Bagi seorang ibu, naik kereta api membawa bayi atau balita bisa menjadi salah satu titik terendah karena harus menghadapi betapa jahatnya mulut manusia, bahkan dari sesama perempuan.
***
Wahida menghela napas panjang saat hendak menceritakan pengalamannya membawa bocil naik kereta api. Perempuan asal Lumajang, Jawa Timur, itu mengaku selalu pedih setiap mengingat ucapan-ucapan orang yang pernah ia dengar.
Menikah pada 2023 lalu, Wahida tinggal bersama suami di Sidoarjo. Sesekali ia dan suami juga pulang ke Lumajang menggunakan moda transportasi kereta api. Salah satu momen tidak terlupakan adalah saat pertama kali bepergian dengan membawa anak mereka saat menginjak 1 tahun. Kereta api ekonomi Sri Tanjung menjadi pilihan karena harganya yang murah.
Hari itu menjadi hari yang menguras energi dan mental, bahkan Wahida merasa berada di titik terendah sebagai perempuan, meminjam istilah yang belakangan dipakai para ibu-ibu muda yang membawa bocil di kereta.
Bocil tantrum sepanjang perjalanan, seluruh upaya tidak mempan
Semula anak Wahida tidur pulas semenjak kereta api ekonomi Sri Tanjung berangkat dari Stasiun Wonokromo Surabaya. Ketika bangun, Wahida sebenarnya sudah menyiapkan beberapa mainan agar anaknya tidak rewel.
Sayangnya, fokus anak ke mainan hanya berlangsung sesaat. Setelahnya, anak Wahida merengek-rengek hingga meronta-ronta. Wahida dan suami sampai berganti-gantian untuk menggendong, mengajak jalan maju-mundur di dalam gerbong.
“Kalau duduk pasti langsung rewel. Nangis. Tapi pas diajak jalan juga kadang tenang, kadang tantrum lagi. Dikasih hp juga nggak mempan,” cerita Wahida.
“Aku sampai tanya ke suami, ini kenapa sih sebenarnya? Tapi suami mencoba menenangkan aku juga, wajar ini kan baru pertama kali si bocil diajak naik kereta, ramai orang, jauh juga jaraknya,” sambungnya.
Demi menenangkan anak, saat kereta api berhenti di stasiun, suami Wahida sampai menggendongnya ke peron untuk melihat suasana luar. Sesaat diam. Tapi saat masuk lagi ke gerbong dan kereta api berjalan, tangisan kembali tidak terhindarkan.
Penumpang kereta api merasa terganggu bocil tantrum hingga protes
Karena tantrumnya si bocil terlalu intens, lama-lama beberapa penumpang mulai terang-terangan menunjukkan gestur terganggu. Sepasang anak muda yang duduk di kursi depan Wahida misalnya: satu di antaranya sampai menutup telinga dengan earphone sambil mendesis sebal. Sementara satunya lagi sampai berkali-kali menghembuskan napas berat.
Tidak cukup sampai di situ, bahkan ada seorang penumpang, ibu-ibu berusia 40-an tahun yang sampai menegur: “Kenapa sih, Mbak, kok rewel sampai segitunya?”
Wahida tidak menjawab karena energinya sudah habis. Saat itu suaminya lah yang mencoba menjelaskan kalau itu momen pertama kali si bocil diajak naik kereta api.
“Besok-besok nggak usah naik kereta api, Mbak, daripada rewel kayak gitu,” sahut ibu-ibu dengan nada ketus. Bahkan Wahida mengaku mendengar samar-samar suara laki-laki yang bergumam: “Kalau masih rewel terus mending turun di stasiun berikutnya.”
Mendengar itu, Wahida hampir menangis. Air matanya sebenarnya sudah di ujung. Tapi ia mencoba sekuat tenaga untuk menahan. Apalagi saat melihat sang suami yang sedari awal begitu tabah dan telaten berupaya menggendong dan menenangkan anak mereka.
Di sisa perjalanan, untungnya anak mereka bisa tertidur kembali. Meski di sisa perjalanan itu pula Wahida lebih banyak larut dalam lamunan. Seperti merasa sebagai ibu gagal karena tidak bisa menenangkan anaknya.
Komentar jahat sesama perempuan
“Setelah kejadian itu, aku sempat trauma. Mikir-mikir kalau mau naik kereta api bawa bocil,” tutur Wahida.
Namun, pada akhirnya, Wahida mulai menebalkan telinga dan menguatkan mental. Bahkan setelahnya ia sering berangkat dari Surabaya ke Lumajang (dan sebaliknya) tanpa suami. Kadang si bocil tenang, tidak jarang pula tantrum, bahkan juga kalau mremet: lari-lari hingga tiduran di gang gerbong.
Ia pun memahami dan turut memberi support ketika baru-baru ini ada perempuan yang membagian momen “titik terendahnya” membawa bocil naik kereta api melalui Threads. Di saat yang sama, ia juga tidak habis pikir dengan sesama perempuan yang melayangkan komentar-komentar jahat.
Lihat di Threads
“Ada yang komen, kalau belum becus jadi orang tua, ya jangan punya anak dulu. Kalau masih miskin, kalau naik kereta aja masih ekonomi, ya jangan berkembang biak dulu. Menurutku jahat. Anak itu pemberian Tuhan,” ucap Wahida.
Wahida menilai, para penumpang yang merasa risih dengan keberadaan bocil di kereta api salah sasaran jika menyalurkan kemarahan pada si ibu. Apalagi jika si ibu sudah berusaha keras untuk menenangkan, sementara psikologi anak-anak masih sangat kompleks untuk dimengerti.
“Kalau mau marah, ya ke KAI, karena belum bisa menyediakan gerbong yang benar-benar khusus untuk para orang tua yang naik kereta api bawa bayi atau balita,” gerutu Wahida.
Lihat di Threads
Masih ada orang baik di kereta api?
Cerita Wahida, pengakuan ibu-ibu muda di Threads, juga komentar-komentar jahat yang bertebaran di media sosial membuat istri saya semakin takut merencanakan perjalanan naik kereta api membawa bayi.
Sejak melahirkan saya memang LDM dengan anak dan istri. Saya di Jogja, istri dan anak di Jombang. Untuk sementara saya masih harus riwa-riwi Jogja-Jombang. Sampai kemudian istri saya mengutarakan niat untuk bertandang ke Jogja, membawa bayi kami yang baru tujuh bulan.
“Tapi aku takut kalau tantrum, nanti dapat komentar jahat dari penumpang lain,” ujar istri saya.
Saat saya ceritakan ketakutan istri saya ke Wahida, ia berkata kalau kadang pilihan kita memang hanya menebalkan telinga dan menguatkan mental. Akan tetapi, Wahida mengaku, di sela reaksi penumpang lain yang menyakitkan bagi ibu baru sepertinya, ia masih menemukan perlakuan dari orang baik tanpa ia duga.
“Misalnya, aku pernah kan, pas anakku ngerengek-ngerengek, kursi di sebelahku itu kan rombongan keluarga. Dua Ibu-ibu dan satu bapak-bapak umur 50-an tahun, terus sama satu mbak-mbak masih muda. Itu mereka malah ikut ngajak anakku bercanda, biar nggak rewel. Malah si ibunya juga nawarin mau bantu gendong, terus si mbak-mbaknya ngasih kipas angin kecilnya buat mainan,” beber Wahida. Wahida benar-benar terharu dengan perlakuan mereka, di saat penumpang lain menganggap ia dan anaknya musuh bersama sebagai biang ketidaknyamanan kereta.
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Tangisan Anak Kecil di Kereta Ekonomi Bikin Saya Sadar di Usia 25, Betapa Kasih Ibu Diuji Lewat Rasa Lelah atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan













