Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Catatan

Tangisan Anak Kecil di Kereta Ekonomi Bikin Saya Sadar di Usia 25, Betapa Kasih Ibu Diuji Lewat Rasa Lelah

Aisyah Amira Wakang oleh Aisyah Amira Wakang
11 Mei 2026
A A
Anak Tantrum di Kereta Ekonomi bikin Saya Iba ke Ortu. MOJOK.CO

ilustrasi - anak tantrum, memecah keheningan di dalam kereta ekonomi. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Suara tangis anak kecil memecah keheningan gerbong kereta ekonomi yang saya tumpangi pada awal 2026 lalu. Ketika satu anak menangis dengan kencang, suara itu menular ke anak lainnya. Melihat anak-anak yang mulai tantrum di dalam kereta ekonomi, bikin saya berkontemplasi.

Dulu, mungkin saya merasa risih sampai muncul kalimat ‘saya tidak menyukai anak kecil’. Salah satunya karena sifat tantrum tersebut. Namun ketika dewasa, saya justru senang bermain dengan mereka karena sifatnya yang jujur, polos, dan tanpa pamrih. Sangat berbeda dengan pertemanan dewasa akhir-akhir ini.

Melihat anak tantrum di ruang publik juga bikin saya iba kepada sang ibu, “apakah dulu saya senakal itu? Kasihan sekali ibu harus malu dan bingung dengan sikap saya”.

Tanpa sadar, air mata saya menetes seiring dengan teriakan anak kecil tadi, karena teringat dengan kasih sayang para orang tua. Dalam perjalanan kembali ke perantauan itu, saya selalu terngiang kalimat ibu. Sedewasa apa pun saya hari ini, di mata ayah dan ibu, saya tetaplah anak kecil yang harus dijaga.

Bijak di dalam kereta ekonomi saat anak mulai cemberut

Di tengah riuhnya gerbong kereta ekonomi siang itu, saya masih bersyukur karena anak perempuan yang ada di hadapan saya tidak menangis. Ia memilih sibuk memainkan jam tangan milik ayahnya. Sesekali, ia minta duduk di pinggir jendela untuk melihat pemandangan padi dan sungai. 

Ketika kembali duduk di tengah—antara ayah dan ibunya, si anak dengan sengaja menaruh kakinya di atas paha saya. Waktu itu saya tidak marah dan membatin, ‘Ini mah bukan dengkul ketemu dengkul lagi’. Saya yang kaget awalnya, malah merasa lucu setelah melihat kaki mungilnya.

Untungnya, sang ayah dengan tanggap memberi peringatan kepada si anak dan langsung menurunkan telapak kakinya yang masih menempel di lutut saya. Anak perempuan itu sedikit kesal, sebab mungkin tidak nyaman kalau kakinya harus lama menggantung tanpa menapak tanah.

“Nggak sopan adik, kaki adik kotor. Lihat celana kakaknya, nanti kotor. Adik mau bersihkan?” kata sang ayah.

Anak perempuan itu pun cemberut. Tanpa disangka, sang ayah dengan sengaja melepaskan sandalnya dan meletakkan di atas paha si anak. Si anak marah, ia tidak senang. Untungnya tidak sampai menangis.

“Nah, kamu juga nggak suka kan kalau bajumu kotor karena sandal ayah? Kakaknya juga begitu. Jadi duduk yang baik ya biar kakaknya duduk dengan nyaman,” kata si ayah.

Jujur, saya sedikit terkejut. Si ibu yang dari tadi hanya diam langsung menyodorkan tisu ke arah saya.

“Maaf ya Kak, mohon dimaklumi karena ini pertama kalinya dia naik kereta,” ucapnya.

Sejak saat itulah, percakapan kami jadi mengalir. Si ibu mengenalkan dirinya sebagai Melda dan suaminya bernama Habib. Mereka hendak mengantarkan adiknya yang duduk di sebelah saya ke salah satu pondok di Probolinggo. 

“Kami naik dari Jogja, setidaknya butuh waktu 13 jam. Ini sudah 6 jam, untungnya dia (si anak) belum nangis,” kata Melda.

Iklan

Anak tantrum adalah hal yang normal

Jujur saja, Melda khawatir jika anaknya mulai tantrum dan mengganggu penumpang lain. Ia sendiri paham, tantrum sebetulnya bagian normal dari perkembangan anak untuk meluapkan emosi mereka yang tidak terkendali, tapi tetap saja ia akan malu sebagai orang tua jika tidak bisa menenangkan anaknya.

Melansir dari laman resmi Universitas Negeri Surabaya (Unesa), anak dapat merasa frustrasi, lelah, lapar, cemas, atau menginginkan sesuatu tapi ditolak, anak-anak yang sulit mengelola emosinya cenderung mengalami tantrum.

Anak-anak yang belum bisa mengkomunikasikan keinginannya pada usia 1 sampai 4 tahun, akan mudah tantrum. Misalnya, dengan menangis kencang, merengek, menjerit, atau meronta-ronta, menendang, memukul, melempar barang, hingga berguling-guling di lantai.

menghadapi tatapan orang lain saat anak tantrum di tempat umum memang berat, tapi bagi Melda dan Habib kuncinya adalah tenang. Alih-alih marah, membentak, atau berteriak balik, Melda akan menarik napas dalam-dalam. 

“Kalau kami meresponsnya ikut menjadi-jadi, anak pasti mikir ‘oh gini ya cara mendapatkan perhatian itu’, nah ujungnya mereka malah nggak diam,” kata Melda.

Selain itu, Melda juga tidak serta-merta menuruti permintaan anaknya demi menghentikan tantrum. Menuruti permintaan anak, kata Melda, malah membuatnya mengulangi perilaku yang sama saat si anak membutuhkan sesuatu.

Meski begitu, Melda bukannya abai alias menyepelekan perasaan sang anak. Baik Melda dan Habib paham kalau anak sudah mulai merengek, pasti ada penyebab. Oleh karena itu, menurut mereka, ada baiknya orang tua mengajak bicara si anak.

“Seperti misalnya, anak saya tadi. Kami mencoba meraba kenapa anak saya tiba-tiba menaruh kakinya. 

Orang tua dan anak saling belajar mengelola emosi di kereta ekonomi

Jika si anak masih tantrum, belum bisa tenang, orang tua dapat membawa mereka ke tempat yang lebih sepi dan aman. Dalam konteks kereta api, orang tua dapat membawa anak mereka ke lorong dekat pintu atau kamar mandi. 

“Ini membantu Anda dan anak terhindar dari keramaian serta tatapan publik, sehingga Anda bisa fokus menenangkan anak tanpa merasa tertekan,” dilansir dari website Unesa, Senin (11/5/2026).

Setelah anak sedikit tenang, orang tua dapat mengalihkan perhatian mereka dengan menawarkan mereka beberapa opsi. Tawaran yang diberikan juga harus detil. Alih-alih menanyakan ‘kamu mau apa?’, langsung katakan saja ‘kamu mau ditemani jalan-jalan atau di sini dulu sampai tenang?’.

Melda dan Habib pun sudah memperkirakan jika sewaktu-waktu anaknya rewel, bahkan orang dewasa sendiri saja bakal lelah dan bosan ketika harus duduk selama berjam-jam. Apalagi, mereka juga naik kereta ekonomi yang dari segi fasilitas ala kadarnya.

Oleh karena itu, Melda dan Habib sudah melakukan antisipasi sebelum berangkat naik kereta ekonomi. Misalnya dengan memastikan kebutuhan dasar si anak, mulai dari makanan dan istirahat yang cukup.

“Sebelum berangkat, kami sudah kasih pengertian ke dia. Terus kami tanya, ‘adik mau bawa barang apa?’ terus dia minta permen dan boneka kesukaannya, kami turuti asal nanti di dalam kereta dia nggak minta macam-macam,” jelas Melda.

Jika sewaktu-waktu anaknya tantrum, Melda yakin hal itu akan berlalu. Yang penting, kata dia, sebagai orang tua ia harus lebih bijak, tenang, dan sabar, sehingga dapat menjadi teladan untuk anaknya. 

Penulis: Aisyah Amira Wakang

Editor: Muchammad Aly Reza

BACA JUGA: Kehangatan dan Pelajaran Hidup di Kereta Api (KA) Ekonomi yang Sulit Ditemukan di KA Eksekutif atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 11 Mei 2026 oleh

Tags: anak tantrumkereta ekonomiparentingpola asuh orang tuasri tanjungtantrum
Aisyah Amira Wakang

Aisyah Amira Wakang

Jurnalis Mojok.co asal Surabaya. Pernah menempuh pendidikan di S1 Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Menaruh perhatian pada isu pendidikan, sosial, perkotaan, dan kelompok-kelompok marjinal. Di luar rutinitas liputan mengisi waktu dengan berlari dan menjelajah alam.

Artikel Terkait

Tabiat penumpang KA Sri Tanjung yang bikin jengkel KA Sancaka. MOJOK.CO
Catatan

User Kereta Eksekutif Jengkel dengan Tingkah Random User Kereta Ekonomi, Turun di Stasiun Langsung Dibikin “Prengat-prengut”

14 April 2026
User kereta api (KA) ekonomi naik bus Sumber Selamat: sebenarnya kursi lebih nyaman, tapi ogah tersiksa lebih lama MOJOK.CO
Sehari-hari

User Kereta Ekonomi Naik Bus Sumber Selamat karena Tak Ada Pilihan: Kursi Lebih Nyaman, Tapi Dibuat Hampir Pingsan

2 April 2026
Ada kehangatan dan banyak pelajaran hidup di dalam kereta api (KA) ekonomi yang sulit didapatkan user KA eksekutif kalau terlalu eksklusif MOJOK.CO
Sehari-hari

Kehangatan dan Pelajaran Hidup di Kereta Api (KA) Ekonomi yang Sulit Ditemukan di KA Eksekutif

13 Maret 2026
KA bengawan, KA Airlangga, KA Taksaka, Pengalaman 22 Jam Naik Kereta Api Membelah Pulau Jawa MOJOK.CO
Catatan

User KA Bengawan Merasa Kesepian Saat Beralih ke Kereta Eksekutif KA Taksaka, “Kereta Gaib” Harga Rp74 Ribu Tetap Juara Meski Bikin Badan Pegal

9 Maret 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Guru PPPK Paruh Waktu, guru honorer, pendidikan.MOJOK.CO

JPPI Kritik Aturan Baru SE Mendikdasmen Nomor 7 Tahun 2026: Nasib 2,3 Juta Guru Non-ASN Terancam di Ujung Tanduk

8 Mei 2026
Joki UTBK SNBT di Surabaya raup cuan Rp700 juta demi kebutuhan hidup. Kedokteran jadi incaran MOJOK.CO

Joki UTBK SNBT Bisa Raup Rp700 Juta: Buat Kebutuhan Hidup karena Keterbatasan, Cuan Gede dari Jurusan Kedokteran

10 Mei 2026
Merasa terkecoh saat kuliah di Universitas Islam Negeri (UIN) gara-gara ulah mahasiswa organisasi ekstra hingga dosen cabul MOJOK.CO

Kuliah di UIN dengan Ekspektasi Tinggi: Berujung “Terkecoh” karena Fakta Tak Sesuai Tampilan Luar dan Menyimpang

7 Mei 2026
Gaji Dosen Belum Sejahtera, Sekarang Prodinya Mau Ditutup Pula. Negara Ini Sebetulnya Mau Apa? MOJOK.CO

Gaji Dosen Belum Sejahtera, Sekarang Prodinya Mau Ditutup Pula. Negara Ini Sebetulnya Mau Apa?

6 Mei 2026
Ketika Laki-laki Memakai V-neck, Dianggap Tebar Pesona dan Menentang Kodrat padahal Cuma Mau Modis MOJOK.CO

Ketika Laki-laki Memakai V-neck, Dianggap Tebar Pesona dan Menentang Kodrat padahal Cuma Mau Modis

5 Mei 2026
Orang tua lebih rela jual tanah dan keluarkan biaya puluhan juta untuk anak LPK kerja di Jepang daripada lanjut kuliah di perguruan tinggi MOJOK.CO

Ortu Lebih Rela Jual Tanah buat Modal Anak Kerja di Jepang, Rp40 Juta Mending buat LPK ketimbang Rugi Dipakai Kuliah

6 Mei 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.