Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Urban

Desa adalah Tempat Ideal Buat Nine to Five: Gaji “Utuh”, Mental Sehat, asalkan Memegang 3 Prinsip Ini

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
28 Juli 2026
A A
orang kota slow living di desa, jakarta, norak.MOJOK.CO

Ilustrasi slow living di desa. (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Bagi para pekerja kantoran di Jakarta, rutinitas nine to five sering kali terasa seperti medan perang. Bagaimana tidak; kamu harus bangun saat langit masih gelap, berdesakan di KRL, dan  “tua di jalan” akibat kemacetan. Lalu, saat pulang, sisa energi cuma cukup buat rebahan. Namun, bagi Akmal (31), justru di desa lah istilah nine to five menemukan definisi yang jauh lebih menenangkan.

Lelaki asal Wonogiri ini bukanlah warga desa yang tak pernah melihat gemerlap ibu kota. Selama lima tahun, Akmal sempat mengecap asam garam kehidupan korporat. Ia pernah setahun kerja kantoran di Jogja, dan empat tahun di Jakarta. 

Iklan

“Pas masih kuliah itu sebenarnya udah kerja kantoran di Jogja. Setelah kontrak habis, langsung mutusin merantau ke Jakarta,” kata Akmal, Senin (27/7/2026).

5 tahun kerja kantoran, memilih pulang ke desa

Namun, dua tahun lalu, setelah menikah, ia mengambil keputusan yang kerap dianggap “downgrade” oleh rekan-rekannya. Ya, Akmal memilih pulang ke desa.

Alasannya sederhana, tapi sulit buat ditawar: kedua orang tuanya sudah sepuh. Sementara ia adalah anak tunggal. Sehingga, sudah menjadi kewajiban untuk hadir menemani ayah dan ibunya di usia senja mereka.

Di desa, bersama istrinya, Akmal tinggal di rumah yang dibangunkan orang tuanya. Meski bentuknya belum mentereng, dan masih terus di-upgrade sedikit demi sedikit seiring berjalannya waktu, rumah itu memberinya sesuatu yang gagal diberikan oleh ibu kota.

“Ketenangan batin,” tegasnya. “Meskipun masih bangunan baru, dikeramik saja belum, tapi tinggal dekat orang-orang yang disayang bikin tenang.”

Kini, Akmal bekerja di sebuah pabrik pemotongan ayam di kecamatan sebelah. Jam kerjanya tetap sama, masuk pukul delapan pagi dan pulang jam lima sore. Bedanya dengan di Jakarta, ia hanya butuh waktu 15 menit berkendara santai, tanpa perlu stres mendengar klakson di tengah kemacetan ibu kota. 

Di titik inilah, bagi Akmal, desa menjelma menjadi tempat ideal untuk merayakan kehidupan nine to five yang sesungguhnya.

“Slow living banget ini. Hahaha.”

Meski lebih kecil dari UMR Jakarta, tapi sangat menikmatinya karena gaji “utuh”

Jika bicara nominal, jujur saja, penghasilan Akmal sekarang hampir setengah lebih kecil dibandingkan gajinya saat di Jakarta. Namun, anehnya, gajinya kini justru terasa “utuh”. 

“Aneh tapi nyata kan. Dulu rasanya gaji besar, tapi cepet juga habisnya,” ujar Akmal.

Menurutnya, di Jakarta, gaji besar sering kali hanyalah ilusi, karena ia habis dirampok oleh mahalnya biaya hidup ibu kota. Gaji Akmal di kota dulu menguap untuk membayar kos, biaya transportasi yang gila-gilaan, nongkrong, dan biaya buat memenuhi gaya hidup lain.

Sementara di desa, pos-pos pengeluaran itu hilang. Kebutuhan pangan juga sangat murah. Dan, yang paling penting, desa punya kearifan lokal yang menurut Akmal, tak akan pernah dipahami warga kota: budaya nembung.

Iklan

“Kehabisan cabai saat masak? Tinggal nembung, metik di pekarangan tetangga. Butuh daun salam, apa lalapan, tinggal nembung dan metik,” katanya.

Bagi Akmal, support system komunal inilah yang menekan biaya hidup hingga ke titik terendah. Akibatnya, meski nominal gajinya menyusut, uang yang benar-benar bisa ditabung justru lebih besar.

“Dulu gaji 5 juta di Jakarta nggak bisa nabung. Sekarang lho cuma gaji setengahnya aja, tapi Alhamdulillah sudah bisa nabung.”

Mental benar-benar sehat

Selain urusan finansial, hidup di desa adalah detoks mental yang paling ampuh. Saat jam menunjukkan pukul lima sore, Akmal benar-benar terputus dari mode kerja.

Tidak ada keharusan untuk nongkrong di kafe demi menjaga relasi, misalnya. Transisi dari pabrik ke rumah berjalan sangat mulus dan damai. 

Ia bisa menghabiskan sore dengan mengobrol bersama istrinya di teras, atau menemani orang tuanya. Kedekatannya dengan keluarga dan ritme hidup desa yang slow living secara perlahan menurunkan kadar stres yang dulu mengendap di kepalanya selama di Jakarta.

“Dulu itu cuma wacana aja sampai kos Maghrib. Nyatanya harus desak-desakan di KRL, sampai kos bisa jam 7 atau 8. Belum lagi kalau tim ngajak meeting tambahan, bisa gila.”

3 prinsip yang harus dipegang agar hidup tenang di desa

Namun, Akmal sadar betul bahwa desa bukanlah utopia yang bebas masalah. Kehidupan yang komunal berarti hilangnya sekat privasi. Agar mental tetap aman, gaji tetap terasa utuh, dan hidup tetap ideal, Akmal memegang teguh tiga prinsip ini: 

Pertama, wajib srawung. Di kota, kamu bisa hidup bertahun-tahun tanpa tahu nama tetangga sebelah kamar. Di desa, itu adalah dosa besar. 

Akmal memegang prinsip, ia harus srawung. Sesibuk apa pun ia dari jam 9 pagi sampai jam 5 sore, ketika ada kerja bakti, rapat RT, atau tahlilan di malam hari, ia wajib menampakkan muka.

Kedua, tebal telinga. Memilih pulang dari Jakarta dan “cuma” bekerja di pabrik pemotongan ayam tentu memancing nyinyiran. Tetangga di desa yang “terlalu peduli” sering kali melontarkan pertanyaan tajam atau komentar yang nyelekit.

“Makanya prinsipku, kalau di desa itu anggap aja nyinyiran tetangga angin lewat aja. Nggak usah dipikir dalam-dalam, nanti malam stres. Kalau butuh bantuan, kita semua kan bakal ke tetangga juga.”

Ketiga, ojo kemaki. Gajinya kini sisa banyak karena tak ada cicilan aneh-aneh dan rumah sudah tersedia, Akmal dan istrinya sangat menjaga gaya hidup agar tidak mencolok. Mereka hidup sewajarnya. 

Bagi Akmal, prinsip ojo kemaki, atau tidak sok pamer, sangat krusial untuk membentengi diri dari penyakit hati warga sekitar. Menurutnya, berbagi rezeki dalam bentuk yang tidak mencolok, dan memosisikan diri sejajar dengan warga lainnya adalah hal yang tak kalah penting.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Orang Jakarta Tak Akan Sanggup Slow Living di Salatiga Selama Masih Anti-Srawung, Modal Financial Freedom pun Tak Cukup atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 28 Juli 2026 oleh

Tags: biaya hidup desaDesagaji jakartaguyupjakartakerja di desanine to fiveperbandingan biaya hidup desa dan kotaResign dari Jakartarutinitas nine to fiveslow livingsrawungwork life balance di desa
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

Sekolah, Saya Hanya Ingin Kuliah, tetapi Crab Mentality di Desa Menganggap Saya Lupa Diri MOJOK.CO
Sekolahan

Memilih Sekolah Mahal demi Selamatkan Pergaulan Anak di Desa, Malah Dicap “Sok Kaya” dan Egois oleh Tetangga

27 Juli 2026
Lulusan s2, susahnya legalisir ijazah setelah wisuda.MOJOK.CO
Sekolahan

Nasib Lulusan S2 di Jakarta: Kuliah Dianggap Nggak Guna karena Kalah Saing dengan Tamatan SMA, tapi Tetap Merasa Bangga

23 Juli 2026
Lulus SMA nekat kerja ke Jakarta untuk jadi cleaning service. MOJOK.CO
Urban

Modal Ijazah SMA Kerja Jadi Cleaning Service di Jakarta demi Lulus Sarjana, Kini Pilih Resign untuk Keliling Indonesia

22 Juli 2026
Tahlilan di desa. MOJOK.CO
Catatan

Gen Z di Desa Ogah-ogahan Ikut Tahlilan Bikin Cemas Para Tetua: Bisa Hilang Budaya Srawung dan Peduli Tetangga

8 Juli 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Sombongkan IPK dan gelar sarjana cumlaude dari PTS Jogja. Optimis pikat HRD perusahaan incaran tapi ujungnya lontang-lantung bawa lamaran pekerjaan MOJOK.CO

Dulu “Sombongkan” IPK dan Gelar Sarjana Cumlaude, Kini Malu Lontang-lantung Cari Kerja karena Tren HRD Tak Terpikat IPK

29 Juli 2026
Di Antara Teriakan Maling dan Sunyinya Nurani: Seorang Anak Menangisi Bapaknya yang Tewas Dikeroyok Massa MOJOK.CO

Di Antara Teriakan Maling dan Sunyinya Nurani: Seorang Anak Menangisi Bapaknya yang Tewas Dikeroyok Massa

27 Juli 2026
Sri Sultan HB X tegaskan: penataan kawasan pedestrian Malioboro bukan berarti apa-apa tidak boleh MOJOK.CO

Sri Sultan HB X: Malioboro Full Pedestrian Bukan Tutup Total Akses Kendaraan, Tapi Penataan agar Tidak Crowded

24 Juli 2026
Titi terendah perempuan: bawa bocil saat naik kereta api MOJOK.CO

Titik Terendah Ibu saat Naik Kereta Api Bawa Bocil: Mental Terguncang Bukan karena Bocil Tantrum tapi Mulut Jahat Sesama Perempuan

27 Juli 2026
Festival Transmigrasi 2026 Fun Run 6K: Event lari yang tawarkan sensasi berbeda di Kaliurang Sleman MOJOK.CO

Transmigrasi Festival 2026 Fun Run 6K: Tawarkan Sensasi Lari di Kaliurang yang Beda dari Event Lari Perkotaan

27 Juli 2026
Lulusan s2, susahnya legalisir ijazah setelah wisuda.MOJOK.CO

Nasib Lulusan S2 di Jakarta: Kuliah Dianggap Nggak Guna karena Kalah Saing dengan Tamatan SMA, tapi Tetap Merasa Bangga

23 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.