Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Urban

4 Tahun Merantau di Jakarta Bikin Sadar, “Orang Kabupaten” Jauh Lebih Toksik dari Anak Jaksel: Sialnya, Susah di-Cut Off

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
19 Mei 2026
A A
Anak Jakarta vs Anak Kabupaten.MOJOK.CO

Ilustrasi Anak Jakarta dan "Anak Kabupaten". (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Selama ini, kita terus-menerus dicekoki satu mitos: pergaulan di Jakarta itu sangat toksik. Kita selalu diwanti-wanti bahwa orang ibu kota, khususnya anak-anak muda di kawasan Jakarta Selatan (Jaksel) itu egois, individualis, dan serba transaksional.

Pokoknya, kalau merantau ke sana, siapkan mental baja agar tidak terbawa arus pergaulan yang merusak.

Iklan

Di satu sisi, mitos itu memang benar. Namun, bagi Esa (23), setelah empat tahun merantau dan berkuliah di salah satu kampus negeri di Jakarta, ia justru punya pandangan yang bertolak belakang.

Sebelum bercerita lebih jauh, pemuda asal Purworejo memberikan satu catatan penting. Ia sebenarnya sangat malas menggunakan istilah “orang kabupaten” atau “orang desa“. Baginya, istilah itu terlalu klasis alias mengotak-ngotakkan kelas sosial, dan terkesan merendahkan. 

Namun, untuk mempermudah mengartikulasikan cerita dia, sebutan “orang kabupaten” terpaksa dipakai sekadar untuk membedakan orang yang berasal dari daerah dengan gaya hidup orang di kota metropolitan.

Individualisme anak Jakarta justru lebih baik, ketimbang suka ikut campur

Dari pengamatannya, Esa sampai pada satu kesimpulan yang mungkin membuat sebagian orang tidak terima: sifat orang kabupaten nyatanya jauh lebih toksik dan merusak mental daripada gaya hidup anak Jakarta, khususnya Jaksel.

Selama ini, sifat individualis di kota selalu dilabeli sebagai sesuatu yang buruk. Sebaliknya, di daerah, gotong royong selalu dipuji. 

Namun, setelah lama tinggal di kota, Esa sadar bahwa kehidupan di kampung halamannya menyimpan banyak sisi gelap. Kepedulian, yang berlabel “guyub” atau “srawung”, seringkali kebablasan menjadi sifat suka ikut campur urusan pribadi orang lain.

“Di kabupaten itu privasi ditabrak habis-habisan atas nama srawung,” ungkapnya, Sabtu (16/5/2026).

Esa merasakannya sendiri setiap kali pulang kampung. Ia selalu dibikin tak nyaman dengan pertanyaan-pertanyaan yang menabrak batas privasinya. Tanya-tanya soal kehidupan asmara, hingga kehidupan “nakal” di kos.

“Mungkin mereka mau basa-basi. Cuma caranya nggak gitu, ada banyak topik yang bisa dibahas, nggak melulu masalah personal,” kata dia.

Sifat-sifat seperti ini, bikin dia tidak nyaman. 

Bandingkan, misalnya, dengan teman-teman Jaksel-nya. Teman kampus Esa mungkin terlihat apatis. Namun, di balik sikap cuek-bebek itu, mereka sangat menghargai privasi.

Orang Kabupaten suka ikut campur sekaligus suka gasligting

Sifat suka ikut campur itu makin parah karena seringkali berlindung di balik tameng tradisi dan budaya. Di sinilah letak toksiknya orang daerah yang paling halus, tapi mematikan.

Iklan

Ketika perekonomian keluarga Esa lesu, ia sempat cuti kuliah dan coba-coba kerja sampingan. Namun, tekanan berat itu bikin ia mengalami burnout, dan akhirnya memutuskan pulang selama beberapa hari buat menenangkan pikiran.

Alih-alih mendapat dukungan, Esa justru disalahkan habis-habisan. Ia dicap lemah. Penderitaan mentalnya diremehkan dengan kedok “nasihat”.

“Halah, kamu itu cuma kurang bersyukur. Makanya ibadah yang rajin, jangan main HP terus. Ingat orang tua di kampung banting tulang! Itu belum seberapa” cecar kerabatnya, yang masih membekas di kepala Esa.

Di lingkungan seperti itu, kelelahan mental tidak diakui dan dianggap sebagai kelemahan. Berbeda jauh dengan teman-teman kampusnya di Jakarta. Ketika Esa mengeluh capek, mereka akan memvalidasi perasaannya, menyuruhnya istirahat, atau minimal mengajaknya mencari udara segar. 

“Di Jakarta, rasa lelah diakui sebagai sesuatu yang wajar. Manusiawi. Di desa, nggak bisa ngeluh dikit.”

Crab Mentality orang kabupaten sangat mengerikan

Di desa, kalau kamu kere, kamu akan jadi bahan gunjingan. Tapi jangan kira kalau kamu sukses, kamu akan dibiarkan hidup tenang. 

Di lingkungan kabupaten, berlaku sebuah prinsip yang disebut crab mentality. Ibarat tumpukan kepiting di dalam ember, siapa pun yang mencoba naik ke atas akan ditarik jatuh oleh kepiting lainnya.

“Crab mentality, di desa, itu nyata lho. Jangan salah, bahkan parah banget,” jelasya.

Esa memberikan satu contoh nyata. Suatu hari, dari hasil menabung uang kerja lepas di Jakarta, Esa berhasil membeli sebuah HP baru. Barang itu ia bawa saat pulang kampung.

Apakah tetangganya ikut senang melihat anak muda desanya bisa mandiri? Tentu tidak. Bukannya mengapresiasi kerja keras Esa, tetangga di sekitar rumahnya justru mulai berbisik-bisik, menyebar gosip.

“Di desa, mari jujur saja, kesuksesan yang melampaui rata-rata tetangga tidak selalu dianggap sebagai prestasi. Malah dicurigai. Kamu miskin dihina, kamu sukses difitnah.”

Di Jakarta, tinggal cut off kalau tak cocok. Di desa, mana bisa?

Pada akhirnya, tingkat bahaya dari sebuah lingkungan toksik diukur dari seberapa mudah kita bisa melarikan diri darinya. Di poin inilah, pergaulan kabupaten benar-benar tidak ada tandingannya.

Hal ini diafirmasi oleh Savira (25), seorang perempuan yang sudah dua tahun bekerja di Jakarta. Bagi Savira, berhadapan dengan teman kantor atau anak Jaksel yang toksik itu perkaranya sangat mudah.

“Kalau muak sama teman kantor, atau circle pergaulan di Jakarta, ya udah, tinggal blokir nomornya, unfollow media sosialnya. Kelar urusan,” kata Savira.

Namun, cara tegas ini sama sekali tidak bisa diterapkan untuk kerabat di kampung. Savira pernah mencoba cut off dari beberapa saudara di daerah asalnya yang luar biasa toksik. Mulai yang dari hobi meminjam uang tapi nggak mau melunasi, hingga yang suka membicarakan ibunya di belakang.

Hasilnya? Bukannya hidup tenang, Savira malah dihakimi satu keluarga besar. Ia dicap sebagai anak durhaka, perempuan sombong yang lupa daratan, dan dituduh memutuskan tali persaudaraan.

“Di desa mah nggak mungkin bisa cut off saudara, yang ada kita dianggap anak Dajjal,” geramnya.

Sebagai orang yang juga lahir dan besar di desa, saya harus mengakui kebenaran pahit dari cerita Savira ini. Cut off saudara di desa, sama saja dengan bunuh diri. Kita bakal dicaci, dimaki, bahkan dianggap jahat ke keluarga besar. Meskipun, kita paham, menjalin tali silaturrahmi dengan mereka juga tak ada gunanya.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Omong Kosong Slogan “Srawung” di Desa: Cuma Jahat ke Warga Miskin, Kalau Kamu Tajir Tak Perlu Membaur buat Dihormati atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 18 Mei 2026 oleh

Tags: jakartakabupatenkelakuan orang jakartaorang jakartaorang kabupatenpilihan redaksisifat orang jakartasikap orang jakartawarga kabupaten
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

Lulusan s2, susahnya legalisir ijazah setelah wisuda.MOJOK.CO
Sekolahan

Nasib Lulusan S2 di Jakarta: Kuliah Dianggap Nggak Guna karena Kalah Saing dengan Tamatan SMA, tapi Tetap Merasa Bangga

23 Juli 2026
Saya Hanya Ingin Kuliah, tetapi Crab Mentality di Desa Menganggap Saya Lupa Diri MOJOK.CO
Esai

Saya Hanya Ingin Kuliah, tetapi Crab Mentality di Desa Menganggap Saya Lupa Diri

23 Juli 2026
Lulus SMA nekat kerja ke Jakarta untuk jadi cleaning service. MOJOK.CO
Urban

Modal Ijazah SMA Kerja Jadi Cleaning Service di Jakarta demi Lulus Sarjana, Kini Pilih Resign untuk Keliling Indonesia

22 Juli 2026
Curhat kasir Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih di jalanan desa sepi. Sepi pembeli, sekali ada pembeli bukan karena butuh tapi iseng dan bikin kesel MOJOK.CO
Sehari-hari

Derita Kasir Kopdes di Desa Pelosok: Hari-hari Sepi, Pembeli Datang Bukan karena Kebutuhan tapi Sengaja Bikin Kesal

21 Juli 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Ketika Menstruasi, Perempuan Harus Memilih Membeli Pembalut atau Makan MOJOK.CO

Ketika Menstruasi, Perempuan Harus Memilih Membeli Pembalut atau Makan

19 Juli 2026
KOMSAH: Sejahterakan petani di Klaten. MOJOK.CO

Tinggalkan Profesi Dokter untuk Jadi Penasihat Kelompok Tani, Optimalkan Anugerah Tanah Klaten yang Subur

20 Juli 2026
Saya Hanya Ingin Kuliah, tetapi Crab Mentality di Desa Menganggap Saya Lupa Diri MOJOK.CO

Saya Hanya Ingin Kuliah, tetapi Crab Mentality di Desa Menganggap Saya Lupa Diri

23 Juli 2026
sarjana, ijazah s1, pekerja, gen z, kerja, PNS di desa lebih menyenangkan. MOJOK.CO

Seporsi Kekalahan Sarjana di Sleman: Susah Payah Dapat Ijazah S1, Ujung-ujungnya Kerja Setara Lulusan SMA karena Tak Punya Pilihan

20 Juli 2026
Ilustrasi - Cerita bapak dulu bungah antar anak wisuda sarjana dari PTS Jogja, kini nelangsa antar anak susah cari kerja meski modal ijazah S1 MOJOK.CO

Cerita Bapak Dulu Bahagia Antar Anak Wisuda Sarjana, Kini Nelangsa Antar Cari Kerja Pakai Ijazah SMA karena S1 Tak Guna

19 Juli 2026
Lika-Liku Meredam Tantrum Siswa Autis di Balik Keseruan Hari Anak Nasional Prambanan.MOJOK.CO

Lika-Liku Meredam Tantrum Siswa Autis di Balik Keseruan Hari Anak Nasional di Candi Prambanan

22 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.