Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Kabar

Hadiah Lukisan Topeng dari Membetulkan Antena TV dan Laku Hidup Seorang Nasirun

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
1 Agustus 2026
A A
Nasirun, pelukis-seniman maestro berpulang dengan meninggalkan ingatan kebaikan MOJOK.CO

Nasirun, pelukis-seniman maestro berpulang dengan meninggalkan ingatan kebaikan. (Aly Reza/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Sedari pagi hingga menjelang jam 2 siang, gelombang peziarah tak putus-putus memenuhi rumah duka maestro seni rupa, Nasirun, yang baru saja tutup usia. Kerabat, rekan sejawat, hingga sejumlah tokoh nasional berduyun-duyun memberi penghormatan terakhir untuk seniman yang dikenal suka berbagi tersebut. 

Sebagaimana namanya, “Nasirun”, dalam bahasa Arab berarti orang yang menolong. Dan memang begitulah sosok seniman asal Cilacap, Jawa Tengah, itu dalam ingatan banyak orang. 

Begitu kesaksian Medi, seorang kerabat dari jalur istri Nasirun. Sehingga tidak heran jika banyak orang berduyun-duyun mendoakan Nasirun dalam persemayaman terakhirnya di dunia. 

Para peziarah di rumah duka Nasirun MOJOK.CO
Para peziarah di rumah duka Nasirun. (Aly Reza/Mojok.co)

Lukisan seperti warna-warna tukang becak

Medi mengenal Nasirun jauh sebelum lukisan-lukisannya mengantarkannya menjadi salah satu maestro seni rupa Tanah Air. 

“Saya menyaksikan waktu beliau masih mbatik-mbatik, waktu masih tinggal di Soragan (Ngestiharjo, Kasihan, Bantul),” ujar Medi saat berbagi cerita dengan Mojok di rumah duka, Perum Bayeman Permai, Jl. Wates, Ngestiharjo, Bantul, Sabtu (1//8/2026) siang. 

Untuk diketahui, Nasirun pernah menempuh studi kriya batik di Sekolah Menengah Seni Rupa (SMSR) di Yogyakarta. Lulus pada 1983 ia kemudian melanjutkan kuliah di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta pada periode 1987-1994.

Dalam pameran tunggal bertajuk Memorabilia di Galeri Orbital Dago, Bandung, 19 Maret hingga 27 April 2025, kurator seni Rifky ”Goro” Effendy pernah menceritakan bahwa semasa kuliah, Nasirun juga bekerja dengan membuat batik. 

Dalam sebuah wawancara, sebelum karyanya meledak dengan harga-harga fantastis pada 1997, Nasirun mengaku pernah menjajal door to door menawarkan lukisannya dari galeri ke galeri, dari kolektor ke kolektor. 

Karya Nasirun pertama kali terjual pada 1993 dengan harga Rp70 ribu. Sejumlah kritikus dan media saat itu menyebut lukisan tersebut menggunakan warna-warna seperti tukang becak. 

 

Lihat postingan ini di Instagram

 

Sebuah kiriman dibagikan oleh Artopologi (@artopologi)

Laku hidup Nasirun: humoris dan menolong yang kesusahan

Barangkali karena Nasirun memulai langkahnya benar-benar dari bawah, menurut Medi, itu kemudian menjadi dasar laku hidup seorang Nasirun. 

Iklan

“Benar pengakuan teman-teman seniman kalau beliau memang selain humoris juga suka menolong orang. Siapapun, sesama seniman maupun kerabat, yang mengalami kesusahan, beliau itu suka menolong” ungkap Medi. 

Nasirun kerap membeli lukisan-lukisan dari sesama seniman. Selain untuk mengapresiasi karya juga agar rekan senimannya bisa mendapat sokongan finansial. Tidak terhitung pula beragam rupa kebaikan yang sang maestro berikan pada kerabat-kerabatnya. 

Sejawat sekaligus tetangga Nasirun, Jumadil Alfi, mengaku mengenal Nasirun sebagai sosok yang tidak pernah membeda-bedakan seniman junior maupun senior. 

“Dengan seniman-seniman muda Jogja sangat perhatian. Dia tidak membedakan antar seniman. Makanya kadang-kadang kan saya bercanda sama dia, ‘Sosok kayak kamu itu udah pameran internasional di mana-mana, tapi pameran RT antar gang aja dia tetap mau’,” kenang Alfi di rumah duka. 

“Termasuk lingkungan ini jadi asri salah satunya juga karena beliau suka menanam,” sementara begitu pengakuan Medi sembari menunjuk rimbun beragam jenis tanaman yang memadati area kediaman Nasirun, yang kini menciptakan suasana teduh bagi lingkungan sekitar. 

Salat jenazah untuk Nasirun MOJOK.CO
Salat jenazah untuk Nasirun. (Aly Reza/Mojok.co)

Membetulkan antena tv rumah Nasirun dan hadiah lukisan topeng

Nasirun telah berpulang. Selain ingatan-ingatan kebaikannya, kenangan atas sosoknya juga mewujud dalam sebuah lukisan topeng yang Medi simpan di rumah. 

Lukisan topeng itu mengingatkan Medi pada masa bertahun-tahun silam kala Nasirun masih tinggal di Soragan. Suatu hari, Nasirun meminta bantuan Medi untuk membetulkan antena tv untuk menonton siaran sepak bola dunia. 

“Setelah saya betulkan, saya dikasih lukisan topeng itu, jadi kenang-kenangan untuk mengenang kebaikan almarhum,” tuturnya. 

Tidak hanya lukisan topeng, Medi juga menyimpan hasil batik Nasirun dari masa jauh sebelum sosoknya menjadi seniman kenamaan. 

Para pezia,rah di rumah duka Nasirun MOJOK.CO
Para peziarah di rumah duka Nasirun. (Aly Reza/Mojok.co)

Kopiah dan manekin penyambung rasa 

Seniman tari Yogyakarta, Didi Nini Thowok juga mengaku mendapat pemberian dari Nasirun. 

Sejak pertama kali bertemu dengan Nasirun, Eyang Didi mengaku sudah langsung nyambung. “Karena Mas Nasirun sosok yang rileks, menyenangkan, dan nyambung lah dengan saya,” ungkapnya usai mengirim doa di hadapan jenazah Nasirun. 

Eyang Didi kemudian memang sering bersinggungan dengan sang pelukis. Sampai-sampai ia diberi sebuah kopiah dan dua manekin yang masing-masing disertai lukisan tangan Nasirun. 

Bagi Didi, tiga barang tersebut menjadi pemberian spesial. Tiga barang itu bukan sekadar barang, tapi juga menjadi penyambung rasa antara Eyang Didi dan Nasirun. 

Melihat jenazah Nasirun yang terbaring damai, diiringi doa-doa baik dari orang-orang yang mencintainya, Eyang Didi berprasangka baik bahwa Nasirun dengan segala kebaikan yang pernah dilukiskan di alam dunia, akan memberikan jalan lapang bagi Nasirun dalam menuju alam keabadian. 

Seniman tari Jogja: Didi Nini Thowok MOJOK.CO
Seniman tari Jogja: Didi Nini Thowok. (Aly Reza/Mojok.co)

***

Berdasarkan informasi dari keluarga, kondisi Nasirun dalam beberapa hari terakhir memang tidak sepenuhnya fit. Sempat merasakan sesak napas. Hanya memang kambuh-kambuhan, kadang sesak kadang hilang. 

Namun, karena sesak napas itu menjadi agak mengkhawatirkan, pihak keluarga akhirnya membawa Nasirun ke Rumah Sakit AMC Yogyakarta pada Sabtu (1/8/2026) pukul 02.00 dini hari. Setelah 4 jam penanganan, sang maestro dinyatakan tutup usia pada sekitar pukul 05.00 pagi. 

Sejak jenazah dipulangkan ke rumah duka, sejumlah tokoh publik tampak datang takziah, di antaranya: Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti, Rosiana Silalahi, hingga pasangan aktor Dwi Sasono dan Widi Mulia. Seluruh peziarah yang datang bersaksi perihal kebaikan sang maestro yang hari ini dikebumikan di Makam Seniman Imogiri, Bantul. 

Penulis: Muchamad Aly Reza

Editor: Agung Purwandono

BACA JUGA: Selamat Jalan Nasirun: Kisah di Balik Sang Maestro Nggak Mau Punya HP atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

 

Terakhir diperbarui pada 1 Agustus 2026 oleh

Tags: karya nasirunkisah hidup nasirunlukisan nasirunpelukis jogjariwayat nasirunseniman jogja
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Seniman lokal di Jogja. MOJOK.CO
Kabar

Upaya Seniman Lokal Jogja Tetap Eksis di Tengah Kondisi Ekonomi yang Menghimpit

24 Maret 2025
Perjalanan Nanang, Tunanetra yang Diusir karena Buka Jasa Pijat di Malioboro hingga Menjadi Seniman Jogja. MOJOK.CO
Sosok

Perjalanan Nanang, Tunanetra yang Diusir karena Buka Jasa Pijat di Malioboro hingga Menjadi Seniman Raba

8 Januari 2025
Sejumlah seniman melukis on the spot di Sembungan, Bangunjiwo, Kasihan, Bantul, Minggu (13/08/2023). MOJOK.CO
Kilas

Cara Seniman Melepas Kepergian Djoko Pekik ke Peristirahatan Terakhir

13 Agustus 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

kekerasan di matraman, kos di jakarta.MOJOK.CO

Warga vs Warga, Mengapa Kekerasan di Tingkat Tapal Terus Berulang?

28 Juli 2026
Biaya kos, kisah mahasiswa.MOJOK.CO

Bertahan di Kos Tanpa Jendela yang Berisik dan Sepanas Oven, Semua Demi Ngirit dan Lolos Ancaman DO Kampus

30 Juli 2026
Sekolah, Saya Hanya Ingin Kuliah, tetapi Crab Mentality di Desa Menganggap Saya Lupa Diri MOJOK.CO

Memilih Sekolah Mahal demi Selamatkan Pergaulan Anak di Desa, Malah Dicap “Sok Kaya” dan Egois oleh Tetangga

27 Juli 2026
Ratusan anak di Sidoarjo terpapar HIV AIDS dan pentingnya periksa kesehatan sebelum menikah MOJOK.CO

Pentingnya Tes Kesehatan sebelum Menikah, Bukan untuk Ragukan Pasangan tapi Cegah HIV/AIDS seperti Kasus Ratusan Anak di Sidoarjo

29 Juli 2026
Tren selebrasi di panggung wisuda seperti minta difotoin rektor ala wisudawati UINSA: mengejar atensi maya hingga pergeseran batas hierarki formal MOJOK.CO

Difotoin Rektor: Selebrasi Wisuda biar Berkesan, Atensi Maya, dan Pergeseran Batas Hierarki Formal

30 Juli 2026
Peserta Pekan Budaya Difabel di Jogja. MOJOK.CO

Pekan Budaya Difabel 2026: Saat Anak-anak Terbebas dari Stigma lewat Seni dan Terapi di Ruang Inklusif

29 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.