Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Daripada Acungkan Senjata di Jalan, Remaja Kreak Semarang Lebih Baik Naik Ring Adu Pukulan

Christopher William Piri oleh Christopher William Piri
16 Juli 2026
A A
Daripada Acungkan Senjata di Jalan, Remaja Kreak Semarang Lebih Baik Naik Ring Adu Pukulan MOJOK.CO

Ilustrasi Daripada Acungkan Senjata di Jalan, Remaja Kreak Semarang Lebih Baik Naik Ring Adu Pukulan. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Teror kreak membuat warga Semarang takut melintasi jalanan pada malam hari. Namun, ketika hukuman tak cukup menghentikan kekerasan, adu pukulan di atas ring bisa saja jadi solusi.

Saking takutnya pada kreak, seorang warga Semarang sampai memilih mengangkat senapan angin. Ia menembak seorang pemuda yang diduga anggota kelompok tersebut menggunakan senapan angin hingga terluka parah. 

Iklan

Polisi kemudian menetapkannya sebagai tersangka. Tindakan itu tentu tidak dapat dibenarkan, tetapi peristiwa tersebut memunculkan pertanyaan yang mengganggu: mengapa rasa takut terhadap kreak bisa membuat warga nekat mengambil tindakan sendiri?

Kreak bukan lagi dianggap sekadar kenakalan remaja. Di Semarang, istilah ini disebut berasal dari gabungan kata bahasa Jawa kere, yang berarti miskin atau lemah secara ekonomi, dan mayak, yakni bertingkah berlebihan, sok, atau belagu. 

Dalam perkembangannya, kreak menjadi sebutan bagi kelompok remaja yang berbuat onar, membawa senjata tajam, terlibat tawuran, atau menggunakan kekerasan untuk memperoleh pengakuan.

Fenomena itu telah mengubah cara sebagian warga memandang jalanan di kotanya sendiri. Survei yang dipublikasikan dalam Jurnal Majemuk pada 2025 menunjukkan 90,3 persen responden mengenal fenomena kreak, sementara 42 persen mengaku rasa aman mereka terganggu. 

Berdasarkan data awal dan audiensi yang sedang diupayakan dengan SPKT Polrestabes Semarang, fenomena kreak dapat dibedakan menjadi dua kelompok. Pertama, kreak destruktif yang didominasi pelajar pembuat onar, tetapi masih mungkin dibina. Kedua, kelompok yang tindakannya telah mengarah pada kriminalitas serius. Aksi mereka beragam, mulai dari menutup jalan sambil mengacungkan senjata tajam hingga menggelar balap liar.

Ancaman tersebut juga tidak hanya terjadi di satu wilayah di Semarang. Data laporan kepolisian selama 2021–2025 menunjukkan kasus tawuran dan kepemilikan senjata tajam tersebar di sejumlah kawasan Semarang. Salah satu kasus yang paling menyita perhatian adalah tewasnya seorang mahasiswa Universitas Dian Nuswantoro akibat sabetan senjata tajam di Kelud Raya, pada tahun 2024.

Penegakan hukum yang keras kerap dianggap sebagai satu-satunya jawaban. Namun, menangani pelaku anak tidak sesederhana menjatuhkan hukuman berat. Aparat tetap harus bekerja dalam kerangka perlindungan anak dan sistem peradilan pidana anak, tanpa mengabaikan keselamatan masyarakat.

Pendekatan punitif juga menyimpan persoalan lain. Sistem peradilan pidana dapat menjadi ruang yang justru memperkenalkan anak pada lingkungan dan pola kriminal yang lebih keras. 

Hukuman mungkin menghentikan kekerasan untuk sementara, tetapi belum tentu menyentuh akar persoalannya: kebutuhan akan pengakuan, lingkungan pergaulan, lemahnya pengendalian emosi, dan ketiadaan ruang ekspresi yang sehat.

Akar sosiologis fenomena kreak dan krisis kesempatan

Sebagai pemuda yang peduli, saya terdorong berpikir kritis: apa akar fundamental kekerasan ini? Secara sosiologis, melalui kacamata Teori Ketegangan (Strain Theory) Robert K. Merton, anak-anak dalam pusaran kreak ini umumnya adalah remaja putus sekolah kesulitan memperoleh pekerjaan, atau hidup di kawasan dengan tingkat pengangguran tinggi. 

Mereka dibebani harapan untuk berhasil, tetapi tidak diberi cukup jalan untuk mencapainya. Ketika ruang untuk berprestasi terasa semakin sempit, jalanan menjadi tempat paling mudah untuk mencari pengakuan.

Teori Routine Activity Cohen dan Felson membedah bahwa aksi kreak berulang secara repetitif karena bertemunya niat jahat pelaku, target yang rentan secara spasial, dan absennya pengawasan keamanan memadai di jam-jam rawan. Kehampaan ruang publik yang aman pada malam hari memberikan peluang eksklusif bagi mereka untuk mengklaim dominasi teritorial yang menakutkan.

Di sisi lain, Teori Asosiasi Diferensial Edwin Sutherland menjelaskan bahwa perilaku kriminal dipelajari melalui interaksi dengan kelompok sebaya yang menyimpang. Di era digital saat ini, di mana 54,8% masyarakat mengetahui aktivitas kreak dari media sosial, proses pembelajaran kriminal ini terakselerasi pesat. Platform digital justru tanpa disadari mendistribusikan konten kekerasan dan glorifikasi eksistensi geng yang mengeksploitasi ego serta sistem dopamin remaja.

Mengubah kreak dari agresif jadi prestasi

Krisis ini bukan persoalan tanpa jalan keluar. Sejumlah negara telah mencoba berbagai cara untuk mendisiplinkan remaja. China mengintegrasikan pendidikan disiplin ala militer ke sekolah, sedangkan Korea Selatan menerapkan pelayanan masyarakat bagi remaja pelanggar hukum untuk menumbuhkan tanggung jawab dan empati. Di Indonesia, Dedi Mulyadi juga pernah menggagas pendidikan barak militer bagi pelajar bermasalah.

Berbagai pendekatan tersebut sama-sama berusaha menyalurkan energi remaja secara terstruktur. Namun, kedisiplinan tidak harus selalu dibangun melalui barak atau hukuman. Remaja juga membutuhkan ruang aman untuk berekspresi, mendapatkan pengakuan, dan mengelola agresivitas. Salah satu pendekatan yang dapat digunakan adalah Sport-Based Youth Development (SBYD).

Olahraga bela diri seperti tinju mungkin terdengar berisiko bagi remaja yang akrab dengan kekerasan. Bukankah mengajari mereka bertarung justru akan membuat keadaan semakin berbahaya? Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa olahraga bela diri yang disertai pembinaan karakter justru dapat melatih disiplin, kendali diri, dan pengelolaan emosi.

Iklan

Di dalam sasana, keberanian tidak dibuktikan dengan senjata atau pengeroyokan. Remaja harus mematuhi aturan, menghormati lawan, dan mengendalikan ego. Agresivitas yang semula meledak di jalanan pun dapat diarahkan menjadi kemampuan, kedisiplinan, dan prestasi.

GACOR Rookie Rumble dan kampanye #antikreak

Gagasan tersebut mulai diterapkan melalui “GACOR: Rookie Rumble” di Semarang. Kompetisi tinju amatir yang digagas UK Beyond Limits MMA Community bersama No Limits Training Facility ini menyasar pelajar dan mahasiswa berusia 17 tahun ke atas. Pendaftaran gratis membuka kesempatan bagi remaja dari berbagai latar ekonomi untuk ikut berlatih dan bertanding.

Panitia tidak sekadar mempertemukan peserta di atas ring. Remaja yang memiliki latar belakang kreak mendapat pemantauan dan pembinaan lebih intensif. Sebelum bertanding, mereka berlatih mengendalikan emosi, disiplin waktu, serta menghormati pelatih dan lawan. Pengakuan yang sebelumnya dicari melalui kekerasan jalanan diarahkan menjadi sportivitas.

Pendampingan juga berlanjut setelah pertandingan. Panitia mengumpulkan testimoni untuk mengevaluasi perubahan perilaku dan kondisi emosional peserta. Temuan awal menunjukkan bahwa waktu malam yang sebelumnya digunakan untuk aktivitas destruktif mulai dialihkan untuk berlatih atau beristirahat. Peserta yang dinilai berpotensi juga memperoleh kesempatan mengikuti pembinaan jangka panjang di sasana.

Upaya tersebut diperkuat melalui kampanye #antikreak di komunitas, wilayah rawan, dan media sosial. Kampanye ini berusaha membongkar anggapan bahwa kekerasan jalanan merupakan bentuk keberanian. Di dalam ring, penghargaan justru diberikan kepada peserta dengan penampilan, sportivitas, dan semangat terbaik melalui kategori Best Performance, Best Sportsmanship, dan Best Spirit.

Membangun ekosistem yang berkelanjutan

GACOR Rookie Rumble menunjukkan bahwa komunitas akar rumput dapat mengambil peran dalam mencegah kekerasan remaja. Namun, program semacam ini membutuhkan pendanaan berkelanjutan, baik melalui penjualan tiket, sponsor lokal, maupun kemitraan dengan pemerintah.

Saya mengusulkan agar Dinas Pemuda dan Olahraga mengembangkan model serupa di wilayah rawan kriminalitas di Semarang. Sasana tinju amatir gratis dapat dibuka melalui kerja sama dengan komunitas dan sekolah, misalnya sebagai kegiatan ekstrakurikuler yang disertai pembinaan karakter.

Sebab, remaja yang terseret dalam fenomena kreak tidak hanya membutuhkan hukuman. Mereka juga membutuhkan pengakuan, ruang berekspresi, dan sosok teladan. Melalui olahraga, pendampingan berkelanjutan, dan kampanye #antikreak, agresivitas mereka dapat diarahkan menjadi disiplin dan prestasi—sebelum kekerasan kembali memakan korban.

Penulis: Christopher William Piri
Editor: Agung Purwandono

*) Tulisan ini merupakan finalis Essay Contest Beswan Djarum 2025/2026. Naskah telah disunting oleh redaksi Mojok.co tanpa mengubah gagasan utama penulis.

BACA JUGA Kesepian Membuat Remaja Memilih AI sebagai Teman Curhat, Lalu Perlahan Menjauhi Manusia dan tulisan menarik lainnya di kanal Esai.

 

Terakhir diperbarui pada 16 Juli 2026 oleh

Tags: beswan djarumkreakSemarangtinju
Christopher William Piri

Christopher William Piri

Mahasiswa Sistem Informasi UNKARTUR dan penggerak olahraga sejak menjadi Wiramuda Dispora Semarang 2024. Atlet, pelatih, pendiri Beyond Limits MMA dan startup Olahraga, HybriX Athlete HybriX Athlete Sports Brand. Promotor Fight Event GACOR. Tertarik isu kesehatan, terutama pembinaan karakter pemuda berbasis olahraga.

Artikel Terkait

TPU Farm: Ketika Kematian Menumbuhkan Kehidupan MOJOK.CO

TPU Farm: Ketika Cabai Tumbuh di Area Makam

17 Agustus 2026
Tawadhu Tidak Seharusnya Membuat Santri Diam saat Menjadi Korban MOJOK.CO

Tawadhu sebagai Pisau Bermata Dua: Santri Tidak Seharusnya Dibungkam saat Menjadi Korban

26 Juli 2026
Ketika Video Korban Kecelakaan Mengubah Kematian Menjadi Tontonan MOJOK.CO

Ketika Video Korban Kecelakaan Mengubah Kematian Menjadi Tontonan

24 Juli 2026
Sekolah, Saya Hanya Ingin Kuliah, tetapi Crab Mentality di Desa Menganggap Saya Lupa Diri MOJOK.CO

Saya Hanya Ingin Kuliah, tetapi Crab Mentality di Desa Menganggap Saya Lupa Diri

23 Juli 2026
Sudah Berani Menyapa Teman-temannya, Murid ABK Malah Dianggap Tak Ada meski Berada di Sekolah Inklusif MOJOK.CO

Sudah Berani Menyapa Teman-temannya, Murid ABK Malah Dianggap Tak Ada meski Berada di Sekolah Inklusif

21 Juli 2026
Kita Membeli Sabun karena Wanginya, Bukan karena Tahu Kandungannya MOJOK.CO

Kita Membeli Sabun karena Wanginya, Bukan karena Tahu Kandungannya

18 Juli 2026
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla)sebagaimana terjadi di Kalimantan tidak bisa direduksi sekadar memadamkan api, ada gambut yang rusak MOJOK.CO

Karhutla Terus Berulang karena Pihak Berwenang Cukup Puas Padamkan Api, Akar Masalah Tereduksi

24 Agustus 2026
Melalui hidangan Buntil Salmon, Sasanti Restaurant menghadirkan telisik gastronomi dan permakultur yang memberi pengalaman mengesankan dalam mengeksplorasi kekayaan kuliner Nusantara. (Nusaplant)

Melalui Buntil Salmon, Sasanti Restaurant Tak Hanya Bicara Rasa tapi Pertemuan Kekayaan Pangan dan Flora Nusantara

21 Agustus 2026
Alma Odai "Cucurella" Diburu Fans, Pemain Thailand Disukai karena Lucu-lucu MOJOK.CO

Alma Odai “Cucurella” Diburu Fans di Srikandi Merdeka Cup, Pemain Thailand Disukai karena Lucu-lucu

22 Agustus 2026
ilustrasi - pekerja (Ega Fansuri/Mojok.co)

Pelarian Laki-laki Burnout usai Dihantam Pekerjaan tapi Dipaksa Kuat karena Tuntutan Kepala Keluarga Ideal

20 Agustus 2026
Garuda Pertiwi Menantang Thailand di Final Srikandi Merdeka Cup 2026, Pertarungan 2 Raksasa Tanpa Cela

Garuda Pertiwi Menantang Thailand di Final Srikandi Merdeka Cup 2026, Pertarungan 2 Raksasa Tanpa Cela

22 Agustus 2026
Fikih Hijau ala Masjid Walidah Dahlan UNISA Yogyakarta. MOJOK.CO

Fikih Hijau ala Masjid Walidah Dahlan UNISA: Masjid sebagai Mercusuar Peradaban dan Konservasi Lingkungan

22 Agustus 2026

Video Terbaru

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Syukur

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Bersyukur

20 Agustus 2026
Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

7 Agustus 2026
Bukan Sekadar Beternak Karang Taruna Bono dan Upaya Menghidupkan Ekonomi Warga

Dari Ternak untuk Desa: Geliat Karang Taruna Bono Menghidupkan Ekonomi Warga

31 Juli 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

🤖 PRAYIT AI ×
Salam dari Mojok! Aku Prayit AI. Ada yang bisa dibantu hari ini, Rek?
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.