Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Orang Tajir Jakarta Tak Akan Sanggup Slow Living di Desa karena Menolak Srawung Itu Omong Kosong Kebanyakan Gagal Betah karena Ulahnya Sendiri

Yamadipati Seno oleh Yamadipati Seno
7 April 2026
A A
Saya Setuju Orang Jakarta Tajir Tak Betah Slow Living di Desa (Unsplash)

Saya Setuju Orang Jakarta Tajir Tak Betah Slow Living di Desa (Unsplash)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Membaca Liputan Mojok selalu sukses membuat saya tersenyum manis. Apalagi tulisan Mas Ahmad Effendi yang akhir-akhir ini suka datang pagi ke kantor. Tulisan terakhir yang saya baca adalah tentang temannya, orang tajir melintir dari Jakarta, yang kapok mencoba slow living di desa.

Saya memang gampang tersenyum, tapi nggak selalu manis. Senyum saya manis kalau menemukan tema dan tulisan yang relate. Ya itu tadi, tulisan Mas Ahmad yang kebetulan terjadi juga di keluarga saya. Pas banget karena saya tinggal di desa, posisinya Sleman paling barat, dan punya saudara tajir dari Jakarta. 

Saudara saya, per November 2025, mulai menunjukkan batang hidungnya di desa. Sebelumnya, dia dan suaminya, merintis usaha bakmi Jawa di Jakarta dan Bekasi. Kini, kehidupannya sudah mapan.

BACA JUGA: Omong Kosong Slow Living di Jawa Tengah: Gaji Kecil, Tanggungan Besar, Ditambah Tuntutan “Rukun” yang Bikin Boros

Orang tajir dari Jakarta, pengin slow living malah buka usaha bakmi Jawa

Saudara saya bernama Anita (50 tahun). Suaminya bernama Wawan (52). Keduanya sudah lama merintis usaha bakmi Jawa di Jakarta. Awal 2025, keduanya membeli sebidang tanah di desa, di belakang lapangan voli. Niat awal pengin slow living, tapi akhirnya buka cabang bakmi Jawa WQWQWQ.

Saya tidak bisa menyalahkan mereka. Waktu uji coba rasa setelah sebuah warung dengan dinding kayu itu selesai, saya maklum kalau warung bakmi Jawa mereka di Jakarta dan Bekasi bisa ramai. Intinya, semua masakan mereka memang enak. Keduanya juga memasang harga murah dan pukul rata semua Rp15 ribu.

Mungkin insting bisnis mereka terlalu tebal. Baru satu minggu hidup di desa (mereka punya rumah sendiri selain warung bakmi Jawa), melihat lapangan voli selalu ramai setiap sore dan malam, ide buka warung makan langsung lahir. Cita-cita slow living pikir nanti saja, kata mereka.

Capek karena terlibat langsung

Selama hidup di desa dan menyelesaikan persiapan warung bakmi Jawa, Mbak Anita dan Mas Wawan terlibat di semua proses. Bahkan, kalau sedang ada di warung, Mas Wawan turun tangan langsung untuk memasak. Dan, nasi goreng tanpa kecap bikinan Mas Wawan memang josjis mak bler, kalau meminjam istilah Mas Agus Juliand, food blogger asal Jogja.

Nah, karena terlibat langsung di hampir semua proses bisnis, Mas Wawan tidak bisa lama tinggal di desa. Dalam satu bulan, dia akan menghabiskan satu minggu di desa, dua minggu di Jakarta, dan seminggu di Bekasi. Nggak ada libur, mungkin itu yang bikin dia cepat kaya.

Sementara itu, Mbak Anita, dibantu adiknya, yang mengelola warung di desa. Adik Mbak Anita punya tangan sama jago seperti Mas Wawan. Namanya Mas Budi (42) dan dia jago masak bakmi goreng. 

Masalahnya, Mas Budi nggak bisa full time membantu. Dia harus pulang ke Cilacap untuk mengurus bisnis rental mobilnya. Jadi, Mbak Anita memang lebih banyak sendiri. 

Oleh sebab itu, dia udah yakin sejak awal kalau impian mau slow living di tanah kelahiran nggak akan terwujud. Bahkan ketika sebetulnya dia punya uang untuk menunjang cita-citanya.

Srawung di desa apakah sepenting itu buat orang tajir dari Jakarta?

Sebetulnya, Mbak Anita sudah terhitung “warga lokal”. Dia menjalani masa kuliah di Sleman. Namun, setelah lulus dan menikah, dia memang langsung hengkang ke Jakarta untuk ikut suami merintis warung bakmi Jawa. Makanya, ketika kembali ke desa, dia cepat akrab dengan beberapa warga.

Jadi, sebetulnya, Mbak Anita ini sudah terhitung sering srawung, tapi dalam tataran yang memang minimal. Dan semuanya baik-baik saja. Sebetulnya, yang membuat dirinya resah adalah pilihan hidupnya sendiri. Awalnya mau slow living, malah buka cabang bakmi Jawa. Kan repot karena dibuat sendiri. 

Iklan

Makanya, saya agak nggak setuju dengan kalimat Mas Ahmad satu ini:

“Setiap minggu, selalu ada saja kegiatan yang menuntut kehadiran fisik. Mulai dari ronda malam, kerja bakti membersihkan makam, arisan RT, tahlilan tetangga yang meninggal, sampai rewang hajatan tetangga yang jarak rumahnya beda RT.”

Saya nggak setuju karena kalimat itu sangat tidak masuk akal. Pertama, ada kalimat “menuntut”. Padahal, di desa tidak ada yang menuntut untuk selalu srawung. Kalau lagi nggak bisa atau malas, ya nggak masalah. Saya sering begitu. Kayaknya Mas Ahmad udah lama nggak pulang ke desa, deh.

Kedua, bagian “setiap minggu”. Ini jelas nggak masuk akal. Kerja bakti itu seminggu sekali. Membersihkan makam, belum tentu enam bulan sekali. Arisan mau bapak-bapak atau ibu-ibu itu sebulan sekali dan malah dinantikan warga karena bisa nyebrak utang atau utang dadakan. Tahlilan dan rewang juga belum tentu sebulan sekali. Hitungan peristiwa di sini terlalu aneh. Itu menurut keyakinan saya, meminjam kalimat Pandji.

Jadi, srawung di desa itu gampang banget. Kalau sampai jadi beban, itu malah aneh orangnya. Sekali lagi, Itu menurut keyakinan saya.

BACA JUGA: Tergiur Kerja WFH WFA karena Tampak Enak dan Slow Living tapi Ternyata Menjebak: Gaji, Skill, dan Karier Mentok

Energi yang terkuras

Sebagai orang yang kini memegang KTP Jakarta, Mbak Anita tentu masih akan kembali ke sana. Namun, dia dan Mas Wawan sudah memulai sesuatu yang mereka cintai. Ya memang lelah, energi terkuras, tapi tidak menjadi alasan untuk berhenti.

Mereka capek karena masalah yang mereka bikin sendiri. Srawung atau bergaul ya memang bisa capek kalau tidak ada niat. Sampai di sini saya malah aneh saja. Kalau mau kembali dan hidup di desa, orang dewasa mana saja pasti sadar bahwa mereka akan menghadapi kultur berbeda.

Kultur, yang tidak dihidupi sebagai bagian dari rutinitas memang berat. Misalnya, dimulai dari hal-hal sederhana seperti mendengar, merasa, dan berpikir. Kalau nggak niat kan jadinya berat.

Jadi, mau orang tajir dari Jakarta, Subang, Toli-Toli, Sorong, Aceh Tengah, Kalimantan Barat, atau Rembang, pasti capek kalau nggak niat. Nggak usah ngomong slow living, kalau nggak niat, bangun pagi aja rasanya energi sudah terkuras. Ya, kan.

Penulis: Yamadipati Seno

Editor: Kenia Intan

BACA JUGA Slow Living dan Frugal Living di Desa Memang Omong Kosong, Apalagi Kalau Kamu Cuma Buruh Rendahan dan Gajimu Mengenaskan dan kisah menarik lainnya di rubrik POJOKAN.

Terakhir diperbarui pada 8 April 2026 oleh

Tags: Bakmi Jawafinancial freedomhidup di desajakartaorang jakartaorang kayaslow livingsrawungtajir
Yamadipati Seno

Yamadipati Seno

Redaktur Mojok. Koki di @arsenalskitchen.

Artikel Terkait

omong kosong srawung di desa.MOJOK.CO
Catatan

Omong Kosong Slogan “Srawung” di Desa: Cuma Jahat ke Warga Miskin, Kalau Kamu Tajir Tak Perlu Membaur buat Dihormati

18 Mei 2026
Tongkrongan bapak-bapak, nongkrong.MOJOK.CO
Catatan

Tongkrongan Bapak-Bapak di Desa: Obrolan Sering Ngawur, Kadang Nggak Berfaedah, tapi Saya Harus Gabung demi “Harga Diri” Keluarga

11 Mei 2026
Yamaha Jupiter Z, Motor Sakral yang Hadirkan Rasa Takut MOJOK.CO
Otomojok

Yamaha Jupiter Z, Motor Sakral yang Menghadirkan Rasa Takut tapi Ternyata Menjadi Simbol Perjuangan yang Tak Pernah Diceritakan

7 Mei 2026
Hidup mati pekerja Jakarta harus tetap masuk, menerjang arus dari Bekasi
Urban

Menjadi Guru Honorer di Jakarta Tetap Sama Susahnya dengan di Daerah: Gajinya Cuma Seperempat UMR, Biaya Hidupnya 2 Kali Pendapatan

29 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Tips hadapi teman toxic dalam pertemanan: tidak akrab tapi selalu datang kalau ada butuhnya MOJOK.CO

Lepas dari Teman Tak Akrab yang Selalu Merepotkan pas Ada Butuhnya, Dibenci tapi Perasaan Tidak Enakan Lebih bikin Rugi!

13 Mei 2026
Kicau Mania Rp2 Triliun: Bukti “Ora Gantang Ora Mangan” Bukan Hobi Iseng MOJOK.CO

Kicau Mania Rp2 Triliun: Bukti “Ora Gantang Ora Mangan” Bukan Hobi Iseng

15 Mei 2026
Melalui Seminar Literasi di Pesta Buku Jogja, IKAPI DIY dorong Yogyakarta jadi Ibu Kota Buku UNESCO karena punya ratusan penerbit MOJOK.CO

Jogja dan Produksi Pengetahuan Lewat Ratusan Penerbit Buku, Modal Jadi Ibu Kota Buku UNESCO

16 Mei 2026
Guru Besar Fakultas Farmasi UGM bidang fitoterapi, Nanang Fakhrudin sebut usaha madu sangat potensial. Tapi ada masalah utama yang rugikan pelaku usaha madu sendiri MOJOK.CO

Usaha Madu Jadi Ceruk Bisnis Potensial, Tapi Salah Praktik Tanpa Sadar Justru Bisa Rugikan Diri Sendiri

12 Mei 2026
Catatan Lulusan S2 yang Jadi Driver Maxim: Mempraktikkan Ilmu Pemerintahan Tanpa Birokrasi MOJOK.CO

Catatan Lulusan S2 yang Jadi Driver Maxim: Mempraktikkan Ilmu Pemerintahan Tanpa Birokrasi

13 Mei 2026
Ironi jadi orang tunawicara (bisu) di desa, disamakan seperti orang gila MOJOK.CO

Ironi Orang Tunawicara (Bisu) di Desa: Dianggap Gila, Punya Otak Cerdas Tetap Dianggap Tak Bisa Mikir Hanya karena Sulit Bicara

15 Mei 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.