Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Urban

Buka Usaha dan Niat Slow Living di Desa Malah Dibikin Muak dengan Etos Kerja Pemudanya, Bersikap Semaunya Atas Nama “Kekeluargaan”

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
10 April 2026
A A
Buka Usaha dan Niat Slow Living di Desa Malah Dibikin Muak dengan Etos Kerja Pemudanya, Bersikap Semaunya Atas Nama “Kekeluargaan” MOJOK.CO

Ilustrasi Buka Usaha dan Niat Slow Living di Desa Malah Dibikin Muak dengan Etos Kerja Pemudanya, Bersikap Semaunya Atas Nama “Kekeluargaan” (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Selama ini, kita sering dicekoki mitos bahwa orang desa itu rajin, ulet, dan tahan banting. Bayangan di kepala kita, warga desa adalah sosok-sosok tangguh yang terbiasa bangun sebelum subuh dan sanggup bekerja fisik di bawah terik matahari seharian layaknya petani di sawah. 

Ekspektasi soal etos kerja baja inilah yang bersarang di kepala Bagus (31) saat ia memutuskan untuk pulang kampung dan meninggalkan pekerjaannya di kota.

Tahun 2024 lalu, Bagus diminta pulang oleh orang tuanya untuk meneruskan usaha toko material keluarga yang sudah berjalan belasan tahun dan punya pelanggan tetap. Bagi Bagus, tawaran ini adalah jalan menuju gaya hidup slow living yang selama ini ia idam-idamkan selama bekerja di ibu kota.

Di bayangan Bagus, skenarionya akan berjalan sangat mulus dan indah. Ia cukup duduk manis di meja kasir, memantau dari layar CCTV sambil menyeduh kopi di pagi hari, dan membiarkan uang mengalir deras ke laci. Perputaran uang di toko bangunan memang sangat cepat. 

Sementara untuk urusan fisik seperti memanggul semen, menaikkan pasir, atau mengantar batako, ia sangat yakin karyawan-karyawan desanya bisa diandalkan.

Pemuda desa kerjanya ogah-ogahan

Namun, realita seringkali punya cara sendiri untuk menampar ekspektasi. Begitu Bagus mengambil alih operasional toko, ia baru sadar bahwa etos kerja pemuda desa yang menjadi karyawannya jauh panggang dari api.

Mereka yang mau bekerja sebagai tenaga angkut di toko material rata-rata adalah pemuda yang terbiasa nongkrong. Kerjanya ogah-ogahan dan sangat lambat. 

“Misalnya saja kalau disuruh memindahkan barang, mereka itu habisin waktunya sangat lama karena sambil main game. Apalagi kalau nggak ada yang awasin,” kata Bagus, Rabu (8/4/2026).

Bahkan, alasan pergi ke warung sebentar untuk membeli rokok saja kadang bisa memakan waktu lama. Entah karena apa, Bagus juga tak terlalu paham. Yang jelas, satu hal yang ia tahu: para pemuda desa ini terlalu menyepelekan perintah dan pekerjaannya.

“Kirain mental mereka ini sekuat baja, nyatanya sama aja kayak orang kota yang males-malesan.”

Rajin kasbon, tapi juga playing victim

Masalah kedisiplinan ini rupanya merembet ke urusan keuangan. Suatu hari, Bagus iseng mengecek buku kas toko. Ia terkejut bukan main melihat daftar kasbon atau utang gaji di muka milik karyawannya yang sangat panjang. 

“Ada lho karyawan yang utangnya nyaris melebihi gaji sebulannya. Lalu nanti kita ngegajinya gimana? Mau dipotong semua juga nggak tega,” kata dia.

Saat Bagus mencoba bicara baik-baik, terkadang si karyawan malah menunjukkan wajah asem. Bagus juga pernah mendengar kalau dia dibilang “pelit” hanya karena coba membatasi kasbon karyawannya.

“Padahal kan ini buat mereka juga. Kalau kasbon menumpuk, nggak ada manajemen yang jelas, mereka juga yang rugi,” kata Bagus. “Belum lagi ada juga yang kasbon malah buat main judi.”

Iklan

Kelakuan warga yang suka ngutang bikin usaha di desa jadi boncos

Melihat nasib Bagus, saya jadi teringat pada alasan kakak saya yang sampai sekarang selalu menolak mentah-mentah jika disuruh buka usaha di kampung halaman. 

Dulu, simbah kami pernah membujuk kakak untuk berhenti bekerja di kota dan pulang saja. Simbah menyuruhnya membuka toko kelontong di rumah desa peninggalan keluarga yang kebetulan posisinya cukup strategis.

Jawaban kakak saya saat itu sangat realistis, “Males, Mbah. Nanti diutangin terus sama tetangga. Males juga nagihnya karena pasti banyakan mereka yang marah.”

Jawaban kakak saya itu terdengar sepele, tapi sebenarnya memotret sebuah realita pahit. Di desa, menolak tetangga atau karyawan yang mau berutang seringkali dianggap sebagai dosa. Kita akan langsung dicap pelit, sombong, atau tidak punya rasa kekeluargaan. 

Ujung-ujungnya, punya usaha kecil-kecilan di desa seringkali boncos bukan karena sepi pembeli, tetapi karena modalnya habis tersedot utang-utang yang tidak pernah lunas ditagih.

Baca halaman selanjutnya…

Gara-gara racun bernama “kekeluargaan”, usaha di desa bisa carut marut.

Halaman 1 dari 2
12Next

Terakhir diperbarui pada 10 April 2026 oleh

Tags: bisnis anak mudabisnis di desabuka usaha di desaDesaetos kerjaetos kerja orang desaetos kerja pemuda desaide bisnis di desaide usaha di desapilihan redaksislow livingslow living di desa
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

kos dekat kampus, kos murah.MOJOK.CO
Urban

Punya Kos Dekat Kampus Menguras Mental dan Finansial, Gara-Gara Teman Kuliah yang Sering Menginap tapi Tak Tahu Diri

29 April 2026
kurir dan driver ShopeeFood. MOJOK.CO
Catatan

Membiasakan Ngasih Tip Kurir ShopeeFood meski Kita Bukan Orang Mapan: Uang 5 Ribu Nggak Bikin Jatuh Miskin, Tapi Sangat Berarti buat Mereka

28 April 2026
Tahlilan ibu-ibu di desa: acaranya positif tapi ternodai kebiasaan gibah dan maido MOJOK.CO
Sehari-hari

Tahlilan Ibu-ibu di Desa: Kegiatan Positif tapi Sialnya Jadi Kesempatan buat Flexing Perhiasan, Mengorek Aib, hingga Saling Paido

28 April 2026
Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, akan beri pendampingan korban daycare Little Aresha dan akan lakukan sweeping MOJOK.CO
Aktual

Sweeping Daycare di Kota Yogyakarta, Langkah Emergency yang Harus Dilakukan agar Kasus Serupa Little Aresha Tak Terulang

27 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Amplop nikahan jadi kebingungan untuk fresh graduate di Jakarta

Dilema Hadiri Nikahan Rekan Kerja di Jakarta, Gaji Tak Seberapa tapi Gengsi kalau Isi Amplop Sekadarnya

24 April 2026
Lulusan S2 Jepang nggak mau jadi dosen, pilih kerja di Australia. MOJOK.CO

Lulusan S2 di Jepang, Pilih Kerja sebagai Koki di Australia daripada Jadi Dosen di Indonesia karena Terlalu Senioritas

29 April 2026
Hidup mati pekerja Jakarta harus tetap masuk, menerjang arus dari Bekasi

Menjadi Guru Honorer di Jakarta Tetap Sama Susahnya dengan di Daerah: Gajinya Cuma Seperempat UMR, Biaya Hidupnya 2 Kali Pendapatan

29 April 2026
kurir dan driver ShopeeFood. MOJOK.CO

Membiasakan Ngasih Tip Kurir ShopeeFood meski Kita Bukan Orang Mapan: Uang 5 Ribu Nggak Bikin Jatuh Miskin, Tapi Sangat Berarti buat Mereka

28 April 2026
Latihan Lawan Pria dan Mentalitas Tak Kenal Puas Jadi Resep Rahasia Tim Putri Ubaya Dominasi Campus League 2026 Regional Surabaya.MOJOK.CO

Latihan Lawan Pria dan Mentalitas Tak Kenal Puas Jadi Resep Rahasia Tim Putri Ubaya Dominasi Campus League 2026 Regional Surabaya

30 April 2026
Minyak wangi cap lang lebih bagus dari FreshCare. MOJOK.CO

Anak Usia 30-an Tak Ingin FOMO Pakai FreshCare, Setia Pakai Minyak Angin Cap Lang meski Diejek “Bau Lansia”

27 April 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.