Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Sehari-hari

Fitur “Pilih Kursi” KAI Access Terasa Percuma, Mau Duduk Nyaman di Kursi Incaran tapi Malah Makin Kesal

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
8 Juni 2026
A A
Fitur "Pilih Kursi" di KAI Access terasa percuma karena penumpang di kereta api ekonomi tidak tahu diri MOJOK.CO

Ilustrasi - Fitur "Pilih Kursi" di KAI Access terasa percuma karena penumpang di kereta api ekonomi tidak tahu diri. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Keberadaan fitur “Pilih Kursi” di KAI Access pada awalnya membuat penumpang bisa memilih tempat duduk yang ia kehendaki. Namun, pada kenyataannya, pilihan kursi seringkali tidak sejalan dengan macam-macam karakter penumpang—terutama di kereta api ekonomi. 

Fitur “Pilih Kursi” di KAI Access dan kursi paling diincar penumpang

Keberadaan fitur “Pilih Kursi” di KAI Access pada awalnya membuat Wiratama (27) akan dipermudah untuk memilih kursi duduk. 

Ada dua asumsi. Satu, pekerja Surabaya asli Solo tersebut tentu bisa memilih tempat duduk incaran. Jika sudah begitu, asumsi kedua, maka ia akan terhindar dari drama-drama rebutan kursi yang kerap terjadi di kereta api ekonomi seperti Sri Tanjung. 

Sebulan sekali Wiratama akan melakukan perjalanan Surabaya-Solo (dan sebaliknya) untuk pulang kampung. Belum termasuk jika cuti atau ada libur-libur lain di luar akhir pekan. 

Pada prinsipnya, ia sudah mematok tanggal kapan ia akan pulang ke Solo dan perjalanan kembali ke Surabaya. Dengan begitu, sedari jauh-jauh hari ia akan memesan tiket di KAI Access. 

“Kalau gerbong aku bebas lah. Tapi yang penting mengamankan tempat duduk. Kalau tempat duduk di Sri Tanjung, aku lebih suka yang kursi dua-dua berhadapan. Karena kalau tiga-tiga, itu mesti sumpek,” ungkap Wiratama, Minggu (7/6/2026). 

Selain itu, ia pasti akan mencari pilihan kursi di dekat jendela. Posisi itu paling ia incar karena bisa menaruh botol, nge-charge ponsel dengan leluasa, menyandarkan kepala ke jendela jika mengantuk, dan bisa mengalihkan pandangan ke lanskap sawah-sawah yang dilintasi kereta—untuk membuang jenuh sepanjang perjalanan. 

Akan tetapi, meski ia sudah mengatur pilihan kursi sedemikian rupa melalui fitur “Pilih Kursi”, ujung-ujungnya yang terjadi selalu tidak menyenangkan—dan bahkan cenderung menyebalkan. 

Sia-sia “Pilih Kursi” di KAI Access karena selalu diserobot, sampai ngecek tiket berkali-kali 

Ketika kereta api ekonomi Sri Tanjung sudah masuk peron Stasiun Balapan, Solo, lalu Wiratama menitik deret kursi yang ia pilih, ujung-ujungnya ia hanya bisa membatin kesal. 

Sebab, tiba-tiba saja kursi di dekat jendela sudah ada orang yang menduduki. Masalahnya, orang di dekat jendela hanya menatap kehadiran Wiratama, tapi enggan bergeser. Dan kejadian itu sudah terjadi berkali-kali. 

“Aku sampai ngecek berkali-kali ke e-tiket KAI Access, bener nggak tempat dudukku. Sudah bener. Tapi memang si penumpang yang sudah nyerobot itu bebal aja, nggak geser,” ujar Wiratama. 

Atau jangan-jangan, dalam benak Wiratama, mereka (penumpang yang nyerobot) sebenarnya tidak paham bahwa ketika pesan tiket di KAI Access, ada informasi soal tempat. 

Tempat duduk pun buka asal di deretan abjad yang tertera di atas jendela/di bawah kabin. Jangan-jangan, banyak orang masih belum paham bahwa kode abjad itu menandakan lokasi duduk seseorang. Misalnya, kalau D berarti di dekat jendela, kalau C berarti di dekat gang. 

Tapi sebagai orang tidak enakan, Wiratama akhirnya memilih mengalah. Memilih tempat duduk yang kosong saja, walaupun dengan hati yang agak dongkol. 

Iklan

Berdebat di kereta api ekonomi: tidak habis pikir dengan format “dulu-duluan” dan cara pikir “cuma tempat duduk aja repot”

Berbeda dengan Wiratama yang punya kecenderungan mengalah, Salena (24) memilih berdebat demi mempertahankan posisi duduk yang sudah ia pilih. 

Salena perempuan asal Purwokerto yang, sejak kuliah hingga kini bekerja, tinggal di Jogja. Ia memang sering melakukan perjalanan Jogja-Purwokerto (juga sebaliknya). 

Sama seperti Wiratama, Salena suka memilih kursi dekat jendela. Masalahnya, seringkali memang kursi yang Salena pilih dengan fitur “Pilih Kursi” di KAI Access tersebut ditempati oleh penumpang lain. Tapi Salena tidak mau mengalah. 

“Aku pernah berdebat, ya aku awalnya bilang baik-baik kalau aku seharusnya duduk di tempat duduk dekat jendela. Tapi respons penumpang lain malah sengak sekali,” kata Salena. 

Misalnya, Salena pernah bertemu dengan jenis penumpang yang karena merasa sudah pw (posisi wenak), maka enggan bergeser, bilang: Udah pw, Mbak, Mbaknya di sebelah saja (tempat duduk gang). Tempat duduk sama aja. 

Salena tidak terima. Bukan masalah pw atau tidak. Dan jelas, bagi Salena, tidak sama saja. Karena ia sendiri memiliki preferensi bahwa kursi di dekat jendela lebih membuatnya nyaman ketimbang di dekat gang yang menjadi tempat lalu-lalang orang dan petugas kereta api. Itu lah kenapa ia menggunakan fitur “Pilih Kursi” di KAI Access—demi duduk di kursi incaran. 

“Bahkan pernah loh aku ketemu sama orang dengan pola pikir: dikira urutan abjadnya nggak ngaruh. Mau duduk di dekat jendela ya artinya dulu-duluan,” kata Salena. 

Gara-gara berdebat alot untuk meminta hak duduknya yang direbut, Salena sampai minta bantuan petugas untuk menengahi. Dan akhirnya Salena pun bisa mendapatkan tempat duduk sebagaimana yang ia pilih, meski penumpang di sebelahnya agak ngedumel. 

“Seringnya ya, (berdebat) sama ibu-ibu atau perempuan sebaya yang mungkin tidak teredukasi perihal pilih kursi ini. Dibilang lebay, ya silakan. Tapi kan di KAI Access ada fitur “Pilih Kursi”. Kalau pada akhirnya pakai cara dulu-duluan atau mengalah, ya buat apa dong ada fitur itu,” gerutunya. 

Kereta api ekonomi subsidi (Sri Tanjung) dan premium sama saja!

Selama ini, banyak orang membayangkan, chaos semacam itu sering terjadi di kereta api ekonomi subsidi seperti Sri Tanjung. Apalagi format kursinya yang masih berhadapan. 

Namun, dari cerita Salena, di kereta api ekonomi premium—yang format kursinya sudah dua-dua menghadap satu arah—pun kerap terjadi pula, karena memang Salena sering bepergian dengan kereta api ekonomi premium. 

“Mangkanya, di ekonomi premium, karena sudah nyaman dengan format itu, nggak harus tabrakan dengkul dengan penumpang lain, pilih di dekat jendela jadi lebih enak,” jelas Salena. “Dan itu memang bisa dipilih loh karena ada fiturnya.” 

Dalam bayangan Salena, jangan-jangan masih banyak penumpang ketika order di KAI Access ikut saja pilihan kursi dari sistem. Sialnya, mereka juga tidak paham betul soal kode abjad atau minimal membaca keterangan di bawah abjad yang ada di atas jendela/bawah kabin: yang menjelaskan abjad apa untuk kursi di dekat jendela dan abjad apa untuk kursi di dekat gang. Sial!

Penulis: Muchamad Aly Reza

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Tangisan Anak Kecil di Kereta Ekonomi Bikin Saya Sadar di Usia 25, Betapa Kasih Ibu Diuji Lewat Rasa Lelah atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 8 Juni 2026 oleh

Tags: fitur kai accesskai accesskereta apikereta api ekonomikereta ekonomikereta ekonomi premiumpilih kursi keretasri tanjung
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Anak Tantrum di Kereta Ekonomi bikin Saya Iba ke Ortu. MOJOK.CO
Catatan

Tangisan Anak Kecil di Kereta Ekonomi Bikin Saya Sadar di Usia 25, Betapa Kasih Ibu Diuji Lewat Rasa Lelah

11 Mei 2026
Menormalisasi pakai jasa porter di stasiun kereta api MOJOK.CO
Urban

Pakai Jasa Porter di Stasiun meski Bisa Bawa Barang Sendiri: Sadar 50 Ribu Itu Tak bikin Rugi, Tapi Justru Belum Seberapa

23 April 2026
Tabiat penumpang KA Sri Tanjung yang bikin jengkel KA Sancaka. MOJOK.CO
Catatan

User Kereta Eksekutif Jengkel dengan Tingkah Random User Kereta Ekonomi, Turun di Stasiun Langsung Dibikin “Prengat-prengut”

14 April 2026
User kereta api (KA) ekonomi naik bus Sumber Selamat: sebenarnya kursi lebih nyaman, tapi ogah tersiksa lebih lama MOJOK.CO
Sehari-hari

User Kereta Ekonomi Naik Bus Sumber Selamat karena Tak Ada Pilihan: Kursi Lebih Nyaman, Tapi Dibuat Hampir Pingsan

2 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Tren kalcer dan monopoli olahraga bikin gowes (bersepeda) jadi terlalu ambisius MOJOK.CO

Tren Kalcer dan Monopoli Olahraga bikin Gowes Jadi Terlalu Ambisius, Mau Sekadar Bersepeda tapi Malu Dicap Cupu

3 Juni 2026
Pesona Gerabah Lukis Khas Klaten di Festival Sepeda Internasional, Sukseskan Misi Kebudayaan yang Memukau Bule.MOJOK.CO

Pesona Gerabah Lukis Khas Klaten di Festival Sepeda Internasional, Sukseskan Misi Kebudayaan yang Memukau Bule

4 Juni 2026
Rooftop kos kerap jadi tempat blangkrah, tapi jadi ruang healing terbaik bagi anak kos overthinking MOJOK.CO

Tinggal di Kos dengan Rooftop, Meski Kemproh tapi Jadi Tempat Healing Terbaik dari Tekanan Hidup yang Bisa bikin Gila

3 Juni 2026
Ilustrasi hidup.MOJOK.CO

Sejatinya Manusia Hidup untuk Mengakali Kematian

2 Juni 2026
Edi Dimyati. MOJOK.CO

Kisah Pustakawan Menyulap Rumahnya di Pinggir Sungai Jakarta Timur agar Bisa Nongkrong Kalcer sambil Baca Buku

8 Juni 2026
Godaan modifikasi motor Honda Vario 125 demi sinematik kebodohan soal harga jual di Facebook, berakhir jadi motor sampah dan jamet MOJOK.CO

Modifikasi Motor Honda Vario 125 Hasil Tabungan Ibu-Kakak demi Sinematik dan Kebodohan Harga Jual di FB, Berakhir Jadi Motor Jamet dan Sampah

7 Juni 2026

Video Terbaru

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026
Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

21 Mei 2026
Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

17 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.