Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Urban

Dulu “Sombongkan” IPK dan Gelar Sarjana Cumlaude, Kini Malu Lontang-lantung Cari Kerja karena Tren HRD Tak Terpikat IPK

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
29 Juli 2026
A A
Sombongkan IPK dan gelar sarjana cumlaude dari PTS Jogja. Optimis pikat HRD perusahaan incaran tapi ujungnya lontang-lantung bawa lamaran pekerjaan MOJOK.CO

Ilustrasi - Sombongkan IPK dan gelar sarjana cumlaude dari PTS Jogja. Optimis pikat HRD perusahaan incaran tapi ujungnya lontang-lantung bawa lamaran pekerjaan. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Gelar sarjana cumlaude awalnya terdengar prestisius. Seolah dengan gelar tersebut jalan untuk mendapat pekerjaan di bursa kerja otomatis terbuka lebar. “Sarjana cumlaude” dibayangkan sebagai satu hal dalam CV yang bisa membuat silau dan memikat HR perusahaan. 

Bayangan tersebut tidak sepenuhnya salah. Tapi yang dialami oleh alumnus PTS di Jogja ternyata berbanding terbalik dengan apa yang ia bayangkan perihal gelar sarjana cumlaude yang ia sandang. 

Iklan

Tutup sebagian wajah karena malu sebagai jobless 

Ada satu ciri yang umum ditemukan di setiap job fair: banyak orang datang dengan mengenakan masker. Begitu juga pemandangan yang saya dapati saat mendatangi Job Fair 2026 di Kota Jogja pada Rabu (15/7/2026) lalu. 

“Kalau aku pribadi jujur pakai masker karena malu aja. Apalagi kalau ketemu sama orang yang kenal kita,” ujar Patel, bukan nama asli, saat akhirnya mau berbincang kalau identitasnya tidak dibeberkan terang-benderang. 

Patel mengaku menanggung malu sekaligus gengsi karena beban status yang ia sandang, yakni sebagai seorang sarjana cumlaude. Terlebih jika mengingat omongan-omongan besarnya sejak awal lulus dari sebuah PTS di Jogja. 

Bagi pemuda asli Jogja tersebut, rasanya rendah sekali menjadi sarjana cumlaude yang harus lontang-lantung bawa berkas lamaran kerja di job fair. Sementara selama ini ia punya anggapan bahwa orang yang datang ke job fair adalah orang-orang jobless yang benar-benar mentok. 

“Sombongkan” gelar sarjana cumlaude ke teman dan orang tua

Lulus kuliah dari sebuah PTS di Jogja pada 2025 lalu, Patel mengaku larut dalam euforia gelar sebagai sarjana cumlaude yang ia sandang. Setiap kali ada teman yang mengajaknya berfoto, selempang wisuda bertuliskan “cumlaude” tidak akan ia lepaskan. Bahkan pasti ia memasang pose jari telunjuk menunjukkan selempang tersebut. 

Jujur saja, Patel mengakui kalau gelar tersebut membuatnya merasa lebih unggul dari teman-temannya. Gelar tersebut seolah menjadi legitimasi bahwa dirinya adalah salah satu sarjana terbaik di PTS Jogja tersebut. 

“Ya itu kesombongan yang diam-diam ada di diriku. Karena dengan label sarjana cumlaude, aku juga berpikir, ah sepertinya gampang buat cari kerja nanti,” ujarnya. “Padahal itu paradigma lama, menganggap HR perusahaan akan silau dengan predikat cumlaude dan IPK tinggi.”

Gelar sarjana cumlaude itu pada awalnya memang membuat orang tua Patel bangga. Karena artinya biaya pendidikan mahal yang dikeluarkan orang tua tidak sia-sia. 

Itulah kenapa Patel sempat sangat percaya diri. Belum lama setelah wisuda, Patel selalu update ke orang tuanya kalau ia tengah melamar pekerjaan di perusahaan-perusahaan incaran di luar Jogja: paling banyak di Bandung dan Jakarta. 

“Pernah ada yang sampai tahap interview. Baru di tahap interview, tapi aku bilang ke orang tua kalau selangkah lagi keterima. Padahal ending-nya nggak ada balasan lagi,” ucap Patel sembari membenarkan masker yang menutup sebagian wajahnya.

Jadi canggung dengan ortu, hindari nongkrong karena malu

Orang tua Patel sebenarnya tidak mempermasalahkan amat kondisi Patel yang sampai saat ini tidak kunjung bekerja. Karena memang belum ada yang nyantol. 

Setidaknya kesan itulah yang diperlihatkan orang tuanya di hadapan Patel. Patel kerap berprasangka buruk, jangan-jangan orang tuanya memendam kecewa. 

Iklan

Tapi Patel kepalang malu karena selama ini terkesan memberi harapan palsu ke orang tuanya: selalu bilang punya potensi diterima kerja di perusahaan incaran di Ibu Kota, tapi ujung-ujungnya tetap nganggur juga. 

“Rasanya kayak canggung gitu ke orang tua. Karena akhirnya aku kan masih minta uang dari mereka. Buat bensin, buat paket internet, buat jajan,” ungkap Patel. 

Karena uang saja masih minta orang tua, Patel pun menghindari ajakan nongkrong dari teman-teman kuliahnya dulu. 

Beberapa teman Patel memang masih kerap mengagendakan nongkrong seminggu sekali di akhir pekan. Patel kerap absen dengan beragam alasan. Meski alasan sebenarnya adalah malu. 

“Malu lebih tepatnya, karena beberapa dari mereka, meski bukan sarjana cumlaude, sudah pada kerja,” ujar Patel. 

Gengsi kalau kerja UMK Jogja dan pilihan terakhir jika mentok

Sebenarnya Patel menyadari, salah satu faktor yang membuat ia masih nganggur adalah karena terjebak gengsi. Sebagai sarjana cumlaude dari sebuah PTS di Jogja, ia merasa gengsi kalau kerja dengan UMK Jogja. Masa iya gajinya sebagai sarjana cumlaude sama dengan gaji temannya yang IPK-nya biasa-biasa saja?

Namun, kini ia mencoba membuang jauh-jauh faktor yang menghambat peluang kerjanya tersebut. Apalagi setelah ia berbincang dengan salah satu sahabatnya. Patel diingatkan, in this economy kalau memelihara gengsi ya mati kelaparan. 

“Ya itu kenapa aku ikut job fair. Masih malu, makanya pakai masker. Tapi aku sadar harus kulakukan kalau memang pengin dapat kerjaan,” ungkap Patel. 

Bahkan, Patel sempat berpikir ngurir paket atau ngojol menjadi pilihan terakhir jika memang ia benar-benar mentok. “Kayaknya itu ada di pikiran banyak orang kalau mentok: jadi ojol aja, nggak ada syarat macam-macam,” tutup Patel sebelum akhirnya pamit meninggalkan Auditorium LPP Agro Nusantara saat matahari tengah terik-teriknya. 

IPK dan gelar sarjana cumlaude sudah tidak penting-penting amat di mata HR?

Apa yang terjadi pada Patel sebenarnya sudah dilaporkan oleh Coursera dan Rep Data: bahwa saat ini IPK tinggi tidak menentukan seorang sarjana bisa lantas dengan mudah mendapat kerja. 

Dalam Laporan Dampak Micro Credentials 2026 yang diterbitkan Coursera itu disebutkan, perusahaan kini lebih mengutamakan bukti keterampilan yang dimiliki pelamar dibandingkan indikator tradisional, seperti indeks prestasi kumulatif (IPK) maupun nama perguruan tinggi.

Hasil survei menunjukkan 98 persen perusahaan di tujuh negara (Amerika Serikat, Inggris Raya, India, Arab Saudi, Meksiko, Indonesia, dan Filipina) telah menerapkan perekrutan berbasis keterampilan (skill based) untuk posisi entry level. 

Khusus dalam konteks Indonesia, tercatat hampir 100 persen pemberi kerja yang disurvei menyatakan telah menerapkan perekrutan berbasis keterampilan. Sebanyak 97 persen mengaku menggunakan pendekatan tersebut secara luas untuk posisi entry level. 

Sebanyak 96 persen perusahaan di Indonesia bahkan menyatakan bahwa karyawan entry level yang memiliki micro credentials menunjukkan kinerja lebih baik pada tahun pertama. 

Laporan itu semakin menguatkan betapa IPK dan gelar cumlaude tidak punya daya tawar kuat jika tidak dilengkapi dengan micro credentials. Coursera pun mencatat, 67 persen pimpinan perguruan tinggi di Indonesia menilai kampus yang tidak mengintegrasikan micro credentials ke dalam program pendidikan menghadapi risiko strategis pada tingkat sedang hingga tinggi.

Penulis: Muchamad Aly Reza

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Cerita Bapak Dulu Bahagia Antar Anak Wisuda Sarjana, Kini Nelangsa Antar Cari Kerja Pakai Ijazah SMA karena S1 Tak Guna atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

 

 



Terakhir diperbarui pada 29 Juli 2026 oleh

Tags: ipk buat cari kerjakenapa lamaran kerja ditolakkriteria yang dicari hrd saat iniloker jogjapredikat cumlaude buat cari kerjapts jogjasarjana cumlaudetips pikat hrd
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Ilustrasi - Cerita bapak dulu bungah antar anak wisuda sarjana dari PTS Jogja, kini nelangsa antar anak susah cari kerja meski modal ijazah S1 MOJOK.CO
Urban

Cerita Bapak Dulu Bahagia Antar Anak Wisuda Sarjana, Kini Nelangsa Antar Cari Kerja Pakai Ijazah SMA karena S1 Tak Guna

19 Juli 2026
Pemilik kos di Depok, Sleman, Jogja muak dengan tingkah mahasiswa asal Jakarta yang kuliah di PTN/PTS Jogja MOJOK.CO
Urban

Pemilik Kos di Jogja Muak dengan Tingkah Mahasiswa Jakarta: Tak Tahu Diri dan Ganggu Banget, Ditegur Malah Serba Salah

20 Februari 2026
Kuliah di universitas terbaik di Vietnam dan lulus sebagai sarjana cumlaude (IPK 4), tapi tetap susah kerja dan merasa jadi investasi gagal orang tua MOJOK.CO
Kampus

Kuliah di Universitas Terbaik Vietnam: Biaya 1 Semester Setara Kerja 1 Tahun, Jadi Sarjana Susah Kerja dan Investasi Gagal Orang Tua

15 Desember 2025
Perantau Sidoarjo nekat jadi wasit futsal demi bertahan hidup di Jogja hingga akhirnya menyerah MOJOK.CO
Ragam

Perantau Sidoarjo Nekat Jadi Wasit Futsal demi Hidup di Jogja, Berujung Menyerah Kejar Mimpi di Kota Pelajar karena Realita

28 November 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Korupsi makin parah, MUI dorong hukuman mati bagi koruptor MOJOK.CO

Kasus Korupsi di Indonesia Kian Mengkhawatirkan, MUI Dorong Hukuman Mati bagi Koruptor

28 Juli 2026
Festival Transmigrasi 2026 Fun Run 6K: Event lari yang tawarkan sensasi berbeda di Kaliurang Sleman MOJOK.CO

Transmigrasi Festival 2026 Fun Run 6K: Tawarkan Sensasi Lari di Kaliurang yang Beda dari Event Lari Perkotaan

27 Juli 2026
Andromeda dan bajaj. MOJOK.CO

Sempat Larang Anak Kuliah di ITB hingga Akhirnya Luluh, Rela Tempuh Jogja-Bandung dengan Bajaj sebagai Penyemangat

24 Juli 2026
Wonogiri Jadi Wilayah dengan Penutupan Perlintasan Liar Terbanyak di Daop 6 MOJOK.CO

Wonogiri Jadi Wilayah dengan Penutupan Perlintasan Liar Terbanyak di Daop 6

27 Juli 2026
Disuruh Pindah Negara, Saya Googling Cara Jadi Warga Selandia Baru MOJOK.CO

Disuruh Pindah Negara, Saya Googling Cara Jadi Warga Selandia Baru

29 Juli 2026
Yogyakarta Gamelan Festival (YGF) 31 jadi sumber sukacita dan perkuat posisi Yogya sebagai Kota Budaya di mata dunia MOJOK.CO

Yogyakarta Gamelan Festival (YGF) 31: Sumber Sukacita dan Perkuat Posisi Yogya sebagai Kota Budaya di Mata Dunia

22 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.