Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Urban

Gen Z di Indonesia, Generasi Paling Aktif Membaca tetapi Paling Tak “Terliterasi”

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
24 Juni 2026
A A
Gen Z, membaca, buku.MOJOK.CO

ilustrasi - cara suka membaca buku di tengah cepatnya arus informasi. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Gen Z adalah generasi yang unik sekaligus penuh ironi. Di satu sisi, mereka menjadi generasi yang paling aktif membaca. Namun, di sisi lain, mereka juga yang paling tak terliterasi.

***

Iklan

Setiap hari, seorang anak muda Indonesia menghabiskan waktu rata-rata lima hingga delapan jam menatap layar gawai mereka. Di balik durasi yang panjang itu, ada sebuah kebiasaan yang luput dari perhatian publik: ibu jari mereka tidak pernah berhenti menggulirkan layar untuk mengeja ribuan baris kalimat.

IDN Research Institute merekam fenomena ini melalui dokumen “Indonesia Gen Z Report 2024”. Dari seluruh aktivitas digital harian kelompok Gen Z usia dewasa muda, sebanyak 61 persen responden menempatkan aktivitas membaca artikel, berita, atau utas panjang daring di posisi empat besar.

Kebiasaan mengonsumsi teks ini bahkan menggilas durasi mereka menonton televisi. Data tersebut seketika mematahkan asumsi kuno bahwa generasi muda hari ini malas membaca. Mereka tidak alergi huruf-huruf; mata mereka justru sangat akrab dengan teks.

Dalam praktiknya, kebiasaan melahap teks digital ini menjadi motor penggerak utama industri fiksi populer di tanah air. Anak muda kita sanggup membaca ratusan bab cerita di berbagai platform digital, seperti Wattpad, sebelum cerita-cerita tersebut bermigrasi ke toko buku fisik menjadi novel yang dicetak ulang puluhan kali.

Novel Mariposa karya Luluk HF adalah contohnya. Lahir dari ekosistem digital, kisah romansa remaja ini sukses terjual hingga lebih dari 300.000 eksemplar buku cetak dan akhirnya diangkat ke layar lebar.

Klaim tingginya minat baca ini diperkuat oleh penjelasan anggota Komisi VII DPR RI, Atalia Praratya. Dalam sebuah seminar bertajuk “Perpustakaan Tanpa Batas: Gen Z Suka Baca Ga Sih?”, ia memaparkan hasil survei GoodStats (2024) yang menunjukkan bahwa 84,7 persen Generasi Z di Indonesia mengaku gemar membaca. 

Tak sampai di situ. Mengutip hasil survei Jakpat, Atalia juga mengungkap persentase aktivitas membaca Gen Z mencapai 26 persen. Angka ini lebih tinggi ketimbang Milenial (20 persen) dan Gen X (18 persen). 

Secara demografis pula, Atalia menjelaskan Gen Z adalah generasi dengan jumlahnya 24,93 persen dari total populasi. Menjadi generasi terbesar di Indonesia dibandingkan generasi milenial dan baby boomer.

“Gen Z adalah generasi yang tumbuh bersama internet dan teknologi. Mereka cepat adaptasi, mengakses informasi secara instan, kritis terhadap isu sosial, serta memiliki karakter yang mandiri, kreatif, dan kolaboratif dalam belajar maupun berkarya,” jelasnya.

Laporan Perpustakaan Nasional RI juga mencatat lonjakan sirkulasi peminjaman buku elektronik lewat aplikasi iPusnas hingga menembus lebih dari 4 juta kali sepanjang tahun 2023. Secara kuantitas, anak muda kita sedang membaca dalam volume yang sangat besar.

Sialnya, pemandangan optimistis tersebut langsung berbenturan dengan laporan hasil tes Programme for International Student Assessment (PISA) tahun 2022 yang dirilis OECD pada akhir 2023. 

Dalam asesmen global yang mengukur kemampuan pelajar usia 15 tahun tersebut, skor literasi membaca Indonesia terpuruk di angka 359. Menempatkan kita di peringkat 71 dari 80 negara.

Iklan
PISA 2022.MOJOK.CO
Secara umum, Indonesia berada pada peringat 69 dari 80 negara dalam perangkingan PISA 2022, dengan total poin 1.108. Dalam aspek membaca, hanya mendapat 359 dan berada di peringkat 71. (Sumber: OECD 2022)

Di balik peringkat bawah itu, terdapat ancaman yang cukup serius: hanya 25 persen siswa Indonesia yang sanggup mencapai tingkat kompetensi membaca Level 2. Dalam standar OECD, Level 2 adalah batas penguasaan membaca paling dasar. 

Pelajar di bawah level ini kesulitan mengidentifikasi gagasan utama dalam teks berfokus tunggal, tidak mampu menemukan informasi tersirat, serta gagal mengaitkan isi tulisan dengan pengetahuan umum. 

Rapor Pendidikan Indonesia tahun 2023 yang dirilis Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi mengonfirmasi situasi serupa: 48 persen siswa di jenjang menengah atas belum mencapai kompetensi minimum literasi.

Di titik inilah publik sering terjebak menyamakan aktivitas mengeja huruf (decoding) dengan kecakapan memahami makna (comprehension). Seseorang bisa menghabiskan waktu empat jam sehari membaca ribuan baris teks di media sosial, tapi gagal menyaring apakah informasi yang ia baca adalah sebuah fakta empiris atau sekadar omon-omon. 

Tingginya frekuensi membaca, terutama di platform daring, tidak secara otomatis menciptakan nalar kritis mereka.

Beda hasil dari membaca buku fisik dan teks digital

Untuk memahami mengapa generasi yang paling sering menatap teks ini justru mengalami kesulitan literasi, kita perlu melihat ke dalam mekanisme kerja otak saat merespons media digital. 

Secara evolusi, membaca bukanlah kemampuan alami sejak lahir. Berbeda dengan berbicara atau mendengar yang memiliki sirkuit genetik sendiri, membaca adalah hasil rekayasa kognitif. 

Otak mendaur ulang jaringan penglihatan dan bahasa, lalu memaksanya membentuk sambungan baru. Karena sirkuit ini bersifat adaptif, bentuknya sangat lentur dan dipengaruhi kebiasaan sehari-hari.

Saat seseorang membaca buku cetak, mata bergerak teratur dari kiri ke kanan sampai selesai, lalu turun ke baris berikutnya. Pola membaca lambat ini memberi waktu bagi area dorsolateral prefrontal cortex di otak untuk bekerja memproses logika, mempertimbangkan argumen, dan membangun empati. Sebaliknya, ketika membaca di layar gawai, mata bekerja dengan cara yang berbeda. 

membaca buku.mojok.co
Ada perbedaan mendasar membaca buku fisik dengan membaca teks digital. Membaca teks digital, dianggap bisa menurunkan tingkat literasi. (Gambar: Tom Hermans/Unsplash)

Dalam riset “How People Read on the Web” yang dirilis Nielsen Norman Group (2006), pakar kegunaan sistem (UX) Jakob Nielsen memperkenalkan konsep bernama F-Shaped Pattern. 

Nielsen menemukan bahwa saat berhadapan dengan teks di internet, mata pengguna cenderung memindai penuh dua baris paling atas, lalu merosot ke bawah dan hanya menyapu kata-kata di sebelah kiri untuk mencari kata kunci.

Penulis sains Nicholas Carr dalam bukunya The Shallows: What the Internet is Doing to Our Brains (2010) menjelaskan konsekuensi dari kebiasaan yang ditemukan Nielsen tadi.

Melalui prinsip kelenturan otak (neuroplasticity), jaringan saraf memperkuat sambungan yang sering dipakai dan melemahkan sambungan yang diabaikan. Ketika pola memindai cepat (skimming) dipraktikkan setiap hari, otak memangkas kapasitasnya untuk membaca mendalam. Otak mulai menganggap jeda berpikir saat mencerna kalimat padat sebagai sebuah hambatan yang harus dilewati secepat mungkin.

Perubahan cara kerja otak ini dipercepat oleh desain platform digital. Perusahaan teknologi merancang aplikasi berdasarkan prinsip frictionless experience atau pengalaman tanpa hambatan, agar pengguna terus menggulir layar tanpa lelah. Teks dipotong pendek; tulisan daring jarang memiliki paragraf lebih dari tiga kalimat. Kosa kata yang digunakan dipilih dari deretan kata paling umum, bahkan platform menyediakan fitur ringkasan otomatis kecerdasan buatan.

Padahal, dalam sains kognitif, pemahaman yang mendalam justru membutuhkan hambatan. Disebut friksi (friction). 

Seseorang paham isi sebuah buku karena ia dipaksa berhenti sejenak untuk mencerna argumen penulis. Dengan menghilangkan seluruh friksi tersebut, teknologi digital mematikan ruang bagi otak untuk berlatih berpikir kritis.

Faktor lain yang sering diabaikan adalah perbedaan topografi antara medium kertas dan layar. Dalam penelitian kognitif, yang dikutip Carr, buku cetak terbukti memberikan “peta letak” bagi otak. 

Saat kita membaca buku cetak, memori spasial kita mencatat “koordinat” informasi: kita tahu bahwa penjelasan penting tentang suatu peristiwa berada di halaman sebelah kiri, bagian bawah, ketika ketebalan buku di tangan kanan kita tinggal tersisa seperempat. Ada “patokan” yang nyata.

Di layar gawai, patokan itu lenyap. Teks digital mengalir ke atas seperti tanpa ujung. Tidak ada halaman kiri-kanan, tidak ada ketebalan yang bisa diraba. Tanpa jangkar spasial untuk mengikat teks, memori jangka pendek kesulitan memindahkan informasi baru ke dalam memori jangka panjang. 

Hasilnya, seseorang bisa membaca puluhan tautan berita dalam sehari, tapi keesokan paginya ia lupa apa inti dari tulisan-tulisan tersebut.

membaca buku.MOJOK.CO
Gen Z adalah generasi yang penuh ironi. Di satu sisi, mereka diklaim sebagai generasi yang aktif membaca. Namun, di sisi lain, mereka juga paling tak terliterasi. (Gambar: Kuorosh Qaffari/Unsplash)

Jika membaca di gawai menghasilkan pemahaman yang rapuh, mengapa anak muda tetap menghabiskan waktu miliaran menit di sana? Pertanyaan ini membawa kita pada faktor sosiologis yang melingkupi keseharian Generasi Z.

Perlukah kembali ke buku fisik?

Saya jadi teringat, pada tahun 1904, sastrawan Franz Kafka menulis surat kepada sahabatnya, Oskar Pollak. Di dalamnya, Kafka menuliskan satu kriteria tegas tentang bacaan: “Sebuah buku harus menjadi kapak bagi lautan beku di dalam diri kita.” 

Bagi generasi terdahulu, membaca buku berat ditujukan untuk menantang batas pengetahuan diri. Proses itu wajar terasa melelahkan dan sering kali meruntuhkan keyakinan lama pembaca.

Namun, Generasi Z tumbuh dalam lingkungan penuh tekanan nyata. Mereka menghadapi ketidakpastian kerja, tuntutan kerja cepat, harga hunian melambung tinggi, hingga keharusan menjaga citra di media sosial. Kapasitas mental mereka sehari-hari sudah terkuras oleh realitas hidup.

Karena itu, saat membuka bahan bacaan di waktu senggang, mereka menolak berhadapan dengan bacaan yang menyakiti pikiran. 

Penjelasan ini selaras dengan temuan Haria Saputry dalam seminar di Universitas Widyatama, bahwa bagi banyak anak muda saat ini, membaca telah beralih fungsi menjadi terapi peredam stres.

Kebutuhan akan rasa aman inilah yang menjelaskan mengapa genre bacaan yang paling laris di kalangan anak muda adalah fiksi ringan minim konflik, cerita bertema penyembuhan luka batin, serta buku pengembangan diri yang penuh dengan kalimat peneguhan positif. Mereka tidak membaca untuk “membongkar” kerumitan dunia atau bisa berpikir kritis dan ndakik-ndakik, tetapi untuk mencari pelarian yang aman.

Melihat rangkaian akar masalah ini, kampanye literasi yang sekadar mengulang seruan “Ayo membaca lebih banyak!” kehilangan relevansinya. Menyuruh generasi yang terlalu sering terpapar teks pendek untuk terus membaca tanpa memperbaiki cara mereka memproses informasi, sama seperti menambah porsi makan pada orang yang pencernaannya sedang bermasalah.

Solusi yang ditawarkan hari ini harus bergeser pada upaya memulihkan disiplin membaca sebagai sebuah aktivitas berkesadaran. Langkah paling nyata bisa dimulai dengan mengembalikan buku cetak ke dalam genggaman tangan, memaksakan mata untuk melambat, dan memberi kesempatan bagi jaringan logika di otak untuk kembali merajut makna.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Sisi Lain AI yang Melemahkan Nalar Siswa: Kesulitan Calistung, Tak Bisa Membaca Jam, hingga Sulit Mengingat Materi Pelajaran atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 24 Juni 2026 oleh

Tags: baca beritabaca bukuBukuGen Zliterasimembacamembaca bukupilihan redaksiPISA 2022tingkat literasi gen z
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

Nasib desainer grafis di desa kabupaten: jasa desain logi dianggap gratisan, pindah Jakarta kaget ternyata cuannya menjanjikan MOJOK.CO
Sehari-hari

Jasa Desain Logo di Desa Kabupaten Dianggap Sepele hingga Jadi Gratisan, Pindah Jakarta Kaget 1 Logo Cuannya Menjanjikan

23 Juni 2026
dosen.MOJOK.CO
Sekolahan

Butuh Biaya Puluhan Juta Demi Ijazah S2-S3, tapi Negara Malah “Melegalkan” Dosen Digaji di Bawah UMR

23 Juni 2026
PNS di desa.MOJOK.CO
Sehari-hari

Jadi PNS di Desa Memang Hidup Makmur, tapi Bikin Tak Berkembang karena Budayanya Toksik dan Membosankan

22 Juni 2026
Persaingan bisnis atau usaha di desa kabupaten kejam: cara kotor saling menjatuhkan hingga jebakan pelanggan loyal MOJOK.CO
Sehari-hari

Kejamnya Persaingan Bisnis di Desa Kabupaten: Cara Kotor Saling Menjatuhkan hingga Jebakan Pelanggan Loyal

20 Juni 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Derita memelihara dan menyayangi kucing sepenuh hati di desa. Anabul dianggap hewan goblok MOJOK.CO

Sulitnya Memelihara dan Menyayangi Kucing di Desa: Dianggap Aneh dan Nggak Guna, Anabul Hadapi Hinaan dan Racun Tetangga

24 Juni 2026
Pengamen di kampung Jombang bisa datang 4-5 kali dalam sehari MOJOK.CO

Tinggal di Jombang Selatan: Tiap Hari Rumah Didatangi 4-5 Pengamen Keras Kepala dari Pagi-Malam karena Terlanjur Tuman

22 Juni 2026
dosen.MOJOK.CO

Butuh Biaya Puluhan Juta Demi Ijazah S2-S3, tapi Negara Malah “Melegalkan” Dosen Digaji di Bawah UMR

23 Juni 2026
penyakit, cuci darah.MOJOK.CO

‘Gaji Habis buat Cuci Darah’ – Yang Perlu Kamu Ketahui soal “Tren” Penyakit Lansia yang Menyerang Generasi Muda

19 Juni 2026
Mas Uceng sebagai narasumber Festival Melawan-Melawan. Ia menyampaikan perlawanan masyarakat sipil perlahan telah terbunuh oleh rezim.

Zainal Arifin Mochtar: Perlawanan Masyarakat Sipil Perlahan Telah Dibunuh

18 Juni 2026
gagal jastip saat war tiket konser BTS. MOJOK.CO

Pertama Kali War Tiket Konser BTS: Trust Issue Pakai Jastip karena Selalu Gagal, Justru Hoki Berkat Teman yang FOMO

23 Juni 2026

Video Terbaru

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026
Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

21 Mei 2026
Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

17 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.