Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Sekolahan

Suasana KKN Tak Seindah Konten di TikTok: Banyak Drama Sesama Mahasiswa, hingga Tangis Palsu Saat Perpisahan dengan Warga Desa

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
5 Agustus 2026
A A
Mahasiswa KKN di desa

Ilustrasi - Mahasiswa KKN di desa (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Beberapa waktu lalu, saya berbincang dengan beberapa kawan mahasiswa yang sedang antusias menunggu jadwal keberangkatan KKN ke salah satu desa. Mereka ini terlihat bersemangat. 

Kepada saya, mereka bercerita sudah tidak sabar ingin membaur dengan warga desa, menginap di posko bersama teman-teman, dan menjalankan program kerja. Antusiasme itu, konon, dipengaruhi oleh deretan konten FYP TikTok.

Iklan

Di layar ponsel mereka, KKN selalu terlihat “estetik”. Drama keseruan bareng kawan KKN, tertawa lepas bareng anak-anak, hingga momen perpisahan yang penuh tangis haru bersama warga desa.

Mendengar ekspektasi yang tinggi itu, saya hanya bisa memberikan peringatan kecil. “Hati-hati, KKN itu selalu ada dramanya. Tidak semua seindah konten TikTok,” kata saya. 

Boleh-boleh saja membayangkan hal yang seru-seru, tetapi dari cerita banyak teman yang sudah melewati masa itu, KKN nyatanya sering kali justru membuat pesertanya stres.

Kekompakan semua mahasiswa KKN yang cuma ada di depan kamera

Peringatan saya itu rupanya sangat dirasakan oleh Pras (22). Baru saja menyelesaikan KKN tahun lalu, saat tren adu konten sedang ramai-ramainya, Pras menjadi saksi hidup betapa berbedanya kehidupan nyata dengan apa yang tampil di layar ponsel.

Jika orang luar melihat akun media sosial kelompoknya, mereka pasti mengira kelompok itu sangat solid. Semua konten yang diunggah terlihat rukun. 

Ada video mereka memasak bersama dengan penuh canda, rapat program kerja yang terlihat serius, sampai video jalan-jalan menyusuri desa.

Kenyataannya, kekompakan itu hanya adegan yang diatur demi media sosial. Pras bercerita, untuk merekam satu video singkat saja, teman-temannya harus mengatur posisi. Ada yang disuruh berpura-pura mencatat, pura-pura mengaduk masakan, dan berakting seolah sedang berdiskusi.

‘Tapi pas kamera mati, nggak ada akrab-akrabnya. Paling satu dua orang aja yang ngobrol. Yang lain udah sibuk sendiri-sendiri,” kisahnya, Selasa (4/8/2026).

Teman KKN minim inisiatif, bikin makin capek

Sikap mementingkan diri sendiri yang ditutupi oleh konten bagus itu perlahan menjadi masalah nyata di posko. Pras mengaku lelah bukan karena dituntut menjalankan program kerja. Ia lelah karena kebersamaan palsu itu berdampak langsung pada keseharian mereka. 

Lantaran aslinya tidak kompak, sama sekali tidak ada kerja sama untuk urusan sehari-hari.

Dari hal paling sederhana saja, urusan menjaga kebersihan posko. Menurut Pras, tidak ada yang bergerak menyapu lantai posko yang mulai kotor, atau membuang sampah yang menumpuk.

“Harus ada yang nyuruh dulu baru gerak. Itu pun kayak ogah-ogahan,” ujarnya.

Bahkan, untuk urusan mencuci piring bekas makan sendiri pun, mereka harus ditegur berulang kali. Banyak anggota yang asyik bersantai menunggu satu atau dua orang yang terpaksa membereskan posko.

“Saya sampai berpikir, mereka ini kan rata-rata anak rantau yang tinggal di tempat kos. Di sana apa iya gaya hidupnya sejorok dan semalas ini? Kok bisa mereka santai saja melihat tempat tinggalnya berantakan?” keluh Pras.

Bagi Pras, tinggal di posko ini sangat menguras emosi. Setelah lelah seharian mengurus program kerja di desa, ia harus pulang ke posko hanya untuk menghadapi teman-temannya yang malas saling membantu.

Gesekan dengan warga desa

Jika Pras stres karena urusan teman sekelompok, masalah yang jauh lebih berat diceritakan oleh Dayat (28). Mengingat kembali masa KKN-nya pada tahun 2018, Dayat menceritakan bahwa masalah KKN yang sesungguhnya justru terjadi di luar posko. 

Iklan

Gesekan dengan warga desa adalah sumber stres utamanya.

Media sosial sering menampilkan bahwa warga desa selalu lugu, ramah, dan akan menyambut mahasiswa dengan tangan terbuka. Padahal kenyataannya, sering terjadi “benturan” dengan mahasiswa. 

Kata Dayat, mahasiswa dari kota kerap datang membawa ide-ide bagus, tapi dengan pendekatan yang keliru. Merasa berpendidikan tinggi, mahasiswa sering kali tanpa sadar bersikap sok tahu saat mencoba mengatur kegiatan warga.

“Pernah kejadian di kelompok tetangga beda desa. Mereka menyinggung pemuda Karang Taruna dan tetua desa karena sembarangan membuat aturan serta acara,” ungkapnya.

Menurut Dayat, ada kecenderungan bahwa “mentang-mentang dari kota, berpendidikan, apalagi dari kampus top, mahasiswa beranggapan warga akan otomatis patuh”.

Ketidakmampuan mahasiswa meredam gengsi dan membaca tata krama lokal ini akhirnya menjadi bumerang. Mereka lupa bahwa masyarakat desa memiliki kebiasaan dan harga diri yang tidak bisa diremehkan oleh anak-anak muda pendatang.

Berakhir jadi “bulan-bulanan” warga

Menurut Dayat, ketika warga desa sudah merasa tersinggung oleh tingkah laku mahasiswa, hukuman yang diberikan bukanlah amarah yang meledak-ledak. Hukuman yang dijatuhkan lebih halus, tapi menyiksa secara mental.

Warga yang pada minggu pertama tampak sangat ramah, mendadak berubah menjadi sangat pasif dan dingin. Alhasil, puncak masalahnya terjadi saat program kerja mulai dijalankan. Ketika mahasiswa KKN mengadakan acara, warga sangat sedikit yang datang.

Anak-anak KKN itu dibiarkan kebingungan dan terasing. Mereka beraktivitas layaknya orang asing di desa. Tidak ada komunikasi, apalagi bantuan tenaga dari warga desa.

Situasi tidak nyaman ini terus berlangsung hingga hari kepulangan mahasiswa tiba.

“Boro-boro ada tangis haru perpisahan seperti di video TikTok. Saat mereka pulang, warga kayaknya malah bersyukur deh karena rombongan mahasiswa sok tahu itu akhirnya pergi dari desa mereka,” tutup Dayat.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Serba Salah KKN di Desa: Terlalu Pendiam Dianggap Nggak Guna, Banyak Omong Dicap Sok Tahu atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 5 Agustus 2026 oleh

Tags: Drama KKN mahasiswaKKNkkn di desaKonflik mahasiswa KKNKonten Tiktok KKNmahasiwa KKNMasalah KKN di desaRealitas KKN
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

Agustusan momen bikin mahasiswa KKN kelihatan jadi orang bingung, kalah pamor dengan anak muda Karang Taruna desa MOJOK.CO

Momen Agustusan bikin Mahasiswa KKN di Desa Jadi Orang Bingung, Lebih Sigap Karang Taruna

17 Agustus 2026
Mahasiswa KKN di desa

Serba Salah KKN di Desa: Terlalu Pendiam Dianggap Nggak Guna, Banyak Omong Dicap Sok Tahu

24 Juli 2026
Mahasiswa muak dengan KKN di desa. Mending magang saja MOJOK.CO

Mahasiswa Sudah Muak dengan KKN: Tak Dapat Faedah di Desa, Buang-buang Waktu dan Tak Dibutuhkan Warga

9 April 2026
Mahasiswa KKN di desa

KKN Itu Menyenangkan, yang Bikin Muak adalah Teman yang Jadi Beban Kelompok dan Warga Desa yang “Toxic”

9 April 2026
Mahasiswa KKN.MOJOK.CO

KKN Bikin Warga Muak Kalau Program Kerja Template dan Kelakuan Mahasiswanya Tak Beretika

17 Oktober 2025
KKN UMY Tidak Hanya Bisa Bikin Papan Nama MOJOK.CO

Mahasiswa UMY Atasi Sampah di Laut Wakatobi dengan Stove Rocket, Bukti KKN Tidak Hanya Bikin Papan Nama

6 Oktober 2025
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

GVD Resmi Rilis Single Perdana "VII", Bawa Konsep Post-Black Berbalut Visual Kei Cerah.MOJOK.CO

GVD Resmi Rilis Single Perdana “VII”, Bawa Konsep Post-Black Berbalut Visual Kei Cerah

23 Agustus 2026
Ta'awun, Takaful, dan Masjid Al Muharram Brajan yang Menebar Manfaat dari Sampah Sisa Warga.MOJOK.CO

Taawun, Takaful, dan Masjid Al Muharram Brajan yang Menebar Manfaat dari Sampah Sisa Warga

19 Agustus 2026
Tercatat 1 juta lulusan S1 (sarjana) jadi pengangguran hingga terjebak pinjol karena hidup konsumtif MOJOK.CO

Banyak Lulusan S1-S3 Nganggur Bukan Cuma karena Lapangan Kerja, Tapi Ada Juga Dua Masalah yang Jarang Disadari

19 Agustus 2026
Srikandi Fair dan Berkah Timnas Putri Indonesia bagi Pedagang Kudus: Ayam Geprek Habis Sebelum Waktunya MOJOK.CO

Srikandi Fair dan Berkah Timnas Putri Indonesia bagi Pedagang Kudus: Ayam Geprek Habis Sebelum Waktunya

23 Agustus 2026
fotografer wisuda

Suka Duka Fotografer Wisuda: Senang Mengabadikan Momen Bahagia Tapi Sial Karena ‘Harga Teman’

23 Agustus 2026
perubahan desil membuat penjual ayam potong menderita

Perubahan Desil Tak Masuk Akal Membuat Penjual Ayam Potong Menderita

21 Agustus 2026

Video Terbaru

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Syukur

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Bersyukur

20 Agustus 2026
Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

7 Agustus 2026
Bukan Sekadar Beternak Karang Taruna Bono dan Upaya Menghidupkan Ekonomi Warga

Dari Ternak untuk Desa: Geliat Karang Taruna Bono Menghidupkan Ekonomi Warga

31 Juli 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

🤖 PRAYIT AI ×
Salam dari Mojok! Aku Prayit AI. Ada yang bisa dibantu hari ini, Rek?
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.