ADVERTISEMENT

Pakai Jasa Porter di Stasiun meski Bisa Bawa Barang Sendiri: Sadar 50 Ribu Itu Tak bikin Rugi, Tapi Justru Belum Seberapa

Menormalisasi pakai jasa porter di stasiun kereta api MOJOK.CO

Pengalaman dari beberapa perjalanan di stasiun kereta api, juga cerita beberapa orang di media sosial, beberapa bulan belakangan tengah tumbuh kesadaran masif untuk saling mengulurkan tangan. Dalam konteks stasiun kereta api, beberapa penumpang mulai membiasakan diri menormalisasi menggunakan jasa porter untuk membawa barang bawaan. 

 

Lihat postingan ini di Instagram

 

Sebuah kiriman dibagikan oleh Novi Rischa (@novirischaa)

Kesadaran warga tolong warga, karena negara belum tentu punya waktu untuk memikirkan

Ada banyak alasan kenapa banyak orang berbondong-bondong menormalisasi jasa pakai porter di stasiun kereta api. Yang paling krusial adalah: situasi ekonomi semakin tidak menentu

Nasib para pekerja informal seperti porter menuju rentan miskin. Sebab, mereka bekerja tanpa upah tetap. Jaminan kesejahteraan sosial dan masa tua pun tidak ada. 

Negara rasa-rasanya tidak cukup waktu untuk memikirkan nasib mereka dengan serius. Prioritas saat ini adalah realisasi sebuah program yang…. ah, teman-teman pembaca pasti sudah tahu tanpa harus disebut secara gamblang di sini. 

Dari situ tumbuh kesadaran organik yang mengharukan. Obrolan dan video-video di media sosial tentang “normalisasi” ini sampai membuat saya menangis bercucuran di ruang kantor bagian atas. 

Kesadaran organik itu berupa: sudah semestinya, mereka yang punya kelebihan rezeki dan punya nasib yang sedikit lebih baik, menolong mereka yang untuk makan besok saja belum ada jaminan meskipun sudah kerja keras siang-malam seperti para porter stasiun. 

Menormalisasi pakai jasa porter di stasiun kereta: ada keluarga yang menunggu di rumah untuk segenggam nafkah

Salah satu penumpang yang belakangan menormalisasi pakai jasa porter stasiun adalah Safia (28), perempuan Bekasi yang kerap bepergian menggunakan kereta api di rute Bekasi-Jogja. 

Safia sempat mengira bahwa porter stasiun punya gaji tetap. Karena mereka berseragam resmi. Namun, setelah tahu kalau ternyata pemasukan porter mengandalkan penggunaan jasa mereka, itu sangat menyentuh nurani Safia. 

Apalagi, teramat sering Safia menyaksikan wajah pias—campuran antara harapan dan putus asa—saat para porter mondar-mandir di stasiun kereta api demi mendapat penumpang yang sudi memakai jasanya. 

Bahkan tidak jarang ia melihat porter-porter yang hanya berdiri lesu: menanti “rezeki datang tanpa disangka”, barangkali ada penumpang yang dengan kesadaran penuh menghampirinya agar barangnya dibawakan. 

“Paling nggak bisa lihat bapak-bapak tua. Dulu kukira mereka digaji kan. Tapi sekarang aku mencoba melihat dari POV mereka. Mereka itu sesusah itu nyari nafkah. Dan nafkahnya ditunggu keluarga di rumah,” ucap Safia, Rabu (22/4/2026). 

Baca lanjutannya di halaman berikutnya…

Pakai jasanya meski bisa bawa barang sendiri, sadar kalau Rp50 ribu itu tidak bikin rugi tapi justru belum seberapa 

Terakhir diperbarui pada 23 April 2026 oleh .

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.