Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Dosa Wisatawan ke Penjual Gudeg: Sibuk Mencela padahal Penjual Sudah Susah-susah Siapkan Makanan Khas Jogja 

Kenia Intan oleh Kenia Intan
15 Maret 2026
A A
Sulitnya Jadi Penjual Gudeg, Susah-susah Siapkan Makanan Khas Jogja Berujung Dapat Celaan Wisatawan Mojok.co

Sulitnya Jadi Penjual Gudeg, Susah-susah Siapkan Makanan Khas Jogja Berujung Dapat Celaan Wisatawan (unsplash.com)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Libur panjang sudah di depan mata. Jogja sebagai daerah wisata diprediksi akan kedatangan 8,2 juta orang secara berharap. Jumlah yang tidak sedikit. 

Di tengah momentum tersebut, saya memprediksi dua hal. Pertama, jalanan Jogja akan macet. Itu mengapa saya sebagai orang yang tinggal di Jogja akan memilih di rumah saja. Kedua, pasti ada saja wisatawan viral di saat libur panjang seperti ini.

Tentu kalian masih ingat kejadian saat libur Natal dan Tahun Baru belum lama ini. Ada wisatawan yang merasa tertipu karena makan 3 porsi gudeg dan es teh seharga Rp85.000. Kejadian ini mengundang banyak komentar dari banyak orang, tidak terkecuali warga lokal (warlok). Warlok merasa, Rp85.000 adalah harga yang wajar untuk 3 porsi gudeg Jogja dan minumnya, terlebih penjualnya berada di kawasan wisata Malioboro. 

Saya bersama warlok yang yang merasa harga tersebut wajar. Orang-orang mungkin masih terjebak romantisme bahwa Jogja itu kota yang murah. Memang, beberapa makanan dan minuman Jogja masih sangat ramah di kantong, tapi soal gudeg lain cerita. 

Bisa saya bilang makanan ini tergolong mahal, itu mengapa saya yang warlok pun jarang menyantapnya. Akan tetapi, sebagai warlok saya memahami kenapa kuliner Jogja yang begitu ikonik itu bisa menguras kantong. 

Bahan dan proses membuat gudeg Jogja yang tidak mudah

Saat kejadian gudeg Rp85 ribu viral, ada satu komentar senada yang saya dengar dari netizen dan kawan-kawan yang asli Jogja. Mereka memaklumi harga gudeg mahal karena bahan dasarnya yang tidak murah. Salah satunya, ayam kampung yang harganya lebih tinggi dibanding harga pada umumnya. Mereka menyayangkan para wisatawan yang tidak memahami hal ini. Padahal, sebagai orang yang berwisata, menelusuri makanan yang hendak disantap jadi hal penting dan mudah dilakukan. Apalagi di tengah era teknologi seperti sekarang ini. Singkatnya, teman-teman saya berkomentar, “Mbok riset sik!”

Selain ayam kampung, kunci keunikan gudeg Jogja adalah menggunakan nangka muda atau gori. Tidak bisa tidak. Apabila menggunakan buah nangka yang terlalu matang, rasa gudeg terasa seperti manis buah-buahan pada umumnya. Teksturnya pun jadi aneh.

Nah, ternyata, cari nangka muda di Jogja itu tidak mudah. Salah satu liputan Mojok pernah menuliskannya dengan apik dalam  Ironi Jogja, Kota Gudeg yang Kekurangan Bahan Baku Gudeg. Berdasar catatan, permintaan nangka muda bisa mencapai 10 ton tiap harinya. Saking tingginya permintaan nangka muda, bahan baku ini sempat menjadi salah satu penyebab inflasi Jogja. 

Keunikan lain tentang gudeg adalah proses memasaknya yang lama. Agar rasa pada gori meresap dan empuk, nangka muda harus dimasak cukup lama. Setidaknya perlu waktu 4-6 jam. Jadi, setelah dikupas dan dipotong kecil-kecil, nangka muda direbus terlebih dahulu agar empuk. Barulah potongan nangka tadi dimasak dengan santan dan rempah-rempah selama berjam-jam.

Itu baru memasak gudegnya ya. Penjual juga harus memasak lauknya seperti ayam, telur, tahu, tempe, krecek. Aduh, pokoknya banyak sekali persiapan yang diperlukan agar seporsi gudeg di hadapan kalian bisa tersaji. 

Mendapat celaan dari pembeli

Membaca dan menuliskan kembali proses membuat gudeg Jogja membuat saya sadar betapa repot memasak makanan khas satu ini. Bahan-bahannya sulit dan mahal, proses memasaknya memakan waktu berjam-jam. Belum lagi persaingan yang tinggi. Asal tahu saja, setidaknya ada ratusan UKM gudeg di Jogja. 

Ya namanya juga jualan, pasti ada saja tantangannya. Namun, untuk penjual gudeg, tantangannya tambah satu lagi, pembeli yang menyebalkan. Masih banyak orang yang mengira gudeg itu makanan murah sehingga harganya kerap diprotes pembeli. Selain itu, cita rasa gudeg yang manis juga sering tidak sesuai dengan lidah banyak orang. Kemudian, makanan ini mendapat celaan bertubi-tubi, sudah mahal rasanya nggak enak lagi. 

Padahal, itu bukan karena ketidakbecusan penjual dalam menyajikan gudeg. Semua itu perkara selera dan daya beli. Yang mana, semuanya bisa diketahui kalau wisatawan mau sedikit saja effort riset di internet sebelum kulineran. 

Jadi, ketika nanti kalian jajan gudeg Jogja, pastikan kalian sudah riset kecil-kecilan lebih dahulu soal makanan satu ini, termasuk harga dan cita rasanya. Apabila perlu, tanya warlok rekomendasi gudeg yang pas dengan kantong dan cita rasa kalian. Jangan tiba-tiba asal hantam dengan narasi gudeg Jogja nggak enak dan mahal. Di balik seporsi gudeg yang tersaji di hadapan kalian ada bahan-bahan berkualitas dan sulit didapat, serta proses memasak yang tidak sebentar. 

Iklan

Penulis: Kenia Intan
Editor: Yamadipati Seno

BACA JUGA an catatan menarik lainnya di rubrik POJOKASate Klatak Kasta Tertinggi Makanan Khas Jogja, Jauh Mengungguli Gudeg dan catatan menarik lainnya di rubrik POJOKAN.

Terakhir diperbarui pada 28 Maret 2026 oleh

Tags: Gudeg Jogjagudegm jogjaKuliner Jogjamakanan jogjaMakanan khas Jogjapenjual gudeg
Kenia Intan

Kenia Intan

Content Writer Mojok.co

Artikel Terkait

3 Ciri Nasi Goreng di Jogja yang Biasanya Nggak Enak (Unsplash)
Pojokan

3 Ciri Nasi Goreng di Jogja yang Biasanya Nggak Enak: Cobain, deh, Kalau Kamu Nggak Percaya

22 April 2026
Gudeg, Kuliner Jogja yang Makin Tak Cocok untuk Orang Miskin (Unsplash)
Pojokan

Harga Gudeg Jogja Naik, Berpotensi Menguatkan Sisi Gelap kalau Kuliner Jogja Ini Memang Bukan Makanan Murah Lagi

9 April 2026
5 Kuliner Dekat Stasiun Tugu Jogja yang Sudah Teruji Lidah Warlok, Layak Dicoba Sebelum atau Sesudah Naik Kereta, Mojok.co
Pojokan

5 Kuliner Sekitar Stasiun Tugu Jogja yang Sudah Teruji Lidah Warlok, Layak Dicoba Sebelum atau Sesudah Naik Kereta

27 Maret 2026
Menyesal Sarapan Gudeg Jogja setelah Jadi Korban Nuthuk Rega (Unsplash)
Pojokan

Ketika Orang Jogja Dibuat Menyesal Sarapan Gudeg Jogja karena Jadi Korban Nuthuk Rega

25 Maret 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

pasar wiguna.MOJOK.CO

Pasar Wiguna Sukaria Edisi 102 Padati Vrata Hotel Kalasan, Usung Semangat “Wellness” dan Produk Lokal

26 April 2026
Mahasiswa gen Z kuliah malas baca jadi brain rot

Mahasiswa Gen Z Bukan Tak Bisa Membaca, tapi “Brain Rot” karena Sering Disuapi dan Kecanduan AI

23 April 2026
Cerminan pemberdayaan dan kontribusi nyata perempuan di Kota Semarang MOJOK.CO

Kuatnya Peran Perempuan di Kota Semarang, Sampai Diapresiasi California State University

22 April 2026
3 Ciri Nasi Goreng di Jogja yang Biasanya Nggak Enak (Unsplash)

3 Ciri Nasi Goreng di Jogja yang Biasanya Nggak Enak: Cobain, deh, Kalau Kamu Nggak Percaya

22 April 2026
Sebagian pengguna WiFi IndiHome beralih ke Biznet. MOJOK.CO

Ujian Terberat Pengguna IndiHome yang Dikhianati Tawaran Palsu hingga Menggadaikan Kesetiaan ke WiFi yang Lebih “Gacor”

23 April 2026
UU PPRT Menyelamatkan Manusia dari Perbudakan Modern: Harus Kita Rayakan, Meski Jalan Kemenangan Masih Panjang.MOJOK.CO

UU PPRT Menyelamatkan Manusia dari Perbudakan Modern: Harus Kita Rayakan, Meski Jalan Kemenangan Masih Panjang

27 April 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.