Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Sehari-hari

Derita Kasir Kopdes di Desa Pelosok: Hari-hari Sepi, Pembeli Datang Bukan karena Kebutuhan tapi Sengaja Bikin Kesal

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
21 Juli 2026
A A
Curhat kasir Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih di jalanan desa sepi. Sepi pembeli, sekali ada pembeli bukan karena butuh tapi iseng dan bikin kesel MOJOK.CO

Ilustrasi - Curhat kasir Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih di jalanan desa sepi. Sepi pembeli, sekali ada pembeli bukan karena butuh tapi iseng dan bikin kesel. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Pada mulanya, lowongan kerja menjadi kasir di Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih menjadi semacam jawaban atas kerisauan Aira (22), perempuan desa yang hanya lulusan SMA. 

Aira bukannya belum pernah bekerja sama sekali. Ia pernah punya pengalaman sebagai kasir minimarket sebelum akhirnya nganggur karena kontraknya habis—dan tidak diperpanjang. Maka, adanya lowongan kasir di Kopdes Merah Putih jelas menjadi jawaban. 

Iklan

“Gimana ya, Mas, zaman sekarang, perempuan juga harus kerja karena ekonomi sulit. Siapa tahu dengan kerja di program pemerintah, ya bisa lah buat nambal kehidupan,” ujar perempuan asal Jawa Timur tersebut, Minggu (19/7/2026). 

Aira membatasi diri: tidak hendak bercerita lebih detail soal operasional Kopdes Merah Putih tempatnya bekerja di sebuah desa di Jawa Timur. Termasuk gaji yang ia terima dan kehidupan keluarganya di desa. 

Tapi, sesingkat menjalani rutinitas awal menjadi kasir di Kopdes di desanya tersebut, Aira mengaku memang harus kuat-kuatan mental. Sebab, di tengah seretnya pembeli, sekali ada pembeli yang datang eh ternyata sangat menyebalkan. Dan inilah hal-hal menyebalkan yang Aira rasakan: 

Jadi bagian dari Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih: tiap buka medsos selalu malu

Aira tentu tidak tahu-menahu soal perincian dan rasionalisasi pemilihan lokasi berdirinya Koperasi Desa—yang kebanyakan ada di tempat-tempat yang cenderung jarang terjamah manusia. 

“Isunya kan karena keterbatasan lahan, itu yang kutahu,” kata Aira. 

Kendati tidak tahu-menahu, jujur semakin ke sini Aira sering diserang malu tiap membuka media sosial. Mau di TikTok atau Instagram, kerap muncul parodi-parodi soal lokasi terpencil Kopdes Merah Putih. 

Kalau sekadar parodi Koperasi Desa berada di tengah hutan mah basic. Tapi di medsos, parodi warganet parah-parah. Ada yang koperasinya di dalam laut, di bawah air terjun, bahkan literally berada di dalam belantara ladang jagung.

“Momen latsarmil, saat para calon manajer Kopdes yel-yel seperti tentara juga kan jadi lelucon di medsos,” ungkap Aria. 

Hal itu membuat Aira kerap malu-malu sendiri. Tiap keluar rumah, dengan menyandang status sebagai kasir Kopdes Merah Putih, entah kenapa Aira merasa ada saja yang menatapnya dengan tatapan penuh lelucon. Hadeh. 

 

Lihat postingan ini di Instagram

 

Sebuah kiriman dibagikan oleh Stefanus Rivaldo (@stevansyoung)

Iklan

Orang datang ke Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih bukan karena butuh, tapi iseng

“Sejak buka, ramai pembeli nggak?”. Mendengar pertanyaan saya itu, Aira malah tersenyum meringis. Itu sudah cukup menjawab. 

Tapi memang, sejauh penelusuran saya ke Kopdes Merah Putih ke beberapa desa di Jawa Timur, ada koperasi yang sejak buka di pagi hari hingga tutup tampak lengang. Hanya ada aktivitas staf toko. Bahkan ada pula yang belum sebulan buka, tapi sudah tutup (belum beroperasi lagi). 

Tapi itu di desa-desa pelosok. Siapa tahu di desa lain, yang lokasinya lebih “terakses peradaban”, aktivitas ekonomi Kopdesnya sudah menggeliat. 

“Ya ada ibu-ibu yang sengaja datang buat beli beras atau minyak. Tapi seringnya anak-anak muda buat iseng,” jelas Aira. 

Gelagat anak-anak muda iseng ini sebenarnya sudah terbaca sejak memarkir motor. Mereka tidak akan langsung masuk. Melainkan memfoto dan memvideo bagian luar koperasi. 

Tidak lama kemudian, mereka akan masuk. Tidak langsung berbelanja, tapi mengarahkan kamera dari satu rak ke rak lain. Sesekali terdengar suara cekikian. Dari cekikian itu Aira sudah bisa menebak: ah, pasti buat parodi atau konten-konten lelucon lain soal Koperasi Desa. 

Diminta nyanyikan yel-yel hingga tepuk Kopdes: mau marah tapi takut jadi bumerang

“Orang-orang iseng ini memang korban parodi medsos sih,” tutur Aira.

Bagaimana tidak. Aira sebenarnya tidak masalah-masalah amat kalau mereka mau merekam-rekam bagian luar-dalam koperasi. Namun, yang paling menyebalkan adalah ketika mereka mengambil barang, lalu saat membayar di kasir tiba-tiba menodong Aira dengan permintaan aneh: “Mbak, Mbak, kasih yel-yel atau tepuk Kopdes dong.” 

“Itu kan korban medsos. Karena nggak ada lah SOP nyambut pembeli dengan yel-yel atau tepuk-tepuk. SOP-nya ya standard aja,” beber Aira. 

Kalau sudah begitu, Aira paling hanya tersenyum karier sembari menjelaskan kalau tidak ada yang namanya SOP nyanyikan yel-yel dan tepuk Kopdes ke setiap pembeli. Orang-orang iseng itupun hanya berseru kecewa (yang bernada meledek): “Yaaah.”

“Kadang mau marah. Karena aku ini kerja baik-baik. Nggak usah lah ganggu begitu. Mereka kan rekam wajahku juga. Tapi untung bisa jaga emosi. Karena kalau terpancing dan aku ketus, nanti viral kan aku makin malu,” ucap Aira. 

 

Lihat postingan ini di Instagram

 

Sebuah kiriman dibagikan oleh Gilang Eka (@guss_icikk)

Selalu kena saat Pak Presiden bicara

Di lingkaran teman-teman SMA Aira dan sejumlah pemuda desa, ada sindiran kalau orang yang kerja di Koperasi Desa Merah Putih adalah “abdi negara” alias antek-presiden. Karena memang bekerja di dalam program presiden. 

Masalahnya, label tersebut seringkali berkonotasi negatif kepada Aira. Pasalnya, tiap kali Pak Presiden mengeluarkan statement yang dinilai publik kontroversial dalam pidatonya, pasti Aira kena juga. Jadi bahan roasting, baik saat bertemu teman-temannya atau di WA Group. 

Aira tentu tidak bisa melawan. Ia diamkan saja. Atau paling mentok ia beri emoticon tertawa terbahak, walaupun dalam hatinya jengkel sekali. 

“Iya aku ini kerja di program presiden. Tapi aku ini kan cuma butiran debu, cuma pekerja UMKM. Masa ya harus nanggung beban moral pula sama setiap pidato beliau,” pungkasnya. “Hadeeeh.”  

Penulis: Muchamad Aly Reza

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Latihan Ala Penjaga Warung Madura Operasikan Toko 24 Jam: Memang Tak Seperti Latsarmil Koperasi Desa tapi Teruji atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

 

Terakhir diperbarui pada 21 Juli 2026 oleh

Tags: alasan lokasi kopdes terpencilbarang yang dijual di kopdesgaji karyawan kopdes merah putihharga barang di kopdeskaryawan kdmpkasir kopdesKDMPkopdeskopdes merah putihkoperasi desaloker kopdes merah putihpilihan redaksi
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Cari kerja, lamaran kerja, Mahasiswa gap year kuliah di Unila. MOJOK.CO
Sehari-hari

Kesalahan Bikin CV dan Hal-Hal Sepele Lain yang Justru Bikin Jobseeker Ditolak Saat Melamar Kerja

16 Juli 2026
cari kerja, UGM.MOJOK.CO
Sehari-hari

300 Lamaran Kerja Ditolak, Lulusan UGM Pilih “Turunkan Standard”: Sadar Bursa Kerja Sedang Tak Baik-Baik Saja

15 Juli 2026
Derita Orang Rembang, Makan Mie Gacoan Harus ke Tuban MOJOK.CO
Catatan

Makan Mie Gacoan adalah Kemewahan bagi Anak Muda Desa, Rela Motoran 2 Jam Demi Makanan yang “Menyiksa” Mulut Mereka

14 Juli 2026
donasi ekonomi.MOJOK.CO
Urban

“Rakyat Bantu Rakyat” Menguat, tapi Jangan Jadi Alasan Pemerintah Lepas Tangan dan Abai Pada Nasib Masyarakat

14 Juli 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

TikTok Bukan Psikolog atau Psikiater, tetapi Gen Z Mencari Diagnosis Kesehatan Mental di Sana MOJOK.CO

TikTok Bukan Psikolog atau Psikiater, tetapi Gen Z Mencari Diagnosis Kesehatan Mental di Sana

17 Juli 2026
kerja, lulusan SMA di keluarga penuh sarjana.MOJOK.CO

Cerita Lulusan SMA yang Berhasil Mapan Tanpa Ijazah S1, tapi Diam-Diam Menyesalinya dan Merasa Iri pada Sarjana

21 Juli 2026
KOMSAH: Sejahterakan petani di Klaten. MOJOK.CO

Tinggalkan Profesi Dokter untuk Jadi Penasihat Kelompok Tani, Optimalkan Anugerah Tanah Klaten yang Subur

20 Juli 2026
sarjana, ijazah s1, pekerja, gen z, kerja, PNS di desa lebih menyenangkan. MOJOK.CO

Seporsi Kekalahan Sarjana di Sleman: Susah Payah Dapat Ijazah S1, Ujung-ujungnya Kerja Setara Lulusan SMA karena Tak Punya Pilihan

20 Juli 2026
Menyerang Jurnalis dengan Umpatan Bukti Pengacara Kehabisan Akal, Tunjukkan Miskinnya Argumen Hukum.MOJOK.CO

Menyerang Jurnalis dengan Umpatan Bukti Pengacara Kehabisan Akal, Tunjukkan Miskinnya Argumen Hukum

20 Juli 2026
Kerjabilitas, Jembatan bagi Pencari Kerja Difabel Menembus Tembok Diskriminasi Industri.MOJOK.CO

Kerjabilitas, Jembatan bagi Pencari Kerja Difabel Menembus Tembok Diskriminasi Industri

17 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.