ASN jualan, prinsipnya tak menganggu pekerjaan utama
Sebagai ASN yang jualan nasi kuning dan mie asin, tentu saya sadar ada tanggung jawab yang tidak boleh ditinggalkan. Saya tidak ingin aktivitas jualan justru membuat pekerjaan utama terbengkalai.
Karena itu, sejak awal saya membuat batas yang cukup jelas. Promosi saya lakukan di luar jam kerja.
Saya menggunakan WhatsApp Story dan grup marketplace internal kantor untuk menawarkan menu yang kami jual. Pesanan juga menggunakan sistem pre-order.
Kemudian, pada pagi hari sebelum jam kerja dimulai, saya mengantarkan pesanan ke meja masing-masing pegawai yang sudah memesan.
Jadi ketika jam kerja dimulai, urusan jualan sudah selesai. Saya kembali menjalankan pekerjaan utama seperti biasa.
Bagi saya, ini adalah hal yang penting, menjadi ASN berarti memiliki kewajiban untuk memberikan pelayanan dan melaksanakan tugas dengan baik. Jangan sampai alasan mencari penghasilan tambahan justru membuat pekerjaan utama menjadi terbengkalai..
Ada satu strategi sederhana yang ternyata cukup menarik, yaitu kami tidak berjualan setiap hari. Kami hanya membuka pesanan sekitar dua kali dalam sepekan dengan jumlah yang terbatas. Limited edition, kalau istilah anak sekarang.
Bukan karena kami ingin jualan sok eksklusif. Memang kapasitas produksi istri saya terbatas. Kami juga tidak ingin memaksakan produksi dalam jumlah besar karena khawatir kualitas makanan menurun. Ternyata keterbatasan itu justru menjadi strategi marketing.
Ketika saya mengunggah WhatsApp Story:
“Nasi Kuning Pontianak buka PO untuk besok. Terbatas 20 porsi.”
Belum tentu lima menit kemudian masih tersedia. Kadang ada yang langsung membalas.
“Mas, pesan satu.”
“Masih bisa pesan nggak?”
“Kapan jualan lagi mas, aku pesan ya buat next PO?”
“Kalau Mie Asin kapan?”
Lama-lama justru muncul orang-orang yang menunggu jadwal jualan kami. Lucunya, kami yang awalnya cuma ingin menjual makanan karena rindu kampung halaman malah mendapatkan pelanggan tetap dari lingkungan kantor.
Dari sini saya belajar satu hal sederhana dalam berjualan: tidak selamanya harus menjual sebanyak-banyaknya. Kadang, membuat orang penasaran dan menunggu justru lebih menarik.
Sebagai ASN, saya tidak sedang mengejar kaya dari jualan sarapan
Kalau ada yang bertanya, “Memangnya untung jualan nasi kuning sama mie asin di kantor berapa?” Jawabannya mungkin tidak fantastis.
Kami bukan sedang membangun restoran. Kami juga tidak sedang mengejar omzet puluhan juta rupiah. Ini usaha kecil-kecilan, justru di situlah saya menikmati prosesnya.
Ada kepuasan tersendiri ketika uang hasil jualan masuk ke rekening. Bukan karena jumlahnya besar, tetapi karena saya tahu uang itu berasal dari sesuatu yang kami kerjakan bersama.
Meski begitu, ada satu hal yang tidak boleh saya lupakan yaitu saya adalah ASN. Ada pekerjaan yang harus saya selesaikan, ada tanggung jawab kepada negara dan masyarakat, ada amanah yang melekat ketika saya mengenakan pakaian dinas dan datang ke kantor.
Jualan nasi kuning tidak boleh mengalahkan tugas sebagai ASN, jualan mie asin tidak boleh membuat pelayanan kepada masyarakat menjadi nomor dua. Bagi saya, justru di situlah tantangannya.
Bagaimana caranya tetap profesional dalam pekerjaan, tetapi juga produktif di luar pekerjaan? Bagaimana caranya mencari tambahan tanpa mengorbankan kewajiban?
Bagaimana caranya mengubah hobi menjadi sesuatu yang menghasilkan, tetapi tetap berada di jalur yang halal dan sesuai aturan?
Jawabannya mungkin tidak selalu mudah.
Tetapi saya percaya semuanya bisa dimulai dari hal kecil. Kadang cukup mulai dari satu produk, satu pelanggan, satu pesanan, dan satu keberanian untuk mencoba.
Saya memulainya dari nasi kuning dan mie asin. Mungkin bagi orang lain itu cuma sarapan tetapi bagi saya dan istri, itu adalah salah satu bentuk ikhtiar.
Sebab pada akhirnya, mencari rezeki bukan hanya tentang seberapa banyak uang yang berhasil kita kumpulkan. Tetapi juga tentang dari mana uang itu datang, bagaimana cara mendapatkannya, dan untuk apa kita menggunakannya.
ASN jualan itu bukan tidak bersyukur
Ada satu anggapan yang menurut saya perlu diluruskan yaitu ketika seseorang memiliki pekerjaan tetap lalu masih mencari penghasilan tambahan, bukan berarti dia tidak bersyukur.
Justru bisa jadi karena dia bersyukur, dia ingin mengelola kesempatan yang diberikan kepadanya dengan sebaik-baiknya.
Saya sangat bersyukur menjadi ASN, memiliki keluarga, serta memiliki istri yang mau ikut berjuang dari rumah dan diberi kesempatan untuk mencoba hal-hal baru.
Bagi saya, mencari rezeki tambahan bukan perlombaan untuk menjadi kaya tetapi kebiasaan untuk tidak mudah menyerah pada keadaan.
Selama caranya halal, tidak merugikan orang lain, tidak melanggar aturan, dan yang paling penting tidak mengganggu tugas utama saya sebagai abdi negara, kenapa tidak saya lakukan
Penulis: Aditya Saputra
Editor: Agung Purwandono
BACA JUGA Curhat Guru PPPK Paruh Waktu: Status ASN, Kontrak Setahun, Gaji Masih Teka-teki dan tulisan menarik lainnya di kanal Esai.