Jombang memang bukan kota pariwisata seperti Jogja. Bukan pula kota besar seperti Surabaya. Namun, tukang parkir atau juru parkir (jukir) liar di kabupaten ini merajalela di mana-mana. Keberadaan mereka terasa meresahkan karena seperti siluman.
***
Jombang memang sebuah kabupaten kecil di Jawa Timur yang belum masuk kategori pusat industri atau pariwisata. Kalau bicara wisata, satu-satunya yang membuat kabupaten ini terkenal adalah keberadaan makam Presiden Ke-4 RI, Abdurrahman Wahid (Gus Dur).
Anehnya adalah, tukang parkir liar justru sangat menjamur di kabupaten berjuluk “Kota Santri” ini. Sejumlah media massa lokal kerap memberitakan: dari tahun ke tahun operasi penertiban harus terus dilakukan karena keberadaan jukir-jukir liar bandel.
Tak ayal kenapa keberadaan mereka begitu diresahkan beberapa orang. Pasalnya, nyaris di setiap sudut Jombang, kini pasti dijaga oleh jukir. Bahkan di tempat-tempat yang seharusnya tidak perlu-perlu amat dijaga jukir. Belum lagi, sering kali mereka seperti siluman—istilah yang kemudian saya dapat dari berbincang dengan orang-orang yang meresahkan.
Banyak kedai kopi ditunggui tukang parkir (jukir)
Dalam beberapa tahun terakhir, Jombang tengah kemasukan beberapa waralaba populer: dari brand-brand kopi besar hingga gerai ayam pedas dari sebuah brand makanan yang dikenal dengan produk keju.
Selain itu, tren konsumsi kopi di kalangan pemuda juga mulai menjamah “Kota Santri” ini, ditandai dengan semakin banyaknya kedai-kedai kopi.
Belum ada data resmi yang mencatat detail jumlah dan sebaran kedai-kedai kopi tersebut. Namun, sejauh yang saya amati setiap pulang ke Jombang, dari ujung selatan dan sepanjang titik menuju pusat kota, sudah banyak menjamur kedai-kedai kopi fancy hingga slow bar yang disesaki anak-anak muda setempat.
Setiap pulang ke Jombang, saya sering dolan untuk sekadar ngopi atau menyelesaikan pekerjaan. Berpindah-pindah dari kedai kopi A ke kedai kopi B sesuai rekomendasi kreator konten kuliner Jombang. Dari kedai-kedai kopi fancy yang saya kunjungi, pasti ada juru parkirnya. Tarif parkir yang dikenakan umumnya Rp2 ribu.
Kalau ditanya bagaimana servis juru parkir di kedai-kedai tersebut, beberapa memang menjalankan tugasnya dengan semestinya: memarkir, menata kendaraan, dan tentu saja membantu saat pengunjung hendak keluar dari area kedai. Tapi ada pula yang AFK: hanya modal semprat-semprit saja.
Apotek saja kena jukir
“Jombang itu, Mas, bisa dibilang kota seribu tukang parkir, nggak kalah sama Surabaya,” celetuk Sabirin (27), seorang pemuda asli Jombang, yang pernah merasakan ketidaknyamanan berurusan dengan para tukang parkir di Surabaya semasa kuliah dan kini merasakannya lagi di kabupaten asalnya: Jombang.
Sama seperti saya, Sabirin tidak terlalu meresahkan keberadaan jukir-jukir di kedai kopi. Hanya saja, masalahnya, banyak titik di Jombang yang dijaga jukir liar. Bahkan apotek sekalipun.
Di kecamatan Sabirin di Jombang Selatan, ada sebuah apotek langganan warga setempat yang kerap membuat pembeli kesal. Termasuk Sabirin.
“Bagaimana nggak kesal. Apotek itu kan ruko kecil. Terus load orang masuk-keluar juga cepet. Artinya nggak butuh tukang parkir. Tapi di situ ada tukang parkirnya. Setiap orang mau pergi dari apotek, si tukang parkir mendekat memberi kode harus dikasih Rp2 ribu,” beber Sabirin. “Masalahnya ya nggak bantu apa-apa. Cuma narik dan semprit-semprit doang.”
Pokoknya keberadaan tukang parkir liar merebak di mana-mana. Terutama di pusat belanja-konsumsi masyarakat. Seperti di warung makan, bahkan kata Sabirin, di depan warung es degan saja dijaga tukang parkir.
Sabirin menyimpulkan mereka ada tukang parkir liar karena tidak berseragam resmi dari Dinas Perhubungan (Dishub).
Tukang parkir siluman di Jombang
Hal senada juga diungkapkan oleh Maulida (16), remaja SMA yang menjalani kehidupan sehari-hari di Jombang. Dalam pengalaman Maulida, tukang parkir paling merebak di kawasan pusat kota dan sekitarnya.
“Di kawasan kan banyak pertokoan. Setiap pertokoan ada tukang parkirnya,” ujar Maulida.
Keadaan tersebut kerap membuat Maulida gemas sendiri. Misalnya, dalam satu kali perjalanan di kawasan tersebut ia harus pindah dari satu toko ke toko lain, artinya di setiap toko ia harus mengeluarkan Rp2 ribu.
Jangan remehkan uang Rp2 ribu. Bagi Maulida, kalau setiap tempat harus mengeluarkan Rp2 ribu untuk membayar tukang parkir, lama-lama ya kerasa juga.
Tapi yang paling menyebalkan bagi Maulida adalah jenis tukang parkir siluman di Alun-alun Jombang. Di setiap sudut lingkaran alun-alun, ada tukang parkirnya.
Nah, sering kali, ketika Maulida datang ke alun-alun lalu memarkir di salah satu sudut terbuka, awalnya tidak ada aktivitas orang memarkir. Hanya ada pedagang keliling (penjual pentol dan sejenisnya) dan para pengunjung yang berlalu-lalang.
Akan tetapi, saat ia hendak keluar, baru saja berjalan mendekat ke arah motornya, tiba-tiba ada orang yang datang membawa sempritan (tanpa seragam resmi) menarik parkir.
“Rp2 ribu saja memang. Tapi modelnya yang seperti siluman bikin kesal. Waktu aku datang, dia nggak ada. Pas aku mau pulang, dia tiba-tiba muncul sambil minta Rp2 ribu. Tapi ya nggak bantuin. Minimal bantuin nyebrang kek,” keluh Maulida.
Problem tukang parkir liar di Jombang sebenarnya bukan perkara yang sama sekali tidak diketahui pemerintah. Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Jombang rutin melakukan pengawasan, operasi gabungan, teguran, pembinaan, dan penertiban. Namun, para oknum juru parkir liar ini memang selalu menemukan celah untuk mengumpulkan pundi-pundi Rp2 ribuan.
Pada 2024 silam bahkan sempat ramai sejumlah juru parkir yang menggetok tarif, yakni antara Rp5 hingga Rp10 ribu, sebagaimana diberitakan Berita Jatim. Sudah begitu, dalam meminta uang parkir, mereka juga memaksa. Sehingga terkesan memalak.
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Tinggal di Jombang Selatan: Tiap Hari Rumah Didatangi 4-5 Pengamen Keras Kepala dari Pagi-Malam karena Terlanjur Tuman atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan