Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Penyesalan Pindah Kerja dari Jakarta ke Jogja: Selain Gaji Kecil, Budaya Pekewuh Ternyata Memperlambat Kerjaan

Kenia Intan oleh Kenia Intan
22 Maret 2026
A A
Bukan Cuma Gaji Kecil, Pindah Kerja dari Jakarta ke Jogja Juga Mesti Siap dengan Budaya Pekewuh yang Memperlambat Kerjaan Mojok.co

Bukan Cuma Gaji Kecil, Pindah Kerja dari Jakarta ke Jogja Juga Mesti Siap dengan Budaya Pekewuh yang Memperlambat Kerjaan (unsplash.com)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

“Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung” adalah peribahasa yang terdengar sederhana, tetapi dalam praktiknya sering kali jauh lebih rumit. Terutama bagi mereka yang memutuskan pindah kerja dari Jakarta ke Jogja. Gaya kerja yang selama ini dianggap “normal” di Jakarta ternyata tidak selalu bisa diterapkan begitu saja di Jogja. Daerah ini punya ritme, nilai, dan cara komunikasinya sendiri.

Banyak orang yang pindah dengan ekspektasi hidup lebih tenang: biaya hidup lebih rendah, ritme tidak secepat ibu kota, dan lingkungan sosial yang lebih hangat. Namun, yang sering luput dari pertimbangan adalah perubahan budaya kerja yang cukup drastis.

Iklan

Hal ini dialami oleh seorang teman yang belum lama ini pindah ke Jogja. Dia sudah mengantisipasi penurunan gaji, bahkan sudah menyesuaikan gaya hidupnya. Tapi, soal budaya kerja, dia mengaku benar-benar “kaget”.

Dengan pengalaman lebih dari lima tahun di Jakarta, ia terbiasa dengan ritme kerja cepat, deadline ketat, serta komunikasi yang lugas dan efisien. Rapat bisa berjalan to the point, kritik disampaikan langsung. Diskusi sering kali berlangsung terbuka, bahkan jika itu berarti berbeda pendapat dengan atasan. Namun, pola seperti ini tidak sepenuhnya bisa berjalan di Jogja.

Baca juga Sulitnya Jadi Penjual Gudeg, Susah-susah Siapkan Makanan Khas Jogja Berujung Dapat Celaan Wisatawan.

Budaya pekewuh yang mengakar

Tantangan terbesar bagi teman saya adalah menghadapi budaya pekewuh atau “nggak enakan” yang sangat kuat. Dalam konteks lokal, sikap ini sebenarnya bermakna baik sebagai bentuk penghormatan dan menunjukkan sopan santun, terutama kepada yang lebih tua atau memiliki jabatan lebih tinggi.

Masalahnya, dalam praktik kerja sehari-hari, hal ini sering memperlambat pengambilan keputusan. Misalnya, ketika ada kesalahan dalam pekerjaan, tidak semua orang merasa nyaman untuk menegur secara langsung. Teman saya bahkan bercerita, ada momen ketika ia sudah menyadari adanya potensi masalah di awal, tetapi memilih diam karena merasa tidak enak untuk mengingatkan. Hasilnya, masalah tersebut justru membesar di kemudian hari.

Bandingkan dengan pengalaman kerjanya di Jakarta. Hal seperti ini biasanya bisa langsung dibicarakan secara terbuka. Meskipun terkesan lebih “keras”, masalah justru cepat selesai karena semua orang fokus pada solusi, bukan perasaan.

Baca halaman selanjutnya: Terlalu sopan justru …

Halaman 1 dari 2
12Next

Terakhir diperbarui pada 23 Maret 2026 oleh

Tags: gajigaji keciljakartaJogjapekerjapekewuh
Kenia Intan

Kenia Intan

Content Writer Mojok.co

Artikel Terkait

kekerasan di matraman, kos di jakarta.MOJOK.CO
Urban

10 Tahun Merantau Bikin Sadar, Kita Benar-benar Sendiri di Kota Orang: Adanya Teman “Benalu” dan Kalau Susah pun Haram Diketahui Ortu

3 Agustus 2026
Biaya kos, kisah mahasiswa.MOJOK.CO
Sekolahan

Bertahan di Kos Tanpa Jendela yang Berisik dan Sepanas Oven, Semua Demi Ngirit dan Lolos Ancaman DO Kampus

30 Juli 2026
Kos 150 Ribu di Jogja Saksi Perjuangan Lolos SNBT, Rela Mandi Air yang Bikin Gatal Demi PTN Impian.MOJOK.CO
Sekolahan

Kos 150 Ribu di Jogja Saksi Perjuangan Lolos SNBT, Rela Mandi Air yang Bikin Gatal Demi PTN Impian

29 Juli 2026
Usaha jasa kebersihan, Ready Clean Jogja sampai ke Turki. MOJOK.CO
Sosok

Berawal dari Kegabutan dan UMK Jogja yang “Ngenes”, Kini Mampu Kirim Pegawai ke Turki agar Gelar Sarjana Tak Sia-sia

28 Juli 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Putus pertemanan di lingkungan kantor yang toxic. MOJOK.CO

Putus Pertemanan dengan Rekan Kerja Toxic adalah Jalan Terakhir Saya Hidup Bahagia dari Drama Usia 30-an

5 Agustus 2026
Apem ya qowiyyu: kue apem khas Jatinom Klaten berusia 400 tahun. Bukan sekadar warisan kuliner tradisional tapi simbol kesalehan sosial MOJOK.CO

Apem Ya Qowiyyu: Kue Khas Jatinom Klaten Berusia 400 Tahun, Bukan Semata Warisan Kuliner tapi Kesalehan Sosial

10 Agustus 2026
Mie Gacoan, desa. MOJOK.CO

Mie Gacoan Oleh-Oleh Wajib Saat Pulang Kampung: Tak Peduli Sudah Dingin dan Keras, Tetap Dinikmati demi Gengsi dan Validasi

5 Agustus 2026
Kemiskinan DIY menurun. MOJOK.CO

Jumlah Orang Miskin di Yogyakarta Berkurang, Penurunannya Jadi yang Tertinggi di Jawa pada Maret 2026

6 Agustus 2026
Natalius Pigai Menyarankan Buku Karangan Orang Barat, Baiklah Saya Pilihkan MOJOK.CO

Natalius Pigai Menyarankan Buku Karangan Orang Barat, Baiklah Saya Pilihkan

10 Agustus 2026
Beban ekspektasi orang desa di Rembang yang merantau kerja di luar negeri: dipandang kalau bisa menggelar dangdutan setiap tahun MOJOK.CO

Beban Pemuda Desa Kerja di Luar Negeri: Demi Dipandang Harus Gelar Dangdutan Tiap Tahun buat Hibur Warga

12 Agustus 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.