Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Sehari-hari

Latihan Ala Penjaga Warung Madura Operasikan Toko 24 Jam: Memang Tak Seperti Latsarmil Koperasi Desa tapi Teruji

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
3 Juli 2026
A A
Latihan ala penjaga warung madura dalam mengoperasikan toko kelontong 24 jam non-stop. Lebih teruji dari Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) MOJOK.CO

Ilustrasi - Latihan ala penjaga warung madura dalam mengoperasikan toko kelontong 24 jam non-stop. Lebih teruji dari Koperasi Desa Merah Putih (KDMP). (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Penjaga warung madura memang tidak menjalani latihan dasar militer (Latsarmil) sebagaimana calon manajer KDMP. Namun, jangan salah. Para penjaga toko kelontong serba-ada tersebut sebenarnya juga harus terlatih di tengah jam operasi 24 jam non-stop. 

***

Sebuah konten di media sosial mencoba membandingkan penjaga warung madura dengan pegawai KDMP. Tanpa latihan militer yang menelan korban jiwa, penjaga warung madura nyatanya teruji dalam mengoperasikan toko kelontong yang sudah menjamur di berbagai wilayah di Indonesia. 

Meski hanya terkesan duduk menanti pembeli sembari sesekali menata etalase atau botol-botol minuman kemasan di lemari es, penjaga toko kelontong 24 jam non-stop tersebut sebenarnya merupakan “orang-orang terlatih” loh. 

Istilah itu keluar dari dua orang penjaga warung madura di Jogja yang saya temui secara terpisah. Awalnya terdengar bercanda, tapi kalau dipikir-pikir, memang harus terlatih sih untuk menjaga lini bisnis dengan banyak pesaing dan bahkan berada jauh dari kampung halaman itu. 

 

Lihat postingan ini di Instagram

 

Sebuah kiriman dibagikan oleh Rocky Gerung (@rockygerungmenulis)

Penjaga warung madura harus adaptif dan berdamai dengan kebosanan

Bagi anak muda seperti Nuri (24), tinggal di kampung halamannya di Sumenep, Madura, tentu jauh lebih nyaman ketimbang di perantauan. Meski bertugas di Jogja pun tidak buruk-buruk amat bagi Nuri. 

Kasur di kamar rumahnya di Sumenep pun, meski sekadarnya, juga jelas terasa lebih empuk jika dibanding dengan kasur lantai yang ia tiduri di bilik sempit warung madura yang ia jaga. 

Dalam konteks ini, kata Nuri, hal pertama yang harus dilatih oleh penjaga warung madura adalah kemampuan beradaptasi. Meski koneksi antar penjaga warung madura di berbagai daerah sebaran sangat kuat, tapi perbedaan kultur di setiap daerah jelas memberi tantangan tersendiri. 

“Misalnya di Jogja ini. Aku harus adaptasi sama gimana karakter orang-orangnya. Di sini orangnya cenderung santun, berarti untuk menarik pelanggan, juga harus memberi kesan seperti itu. Biar langganan,” ucap pemuda itu saat saya ajak berbincang di sebuah warung madura di Sleman, Jogja, belum lama ini. 

Belum lagi persoalan sempitnya ruang privasi—kamar untuk istirahat—di warung madura. Nuri beruntung karena di bagian belakang warung yang ia jaga ada bilik kecil. Tapi ada juga warung yang tidak memiliki bilik, sehingga aktivitas sehari-hari memang harus dilakukan di ruang utama untuk menjaga toko. 

Iklan

Faktor cuaca juga menuntut ketahanan fisik. Tentu butuh adaptasi dari iklim madura yang cenderung panas-kering ke daerah yang misalnya punya iklim lebih dingin. 

“Yang nggak kalah penting, mengatasi kebosanan. Karena sehari-hari kan di toko. Terus beda sama di kampung yang kita bisa ngopi atau main-main dengan sebaya. Jadi memang harus tahan-tahanan bosan,” beber Nuri. 

Di awal-awal menjaga warung, Nuri memang mengaku jenuh sekali. Karena di sela melayani pembeli, ia mentok hanya bisa main game, nonton YouTube, atau teleponan dengan teman atau keluarga di kampung. 

Seiring waktu, Nuri pun memutuskan berdamai. Sebab, dalam benaknya, tidak masalah harus hidup berkutat di dalam toko kelontong. Karena memang dari situlah sumber cuannya mengalir. 

Selain itu, jika tidak sedang shift jaga, Nuri biasanya melipir ke warung madura lain. Memang lagi-lagi hanya di warung madura, tapi setidaknya ia menemukan suasana lain dari suasana warung yang ia jaga. Dan lebih penting adalah ada teman berbincang selain istrinya yang sehari-hari membantunya jaga. 

Mental baja, tak gentar karena lakukan hal benar

Seumur-umur, Nuri mengaku belum pernah adu jotos dengan orang lain. Ia juga tidak punya keterampilan bela diri khusus seperti silat atau karate. 

Namun, dalam kultur para perantau asal Madura, mentalitas menjadi variabel penting yang harus ditempa. Sehingga, jika dalam konteks membela harga diri dan hal benar, tidak lantas merasa gentar. 

“Aku itu belum pernah mengalami (hal buruk). Tapi kalau ada hal buruk, misalnya pemalakan, aku berani kelahi. Kalau perlu carok, ya carok, kalau memang merugikan,” kata Nuri sembari menunjukkan sebuah carok (celurit khas Madura) yang terselip di dinding belakang toko kelontong yang ia jaga. 

Keberadaan carok memang nyaris selalu bisa ditemui di warung madura. Ada yang diletakkan tersembunyi tapi strategis, tapi ada juga yang memajangnya blak-blakan sebagai bentuk peringatan: jangan macam-macam. 

Nuri pun mendapat beberapa cerita dari penjaga warung madura lain: jika ada pemalakan, pasti si penjaga tidak segan menggamit caroknya untuk memberi peringatan. 

“Bukan kami pengin bikin ribut. Tapi kami ini kan cari nafkah secara halal. Mencari nafkah baik-baik. Jadi sesama mencari hidup, janganlah saling merecoki,” kata Nuri. 

Baca lanjutannya di halaman selanjutnya…

Dimensi spiritual yang harus dilatih 

Halaman 1 dari 2
12Next

Terakhir diperbarui pada 5 Juli 2026 oleh

Tags: KDMPkopdeskoperasi desalatsarmir kdmpmanajer kopdespenjaga warung madurapilihan redaksitoko kelontongtoko kelontong 24 jamtoko kelontong maduratoko madurawarung madura
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Orang tua, ibu.MOJOK.CO
Urban

Sulitnya Menjadi Ibu Muda Tanpa Cela di Ibu Kota: Parenting Dituntut Sempurna, tapi Sudah Digempur Stres Kerja

10 Juli 2026
Senjakala Lapangan Sepak Bola di Jogja yang Makin Berjarak dengan Warganya.MOJOK.CO
Suara Bawah Tanah

Senjakala Lapangan Bola di Kota Jogja yang Makin Berjarak dengan Warganya

9 Juli 2026
Tahlilan di desa. MOJOK.CO
Catatan

Gen Z di Desa Ogah-ogahan Ikut Tahlilan Bikin Cemas Para Tetua: Bisa Hilang Budaya Srawung dan Peduli Tetangga

8 Juli 2026
Lapangan Bola di Kauman, Jogja. MOJOK.CO
Suara Bawah Tanah

Lapangan Paving: Kemewahan yang Tersisa bagi Anak-anak Kota Jogja untuk Bermain Bola

7 Juli 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Warga makin malas bayar pajak bukan berarti membangkang, tapi karena ulah pemerintah sendiri MOJOK.CO

Makin Malas Bayar Pajak Bukan Semata Membangkang tapi Akumulasi Kekecewaan, Pemerintah Bisanya Nagih Doang

10 Juli 2026
Setiabudi Jakarta Selatan, Work Life Balance.MOJOK.CO

Kawasan Setiabudi Strategis buat Ngekos, tapi Menyimpan Masalah yang Menyiksa Perantau Gen Z Jakarta

7 Juli 2026
Truk sampah di TPA Troketon, Klaten. MOJOK.CO

Mengais Asa di TPA Troketon, Benteng Terakhir Penghidupan Warga Klaten

10 Juli 2026
Emas 74 Kilo, Sumatra Gelap Gulita, dan Aparat Hukum yang Berperan Ganda MOJOK.CO

Emas 74 Kilo, Sumatra Gelap Gulita, dan Aparat Hukum yang Berperan Ganda

10 Juli 2026
Bagi Najwa Shihab, gagasan liar anak muda seperti dalam esai para penerima Djarum Beasiswa Plus dalam Final Nasional Essay Contest Beswan Djarum 2026 harus diberi ruang MOJOK.CO

“Gagasan Liar” Anak Muda Harus Diberi Ruang, Terdengar Tak Lazim tapi Penting Dibicarakan

6 Juli 2026
Selain ke petugas Sensus Ekonomi, warga desa juga jengah dengan program sensus dari mahasiswa KKN MOJOK.CO

Warga Desa Juga Jengah dengan Sensus dari Mahasiswa KKN: Tak Nemu Gunanya, Tak Srawung tapi Korek Privasi Orang

8 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.