Nasi goreng adalah menu makanan favorit saya. Khususnya buat makan malam. Eh, kadang buat sarapan juga. Beberapa kali buat makan siang juga. Begitulah, setelah mie ayam Jogja, kuliner yang berasal dari Cina ini memang favorit banget. Ia bisa kamu makan kapan saja dan biasanya murah kalau beli.
Ada beberapa ciri spesifik yang saya pelajari dari nasi goreng yang sudah pasti enak. Namun, saya rasa, kamu sebagai pembaca juga punya standar sendiri. Nah, oleh sebab itu, saya ingin sharing aja, tiga ciri nasi goreng, khususnya di Jogja, yang biasanya kurang sedap. Jadi, jangan memaksa diri buat nyobain, deh.
BACA JUGA: Nasi Goreng Makanan Sejuta Umat
#1 Jangan menentang kesepakatan bersama para food vlogger di Jogja
Iya, saya tahu, tidak semua food vlogger punya pengalaman atau ilmu yang mumpuni untuk menilai rasa. Banyak yang sebatas ngikut arus apa yang ramai supaya mendapat engagement. Dan bagi saya, sih, ya nggak masalah. Namanya orang bikin konten, asal nggak kasih informasi salah, masih oke saja.
Namun, ada beberapa yang memang berpengalaman, punya ilmunya, dan sudah punya nama baik di Jogja. Kalau sudah ada lebih dari satu food vlogger bilang nasi goreng “di sana” nggak enak, ya jangan kamu paksa untuk nyobain. Mereka punya pengalaman mencoba, mungkin, sampai ratusan porsi nasi goreng. Jadi, experience itu yang jadi modal mahal.
Misalnya, ada kok, sebuah kedai nasi goreng di Jogja, yang buka menjelang malam. Mereka buka di trotoar dan masaknya borongan. Dekat sebuah sebuah sekolah terkenal pula. Banyak yang bilang di sana nggak enak, tapi karena kadung “terkenal”, selalu saja masuk rekomendasi. Kata saya, sih, jangan, deh. Rasanya nggak nyampek.
#2 Nasi goreng yang menggunakan terlalu banyak kecap
Manis memang Jogja. Identitas kuliner yang sudah kadung melekat. Dari gudeg, sampai nasi goreng, ada saja yang manis banget. Salah satunya adalah karena kebiasaan tukang masak menuang kecap.
Coba perhatikan cara pembeli memesan. Jika ada lebih dari satu yang bilang gini: “Pak, kecapnya dikit aja,” mending kamu pindah ke kedai lain. Ada dua kemungkinan di sini. Pertama, si pembeli memang tidak suka kecap. Kedua, si tukang masak punya takaran, yang berubah jadi kebiasaan, untuk menuang lebih banyak kecap.
Kata saya, hal ini terjadi karena beberapa hal. Pertama, tukang masak punya ego terlalu besar. Dia yakin takarannya sudah paling pas, bukan enak, ya.
Bisa juga karena penjual memandang jualannya murah jadi pembeli nggak usah protes, deh. Kalau mau enak ya ke tempat mahal. Ini pola pikir yang bahaya karena tukang masak jadi nggak berkembang. Kedua, menutupi bahan-bahan atau racikan lain yang kurang sedap.
BACA JUGA: Nasi Goreng Solaria Memang Enak, tapi Nasgor Custom yang Terbaik
#3 Yang ngider tiap malam
Sebetulnya saya nggak enak hati mau menulis ini. Tapi, sejauh pengalaman saya, nasi goreng yang ngider tiap malam di Jogja, yang saya temukan, kurang sedap. Saya tidak bilang “nggak enak” lho ya. Menurut saya, selalu ada yang kurang saja. Biasanya dari bumbu yang kurang terasa, sampai tidak matang secara merata.
Saya, sih, yakin ada saja pedagang yang ngider tiap malam yang sukses menyajikan nasi goreng enak. Yakin banget, saya. Namun, hidup saya sementara sial karena belum menemukannya. Yang saya temukan adalah fenomena di paragraf sebelumnya. Dan mereka menutupi kelemahan itu dengan porsi besar.
Itulah tiga ciri nasi goreng di Jogja yang biasanya kurang sedap. Ini sejauh pengalaman saya, ya. Setiap orang punya pengalaman sendiri dan itu semua baik adanya. Infoin dong kalau ada pedagang nasi goreng ngider tiap malam yang ternyata enak.
Penulis: Yamadipati Seno
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA 3 Ciri Penjual Nasi Goreng Merah Surabaya yang Sudah Pasti Enak dan pengalaman seru lainnya di rubrik POJOKAN.














