Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Urban

Ujian Keuangan di Kota Perantauan: Bikin Mumet dan Gagal Nambah Tabungan Gara-gara Masalah yang Datang Keroyokan

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
24 Juni 2026
A A
Ujian keuangan di kota perantauan gara-gara masalah tidak terduga yang datang keroyokan, bikin gagal punya tabungan MOJOK.CO

Ilustrasi - Ujian keuangan di kota perantauan gara-gara masalah tidak terduga yang datang keroyokan, bikin gagal punya tabungan. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Hidup di kota perantauan kerap kali memberi hal-hal tidak terduga yang bikin pusing kepala. Ujian keuangan menjadi satu persoalan utama. Pasalnya, ketika ada uang lebih, saat pikiran terbesit untuk menambah tabungan, eh malah ada masalah yang datangnya keroyokan. 

***

Iklan

Ketika mengecek saldo dan ternyata ada uang lebih, Fardan (27) refleks bernapas lega. Sebab artinya ia bisa menambahkannya dalam tabungan. Selain juga menebus bulan sebelumnya yang jatah tabungan bulanannya berkurang atau bahkan tidak sama sekali. 

Fardan bekerja di sektor industri kreatif di Jogja. Selain gaji pokok sebesar Rp2,8 juta, ia juga kerap mendapat uang tambahan dari pekerjaan freelance. 

Namun, baru saja hendak memindahkan uang lebihnya tersebut ke rekening tabungan, ujian keuangan datang keroyokan. Masalahnya, entah kenapa, ketika ia punya uang lebih, selalu terjadi seperti itu. Berulang kali seperti itu. 

“Kalau masalah harga makanan yang naik, sebenarnya nggak terlalu berpengaruh. Karena hitungan duitku kan memang cukup kalau untuk makan, bensin, rokok, dan sewa kos,” kata Fardan. 

Barang-barang rusak secara serempak, ujian keuangan di kota perantauan yang ganggu mental

Pernah suatu kali Fardan merasa gembira sekali karena ia mendapat bonus karena kinerjanya di kantor yang dinilai bagus. Alhamdulillah, bisa buat nebus bulan sebelumnya yang gagal menabung. Begitu pikiran awalnya. 

Akan tetapi, ketika tengah dalam perjalanan ke kantor, ban motornya tiba-tiba jebluk. Ketika dibawa ke tambal ban, sialnya masalah ban motor Fardan tidak bisa diatasi hanya sekadar ditambal, tapi diganti. 

“Ban motorku kan tubeless, ternyata nginjak benda tajam yang bikin sobek lebar. Solusinya ya ganti ban. Cok, Rp250 ribu,” gerutu pemuda asal Jawa Timur tersebut, Selasa (23/6/2026). 

Masalahnya, sepanjang yang Fardan alami, masalah-masalah tidak terduga semacam itu kerap muncul keroyokan. Sebab, tidak lama setelah ganti ban tersebut, eh disusul layar ponsel yang rusak gara-gara kebanting, sehingga harus lekas diganti. Sama-sama kebutuhan primer soalnya. 

Polanya selalu begitu. Ada satu momen ketika motor habis diservis. Tidak lama kemudian, tiba-tiba Fardan kehilangan charger hp, sehingga mau tidak mau harus beli baru. Di lain waktu, giliran laptop yang bermasalah yang sialnya dibarengi dengan sepatu jebol. 

“Bikin stres. Karena pas lihat saldo, awalnya aku merasa kayak punya uang banyak. Tapi tiba-tiba jadi serba pas-pasan dan bahkan kurang,” ucap Fardan. 

Bayar-bayar di waktu bersamaan 

Ujian keuangan di kota perantauan bagi Fardan tidak berhenti di situ. Sebab, isi dompet dan saldonya kerap harus diloloskan untuk kepentingan yang sama mendesaknya. 

Misalnya, membayar sewa kos sebenarnya merupakan rutinitas bulanan yang niscaya Fardan hadapi. Dan memang ia sudah spend anggaran untuk keperluan tersebut. Kalau tidak bayar, bisa diusir to dari kosan. 

Iklan

Hanya saja, kadang kala keharusan bayar-bayar sesuatu yang sama mendesak tidak jarang datang bersamaan. “Habis bayar kos, ternyata harus bayar pajak motor. Nggak lama kemudian paket internet habis, harus beli lagi,” beber Fardan mencontohkan. 

Kalau sudah begitu, biasanya Fardan hanya bisa overthinking di kamar mandi, memegangi kepala sembari bersandar ke dinding kamar kos dengan layar hp menunjukkan pembagian uang di kalkulator, atau melamun sembari mengunyah gorengan di angkringan. 

Kalau Fardan saja, yang sebenarnya bukan sandwich generation, langsung mumet, bagaimana dengan sandwich generation? Seringkali Fardan berpikir demikian.

Kebutuhan kos habis di saat bersamaan, mau kesal tapi ke siapa?

Serupa, Lissa (24) pun bercerita hal serupa: kota perantauan memang kerap memberi ujian keuangan tidak terduga. 

Lissa perantau di Surabaya, Jawa Timur. Bekerja di sektor jasa, gaji Lissa tidak menyentuh Rp3 juta—tidak mencapai UMR Surabaya. 

Sebagai siasat berhemat, Lissa lebih memilih masak sendiri alih-alih makan beli di warung. Untuk urusan mencuci pakaian pun ia lebih suka mencuci sendiri alih-alih laundry sebagaimana kebanyakan temannya. 

“Sering banget ngalamin, gas (LPG) habis. Nggak bisa masak, dong, harus beli. Tapi di saat yang sama, pas mau masa aku nyadar ternyata minyak goreng dan beras mau habis. Pas mau mandi, baru nyadar lagi kalau ternyata keperluan mandi (seperti sabun, pasta gigi, sampo) tinggal sisa-sisa,” tutur Lissa. 

Lissa mengaku ujian keuangan tersebut tidak hanya ia alami sekali. Tapi berulang kali. Alhasil, ketika habis belanja lagi untuk re-stock, ada perasaan kesal yang meletup-letup di dalam batin, setelah tahu keuangannya yang langsung terkuras di awal bulan. 

“Pas mau minum, eh air galon habis. Sesudah beli, giliran paket internet yang habis. Hadeh. Maksudku, sebenarnya kan barang-barang itu habis itu pasti terjadi. Tapi mbok ya jangan barengan gitu loh,” gerutu Lissa. Masalahnya, mau marah ke siapa? Ya kan memang semua itu adalah kebutuhan yang harus dibeli. 

“Kalau candaan sama temen-temen, ini semua salah gaji kita yang terlalu mini hahaha,” kelakar Lissa. “Gaji mini, eh harus hadapi ujian keuangan di kota perantauan. Ya katakan “sabar dulu” buah nambah tabungan.”

Kondangan/undangan pernikahan: ujian keuangan di kota perantauan yang tidak terhindarkan

Di tengah situasi menyebalkan tersebut, notifikasi muncul di ponsel Lissa. Memang bukan teman pinjam uang atau orang tua di rumah minta kiriman. Tapi tetap saja terasa menyebalkan, yakni undangan pernikahan. 

“Temen-temen cewek semasa kuliah dulu, yang seusiaku, rata-rata memang sudah pada nikah. Nah ini nggak enaknya punya teman banyak, pasti aku nggak luput dapat undangan pernikahan,” ucap Lissa. 

Untuk teman yang tidak terlalu dekat, biasanya Lissa hanya akan menransfer tanpa harus datang ke kondangan. Transferan untuk amplop pernikahannya pun sengaja tidak banyak. 

Tetapi berbeda jika konteksnya adalah teman dekat. Pertama, Lissa harus meluangkan waktu untuk menghadiri kondangan. Iya kalau rumahnya dekat, kalau jauh artinya Lissa harus mengeluarkan biaya transportasi. 

Kedua, karena teman dekat, maka Lissa harus mengisi amplop sedikit lebih tebal. Kalau sahabat, uang amplop tersebut harus didampingi pula dengan kado. Makin nambah pengeluarannya. 

Baik Lissa maupun Fardan masih belum bisa menemukan solusi yang tepat untuk mengatur keuangan agar tidak goyang saat ujian keuangan itu datang. Teman-teman pembaca Mojok barangkali bisa memberi saran atau tips mengelola keuangan. 

Penulis: Muchamad Aly Reza

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Penyakit Kronis Pemuda di Desa: Gampang Utang Bank untuk Hal Tak Penting, Cicilan Pikir Keri buat Ortu Terbebani atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

 

 

Terakhir diperbarui pada 24 Juni 2026 oleh

Tags: cara atur keuangancara atur tabungankota perantauanmasalah keuanganperantauantabungantips hemat di perantauan
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Persiapan Resign di Usia 30 Supaya Tidak Menderita dan Gila MOJOK.CO
Cuan

Kebodohan atau Keberanian: Inilah yang Saya Siapkan ketika Memutuskan Resign Menjelang Usia 30 dan Hidup Sebagai WNI Kelas Menengah Supaya Tidak Berakhir Menderita dan Gila

18 Juni 2026
In this economy: momen para laki-laki merasa gagal sebagai anak dan suami karena masalah keuangan (sulit ekonomi) MOJOK.CO
Urban

In This Economy: Momen Para Laki-laki Merasa Gagal sebagai Anak dan Suami, Gaji Numpang Lewat tapi Bingung Mau Kerja Model Gimana Lagi

1 Juni 2026
Sesal pernah kasar ke bapak karena miskin. Kini sadar setelah ditampar perantauan karena ternyata cari duit sendiri tidak gampang MOJOK.CO
Sehari-hari

Sesal Dulu Kasar dan Hina Bapak karena Miskin, Kini Sadar Cari Duit Sendiri dan Berkorban untuk Keluarga Ternyata Tak Gampang!

21 April 2026
Orang Jogja Syok Merantau ke Jakarta karena Nggak Bisa Sarapan Soto Bening yang Enak Mojok.co
Pojokan

Orang Jogja Syok Nggak Bisa Sarapan Soto Bening yang Enak di Jakarta

16 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Pengamen di kampung Jombang bisa datang 4-5 kali dalam sehari MOJOK.CO

Tinggal di Jombang Selatan: Tiap Hari Rumah Didatangi 4-5 Pengamen Keras Kepala dari Pagi-Malam karena Terlanjur Tuman

22 Juni 2026
Ujian keuangan di kota perantauan gara-gara masalah tidak terduga yang datang keroyokan, bikin gagal punya tabungan MOJOK.CO

Ujian Keuangan di Kota Perantauan: Bikin Mumet dan Gagal Nambah Tabungan Gara-gara Masalah yang Datang Keroyokan

24 Juni 2026
Masalah Orang Dewasa: Dana Darurat, Skincare, dan Kecemasan yang Sama-sama Mahal MOJOK.CO

Masalah Orang Dewasa: Dana Darurat, Skincare, dan Kecemasan yang Sama-sama Mahal

24 Juni 2026
Orang desa tidak mengenal konsep pensiun dan menua dengan tenang (slow living). Itu hanya konsep orang kota MOJOK.CO

Pensiun Ala Orang Desa Tak Seperti Bayangan Orang Kota: Bukan karena Rencana Slow Living tapi Dipaksa Keadaan Getir

19 Juni 2026
AUBMO Selamatkan Hidup Mahasiswa penerima KIP-K di Unair. MOJOK.CO

Di Balik Skandal Korupsi Rp103 Juta, AUBMO Menyelamatkan Hidup Mahasiswa Penerima Beasiswa yang Merantau

23 Juni 2026
Derita memelihara dan menyayangi kucing sepenuh hati di desa. Anabul dianggap hewan goblok MOJOK.CO

Sulitnya Memelihara dan Menyayangi Kucing di Desa: Dianggap Aneh dan Nggak Guna, Anabul Hadapi Hinaan dan Racun Tetangga

24 Juni 2026

Video Terbaru

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026
Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

21 Mei 2026
Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

17 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.