Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Catatan

Warga Desa Juga Jengah dengan Sensus dari Mahasiswa KKN: Tak Nemu Gunanya, Tak Srawung tapi Korek Privasi Orang

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
8 Juli 2026
A A
Selain ke petugas Sensus Ekonomi, warga desa juga jengah dengan program sensus dari mahasiswa KKN MOJOK.CO

Ilustrasi - Selain ke petugas Sensus Ekonomi, warga desa juga jengah dengan program sensus dari mahasiswa KKN. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

“Jangankan sensus ekonomi dari BPS, sensus dari mahasiswa KKN saja kami sudah skeptis apa gunanya.” 

Di tengah riuh-rendah penolakan terhadap petugas Sensus Ekonomi 2026 yang terjadi di banyak wilayah belakangan ini, komentar tersebut terlontar dari seorang warga Jawa Tengah yang minta namanya disebut “Friman”. 

Iklan

Untuk diketahui, Jawa Tengah memang menjadi salah satu wilayah yang mengalami kendala penolakan petugas Sensus Ekonomi 2026 di kalangan masyarakat. 

Merujuk data di Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Tengah: hingga 30 Juni 2026 lalu, jumlah responden di Jateng yang sudah didata oleh petugas ada di angka 22,92 persen atau mencapai 4 jutaan orang. Sementara untuk mencapai 100 persen, cakupan sensus adalah 16 jutaan responden. 

Salah satu kendala utama yang ditemui adalah: masih banyak masyarakat yang enggan didata. Alasannya: banyak orang takut jika data pribadi mereka nantinya akan disalahgunakan, terutama dalam konteks perpajakan. Sampai akhirnya pihak BPS Jawa Tengah menekankan bahwa keamanan data privasi dijamin dan tidak ada hubungannya dengan penarikan pajak. 

Alergi sensus, bahkan yang dilakukan oleh mahasiswa KKN

Jika merujuk penjelasan Pakar Ekonomi Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura), Fatkur Huda, sebagaimana dalam tulisan, “Yang Harus Dibenahi dari Sensus Ekonomi usai Petugas Ditolak di Mana-mana, Karena Masyarakat Makin Sulit Percaya sebab Sering Dibuat Kecewa”, penolakan masyarakat terhadap Sensus Ekonomi 2026 sangat beralasan. 

Masyarakat memberikan data. Tapi kebijakan yang diambil nyatanya seringkali tidak berpihak pada mereka. Itu poinnya. 

Itulah kenapa, sejak lama, Friman pun merasa “alergi” tidap mendengar kata “sensus”. Termasuk ketika menghadapi sensus yang dilakukan oleh mahasiswa KKN. 

Desa Friman, daerahnya di Jawa Tengah, memang kerap menjadi daerah penempatan mahasiswa KKN. Friman hafal betul setiap program yang dicanangkan oleh para mahasiswa dari kota itu, walaupun setiap tahun pasti beda angkatan. 

“Programnya pengulangan kok, jadi bisa ditebak,” ujar laki-laki 30-an tahun tersebut saat berbagi keresahan, Selasa (7/7/2026). 

Tidak nemu apa gunanya

Salah satu program yang Friman resahkan—dan ia klaim juga diresahkan oleh sejumlah warga di desanya—adalah program sensus yang dilakukan oleh para mahasiswa KKN. 

“Hampir setiap ada anak KKN, pasti rumah saya atau tetangga didatangi. Katanya pendataan. Sensus lah. Katanya untuk memetakan masalah dan solusi yang dibutuhkan oleh warga,” kata Friman. 

Awalnya ia tidak masalah ketika ditanya-tanya. Sekalipun untuk urusan yang privat seperti masalah ekonomi keluarga.

Namun, lama-lama, karena pola tersebut terus berulang, Friman dan sejumlah tetangganya pun agak jengah. Sebab, kalau minta data penduduk, menurutnya tinggal minta langsung saja ke kelurahan. Selesai. 

Iklan

“Karena masa dari tahun ke tahun ada pendataan terus. Tapi saya nggak tahu ujungnya ini gunanya buat apa? Karena ternyata nggak menghasilkan apa-apa juga,” keluhnya. 

Friman sendiri bukannya menuntut para mahasiswa KKN memberi solusi atas masalah desa atau masalah ekonomi yang ia beberkan tiap pendataan. Tapi karena ia hanya memperoleh keterangan “Untuk memetakan masalah desa” di awal, maka ia merasa wajar jika ia mempertanyakan apa manfaat konkret dari pendataan tersebut—apalagi harus terus terjadi tiap momen penerjunan mahasiswa KKN. 

Tidak pelak jika akhirnya, dua tahun terakhir, ia memilih menutup pintu atau menolak didata tiap kali ada mahasiswa KKN bertamu untuk melakukan sensus. 

Tidak ada ikhtiar membangun kedekatan, tapi mengorek-orek privasi orang

Kritik serupa juga diungkapkan oleh Dude (26), pemuda desa yang kerap menjadi semacam pendamping mahasiswa KKN di desanya. Juga di Jawa Tengah. 

Menurut Dude, khusus dalam kasus yang ia alami, ada tipikal mahasiswa KKN dari kota yang cenderung membangun jarak dengan warga desa setempat. Gampangnya tidak punya inisiatif untuk srawung. 

“Kalau di desaku, yang jadi jembatan itu Karang Taruna. Maksudku, ya nggak apa-apa kami dampingi. Tapi di luar itu, harus ada upaya juga dari mahasiswa KKN untuk membangun kedekatan,” beber Dude. 

Memang ada satu-dua mahasiswa yang punya inisiatif semacam itu. Tapi tidak cukup. Sebab, keseluruhan mahasiswa KKN tersebut cenderung sibuk di basecamp ketimbang berbaur dengan warga. Bahkan ada yang cuek pula: berpapasan dengan warga tidak menyapa, kecuali dengan anak-anak. 

Selain itu, kerap kali juga hanya memposisikan warga sebagai objek program, tapi tidak melibatkannya sebagai subjek. 

“Kalau sopan, ya sopan mereka. Tapi karena kurang membangun kedekatan, sudut pandang warga akhirnya gini dari yang warga sampaikan ke Karang Taruna: wong jaba (orang luar), nggak kenal, kok datang-datang ke rumah nanya ini-itu,” kata Dude. 

Lanjut Dude, warga sebenarnya tidak masalah ditanya-tanya dalam sensus yang mahasiswa KKN lakukan. Tapi jangan buru-buru sensus. Bangun kedekatan dulu, sehingga warga tidak merasa hanya diposisikan sebagai objek yang bisa dimanfaatkan. 

Sebenarnya untuk apa sensus mahasiswa KKN? Jangan-jangan hanya sebagai laporan akhir?

“Apa cuma bakal jadi laporan akhir KKN ya data-data itu tadi?” begitu pertanyaan Dude. Kalau dalam penulisan laporan semacam itu, data tersebut memang bisa digunakan di bagian profil-demografi desa. 

Tapi sebenarnya bukan tanpa alasan kenapa sensus menjadi salah satu bagian yang tidak luput dilakukan oleh mahasiswa KKN. 

Mengutip dari berbagai sumber perguruan tinggi (baik negeri maupun swasta), sensus oleh mahasiswa KKN ditujukan untuk beberapa hal, secara umum: 

  1. Pemetaan masalah (untuk merancang program tepat sasaran)
  2. Pembaruan atau membantu digitalisasi data desa
  3. Pembaruan profil-demografi desa
  4. Membaca potensi desa atau warga yang bisa dikembangkan. Kaitannya dengan keperluan program pelatihan dan sejenisnya. 

Prinsipnya, selain masuk ke database mahasiswa KKN sendiri, data tersebut nantinya juga akan diserahkan ke pihak kelurahan untuk memberi gambaran masalah hingga peta potensi yang bisa menjadi acuan mencari solusi/menyusun program pembangunan desa. 

Lantas kenapa ada kelompok masyarakat—seperti di desa Friman dan Dude—yang merasa tidak ada guna/tindak lanjutnya? 

Dalam diskusi yang Mojok himpun dari banyak mahasiswa di topik “Kuliah Kerja Nyata”: persoalan desa yang kompleks rasanya tidak tepat jika dibebankan kepada mahasiswa yang datang untuk belajar dan sebagai supporting team. Tanggung jawab utama tetap ada di pihak para pejabat desanya sendiri. 

Penulis: Muchamad Aly Reza

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Mahasiswa Sudah Muak dengan KKN: Tak Dapat Faedah di Desa, Buang-buang Waktu dan Tak Dibutuhkan Warga atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan



Terakhir diperbarui pada 8 Juli 2026 oleh

Tags: mahasiswa kknmanfaat sensus ekonomipendataan mahasiswa kknpetugas sensuspetugas sensus ekonomiprogram KKNsensus ekonomisensus mahasiswa kkntujuan sensus ekonomi
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Petugas Sensus Ekonomi ditolak masyarakat karena sudah sulit percaya dengan pemerintah MOJOK.CO
Kabar

Yang Harus Dibenahi dari Sensus Ekonomi usai Petugas Ditolak di Mana-mana, Karena Masyarakat Makin Sulit Percaya sebab Sering Dibuat Kecewa

6 Juli 2026
Gubernur Jawa Tengah imbau warga Jateng terbuka saat Sensus Ekonomi 2026 MOJOK.CO
Kilas

Imbauan buat Warga Jateng saat Sensus Ekonomi 2026: Harus Terbuka karena Penting, Data Pribadi bakal Dijaga Kerahasiaannya

18 Juni 2026
Wakil Gubernur Jawa Tengah (Jateng) imbau masyarakat sambut baik petugas sensus ekonomi dari BPS MOJOK.CO
Kilas

Imbauan ke Warga Jateng kalau Ada Petugas Sensus Ekonomi Datang, Penting untuk Program Ekonomi Masyarakat

15 Juni 2026
Mahasiswa muak dengan KKN di desa. Mending magang saja MOJOK.CO
Sekolahan

Mahasiswa Sudah Muak dengan KKN: Tak Dapat Faedah di Desa, Buang-buang Waktu dan Tak Dibutuhkan Warga

9 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Saya Pengurus KDMP: Koperasi Desa Lebih Butuh Literasi daripada Militerisasi MOJOK.CO

Saya Pengurus KDMP: Koperasi Desa Lebih Butuh Literasi daripada Militerisasi

3 Juli 2026
Tahlilan jadi acara yang tidak empati pada perempuan. Tak punya jeda untuk berduka karena harus mikir suguhan hingga amplop kiai-tamu undangan MOJOK.CO

Tahlilan Jadi Beban Fisik dan Mental bagi Perempuan: Tidak Diberi Ruang Berduka karena Tuntutan Amplop hingga Suguhan

1 Juli 2026
Essay Contes Beswan Djarum: menulis esai memberi soft skills yang menunjang karier profesional MOJOK.CO

Menulis Esai Jadi Bekal Karier Anak Muda, Beri Ragam Soft Skills Vital yang Dicari Dunia Kerja Profesional

3 Juli 2026
Setiabudi Jakarta Selatan, Work Life Balance.MOJOK.CO

Kawasan Setiabudi Strategis buat Ngekos, tapi Menyimpan Masalah yang Menyiksa Perantau Gen Z Jakarta

7 Juli 2026
Latihan ala penjaga warung madura dalam mengoperasikan toko kelontong 24 jam non-stop. Lebih teruji dari Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) MOJOK.CO

Latihan Ala Penjaga Warung Madura Operasikan Toko 24 Jam: Memang Tak Seperti Latsarmil Koperasi Desa tapi Teruji

3 Juli 2026
Tips Meningkatkan Kenikmatan Ayam Goreng Olive Chicken Jogja (Mojok/Agung)

Tips Meningkatkan Kenikmatan Rasa Ayam Goreng Olive Chicken Jogja yang Sudah Menjadi Legenda Kuliner Itu

3 Juli 2026

Video Terbaru

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026
Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

21 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.