Bagi sebagian orang, pulang ke kampung halaman berarti kembali dekat dengan keluarga. Namun, Bagas (26) justru memilih sebaliknya. Sudah tujuh tahun tinggal di Jogja, lelaki asal Cikarang, Jawa Barat, itu tidak punya rencana untuk kembali dan memilih menetap di Jogja.
***
Bagas kini bekerja sebagai barista di salah satu kafe di sekitar Tugu Jogja. Ia sudah sekitar tiga tahun menjalani pekerjaan tersebut. Bersama istri dan anaknya, Bagas memilih hidup di Jogja meski penghasilannya tidak sebesar peluang kerja yang tersedia di Cikarang. Alasannya sederhana, tetapi mungkin tidak lazim.
“Kalau di Jogja aku malah lebih nyaman, karena jauh dari orang tua di Cikarang,” ujar Bagas ketika ditemui di tempat kerjanya, Selasa (29/9/2026) pagi.
Cikarang punya gaji dan peluang besar, namun Jogja punya ketenangan
Cikarang selama ini lekat dengan citra kawasan industri. Kabupaten Bekasi memang menjadi salah satu pusat industri besar di Jawa Barat. Pemerintah Kabupaten Bekasi mencatat sejumlah kawasan industri berada di wilayah Cikarang, seperti Jababeka, Delta Silicon, EJIP, GIIC, hingga MM2100. Bahkan, dokumen pemerintah daerah menyebut Kabupaten Bekasi memiliki kawasan industri terbesar dan terluas di Jawa Barat.
Dari sisi upah, Kabupaten Bekasi juga punya angka yang cukup tinggi. Pemerintah Provinsi Jawa Barat menetapkan UMK Kabupaten Bekasi 2026 sebesar Rp5.938.885. Angka itu termasuk yang tertinggi di Jawa Barat, hanya berada di bawah UMK Kota Bekasi yang mencapai Rp5.999.443.
Secara ekonomi, Cikarang menawarkan banyak alasan bagi pekerja seperti Bagas untuk pulang. Apalagi ia mengaku sempat mendapat tawaran pekerjaan dengan penghasilan lebih besar. Namun, uang bukan satu-satunya pertimbangannya.
“Kalau soal gaji ya memang di Cikarang lebih menjanjikan. Ada beberapa tawaran kerja juga. Tapi aku enggak mau pulang,” katanya tegas.
Dekat orang tua di Cikarang justru membuat tidak nyaman dan bebas
Bagas mengaku hubungannya dengan orang tua tidak terlalu baik. Persoalan itu semakin terasa setelah ia menikah dan membangun keluarga sendiri di Jogja. Menurut Bagas, tinggal jauh dari orang tua membuat dirinya lebih leluasa mengatur kehidupan rumah tangganya. Sang ibu menuntut kendali penuh atas arah hidup Bagas, menolak keputusannya menetap di perantauan, dan mendesaknya memboyong menantu ke Cikarang.
“Awalnya dan sampai sekarang memang ada pertentangan sih mas, ibuku maunya aku sama istriku tinggal di Cikarang aja nyari kerja di sana, tapi aku yang nggak mau mas, soalnya ga nyaman,” tutur Bagas.
Bagas menegaskan, rasa kepemilikan orang tuanya sudah melewati batas wajar. Intervensi yang terlalu dalam justru merusak keharmonisan rumah tangga barunya.
“Bagi saya, rasa ikut campur orang tua sudah kebablasan dan jatuhnya malah mengganggu kehidupan keluarga kecil saya. Di sini, gaji kecil tapi kesehatan mental aku sama anak istriku aman mas, tidak diganggu sama orang tuaku,” tegasnya.
Bagas memang tetap mengirimkan uang kepada orang tuanya. Ia juga sesekali memberi kabar dan pulang ke Cikarang, tetapi frekuensinya tidak sering. Dalam setahun, ia bisa hanya sekali pulang. Ia tidak menganggap jarak sebagai bentuk putus hubungan dengan keluarga. Baginya, jarak justru membuat hubungan itu terasa lebih bisa dikendalikan.
“Kalau jauh kan enggak setiap hari ditanya ini-itu. Aku tetap komunikasi, tetap kirim uang. Cuma ya enggak harus selalu dekat,” katanya.
Gaji kecil, kontrakan sempit, tetapi keluarga lebih tenang daripada di Cikarang
Pilihan Bagas membuat kehidupannya di Jogja tidak selalu mudah. Ia dan keluarganya masih hidup dengan status mengontrak di daerah Jalan Kaliurang. Penghasilannya sebagai barista juga tidak membuat mereka punya banyak ruang untuk bermewah-mewah. Namun, Bagas tidak menganggap kondisi itu sebagai kegagalan.
“Di sini, gaji kecil tapi kesehatan mental aku sama anak istriku aman, Mas. Enggak diganggu sama orang tuaku,” ujarnya.
Ia sadar keputusan itu punya harga. Jika kembali ke Cikarang, kemungkinan memperoleh pekerjaan dengan penghasilan lebih besar terbuka. Namun, Bagas tidak ingin menukar kebebasan keluarganya dengan pendapatan yang lebih tinggi.
“Meski kami hidup ngontrak, tapi kami menjalaninya bersama, Mas. Mau ada duit apa enggak ya sudah cukup kami yang tahu. Orang tuaku enggak perlu tahu,” katanya.
Jogja bukan tempat mencari gaji besar bagi Bagas
Tujuh tahun tinggal di Jogja membuat Bagas tidak lagi melihat kota ini sekadar tempat kuliah atau tempat mencari pekerjaan. Ia sudah membangun rumah tangga di sini. Keputusan untuk bertahan juga tidak berarti Bagas membenci Cikarang atau tidak menyayangi orang tuanya. Ia tetap mengirim uang dan pulang sesekali. Hanya saja, ia memilih mengatur jarak agar kehidupan keluarganya tidak terlalu banyak bersinggungan dengan persoalan keluarga besarnya.
“Kalau ditanya mau balik atau enggak, ya untuk sekarang enggak. Aku lebih nyaman di sini,” katanya.
Bagi Bagas, pilihan hidup memang tidak selalu bisa dihitung dari besarnya angka di slip gaji. Cikarang mungkin menawarkan pekerjaan dan upah yang lebih besar, tetapi Jogja memberinya sesuatu yang menurutnya tidak kalah penting: ruang untuk menjalani rumah tangga tanpa merasa terus diawasi.
“Gaji besar atau kecil buatku enggak masalah. Yang penting aku sama keluarga tenang,” tutup Bagas.
Penulis: Janu Wisnanto
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Ironi di Balik Perkantoran Mewah Slipi Jakarta Barat: Ijazah S2 Dianggap Tak Berguna, Pekerjanya Sengsara atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan.