Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Sekolahan

Serba Salah KKN di Desa: Terlalu Pendiam Dianggap Nggak Guna, Banyak Omong Dicap Sok Tahu

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
24 Juli 2026
A A
Mahasiswa KKN di desa

Ilustrasi - Mahasiswa KKN di desa (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Beberapa malam lalu, seorang kawan kos misuh-misuh menceritakan pengalaman Kuliah Kerja Nyata (KKN) yang baru ia lewati. Sasaran kekesalannya adalah ketua kelompoknya sendiri. Menurutnya, si ketua ini sangat pendiam dan kelewat pasif.

Kalau soal urusan program kerja, semua memang berjalan beres. Namun, di luar itu, si ketua bagai robot. Tidak ada obrolan hangat, apalagi bonding antaranggota. 

Ia hanya mau bicara intens kalau besok paginya ada pelaksanaan proker. Sisanya? Saling diam dan sibuk sendiri-sendiri di posko. 

Di mata kawan saya, sikap pasif ini merusak suasana. Ketua kelompok itu dianggap tidak berguna dalam menghidupkan dinamika tim, apalagi untuk membaur dengan warga desa.

Menjadi mahasiswa KKN yang pasif, terkadang adalah keputusan tepat buat membentengi diri

Keresahan macam ini sebenarnya jamak terjadi. Di media sosial Threads, saya menemukan curhatan serupa dari seorang mahasiswa KKN yang memilih irit bicara.

Ia mengaku susah berinteraksi, sehingga memilih bicara seperlunya saja jika ada sangkut pautnya dengan proker–persis kelakuan ketua kelompok kawan saya.

Alasannya cukup masuk akal. Di desa tempatnya mengabdi, pergaulan pemuda setempat menormalisasi begadang sampai pagi sambil mabuk-mabukan. Obrolan di pos ronda pun tidak produktif dan kerap menjurus mesum.

Merasa tidak sepaham, mahasiswa ini memilih mengurung diri di posko. Ia sadar betul risikonya: dicap sombong, tidak srawung, dan tidak peduli lingkungan sekitar. Namun, baginya, memilih pergaulan adalah hak mutlak.

Di kolom komentar, banyak netizen yang sepakat. Membentengi diri dengan menjadi pendiam kadang menjadi satu-satunya cara menjaga kewarasan. Lagipula, tidak semua orang punya energi yang besar untuk terus-terusan basa-basi di tongkrongan, apalagi yang toksik.

Tapi kalau nggak srawung, ya sama aja bohong

Namun, narasi “pendiam demi batasan diri” ini tidak sepenuhnya diterima. Banyak pihak yang langsung melempar argumen kontra. 

Namanya juga KKN, “Kuliah Kerja Nyata”. Mahasiswa diturunkan dari kampus untuk membaur dan bersinggungan langsung dengan masyarakat, bukan berdiam diri di kamar.

Menurut kubu ini, di kolom komentar yang sama, mengurung diri di posko adalah bentuk kegagalan bersosialisasi.

“Kalau memang ada perilaku pemuda desa yang keliru, seperti mabuk-mabukan, tugas mahasiswalah untuk masuk dan pelan-pelan membawa pengaruh baik,” begitu kira-kira narasinya.

Membiarkan kebiasaan buruk warga dengan alasan “menjaga batasan diri”, menurut kubu ini, sama saja membuat program KKN kehilangan esensinya.

Iklan

Bagi mereka, menjadi mahasiswa pasif dan pendiam di desa orang sama halnya sekadar numpang makan dan tidur gratis.

Niat aktif dan kritis, malah dibilang “anak kota sok pintar”

Lantas, apakah menjadi proaktif, banyak bicara, dan menggebu-gebu membawa perubahan adalah jalan keluar yang tepat? Ternyata tidak juga.

Tanya saja pada Arif (24), mahasiswa salah satu PTN di Jogja yang baru merampungkan KKN-nya awal 2024 lalu. Arif datang ke desa dengan kepala penuh teori.

“Namanya juga mahasiswa,” katanya, saat bercerita kepada saya, Senin (20/7/2026) malam. Bersama kelompoknya, ia melihat masalah administrasi desa dan tata kelola UMKM yang berantakan, lalu membuat proker megah untuk merombak itu semua.

Namun, saat Arif mencoba bersuara dan memberi masukan panjang lebar di rapat balai desa, respons yang didapat jauh dari bayangan heroiknya. Warga hanya membalas dengan senyum sinis. Arif langsung dicap sebagai “anak kota sok pintar” yang mau mengajari orang tua. 

Niat hati ingin menerapkan ilmu kampus, ia malah dianggap tidak punya unggah-ungguh dan buta kearifan lokal. Warga terlihat memujinya di depan, tapi di belakang, mereka menganggap Arif anak kemarin sore yang sok tahu.

Terkadang, berusaha terlalu aktif saat KKN bisa jadi keputusan buruk

Hal itu terbukti saat kelompok Arif menggelar acara penyuluhan. Namanya penyuluhan, Arif dan kawan-kawannya mendominasi pembicaraan di depan warga. 

Acara memang berjalan lancar. Tapi setelah ditutup, banyak warga yang acuh dan terang-terangan menyepelekan acara tersebut. Bagi warga, kumpul-kumpul mendengarkan mahasiswa bicara teoretis itu cuma membuang waktu istirahat mereka sepulang dari sawah.

“Teman kelompok yang mendengar itu jelas sangat sakit hati lah,” katanya.

Pukulan paling telak menimpa Arif saat kelompoknya menggelar acara nonton bareng (nobar) bersama warga. Sebagai mahasiswa Ilmu Sejarah, telinganya gatal mendengar warga desa membicarakan “legenda seribu candi Roro Jonggrang”, seolah itu fakta sejarah mutlak.

Arif pun gatal bicara. Ia mencoba “merasionalkan” narasi-narasi sejarah yang beredar di masyarakat dengan versi aslinya secara akademis. Ia menjelaskan bahwa cerita Roro Jonggrang itu cuma karangan fiksi, bukan sejarah.

Bukannya dicap cerdas, Arif malah langsung ditegur oleh lurah setempat tepat di depan mukanya. Ia dibilang sok tahu karena berani “mengusik” cerita turun-temurun yang sudah dipegang warga. 

Saat itu, Arif mengaku cuma terdiam, dengan hati yang begitu sakit.

Dari rentetan kejadian itu, Arif memetik satu kesimpulan pahit dari desa: berusaha terlalu aktif dan bersuara lantang saat KKN ternyata bisa jadi keputusan yang sangat buruk.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Mahasiswa Sudah Muak dengan KKN: Tak Dapat Faedah di Desa, Buang-buang Waktu dan Tak Dibutuhkan Warga atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 24 Juli 2026 oleh

Tags: Dilema proker KKNKisah viral KKNKKNkkn di desaKonflik mahasiswa dan warga desamahasiswa kknMahasiswa KKN sok tahuProgram Kerja KKNproker kknSerba salah mahasiswa KKN
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

Selain ke petugas Sensus Ekonomi, warga desa juga jengah dengan program sensus dari mahasiswa KKN MOJOK.CO
Catatan

Warga Desa Juga Jengah dengan Sensus dari Mahasiswa KKN: Tak Nemu Gunanya, Tak Srawung tapi Korek Privasi Orang

8 Juli 2026
Mahasiswa muak dengan KKN di desa. Mending magang saja MOJOK.CO
Sekolahan

Mahasiswa Sudah Muak dengan KKN: Tak Dapat Faedah di Desa, Buang-buang Waktu dan Tak Dibutuhkan Warga

9 April 2026
Mahasiswa KKN di desa
Catatan

KKN Itu Menyenangkan, yang Bikin Muak adalah Teman yang Jadi Beban Kelompok dan Warga Desa yang “Toxic”

9 April 2026
Mahasiswa KKN.MOJOK.CO
Kampus

KKN Bikin Warga Muak Kalau Program Kerja Template dan Kelakuan Mahasiswanya Tak Beretika

17 Oktober 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

sarjana, ijazah s1, pekerja, gen z, kerja, PNS di desa lebih menyenangkan. MOJOK.CO

Seporsi Kekalahan Sarjana di Sleman: Susah Payah Dapat Ijazah S1, Ujung-ujungnya Kerja Setara Lulusan SMA karena Tak Punya Pilihan

20 Juli 2026
Koperasi di Yogyakarta. MOJOK.CO

Hari Koperasi Nasional ke-79 di DIY: Sudah Saatnya Koperasi sebagai Sakaguru Perekonomian Nasional Nggak Lagi Gaptek

23 Juli 2026
Jaga Momentum Emas di Mandalika, Mario Aji dan Veda Ega Siap Unjuk Gigi di Kandang Sendiri MOJOK.CO

Jaga Momentum Emas di Mandalika, Mario Aji dan Veda Ega Siap Unjuk Gigi di Kandang Sendiri

20 Juli 2026
Yogyakarta Gamelan Festival (YGF) 31 jadi sumber sukacita dan perkuat posisi Yogya sebagai Kota Budaya di mata dunia MOJOK.CO

Yogyakarta Gamelan Festival (YGF) 31: Sumber Sukacita dan Perkuat Posisi Yogya sebagai Kota Budaya di Mata Dunia

22 Juli 2026
Pom mini warung madura kini jadi solusi di tengah antrean panjang SPBU yang tidak masuk akal MOJOK.CO

Strategi Hindari Antrean SPBU Tak Efektif Lagi, Isi Bensin di Pom Mini Warung Madura Jadi Solusi Asal Tak Pakai Logika Takaran

18 Juli 2026
Beli Saham karena Finfluencer, Rugi Ditanggung Sendiri? MOJOK.CO

Beli Saham karena Finfluencer, Rugi Ditanggung Sendiri?

20 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.