. Tanpa ganti baju tapi langsung menggendong. Bikin geregetan. 

“Susah dikasih tahu. Kalau ditegur, jawabnya: alah udah nggak rokok kok. Atau: alah, sedikit aja kok,” gerutu Zizah. 

Sementara jika ia membatasi interaksi ciuman secara sembarangan, banyak orang justru menganggap Zizah terlalu sombong. Padahal aturan Zizah tersebut tidak lain demi kesehatan si bayi. Benar-benar rumit sekali untuk mengedukasi. 

Penulis: Muchamad Aly Reza

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Ironi Orang Tunawicara (Bisu) di Desa: Dianggap Gila, Punya Otak Cerdas Tetap Dianggap Tak Bisa Mikir Hanya karena Sulit Bicara atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 16 Juni 2026 oleh

Tags: Gen Zorang tua desaorang tua gen zparenting desaparenting gen zparenting kotaparenting moderntumbuh kembang bayi
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Anak muda alias gen z dan milenial kini tolak kejar jabatan. MOJOK.CO
Urban

Anak Muda Tolak Karier Elite dengan Jabatan Tinggi, Pilih Side Job yang Jamin Gaji Stabil di Masa Kini

19 Mei 2026
Anak Muda Ogah Angkat Panggilan Telepon, Dianggap Ganggu dan Cuma Bikin Cemas Mojok.co
Pojokan

Anak Muda Ogah Angkat Panggilan Telepon, Dianggap Ganggu dan Cuma Bikin Cemas

18 Mei 2026
5 Alasan Earphone Kabel Kembali Tren dibanding TWS: Nggak Ribet Kalau Hilang Sebelah sampai Jadi Peringatan Tersirat Budak Korporat MOJOK.CO
Urban

5 Alasan Earphone Kabel Kembali Tren dibanding TWS: Nggak Ribet Kalau Hilang Sebelah sampai Jadi Peringatan Tersirat Budak Korporat

7 Mei 2026
Zero post di Instagram cara hidup tenang Gen Z. MOJOK.CO
Urban

Gen Z Lebih Tenang Tanpa Feed Instagram (Zero Post), Aslinya Bukan Misterius Cuma Capek Mengejar Validasi dan Ingin Melindungi Diri

7 Mei 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Tingkatkan literasi dengan baca buku. MOJOK.CO

Cerita Sebuah Keluarga Membangun Kebiasaan Membaca Saat Orang Lain Berubah Menjadi “Phubbing”

11 Juni 2026
Uang recehan di dasbor motor Honda Genio ibu jadi berkah dan penyelamat bagi anak-anaknya dan orang-orang di lampu merah MOJOK.CO

Kebiasaan Ibu Taruh Uang Receh di Dasbor Motor: Jadi Berkah dan Penyelamat bagi Anaknya serta Orang-orang di Lampu Merah

9 Juni 2026
Pola asuh ibu yang kuatkan anak tunggal sekaligus anak perempuan satu-satunya. MOJOK.CO

Meski Ditempa Sakit Kronis hingga Ditolak 500 Lamaran Kerja, Ibu Tak Pernah Ajarkan Saya untuk Menyerah

12 Juni 2026
Sanksi untuk Jagal Anjing di Daerah Istimewa Yogyakarta yang Tertunda Realisasinya. MOJOK.CO

Jalan Terjal Menghentikan Operasi Jagal Anjing karena Dianggap Kurang Penting

9 Juni 2026
Parenting ala orang tua desa sering ngawur di mata orang tua Gen Z MOJOK.CO

Salah Kaprah Parenting Ala Orang Tua Desa di Mata Ortu Gen Z: Malah Hambat Tumbuh Kembang Bayi, Cium Sana-Sini Tanpa Tahu Konsekuensi

16 Juni 2026
Harga Pertamax Naik Lagi, dan Kali Ini Kita Tidak Boleh Diam dan Pasrah Lagi

Harga Pertamax Naik Lagi, dan Seperti Biasa, Kelas Menengah Jadi Korban, Lagi dan Lagi

10 Juni 2026

Video Terbaru

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026
Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

21 Mei 2026
Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

17 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.