Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Jagat

Nasib Rentan Warga Pesisir Kabupaten Batang: Rumah Terancam Abrasi Sewaktu-waktu, Nafkah “Tersumbat” PLTU

Al Afnan Mahatta oleh Al Afnan Mahatta
19 Agustus 2026
A A
Nasib rentan warga pesisir Kabupaten Batang karena ancaman abrasi dan PLTU MOJOK.CO

Ilustrasi - Nasib rentan warga pesisir Kabupaten Batang karena ancaman abrasi dan PLTU. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Kehidupan warga di pesisir Kabupaten Batang, Jawa Tengah, semakin tidak mudah. Rumah tempat bernaung berada dalam bayang-bayang ancaman abrasi yang bisa datang sewaktu-waktu. Mata pencaharian dari melaut pun terasa tersumbat oleh keberadaan PLTU. 

***

Iklan

Banyak bangunan rumah tampakyang tak lagi presisi akibat hantaman air laut.  Garis pantai yang semula berjarak jauh semakin ke sini kian mendekat ke pemukiman, menjadi alarm bahwa suatu hari bisa jadi akan terus merangsek menggerus posisi rumah-rumah warga di dekat pantai. Begitulah kiranya pemandangan yang bisa dijumpai di rumah-rumah warga pesisir di Kabupaten Batang, Jawa Tengah.

Berkelindan dengan itu, nasib warga pesisir yang menggantungkan hidup dari melaut pun mulai dihadapkan pada masa depan ekonomi yang kian seret. Bagaimana tidak, titik-titik tertentu dari laut Batang yang biasanya menjadi tempat menjala ikan, kini tidak serta merta bisa diakses dengan mudah. Keberadaan PLTU  tak hanya merusak ekosistem dan estetika pantai di Batang, tapi juga mengancam roda ekonomi warga.

Abrasi menggerogoti impian hidup tenteram warga pesisir Kabupaten Batang

Pada mulanya, kehidupan di pesisir Batang berjalan sebagaimana biasa tanpa kecemasan. Namun, mereka pada akhirnya tidak bisa melawan kenyataan bahwa abrasi semakin melahap daratan. Dari waktu ke waktu terus mendekati rumah-rumah warga. 

Pantai Sigandu menjadi salah satu titik dengan abrasi paling parah di Kabupaten Batang. Berdasarkan data resmi Pemkab Batang, dalam kurun waktu 10 tahun terakhir garis pantai selalu memakan daratan sebesar 200 meter dengan rata-rata laju kemunduran mencapai 12 hingga 16 meter per tahun.

Ekha Wijayanti (28) seorang warga yang rumahnya dalam ancaman abrasi bercerita, pikirannya nyaris tidak pernah tenang saat suara keras ombak menembus dinding-dinding rumahnya.

“Takut, khawatir juga. Lihat kondisi Pantai Sigandu yang makin terkikis dan beberapa bangunan juga udah kena imbasnya,” katanya kepada Mojok Jumat (14/8/2026).

Ia pun mengaku semakin susah tidur karena overthinking: dihantui rasa takut, kalau-kalau saat ia tidur, tiba-tiba saja air laut menyerobot masuk ke dalam rumahnya. 

“Kalau keinget sih nggak bisa tidur ya. Nah, kalau pas angin kencang kan air laut naik, ombaknya besar. Itu kadang takut ngebayangin kalau terjadi apa-apa gimana ya,” tutur Ekha dengan nada pasrah. 

Yang bisa Ekha lakukan adalah selalu berusaha berpikiran positif dan berdoa kepada Tuhan: semoga ia masih akan baik-baik saja.

Ingin relokasi rumah tapi terbentur biaya

Ekha memang masih baik-baik saja. Setidaknya di hari itu—hingga hari ini. Namun, jika melihat kondisi rumah dan abrasi yang terus meningkat, ia bukannya enggan bersiap. Apalagi memang sering kali rumahnya dihantam banjir rob.

“Kalau rob-nya besar bisa sampai masuk rumah. Jujur jadi risih pas lihat airnya yang kotor. Kadang (warna air) cokelat sama hitam dan baunya nggakga enak,” jelas Ekha.

Banjir rob memang datang tak kenal waktu. Bahkan di musim kemarau pun Ekha kerap tetap harus bergelut dengan serokan air karena genangan air masih merangkak masuk rumah melalui celah pintu dan jendela meski sudah ditutup rapat-rapat.

Ekha sebenarnya punya bayangan pun berniat untuk merelokasi tempat tinggalnya. Namun, keinginan terbesarnya itu masih harus tertunda karena terbentur biaya. Di titik itu Ekha dan warga senasib berharap Ppemkab atau pihak-pihak terkait mengulurkan tangan. Kalau tidak demikian, entah bakal sampai kapan uang Ekha terkumpul untuk benar-benar bisa merelokasi rumah. Belum terkumpul saja, sepertinya sudah akan diterjang abrasi terlebih dulu.

PLTU persulit mata pencaharian warga pesisir Kabupaten Batang

Ironi lain warga pesisir Kabupaten Batang adalah betapa di balik gemerlap cahaya listrik, ada nasib nelayan kecil yang harus dikorbankan. 

Saat Mmatahari berganti bulan, gemerlap lampu perlahan menyala. Pulau Jawa-Bali paling terang dibanding pulau tetangga. Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) di Batang jadi salah satu penyuplai terbesarnya.

Nahasnya, teriakan kesengsaraan warga sekitar jadi bayaran termahal. Mata pencaharian utama mereka terancam terenggut: melaut jadi serba sulit usai PLTU mengantongi izin resmi dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) terkait pengelolaan air laut.

Iklan

Dalam siaran persnya, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) secara resmi menerbitkan Izin Pemanfaatan Air Laut Selain Energi (ALSE) kepada PT Bhimasena Power Indonesia (BPI), pengelola PLTU Batang, Jawa Tengah, pada Rabu (9/7/2025). Izin ini menjadikan PLTU Batang sebagai pembangkit pertama di Pulau Jawa dan kedua di Indonesia yang memiliki legalitas pengelolaan air laut dalam kegiatan industrinya.

PLTU Batang memanfaatkan sekitar 3 miliar meter kubik air laut setiap tahunnya, terutama untuk proses pendinginan. Penggunaan air laut dalam skala besar ini memerlukan tata kelola yang akuntabel dan sesuai dengan ketentuan pemerintah. Melalui izin ALSE, kegiatan tersebut kini berada dalam kerangka hukum yang sah.

Hanya saja, izin tersebut ternyata berimbas pada nelayan kecil (cangkrang). Mereka terpaksa melaut lebih jauh karena tidak bisa sembarang berlayar di kawasan PLTU tersebut. Melaut lebih jauh artinya harus memakan biaya lebih banyak demi pasokan bahan bakar yang cukup supaya tidak terdampar di laut lepas.

Dikutip dari WALHI, nelayan di pesisir Batang, khususnya daerah Roban Timur, harus menempuh perjalanan 3-4 jam dari yang awalnya hanya kisaran 30 menit saja. Jalan aman tapi berisiko mati lebih dipilih ketimbang terjerat masalah dengan perusahaan.

Imbas dari “pengkavlingan” kawasan laut tersebut juga berimbas pada penurunan jumlah tangkapan para nelayan: penurunan hasil tangkapan ikan hampir dua kali lipat terjadi pasca cerobong asap PLTU beroperasi secara penuh.

Pada rentang 2020-2021 penurunan menyentuh angka 243.948  kilogram, sementara pada 2022 menyentuh hingga 74.05160.000 kilogram, sebagaimana mengutip laporan Penurunan Hasil Penangkapan Ikan dari Mongabay. Tak berhenti di situ, penurunan masih terus berlanjut pada 2023: menjadi 67.113 kilogram. Kemudian pada 2024 penurunannya di angka 86.637 kilogram. 

Tak hanya nelayan ikan, pemburu rajungan atau kepiting kecil setempat juga terkena imbasnya, misalnya Pak Yok. Hasil sebulan tiga kali melaut (mencari rajungan) kini menjadi semakin tidak menentu.

“Kalau paling dikit nggak sampai 1 kuintal, tapi kalau lagi rezeki 2 kuintal bisa lebih,”  kata Pak Yok yang merupakan ayah Ekha.

Mau tak mau, Pak Yok bersama buruh penangkap rajungan lain membanderol harga cukup tinggi supaya balik modal: Rp100 ribu sampai Rp140 ribu perkilogram di harga normal pada tahun ini. Sengaja dinaikkan dari tahun sebelumnya yang dijual di angka Rp80 ribu sampai Rp90 ribu perkilogram. Tapi bukan berarti penghasilannya lebih banyak, karena in this economy, Pak Yok juga harus berhadapan dengan daya beli yang anjlok drastis. Tidak melaut tidak ada pemasukan, melaut pun tetap hidup empot-empotan.

Tulisan ini diproduksi oleh mahasiswa program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) Universitas Tidar (Untidar) Magelang periode Agustus-November 2026.

Penulis: Al Afnan Mahatta

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Gagal Paham Pejabat Soal Pantura: Tanggul Laut adalah Proyek Berbahaya yang Memboroskan Anggaran atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 19 Agustus 2026 oleh

Tags: abrasi batangbatang jawa tengahnelayan batangpesisir batangpilihan redaksipltupltu batang
Al Afnan Mahatta

Al Afnan Mahatta

Artikel Terkait

Ta'awun, Takaful, dan Masjid Al Muharram Brajan yang Menebar Manfaat dari Sampah Sisa Warga.MOJOK.CO

Taawun, Takaful, dan Masjid Al Muharram Brajan yang Menebar Manfaat dari Sampah Sisa Warga

19 Agustus 2026
gaya rambut pria, barbershop, potong rambut mojok.co

Alasan Potongan Rambut Jadi “Jelek” setelah Pulang dari Barbershop, Tukang Cukur Sering Disalahkan meski Problemnya Ada di Pelanggan

18 Agustus 2026
Cuaca ekstrem, memanen air hujan.MOJOK.CO

Memanen Air Hujan Seperti Orang Desa Dianggap Budaya Jorok dan Terbelakang, padahal Bisa Menjadi Penyelamat Saat Kekeringan 

17 Agustus 2026
Kebisingan-kebisingan di desa yang sebenarnya wajar tapi kini dipermasalahkan karena narasi desa sebagai tempat slow living ideal MOJOK.CO

Hal-hal Wajar di Desa Jadi Dianggap Mengganggu Gara-gara Narasi Slow Living, Padahal Jadi Bumbu Kehidupan

14 Agustus 2026
Makrab, Budaya senioritas dan bullying di kampus.MOJOK.CO

Setelah 4 Kali Ikut Makrab di Kampus, Saya Percaya Budaya Ini Lebih Baik Dihapus Saja: Bukan Bikin Akrab, Malah Meruncingkan Konflik “Senior” dan “Junior”

13 Agustus 2026
Mahasiswa baru (maba) rela jadi jongos abang-abangan kampus di organisasi mahasiswa ekstra (ormek) dan tidak pernah menyesalinya MOJOK.CO

Maba Rela Jadi Jongos Abang-abangan Kampus demi Relasi dan Diskusi Kiri Apa Salahnya? Tak Malu dan Tak Menyesalinya

13 Agustus 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, Sri Sultan Hamengkubuwono X memimpin Upacara Peringatan HUT ke-81 RI di Gedung Agung.(MOJOK.CO)

Pesan Kemerdekaan Sri Sultan: Jogja Dibangun Tanpa Tergesa, tapi Juga Tidak Berhenti Melangkah

17 Agustus 2026
Honda Beat adalah motor paling boring di indonesia

Honda Beat adalah motor paling boring di indonesia tapi justru karena itu saya sayang banget sama motor ini

18 Agustus 2026
Fenomena sarjana jadi pengangguran karena ijazah kuliah memang bulan modal ekonomi dan persoalan ketimpangan kapital MOJOK.CO

Bedah Penyebab Sarjana Pengangguran: Ijazah Kuliah Tak Bisa Jadi Modal Ekonomi, Dapat Kerja Ditentukan Privilege Keluarga

15 Agustus 2026
Pesan veteran Indonesia di momen kemerdekaan. MOJOK.CO

Dari Veteran Indonesia ke Generasi Muda yang Pesimis Rayakan Kemerdekaan: Bacalah Buku Sejarah!

19 Agustus 2026
Pameran foto dalam Pesta Rakyat Jogja guna memeriahkan acara HUT ke-81 RI. MOJOK.CO

Potret Warga Jogja: Asyik “Pesta” Saat Pejabat sedang Upacara HUT ke-81 RI di Gedung Agung

17 Agustus 2026
Telat 3 Hari Perpanjang SIM, Pak Guru Ahmad Melawan Aturan yang Tak Kenal Ampun MOJOK.CO

Telat 3 Hari Perpanjang SIM, Pak Guru Ahmad Melawan Aturan yang Tak Kenal Ampun

14 Agustus 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.