Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Apa Salahnya ASN Jualan Nasi Kuning? Gaji Tetap, Kebutuhan Terus Bertambah

Aditya Saputra oleh Aditya Saputra
12 Agustus 2026
A A
Apa Salahnya ASN Jualan Nasi Kuning? Gaji Tetap, Kebutuhan Terus Bertambah MOJOK.CO

Apa Salahnya ASN Jualan Nasi Kuning? Gaji Tetap, Kebutuhan Terus Bertambah MOJOK.CO

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Saya sangat bersyukur menjadi ASN. Sebagai bentuk rasa syukur itu, saya jualan nasi kuning dan mie asin di kantor.

Menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN) mungkin bagi sebagian orang identik dengan satu hal: menerima gaji setiap bulan. Setiap tanggal muda, gaji masuk rekening. Lalu uang dibagi untuk cicilan, kebutuhan rumah tangga, listrik, internet, belanja, tabungan, dan kebutuhan lainnya. 

Iklan

Saya pun begitu. Sebenarnya nggak beda jauh dengan pegawai perusahaan swasta.

Saya adalah seorang ASN Pegawai Negeri Sipil yang bekerja di salah satu instansi pemerintah di Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah. Saya sudah berkeluarga dan memiliki seorang anak. 

Istri saya adalah seorang ibu rumah tangga. Kalau dipikir-pikir, sebenarnya kondisi ini cukup sederhana. Ada satu sumber penghasilan utama yang kami andalkan, yaitu gaji saya sebagai ASN. 

Namun, semakin ke sini saya justru berpikir, kenapa menjemput rezeki harus berhenti di satu pintu?

Bagi ASN, in this economy, satu pintu rasanya tidak cukup

Saya rasa banyak orang saat ini merasakan hal yang sama yaitu kebutuhan hidup yang semakin beragam. Harga barang berubah, kebutuhan anak bertambah. 

Ada cicilan, biaya pendidikan, kebutuhan rumah, dana darurat, dan berbagai kebutuhan lain yang datang silih berganti.

Karena itu saya mulai berpikir bahwa memiliki satu sumber pemasukan memang tidak salah, tetapi memiliki beberapa sumber pemasukan juga bukan sesuatu yang harus dianggap berlebihan selama dilakukan dengan benar.

Bagi saya, menjadi ASN bukan berarti kehilangan kesempatan untuk mengeksplorasi diri. ASN juga manusia. Bisa punya hobi, belajar bisnis, membuat produk, menulis, investasi bahkan mengembangkan keterampilan diluar pekerjaan.

Tentu semuanya harus dilakukan dengan tetap memperhatikan ketentuan yang berlaku bagi ASN dan tidak menggunakan jabatan atau fasilitas negara untuk kepentingan pribadi. Saya sendiri memilih jalur yang paling sederhana: jualan makanan.

Berawal dari rasa rindu kampung halaman

Saya berasal dari Sambas, Kalimantan Barat. Sementara saat ini saya tinggal dan bekerja di Palangka Raya. Ada satu hal yang sering muncul ketika seseorang tinggal jauh dari kampung halaman: rindu makanan rumah. 

Bukan cuma rindu makanannya, tetapi juga rindu suasananya. Saya dan istri kemudian berpikir, kenapa tidak sekalian membuat makanan yang kami rindukan itu?

Istri saya memang punya hobi membuat berbagai macam makanan. Sebelumnya kami juga pernah mencoba berjualan roti. 

Iklan

Dari hobi kecil itu kemudian muncul ide untuk menjual makanan khas Kalimantan Barat. Pilihan kami jatuh pada dua menu yang cukup dekat dengan lidah kami: nasi kuning khas Pontianak dan mie asin khas Singkawang. 

Siapa pasarnya? Saya berpikir nggak usah jauh-jauh. Orang-orang yang saya temui setiap hari, yaitu temen-teman kantor.

Masalahnya, kami tidak memiliki toko, nggak tinggal di ruko, bahkan tidak memiliki gerobak untuk jualan. Kami punya modal kami sederhana saja: dapur rumah, kemampuan memasak istri, WhatsApp, dan sedikit keberanian untuk menawarkan dagangan kepada teman-teman kantor. 

Saya bertugas sebagai bagian pemasaran sekaligus kurir sementara istri saya bertugas sebagai tukang masaknya.

Saya menawarkan, orang-orang memesan, kemudian saya antar ke mereka. Sesederhana itu alurnya.

ASN jualan, prinsipnya tak menganggu pekerjaan utama

Sebagai ASN yang jualan nasi kuning dan mie asin, tentu saya sadar ada tanggung jawab yang tidak boleh ditinggalkan. Saya tidak ingin aktivitas jualan justru membuat pekerjaan utama terbengkalai. 

Karena itu, sejak awal saya membuat batas yang cukup jelas. Promosi saya lakukan di luar jam kerja. 

Saya menggunakan WhatsApp Story dan grup marketplace internal kantor untuk menawarkan menu yang kami jual. Pesanan juga menggunakan sistem pre-order. 

Kemudian, pada pagi hari sebelum jam kerja dimulai, saya mengantarkan pesanan ke meja masing-masing pegawai yang sudah memesan.

Jadi ketika jam kerja dimulai, urusan jualan sudah selesai. Saya kembali menjalankan pekerjaan utama seperti biasa. 

Bagi saya, ini adalah hal yang penting, menjadi ASN berarti memiliki kewajiban untuk memberikan pelayanan dan melaksanakan tugas dengan baik. Jangan sampai alasan mencari penghasilan tambahan justru membuat pekerjaan utama menjadi terbengkalai..

Ada satu strategi sederhana yang ternyata cukup menarik, yaitu kami tidak berjualan setiap hari. Kami hanya membuka pesanan sekitar dua kali dalam sepekan dengan jumlah yang terbatas. Limited edition, kalau istilah anak sekarang.

Bukan karena kami ingin jualan sok eksklusif. Memang kapasitas produksi istri saya terbatas. Kami juga tidak ingin memaksakan produksi dalam jumlah besar karena khawatir kualitas makanan menurun. Ternyata keterbatasan itu justru menjadi strategi marketing.

Ketika saya mengunggah WhatsApp Story:

“Nasi Kuning Pontianak buka PO untuk besok. Terbatas 20 porsi.”

Belum tentu lima menit kemudian masih tersedia. Kadang ada yang langsung membalas.

“Mas, pesan satu.”

“Masih bisa pesan nggak?”

“Kapan jualan lagi mas, aku pesan ya buat next PO?”

“Kalau Mie Asin kapan?”

Lama-lama justru muncul orang-orang yang menunggu jadwal jualan kami. Lucunya, kami yang awalnya cuma ingin menjual makanan karena rindu kampung halaman malah mendapatkan pelanggan tetap dari lingkungan kantor. 

Dari sini saya belajar satu hal sederhana dalam berjualan: tidak selamanya harus menjual sebanyak-banyaknya. Kadang, membuat orang penasaran dan menunggu justru lebih menarik.

Sebagai ASN, saya tidak sedang mengejar kaya dari jualan sarapan

Kalau ada yang bertanya, “Memangnya untung jualan nasi kuning sama mie asin di kantor berapa?” Jawabannya mungkin tidak fantastis.

Kami bukan sedang membangun restoran. Kami juga tidak sedang mengejar omzet puluhan juta rupiah. Ini usaha kecil-kecilan, justru di situlah saya menikmati prosesnya.

Ada kepuasan tersendiri ketika uang hasil jualan masuk ke rekening. Bukan karena jumlahnya besar, tetapi karena saya tahu uang itu berasal dari sesuatu yang kami kerjakan bersama.

Meski begitu, ada satu hal yang tidak boleh saya lupakan yaitu saya adalah ASN. Ada pekerjaan yang harus saya selesaikan, ada tanggung jawab kepada negara dan masyarakat, ada amanah yang melekat ketika saya mengenakan pakaian dinas dan datang ke kantor. 

Jualan nasi kuning tidak boleh mengalahkan tugas sebagai ASN, jualan mie asin tidak boleh membuat pelayanan kepada masyarakat menjadi nomor dua. Bagi saya, justru di situlah tantangannya.

Bagaimana caranya tetap profesional dalam pekerjaan, tetapi juga produktif di luar pekerjaan? Bagaimana caranya mencari tambahan tanpa mengorbankan kewajiban?

Bagaimana caranya mengubah hobi menjadi sesuatu yang menghasilkan, tetapi tetap berada di jalur yang halal dan sesuai aturan?

Jawabannya mungkin tidak selalu mudah.

Tetapi saya percaya semuanya bisa dimulai dari hal kecil. Kadang cukup mulai dari satu produk, satu pelanggan, satu pesanan, dan satu keberanian untuk mencoba. 

Saya memulainya dari nasi kuning dan mie asin. Mungkin bagi orang lain itu cuma sarapan tetapi bagi saya dan istri, itu adalah salah satu bentuk ikhtiar. 

Sebab pada akhirnya, mencari rezeki bukan hanya tentang seberapa banyak uang yang berhasil kita kumpulkan. Tetapi juga tentang dari mana uang itu datang, bagaimana cara mendapatkannya, dan untuk apa kita menggunakannya.

ASN jualan itu bukan tidak bersyukur

Ada satu anggapan yang menurut saya perlu diluruskan yaitu ketika seseorang memiliki pekerjaan tetap lalu masih mencari penghasilan tambahan, bukan berarti dia tidak bersyukur. 

Justru bisa jadi karena dia bersyukur, dia ingin mengelola kesempatan yang diberikan kepadanya dengan sebaik-baiknya. 

Saya sangat bersyukur menjadi ASN, memiliki keluarga, serta memiliki istri yang mau ikut berjuang dari rumah dan diberi kesempatan untuk mencoba hal-hal baru. 

Bagi saya, mencari rezeki tambahan bukan perlombaan untuk menjadi kaya tetapi kebiasaan untuk tidak mudah menyerah pada keadaan.

Selama caranya halal, tidak merugikan orang lain, tidak melanggar aturan, dan yang paling penting tidak mengganggu tugas utama saya sebagai abdi negara, kenapa tidak saya lakukan

Penulis: Aditya Saputra
Editor: Agung Purwandono

BACA JUGA Curhat Guru PPPK Paruh Waktu: Status ASN, Kontrak Setahun, Gaji Masih Teka-teki dan tulisan menarik lainnya di kanal Esai.

Terakhir diperbarui pada 12 Agustus 2026 oleh

Tags: ASNjualanpegawaiPNS
Aditya Saputra

Aditya Saputra

ASN di siang hari, sales sarapan di pagi hari. Papa muda yang hobi jualan, karena kebahagiaan anak dan istri adalah alasan untuk terus berusaha.

Artikel Terkait

PNS di desa.MOJOK.CO
Sehari-hari

Jadi PNS di Desa Memang Hidup Makmur, tapi Bikin Tak Berkembang karena Budayanya Toksik dan Membosankan

22 Juni 2026
Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Tengah (Jateng) meraih penghargaan dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Program E-Learning Aparatur Negara (ASN) Berintegritas MOJOK.CO
Kilas

ASN Jateng Dididik agar Tidak Berperilaku Menyimpang untuk Jaga Marwah Instansi, KPK Beri Penghargaan

18 Juni 2026
Tidak Diakui, Harga yang Harus Saya Bayar karena Menolak Keinginan Orang Tua untuk Jadi PNS
Pojokan

Tidak Diakui, Harga yang Harus Saya Bayar karena Menolak Keinginan Orang Tua untuk Jadi PNS

28 April 2026
ASN Lulus S2 UGM dengan IPK 4, Bahagia Wisuda tapi Miris Tanpa Kehadiran Ibu yang Berpulang karena Kanker MOJOK.CO
Sekolahan

ASN Lulus S2 UGM dengan IPK 4, Bahagia Wisuda tapi Miris Tanpa Kehadiran Ibu yang Berpulang karena Kanker

24 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kemiskinan DIY menurun. MOJOK.CO

Jumlah Orang Miskin di Yogyakarta Berkurang, Penurunannya Jadi yang Tertinggi di Jawa pada Maret 2026

6 Agustus 2026
Berkaca dari Kasus Yurizal, Kita Sibuk Mengajari Anak Menjadi Pintar sampai Lupa Mengajarinya punya empati MOJOK.CO

Berkaca dari Kasus Yurizal: Kita Sibuk Mengajari Anak Menjadi Pintar sampai Lupa Mengajarinya Berempati

7 Agustus 2026
ilustrasi - PSEL DIY di dekat TPA Piyungan. MOJOK.CO

Pemda DIY Bakal Serap 1.000 Tenaga Kerja Khususnya Warlok untuk Olah Sampah Jadi Energi Listrik di Dekat TPA Piyungan

11 Agustus 2026
Modal 2 juta bisa untung cepat dari usaha rumahan cuci sepatu MOJOK.CO

Modal 2 juta bisa untung cepat dari usaha rumahan cuci sepatu

11 Agustus 2026
Apem ya qowiyyu: kue apem khas Jatinom Klaten berusia 400 tahun. Bukan sekadar warisan kuliner tradisional tapi simbol kesalehan sosial MOJOK.CO

Apem Ya Qowiyyu: Kue Khas Jatinom Klaten Berusia 400 Tahun, Bukan Semata Warisan Kuliner tapi Kesalehan Sosial

10 Agustus 2026
Mie Gacoan, desa. MOJOK.CO

Mie Gacoan Oleh-Oleh Wajib Saat Pulang Kampung: Tak Peduli Sudah Dingin dan Keras, Tetap Dinikmati demi Gengsi dan Validasi

5 Agustus 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.