Sebuah gagasan, meski terdengar liar, tetap sepatutnya mendapat ruang. Sebab, barangkali dari gagasan-gagasan liar itulah, solusi penting dilahirkan.
***
Tiap kali berdiskusi dengan anak-anak muda dengan gagasan liar dan berani, jurnalis senior Najwa Shihab mengaku selalu pulang membawa sesuatu yang mesti dipikirkan. Begitu juga ketika ia menjadi juri bagi 16 mahasiswa penerima Djarum Beasiswa Plus (Beswan Djarum) dalam Final Nasional Essay Contest Beswan Djarum 2026 di Badung, Bali, 25-26 Juni 2026.
“Menurut saya, banyak inovasi lahir dari gagasan yang pada awalnya terdengar tidak lazim,” kata Najwa kepada Mojok, Jumat (26/6/2026) sore.
“Saya justru ingin anak-anak muda berani mengajukan gagasan yang belum tentu langsung diterima. Setelah itu, biarkan gagasan itu diuji. Kalau memang kuat, ia akan bertahan. Kalau masih lemah, kritik akan membuatnya menjadi lebih baik,” bebernya. Bagi Najwa Shihab, proses seperti itu jauh lebih berharga daripada hanya mencari ide yang sejak awal terasa aman.

Gagasan liar untuk persoalan sehari-hari yang ternyata penting dibicarakan
Selama dua hari, Mojok menyimak presentasi esai dari 16 Beswan Djarum. Berkali-kali pula Mojok mendengar celetukan dari meja ke meja: wah ini kan masalah yang kita hadapi sehari-hari, ternyata harus dipikirkan solusinya.
Misalnya esai yang dipresentasikan oleh Rofiqoh Wahidah (20), mahasiswa jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Bengkulu berjudul Di Balik Pintu Toilet Masjid, Sanitasi Belum Berpihak pada Perempuan yang menjadi esai terbaik kedua.
Tinggal di tengah komunitas masyarakat Islam, Rofiqoh sudah akrab dengan masjid sejak kecil. Seiring waktu, Rofiqoh merasa bahwa selama ini masih banyak masjid dengan fasilitas toilet yang belum memenuhi standar kebutuhan perempuan. Dibuktikan dengan pengalaman serta risetnya di sejumlah masjid di kota asalnya.
Misalnya, banyak masjid masih menggunakan konsep toilet basah dengan sistem drainase yang tidak memadai. Hasilnya, kerap kali Rofiqoh menemukan penyumbatan di toilet masjid dan terkesan dibiarkan. Hal itu, selain merepotkan perempuan yang harus membuka sebagian pakaiannya saat buang air, juga bisa memicu bakteri untuk berkoloni yang menimbulkan penyakit.

Belum lagi persoalan tempat sampah. Perempuan punya kepentingan membuang pembalut atau penti lener. Maka seharusnya tempat sampah di toilet perempuan menggunakan model tertutup.
“Siapa pun yang menggunakan toilet masjid menanggung risiko kesehatan akibat sanitasi yang buruk. Namun, perempuan memikulnya secara tidak proporsional. Lebih-lebih, mayoritas takmir masjid adalah laki-laki, sehingga tidak memahami kebutuhan perempuan seperti apa,” ungkap Rofiqoh saat Mojok ajak berbincang selepas acara.
Terlebih lagi, masjid sebagai institusi umat Muslim harus merepresentasikan salah satu nilai dalam agama Islam: thaharah (bersuci).
“Ketika genangan di toilet masjid justru mengandung bakteri yang melampaui batas aman, apakah air yang digunakan jemaah perempuan untuk bersuci benar-benar memenuhi syarat thaharah?” begitu refleksi Rofiqoh.
Dari persoalan tersebut, Rofiqoh pun mengusulkan penerapan Standar Sanitasi Ramah Perempuan (SSRP) di ribuan titik masjid di Indonesia.
Disabilitas taktampak tidak boleh diabaikan
Sementara itu, esai Gabriella Sunsugos Sianturi (21) dari Teknik Elektro Universitas Udayana Bali yang menjadi esai terbaik pertama mengangkat isu yang kerap terabaikan: disabilitas taktampak.
Berjudul Saat Sehat Menipu: Bagaimana Sistem Bisa Melindungi Disabilitas Tak Tampak?, esai tersebut berangkat dari pengalaman tidak menyenangkan yang pernah Gaby alami sendiri di sebuah transportasi umum.
“Suatu hari, seorang ibu meminta kursi yang saya duduki di bus. Sebuah kewajaran yang patut dilakukan karena saya lebih muda dan tampak sehat. Ironisnya, perjalanan dengan berdiri membawa saya pada kondisi yang genting,” tutur Gaby.
Sebagai orang dengan autoimun, situasi tersebut tidak sekadar urusan memberikan tempat duduk pada orang yang lebih tua. Sebab, risiko keselamatan serius mengancam Gaby saat harus mengalah memberikan kursi.

”Meskipun sekilas terlihat baik-baik saja, kelelahan ekstrem, tremor, hingga jantung yang berdebar bisa saya rasakan. Dalam perjalanan itu yang menyadarkan saya, apakah dengan penampilan yang terlihat sehat akan tetap dipercaya bahwa saya seorang disabilitas?” ungkapnya.
Dari situlah, melalui esainya, Gaby mendorong terbentuknya sistem yang inklusif terhadap mereka dengan disabilitas taktampak, seperti autoimun, epilepsi, gangguan saraf, penyakit kardiovaskular, dan sejenisnya.
Secara fisik mereka memang tampak sehat dan normal. Namun, dalam situasi tertentu, mereka justru bisa berhadapan dengan situasi darurat jika orang-orang di sekitar tidak mengabaikannya.
Melalui esainya, Gaby menawarkan solusi VISI (Verifikasi Digital, Identitas Dua Lapis, dan Edukasi). Prinsipnya, solusi tersebut diproyeksikan membentuk sistem yang seimbang antara perlindungan dan efektivitas layanan publik. Dan tentu saja membangun pemahaman yang sama antar-kalangan terhadap mereka dengan disabilitas tak tampak.
Essay Contest Beswan Djarum: melihat masa depan Indonesia dari generasi muda hari ini
Gagasan-gagasan anak muda tersebut membuat Najwa Shihab merasa optimis melihat masa depan Indonesia.
Selama dua hari menjadi juri, Najwa melihat bahwa anak-anak muda Indonesia tidak kekurangan ide. Mereka sangat peka terhadap persoalan di sekitarnya, bahkan mampu melihat masalah dari sudut pandang yang tidak terpikirkan sebelumnya.
“Tugas kita sekarang adalah memastikan ruang seperti ini terus ada. Ruang untuk berpikir, berdiskusi, dan berbeda pendapat,” kata Najwa.
“Karena ide yang baik bukan lahir dari orang yang merasa paling benar, tetapi dari orang yang bersedia terus menguji pikirannya sendiri. Kalau budaya itu tumbuh, saya optimis dengan masa depan Indonesia,” tegasnya.

Kendati begitu, gagasan kreatif anak-anak muda tidak bisa berdiri sendiri. Perlu disiplin—terhadap waktu, janji, hidup dll. Begitu yang ditekankan Soewarno M. Serad selaku penggagas Djarum Beasiswa Plus.
“Jadilah insan mandiri, jangan sebentar-sebentar berkeluh kesah. Harus benar-benar mandiri. Jadilah insan yang punya wawasan kedepan, berpikir panjang. Karena bangsa yang besar yang mampu berpikir panjang,” kata Soewarno dalam sambutannya.
Jangan malas, begitu yang ditekankan Soewarno. Sebab, kemalasan adalah awal dari ketidakmampuan di kemudian hari. Maka dari itu, anak-anak muda saat ini harus berani mencoba dan melangkah. Dengan begitu, pungkas Soewarno, disiplin akan terbangun, kemandirian pun akan muncul.

***
Final Essay Contest Beswan Djarum 2026 menjadi ruang bagi 16 finalis dari berbagai daerah dan universitas memaparkan gagasan-gagasan mereka melalui esai yang mereka tulis. Sekalipun berupa gagasan yang terdengar tak lazim, tapi sejatinya berangkat dari persoalan yang benar-benar bersinggungan dengan kondisi riil sehari-hari, antara lain:

- Wiwin Theresa Hitan (Universitas Tanjungpura): Meruntuhkan Sekat, Membersamai Langkah Anak Berkebutuhan Khusus Melalui Ruang Tumbuh Inclusion Link
- Syahla Ameera Savitri Siradju (IPB University): Akhiri Kemitraan Semu, Saatnya Lindungi Hak Ojol Melalui Kategori Pekerja Ketiga
- Rafiqoh Wahidah (Universitas Bengkulu): Di Balik Pintu Toilet Masjid, Sanitasi Belum Berpihak Pada Perempuan
- Fernaldy Bima Adiputra (Universitas Bina Nusantara): Menggugat Impunitas Finfluencer Dan Urgensi Akuntabilitas Institusi Sekuritas
- Heka Faza Nur Azizah (Universitas Pasundan): TPU Farm : Ketika Kematian Menumbuhkan Kehidupan
- Vania Nur Aneira (Universitas Padjadjaran): Berdarah Dan Berbayar: Ketika Menstruasi Menjelma Menjadi Kemewahan Yang Tak Terjangkau
- Wijaksara Aptaluhung (Institut Teknologi Bandung): Ketika Diam Diwariskan: Maskulinitas, Kesehatan Mental, Dan Siklus Yang Membungkam Laki-Laki
- Jocelyn Kristanti (Universitas Padjadjaran): Media Sosial Meresepkan: Bahaya Fenomena Self-Diagnosis Kesehatan Mental pada Generasi Z
- Caroline Noel Amaris Purnomo (Universitas Katolik Soegijapranata): Di Balik Zona Nyaman Semu: Krisis Hubungan Autentik Di Era AI Companion
- Adeline Hartono (Universitas Diponegoro): Menghapus Doktrin Wangi Berarti Bersih Demi Keamanan Konsumen
- Lola Nadiya Putri (Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta): Dilema Crab Mentality: Si Gendhuk Terlalu Bersinar Untuk Desanya, Terlalu Redup Untuk Dunia
- Christopher William Piri (Universitas Nasional Karangturi Semarang): Akhiri Teror Jalanan: Dari “Kreak” Ke Olahraga Berkarakter
- Fitroh Ghoniyyu Yahya (Universitas Airlangga): Tawadhu’ Sebagai Pisau Bermata Dua: Dekonstruksi Relasi Kuasa Dan Reformasi Etika Pesantren
- Farhan Aldan Khairian (Universitas Airlangga): Layar Yang Menelanjangi Duka: Saat Kematian Menjadi Tontonan Di Era Digital
- Muhammad Akramul Faroghy (Universitas Mataram): Di Balik Setiap Lapisan Paket: Ancaman Masif Limbah Plastik Bubble Wrap di Era Belanja Daring
- Gabriella Sunsugos Sianturi (Universitas Udayana): Saat “Sehat’ Menipu: Bagaimana Sistem Bisa Melindungi Disabilitas Tak Tampak?
Seluruh esai tersebut nantinya akan ditayangkan di Mojok.co dan bisa dibaca oleh publik untuk turut membuka kesadaran atas persoalan di sekitar.***(Adv)
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Agung Purwandono
BACA JUGA: Menulis Esai Jadi Bekal Karier Anak Muda, Beri Ragam Soft Skills Vital yang Dicari Dunia Kerja Profesional atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














