Menormalisasi pakai jasa porter di stasiun kereta api meski sebenarnya bisa bawa sendiri, Rp50 ribu kita tidak seberapa
Safia sebenarnya tidak pernah terlalu kerepotan setiap bepergian. Barang bawaannya paling hanya tas punggung, satu koper, dan sesekali menjinjing oleh-oleh.
Sebenarnya masih sangat bisa ia bawa sendiri. Toh begitu yang ia jalani bertahun-tahun. Tapi menormalisasi pakai jasa porter stasiun bukan perkara bisa bara bawang sendiri atau tidak. Tapi lebih ke persoalan kemanusiaan.
“Beberapa kali akhirnya pakai jasa porter di stasiun kereta api, misalnya di Stasiun Tugu atau Lempuyangan (Yogyakarta) , aku tanya-tanya kan, mereka sering kali dibayar sepantasnya. Rp30 ribu paling sering. Kalau mereka sendiri yang nentuin tarif, ya Rp40 ribu sampai Rp50 ribu lah. Nggak pernah lebih dari itu,” beber Safia.
Ironisnya, saat baca-baca di kolom komentar sebuah video Instagram, Safia menemukan ada saja orang yang beranggapan: Rp50 ribu dikali sekian penumpang kan angkanya lumayan.
“Orang perlu tahu sih, jumlah porter di stasiun itu banyak. Perporter bisa dapat tiga orang aja perhari, itu udah untung-untungan. Itu pun sudah standby di stasiun dari pagi sampai malam,” ucap Safia.
Bahkan, beberapa kali Mojok mewawancara porter di Stasiun Lempuyangan, ada loh yang sehari semalam sama sekali tidak mendapat pengguna jasa.
Maka, bagi Safia, misalnya mentok kita harus membayar jasa Rp50 ribu ke porter, itu sebenarnya angka yang tidak seberapa. Karena belum tentu ia akan dapat pengguna jasa lagi. Kalau toh dapat lagi, harus menunggu berjam-jam kemudian.
Demi melihat wajah semringah dari pemberian yang tidak seberapa, toh kita tidak semiskin itu untuk berbagi
Akan tetapi, bagi Safia, Rp50 ribu itu sudah sangat berarti bagi si porter. Itu ia saksikan sendiri dari beberapa kali memakai jasa porter di stasiun kereta api.
“Menerima uang jasa itu bapak-bapak porternya langsung semringah. Bahkan sejak aku mengiayakan tawaran agar koperku dibawakan aja, bapak porter udah semangat banget dari yang sebelumnya lesu. Dia nenteng koperku dengan antusias. Wajah mereka jadi lega,” papar Safia.
Teman Safia pun malah lebih “unik” lagi. Si teman biasanya bepergian dengan suami. Suaminya jelas mampu untuk membawakan barang hingga ke bagasi gerbong.
Akan tetapi, sesekali, sang suami justru sengaja meminta agar menggunakan jasa porter. Itung-itung bagi-bagi rezeki katanya.
“Kalau kata temenku, suaminya selalu bilang, nasib kita memang nggak baik-baik amat. Tapi kita nggak segitu miskinnya sampai harus itung-itungan buat bagi-bagi rezeki. Apalagi, jarang ada porter yang maksa-maksa banget. Umumnya sopan nawarin jasa mereka, mereka kerja sungguhan,” ungkap Safia.
Porter lebih senang jasanya dipakai, bukan sekadar dikasih uang
Safia juga pernah melihat komentar kira-kira begini: Aku mah kalau barang mending kubawa sendiri aja, kalau kasihan sama porter, tinggal kasih uang.
Safia menghargai niat baik “memberi uang cuma-cuma” dari si warganet tersebut. Namun, Safia mengingatkan, porter itu bekerja, bukan ngemis.
Memberi uang mereka secara cuma-cuma takutnya justru menjadi semacam “penghinaan”.
“Dan aku pernah mencoba begitu. Karena aku nggak bawa barang, kukasih uang aja lah. Si bapak porternya langsung tanya, ‘Mana barangnya (yang bisa dibawakan), Mbak?’. Kubilang nggak ada kan, terus wajah bapaknya berubah lesu lagi, walaupun tetep terima kasih udah dikasih uang,” jelas Safia.
Lalu suatu ketika, saat ia berbincang dengan seorang bapak porter sembari jalan cepat menuju pintu keluar stasiun, Safia mendapat pengakuan: porter lebih senang jika dibayar karena jasanya dipakai. Dengan begitu, si bapak porter merasa pekerjaannya masih berguna. Ia pun merasa terhormat karena dibayar atas jasa yang ia berikan kepada penumpang.
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Porter Stasiun Lempuyangan Jogja, Mencoba Cukup di Tengah Menanti yang Tak Pasti atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














