Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Sekolahan

Sisi Lain AI yang Melemahkan Nalar Siswa: Kesulitan Calistung, Tak Bisa Membaca Jam, hingga Sulit Mengingat Materi Pelajaran

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
17 Juni 2026
A A
siswa sekolah.MOJOK.CO

Ilustrasi siswa sekolah (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Karena “kecanduan AI” nalar siswa sekolah menjadi lemah. Mereka kesulitan mengingat dan mempelajari hal-hal yang bahkan sifatnya begitu dasar.

***

Iklan

Vita (26) menghela napas panjang saat kami duduk mengobrol di sebuah kedai kopi belum laman ini. Ia baru beberapa bulan diterima menjadi guru honorer di sebuah Sekolah Menengah Pertama (SMP) di kawasan Sleman.

Hari itu, ia lebih banyak menumpahkan keresahan yang cukup mengganggu pikirannya. Keresahan ini rupanya sudah mulai ia rasakan sejak lama, persisnya saat ia masih menjalani program magang praktik kependidikan (PK) di sebuah Sekolah Menengah Atas (SMA) di Jogja.

Sebagai calon guru mata pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKN), Vita pernah berdiri di depan puluhan siswa SMA dan menanyakan hal yang sebenarnya sangat mendasar. 

“Kapan Indonesia merdeka?” Ia juga sempat melempar pertanyaan lanjutan, “Siapa bapak proklamator kita?”

Hasilnya, benar-benar di luar dugaan. Ia bercerita, ruang kelas mendadak hening. Tatapan para siswa tampak kosong. Pengetahuan sejarah dasar yang seharusnya sudah melekat sejak bangku sekolah dasar itu rupanya menguap begitu saja. Para remaja belasan tahun tersebut terdiam, saling lirik menunggu teman lain menjawab.

“Nggak ada yang bisa jawab. Bisa jawab kalau udah googling,” ujarnya, Jumat (12/6/2026).

“Kejutan” yang dialami Vita berlanjut ke tempat kerjanya yang sekarang. Mengajar anak-anak SMP, ia berhadapan dengan kenyataan yang lebih menyesakkan dada. Ia menemukan ada sejumlah siswanya yang belum lancar membaca serta tersendat saat diminta melakukan hitungan matematika dasar (calistung). 

Pemandangan yang paling membuatnya takjub adalah ketika beberapa anak kebingungan saat diminta melihat waktu pada jam dinding analog yang menempel di tembok kelas.

Kata dia, anak-anak itu terlalu terbiasa melihat deretan angka digital di layar ponsel pintar. Akibatnya, cara kerja jarum jam pendek dan panjang menjadi sebuah hal yang sulit mereka pahami.

“Rupanya nggak cuma aku. Guru lain juga ngeluh. Ada yang nggak tahu lho, 5 dikali 0 (5×0) itu berapa?” geramnya.

Dimanjakan AI, nalar menjadi lemah

Melihat fenomena ini setiap hari, Vita memiliki dugaan. Menurut pengamatannya, anak-anak zaman sekarang terlalu nyaman hidup di tengah kepungan konten yang serba cepat. 

Saat diberi tugas sekolah, mereka sangat terbiasa mengambil jalan pintas. Mereka tinggal mengetikkan pertanyaan di mesin pencari seperti Google atau menyalin jawaban instan dari program Kecerdasan Buatan (AI). 

Iklan

Kemudahan ini memang membuat tugas selesai dalam hitungan menit. Namun, Vita menyadari sebuah kenyataan yang ironis. Informasi tersebut sangat mudah didapat, tetapi hilang tak berbekas dalam waktu yang sama cepatnya. 

“Otak para siswa tidak lagi dipaksa untuk berproses, mencerna, dan mengingat materi pelajaran. Jadi gampang melupakan informasi,” ujarnya.

Dugaan Vita bisa jadi ada benarnya. Keresahannya ini sejalan dengan temuan Betsy Sparrow, seorang psikolog dari Universitas Columbia. Risetnya yang dipublikasikan di jurnal Science, menemukan sebuah kondisi yang ia namakan “the google effect” atau amnesia digital.

Riset Betsy Sparrow membuktikan bahwa otak manusia memiliki kecenderungan otomatis untuk menolak menyimpan informasi ke dalam memori jangka panjang, asalkan otak menyadari bahwa informasi tersebut bisa diakses kembali kapan saja melalui internet. 

dampak google effect pada siswa.MOJOK.CO
The Google Effect (sering disebut amnesia digital) adalah kecenderungan psikologis di mana seseorang lebih mudah melupakan informasi yang bisa ditemukan dengan mudah di internet. Alih-alih mengingat detailnya, otak kita beradaptasi dengan mengingat di mana atau bagaimana cara menemukan informasi tersebut secara online. (Sumber gambar: Sarah B/Unsplash)

Penemuan ilmiah ini menjawab tuntas keheningan di kelas Vita. Otak para siswa secara tidak sadar merasa tak perlu repot-repot menghafal tanggal kemerdekaan atau nama tokoh bangsa. Pikiran mereka menganggap mesin pencari dan AI di ponsel pintar adalah memori eksternal yang akan selalu siap menyuapkan jawaban kapanpun dibutuhkan.

Vita melanjutkan ceritanya dengan membandingkan kebiasaan belajar anak didiknya. Ia merindukan masa ketika seorang siswa harus duduk diam, membuka buku cetak, dan membacanya secara utuh untuk menemukan sebuah jawaban. 

Membaca buku, kata Vita, menuntut seorang anak menelusuri kalimat demi kalimat, memahami maksud paragraf, dan menyusun rentetan informasi itu menjadi sebuah ingatan yang ajeg di kepala. 

“Saat ini, proses tersebut nyaris nggak ada, tergantikan sama kebiasaan scroll layar HP,” tegasnya.

Keluh kesah Vita tentang hilangnya budaya membaca utuh ini divalidasi oleh pakar saraf kognitif dari Universitas California, Los Angeles (UCLA), Maryanne Wolf. Melalui bukunya yang berjudul Reader, Come Home (2018),Wolf membedah tuntas bagaimana kebiasaan menatap layar perlahan mengubah sirkuit otak manusia. 

Ia menjelaskan bahwa saat membaca lembaran buku fisik, otak kita melakukan proses deep reading atau “membaca mendalam”. Proses inilah yang menjadi fondasi utama bagi tumbuhnya daya nalar, kemampuan analisis, dan ingatan jangka panjang.

Di sisi lain, kebiasaan mengonsumsi konten digital yang serba instan merusak pola tersebut. Saat menatap layar gawai, sirkuit otak kita lebih banyak melakukan skimming alias “membaca sekilas.” 

Anak-anak terbiasa melompat cepat dari satu kata ke kata lain demi mendapat kepuasan informasi dengan segera. Imbasnya, bagian otak yang seharusnya aktif saat berpikir mendalam menjadi tumpul karena jarang dilatih. 

“Informasi yang masuk melalui metode membaca sekilas tidak pernah mengendap menjadi ilmu. Ia hanya singgah sementara di ingatan jangka pendek,” tulis Wolf, dikutip Rabu (17/6/2026).

Kondisi ini, secara tidak langsung, menjelaskan mengapa siswa SMP asuhan Vita kesulitan melihat jarum jam analog atau gagap melakukan perkalian dasar. Membaca jam analog dan menghitung membutuhkan logika yang berurutan dan pemahaman spasial, sesuatu yang hanya bisa diasah melalui pemikiran mendalam, bukan informasi instan.

Rendahnya kemampuan literasi siswa di Indonesia

Keresahan Vita dan rekan-rekan sesama guru honorer di Sleman sejatinya adalah gambaran nyata dari krisis pendidikan skala nasional. Kemerosotan kemampuan kognitif ini terekam dengan sangat jelas dalam data Programme for International Student Assessment (PISA) tahun 2022. 

Laporan asesmen global yang dirilis oleh Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) tersebut menyajikan fakta yang seirama dengan cerita di ruang kelas Vita. Data PISA 2022 mencatat bahwa lebih dari 70 persen siswa di Indonesia memiliki skor yang berada di bawah batas kompetensi minimum, baik dalam kemampuan literasi membaca maupun literasi matematika. 

Angka ini menegaskan kenyataan pahit di lapangan. Generasi yang sejak lahir sudah memegang gawai canggih ini justru sedang mengalami darurat kemampuan dasar.

Menutup obrolan kami, Vita menyampaikan bahwa teknologi pada dasarnya diciptakan untuk memudahkan aktivitas manusia. Namun, alat canggih seperti AI akan berubah fungsi menjadi ancaman ketika diberikan kepada anak-anak yang belum memiliki fondasi nalar dasar dan literasi yang kokoh.

“Gampangnya, saat AI dirancang semakin cerdas menjawab pertanyaan, generasi muda kita malah makin jarang melatih otaknya untuk berpikir dan memecahkan masalah. Kalau sitasi ini terus-terusan terjadi, kita sedang mencetak generasi yang sangat rapuh,” pungkasnya.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchmad Aly Reza

BACA JUGA: Nekat Daftar Beasiswa Luar Negeri ke Kampus “Kurang Terkenal”, Kini Bisa Keliling Eropa dengan Gaji yang Bikin Sumringah atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 17 Juni 2026 oleh

Tags: AIArtificial Intelligencedampak AIkecerdasan buatankecerdasan imitasiPendidikanpilihan redaksiSiswa Sekolah
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

Sekolah, Saya Hanya Ingin Kuliah, tetapi Crab Mentality di Desa Menganggap Saya Lupa Diri MOJOK.CO
Sekolahan

Memilih Sekolah Mahal demi Selamatkan Pergaulan Anak di Desa, Malah Dicap “Sok Kaya” dan Egois oleh Tetangga

27 Juli 2026
Sekolah, Saya Hanya Ingin Kuliah, tetapi Crab Mentality di Desa Menganggap Saya Lupa Diri MOJOK.CO
Esai

Saya Hanya Ingin Kuliah, tetapi Crab Mentality di Desa Menganggap Saya Lupa Diri

23 Juli 2026
Curhat kasir Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih di jalanan desa sepi. Sepi pembeli, sekali ada pembeli bukan karena butuh tapi iseng dan bikin kesel MOJOK.CO
Sehari-hari

Derita Kasir Kopdes di Desa Pelosok: Hari-hari Sepi, Pembeli Datang Bukan karena Kebutuhan tapi Sengaja Bikin Kesal

21 Juli 2026
Cari kerja, lamaran kerja, Mahasiswa gap year kuliah di Unila. MOJOK.CO
Sehari-hari

Kesalahan Bikin CV dan Hal-Hal Sepele Lain yang Justru Bikin Jobseeker Ditolak Saat Melamar Kerja

16 Juli 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Festival Transmigrasi 2026 Fun Run 6K: Event lari yang tawarkan sensasi berbeda di Kaliurang Sleman MOJOK.CO

Transmigrasi Festival 2026 Fun Run 6K: Tawarkan Sensasi Lari di Kaliurang yang Beda dari Event Lari Perkotaan

27 Juli 2026
Mahasiswa KKN di desa

Serba Salah KKN di Desa: Terlalu Pendiam Dianggap Nggak Guna, Banyak Omong Dicap Sok Tahu

24 Juli 2026
Mahindra Scorpio, mobil pick up mewahnya Koperasi Merah Putih MOJOK.CO

Pengalaman mengendarai dan mengomentari Mahindra Scorpio, mobil pick up Koperasi Merah Putih yang terlalu bagus di depan Pak Babinsa langsung

21 Juli 2026
Anak penjual tahu kuliah di ITB. MOJOK.CO

Perjuangan Mutiara Belajar Mandiri dan Andalkan Buku Panduan dari Sang Ayah Penjual Tahu hingga Tembus ITB

27 Juli 2026
Perjuangan masuk UGM.MOJOK.CO

Kehilangan Ayah Menjelang SNBT, Kini Berhasil Kuliah Gratis di UGM Meski Harus Belajar di Rumah Sakit

23 Juli 2026
Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menjadi tuan rumah “1st Asian Gym for Life Challenge 2026” 1. MOJOK.CO

Jogja Jadi Tuan Rumah Lomba Gym se-Asia usai Thailand Mundur, Semua Kalangan Bebas Ikut Tanpa Beban Menang-Kalah

20 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.