Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Urban

Kerja Mentereng di SCBD Jakarta tapi Tiap Hari Menangis di KRL, Kini Temukan Kedamaian Usai Resign dan Kerja Remote di Purwokerto

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
13 Maret 2026
A A
Kerja di Jakarta, Purwokerto, KRL.MOJOK.CO

ilustrasi - anak kereta di Jakarta menggunakan commuter line. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Kerja di Jakarta bikin stres. Meski punya gaji lumayan di SCBD, Dinda harus bertarung dengan kerasnya ibu kota yang bikin dia menangis di dalam KRL. Karena tak tahan, ia membuat keputusan besar: meninggalkan pekerjaan mapan dan menepi ke desa asal di Purwokerto.

***

Iklan

Bagi teman-teman kuliahnya di Purwokerto, Dinda (25) adalah contoh nyata kesuksesan anak rantau. Kalau melihat unggahan Instagram-nya, hidup Dinda tampak sangat menyenangkan. 

Misalnya, ia sering memotret es kopi susu dengan latar gedung-gedung kaca pencakar langit. Tali gantungan ID card atau lanyard dari agensi tempatnya bekerja di kawasan elite SCBD Jakarta, tak pernah absen menggantung di lehernya.

Di mata orang kampung halamannya, Dinda pasti gajinya besar dan hidupnya nyaman. Sangat wajar, mengingat SCBD adalah pusat kawasan bisnis paling bergengsi di Indonesia.

“Ekspektasi banyak orang, ya, layaknya pekerja Jakarta lainnya lah. Pasti dilihat selalu megang duit,” ujar perempuan yang bekerja di Jakarta sejak 2024 itu, Kamis (12/3/2026).

Namun, kamera ponsel Dinda tidak pernah menyorot kenyataan setelah jam kantor bubar. Gaji Dinda sebagai staf agensi sebenarnya hanya sebatas UMR Jakarta, sekitar lima jutaan. Dengan nominal pas-pasan itu, mustahil baginya menyewa kos di tengah kota. 

Demi menghemat pengeluaran, ia pun menyewa kamar kos murah di Bojonggede, pinggiran Kabupaten Bogor. Keputusannya ini lebih didasarkan karena sepupunya yang memintanya tinggal bersama agar lebih hemat.

“Kosku karena yang punya itu masih sepupu, cuma disuruh bayar 150 doang buat air sama listrik,” ujarnya.

Tiap hari harus berdesakan di dalam KRL

Gaya hidup di perkantoran elite yang menuntut penampilan rapi berbenturan keras dengan tempat tinggalnya di pinggiran kota. Setiap hari, Dinda harus bangun jam lima pagi agar tidak tertinggal jadwal KRL awal. 

Kemeja rapinya harus rela berdesak-desakan dengan ratusan penumpang lain yang sama-sama mengantuk.

Belum lagi horor yang harus ia hadapi saat transit di Stasiun Manggarai. Berlarian pindah peron, punggung yang saling berdesakan sampai napas sesak, dan bau keringat yang bercampur aduk sudah jadi makanan sehari-hari.

“Sampai di kantor kayak orang nggak mandi.”

Malam yang bikin tekadnya bulat untuk resign

Puncaknya terjadi pada suatu malam di musim hujan. Dinda terpaksa lembur dan baru bisa pulang naik KRL jadwal terakhir. 

Iklan

Malam itu, hujan turun lumayan deras. Ujung celana dan sepatu kerja Dinda basah kuyup terkena cipratan air saat berlari menuju peron. Di dalam gerbong, hawa dingin dari AC bercampur dengan bau pengap dari baju-baju basah puluhan penumpang lain. 

Belum sempat tubuhnya mengering, suara pengumuman dari pengeras suara terdengar: kereta tertahan cukup lama karena ada gangguan sinyal di stasiun depan.

Terdengar helaan napas panjang dan keluhan dari seluruh penjuru gerbong. Termasuk dari mulut Dinda. Di tengah desakan penumpang yang sama-sama ingin cepat rebahan, mental Dinda akhirnya runtuh.

Ia tidak kebagian tempat duduk. Mau tidak mau, Dinda harus berdiri berjam-jam sambil berpegangan erat pada tiang besi kereta. Pundaknya terasa kaku karena harus menggendong tas berisi laptop kantor yang lumayan berat. Sementara itu, kakinya terasa sangat perih karena lecet tergesek sepatu kerja murah yang basah.

“Aku menangis sejadi-jadi. Di dalam KRL, diliatin orang-orang. Dan aku nggak peduli,” jelasnya.

Di momen itu, isi kepalanya sangat berisik. Ia mulai menghitung sisa saldo di rekeningnya. Gajinya yang lumayan itu, nyatanya cuma numpang lewat. Uangnya habis untuk makan, isi saldo kartu KRL, dan pesan ojek dari stasiun. Belum lagi tuntutan ikut patungan beli kopi kekinian bareng teman kantor sekadar agar tidak dibilang “kuper”.

Malam itu, Dinda tiba-tiba merasa sangat bodoh. Ia bertanya-tanya dalam hati, untuk apa ia memaksakan diri bertahan kalau aslinya sangat kelelahan.

Baca halaman selanjutnya…

Mantep resign! Memilih pulang ke desa di Purwokerto untuk mencari ketenangan.

Halaman 1 dari 2
12Next

Terakhir diperbarui pada 13 Maret 2026 oleh

Tags: commuter linejakartakereta apikerja di jakartaKRLmerantau ke jakartaPurwokertoresign kerja
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

orang kota slow living di desa, jakarta, norak.MOJOK.CO
Urban

Desa adalah Tempat Ideal Buat Nine to Five: Gaji “Utuh”, Mental Sehat, asalkan Memegang 3 Prinsip Ini

28 Juli 2026
Wonogiri Jadi Wilayah dengan Penutupan Perlintasan Liar Terbanyak di Daop 6 MOJOK.CO
Transportasi

Wonogiri Jadi Wilayah dengan Penutupan Perlintasan Liar Terbanyak di Daop 6

27 Juli 2026
Titi terendah perempuan: bawa bocil saat naik kereta api MOJOK.CO
Sehari-hari

Titik Terendah Ibu saat Naik Kereta Api Bawa Bocil: Mental Terguncang Bukan karena Bocil Tantrum tapi Mulut Jahat Sesama Perempuan

27 Juli 2026
Lulusan s2, susahnya legalisir ijazah setelah wisuda.MOJOK.CO
Sekolahan

Nasib Lulusan S2 di Jakarta: Kuliah Dianggap Nggak Guna karena Kalah Saing dengan Tamatan SMA, tapi Tetap Merasa Bangga

23 Juli 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

cut off pertemanan. MOJOK.CO

10 Tahun Persahabatan Berujung Cut Off Mengajari Saya Satu Hal: Kita Bukan Jahat, tapi Memang Sudah Tak Sejalan

31 Juli 2026
Dugaan Korupsi Bupati Sukoharjo: Warisan Bernama Korupsi MOJOK.CO

Bupati Pemalang Kena OTT KPK, Mengapa Kasus Korupsi Kepala Daerah Terus Berulang?

29 Juli 2026
Yamaha Sigma motor kelas bawah tapi paling bisa diandalkan MOJOK.CO

Yamaha Sigma adalah Motor pertama di Jogja hasil lungsuran dari bapak dan jadi saksi momen-momen paling serius dalam hidup saya

28 Juli 2026
Di Antara Teriakan Maling dan Sunyinya Nurani: Seorang Anak Menangisi Bapaknya yang Tewas Dikeroyok Massa MOJOK.CO

Di Antara Teriakan Maling dan Sunyinya Nurani: Seorang Anak Menangisi Bapaknya yang Tewas Dikeroyok Massa

27 Juli 2026
Nasirun, pelukis-seniman maestro berpulang dengan meninggalkan ingatan kebaikan MOJOK.CO

Hadiah Lukisan Topeng dari Membetulkan Antena TV dan Laku Hidup Seorang Nasirun

1 Agustus 2026
Disuruh Pindah Negara, Saya Googling Cara Jadi Warga Selandia Baru MOJOK.CO

Disuruh Pindah Negara, Saya Googling Cara Jadi Warga Selandia Baru

29 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.