Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Sehari-hari

Momen Agustusan bikin Mahasiswa KKN di Desa Jadi Orang Bingung, Lebih Sigap Karang Taruna

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
17 Agustus 2026
A A
Agustusan momen bikin mahasiswa KKN kelihatan jadi orang bingung, kalah pamor dengan anak muda Karang Taruna desa MOJOK.CO

Ilustrasi - Agustusan momen bikin mahasiswa KKN kelihatan jadi orang bingung, kalah pamor dengan anak muda Karang Taruna desa. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Agustusan menjadi momen yang membuat mahasiswa KKN di desa tampak serba bingung—dan bahkan di titik tertentu terkesan tidak berguna. Alih-alih memberi warna baru, sebagaimana ekspektasi warga, keberadaan mereka justru tetap kalah pamor dari geliat anak-anak muda desa yang tergabung di dalam Karang Taruna. 

Pengakuan tersebut diungkapkan oleh seorang anggota Karang Taruna di sebuah desa di Jawa Tengah, Safawi, yang mengaku setidaknya 2 tahun terakhir bersinggungan dengan mahasiswa KKN di desanya seiring aktifnya ia di Karang Taruna desa. 

Iklan

Di momen Agustusan, mahasiswa KKN kelihatan kebingungan

Dalam pengalaman Safawi, momen Agustusan memang membuat mahasiswa KKN di desanya tampak seperti orang bingung. 

Begini, banyak warga desa Safawi memang berharap ada kegiatan yang lebih baru dan semarak dari umumnya warga desa. Maka tidak ayal jika warga meminta anak-anak muda Karang Taruna berkolaborasi dengan anak-anak kampus tersebut. 

Ekspektasi itu pun tidak datang begitu saja. Termasuk ekspektasi anak-anak Karang Taruna. Sebab, sejak awal, kegiatan Agustusan memang dipresentasikan sebagai salah satu program yang akan mahasiswa KKN jalankan di desa. 

“Tapi ketika kami ikut rapat mereka, anak-anak KKN ini malah kelihatan bingung buat cari format lomba yang nggak hanya baru, tapi juga seru,” tutur Safawi, Minggu (16/8/2026) malam. 

Bahkan di titik tertentu, Safawi mengaku, ketika ada anak Karang Taruna desa mengusulkan konsep ide kegiatan Agustusan, para mahasiswa KKN tersebut justru memasang wajah tidak antusias. Seperti meremehkan. 

Belum lagi jika sudah mulai eksekusi teknis: menyiapkan segala keperluan untuk kegiatan Agustusan di desa, malah lebih bingung lagi. 

“Misalnya untuk hal sesederhana memalu paku di tiang kayu, walaupun laki-laki ya belum tentu bisa. Keterampilan-keterampilan itu kan memang kayaknya nggak dimiliki setiap anak kuliahan yang hari-hari di menghadap layar laptop,” beber Safawi. 

Tanpa mahasiswa KKN, Karang Taruna desa tetap bisa mengonsep Agustusan untuk warga

Agustusan tentu bukan menjadi satu-satunya kegiatan di desa yang dikoordinatori oleh anak-anak muda Karang Taruna desa Safawi. Ada sejumlah kegiatan lain seperti Muharraman, sedekah bumi, dan lain-lain. 

Momen-momen tersebut tidak mesti bertepatan dengan keberadaan mahasiswa KKN. Kata Safawi, tanpa keberadaan mahasiswa KKN pun, anak-anak muda Karang Taruna nyatanya sudah bisa mengonsep sebuah acara yang seru dan selalu up to date. 

“Termasuk Agustusan, sekarang zaman TikTok, jadi tinggal lihat model lomba apa yang dipakai dan lagi trend. Itu yang kami pakai. Ya modifikasi tipis-tipis lah,” beber Safawi. 

Iklan

“Tanpa diprogram mahasiswa KKN, semua itu sebenarnya sudah jalan di desa kami,” imbuhnya. 

Menurut Safawi, ide anak-anak Karang Taruna dengan mahasiswa KKN yang dirapatkan sering kali tidak jauh berbeda. Bedanya, anak-anak Karang Taruna tahu harus berbuat apa karena mayoritas anak-anak muda desa menguasai beberapa keterampilan teknis. Sementara mahasiswa KKN, bagi Safawi, hanya bisa berteori. 

Itulah bagian yang membuat Safawi merasa risih. Karena kalau eksekusi untuk menyiapkan kegiatan, ada dua jenis mahasiswa yang harus anak-anak muda Karang Taruna hadapi. Satu, serba bingung dan serba kikuk karena dimintai bantuan apa-apa tidak bisa. Dan dua, hanya bagian memberi instruksi seperti mandor. 

“Masalahnya memang, mungkin karena gengsi kali ya. Gini, kami ini kan asli desa sini, yang lebih paham seluk beluk desa sini. Sementara mereka ini pendatang. Harusnya mereka punya inisiatif buat belajar ke kami,” tutur Safawi. 

“Tapi yang terjadi kan nggak, mereka ini seperti punya ego sebagai orang yang lebih intelektual, jadi yang terjadi malah adu gengsi. Kalau rapat bukan nyari titik temu, malah kami sering disanggah. Padahal program atau kegiatan yang mereka tawarkan itu ya sudah kami lakukan,” sambungnya. 

Bikin kesal sama mahasiswa sok kota yang enggan srawung dengan warga

Lebih lanjut, Safawi mengaku kerap kesal dengan sikap oknum mahasiswa KKN yang terkesan sok kota. Terlihat dari bagaimana cara mereka bersikap dengan warga desa asli. 

Safawi mencontohkan, misalnya saat kegiatan Agustusan berlangsung: alih-alih ikut membaur bersama warga atau anak-anak desa lain, sejumlah mahasiswa justru memilih bergerombol sendiri. 

“Antara kami Karang Taruna dengan mahasiswa juga nggak nyatu. Ada sekat,” ujar Safawi. 

Bahkan, Safawi juga pernah mendapati, saat Karang Taruna dan warga tengah seru-serunya mengikuti kegiatan Agustusan, ada satu-dua mahasiswa perempuan dengan wajah jutek memilih melenggang pergi: kembali ke posko. Alasannya lokasi acara Agustusan terlalu kemproh karena memang sedang ada lomba yang berhubungan dengan air. 

Jangan ulangi program yang sudah ada dan berjalan

Safawi secara pribadi—tidak mewakili warga desanya—menyebut keberadaan mahasiswa KKN dengan format dan fokus yang begitu-begitu saja akhirnya terasa tidak relevan. 

Dalam dua tahun terakhir, ia masih mendapati mahasiswa KKN yang datang dengan membawa program-program klise: program-program yang sebenarnya sudah ada. Bahkan untuk sekadar membuat kegiatan Agustusan pun klise. 

“Aku nggak benci dengan mahasiswa KKN. Tapi kalau cuma gitu-gitu aja, mengulangi apa yang sudah ada dan jalan, jatuhnya malah seperti formalitas belaka,” tegas Safawi. 

Penulis: Muchamad Aly Reza

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Lomba Agustusan di Desa Jadi Toxic dan “Merusak” Anak Muda karena Terpapar Konten Kreator, Tidak Seasyik Dulu atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

 

Terakhir diperbarui pada 17 Agustus 2026 oleh

Tags: Agustusankarang tarunakkn di desamahasiswa kknprogram kkn seru
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Mahasiswa KKN UGM dan LPS berkolaborasi hadirkan edukasi literasi keuangan di desa terluar Mentawai MOJOK.CO

Literasi Keuangan untuk Desa Terluar di Mentawai: Jadi Bekal Masyarakat Desa Hadapi Ragam Persoalan Finansial

10 Agustus 2026
Mahasiswa KKN di desa

Suasana KKN Tak Seindah Konten di TikTok: Banyak Drama Sesama Mahasiswa, hingga Tangis Palsu Saat Perpisahan dengan Warga Desa

5 Agustus 2026
Mahasiswa KKN di desa

Serba Salah KKN di Desa: Terlalu Pendiam Dianggap Nggak Guna, Banyak Omong Dicap Sok Tahu

24 Juli 2026
Selain ke petugas Sensus Ekonomi, warga desa juga jengah dengan program sensus dari mahasiswa KKN MOJOK.CO

Warga Desa Juga Jengah dengan Sensus dari Mahasiswa KKN: Tak Nemu Gunanya, Tak Srawung tapi Korek Privasi Orang

8 Juli 2026
Mahasiswa muak dengan KKN di desa. Mending magang saja MOJOK.CO

Mahasiswa Sudah Muak dengan KKN: Tak Dapat Faedah di Desa, Buang-buang Waktu dan Tak Dibutuhkan Warga

9 April 2026
Mahasiswa KKN di desa

KKN Itu Menyenangkan, yang Bikin Muak adalah Teman yang Jadi Beban Kelompok dan Warga Desa yang “Toxic”

9 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Telat 3 Hari Perpanjang SIM, Pak Guru Ahmad Melawan Aturan yang Tak Kenal Ampun MOJOK.CO

Telat 3 Hari Perpanjang SIM, Pak Guru Ahmad Melawan Aturan yang Tak Kenal Ampun

14 Agustus 2026
Tinggal di Belanda 21 tahun, akhirnya menyerah jadi WNI dengan jalur naturalisasi kewarganegaraan. MOJOK.CO

Menyesal Jadi WNI Setelah 21 Tahun Tinggal di Belanda, Ternyata Pindah Kewarganegaraan Itu Mudah

14 Agustus 2026
Susahnya mahasiswa di kampus tanpa working space 24 jam: kerjakan tugas kuliah di kos burnout, ke coffee shop tidak punya uang MOJOK.CO

Susahnya Mahasiswa di Kampus Tanpa Working Space 24 Jam: Nugas di Kos Burnout, Ke Coffee Shop Tak Punya Uang

12 Agustus 2026
Mahasiswa baru (maba) rela jadi jongos abang-abangan kampus di organisasi mahasiswa ekstra (ormek) dan tidak pernah menyesalinya MOJOK.CO

Maba Rela Jadi Jongos Abang-abangan Kampus demi Relasi dan Diskusi Kiri Apa Salahnya? Tak Malu dan Tak Menyesalinya

13 Agustus 2026
Ibu Kimpul Mengingatkan Kita bahwa Ketahanan Pangan Bukan Hanya Urusan Beras MOJOK.CO

Ibu Kimpul Mengingatkan Kita bahwa Ketahanan Pangan Bukan Hanya Urusan Beras

10 Agustus 2026
ngaji al-qur'an.MOJOK.CO

Promosi Miras Pakai Hafalan Al-Qur’an: Diklaim Lecehkan Agama, Berpotensi Mengulang Blunder Hollywings 

11 Agustus 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.