MOJOK.CO – Hidup di Jogja menyimpan masalah tersembunyi, ritme hidup jadi terlalu santai. Bahkan untuk tagihan yang harus segera dilunasi.
Saya pernah tinggal di Jakarta, dulu sekali, sehabis lulus kuliah tahun 2005. Dan di sana saya belajar satu hal sederhana: hidup itu tidak bisa dibawa nyantai, dan masalah apa pun harus diselesaikan secepatnya. Supaya tidak numpuk dan bikin kemrungsung atau tidak tenang,
Tagihan listrik yang terlambat sehari saja bisa terasa seperti awal dari bencana besar. Pesan dari operator pinjaman bisa membuat jantung deg-degan. Bahkan saldo rekening yang menipis pun bisa bikin panik dan stres, lengkap dengan skenario hidup yang tiba-tiba terasa seperti film Die Hard-nya Bruce Willis.
Di Jakarta, saya terbiasa hidup dalam mode siap siaga. Otak seperti tidak pernah benar-benar bisa “diam”. Selalu ada yang harus dihitung, dipikirkan, atau dicemaskan.
Bahkan hal kecil seperti email atau pesan SMS atau BBM masuk pun kadang terasa seperti potensi masalah baru—dulu saya meninggalkan Jakarta, sebelum WhatsApp populer.
Tapi semua itu berubah ketika saya kembali ke Jogja pada tahun 2011, setelah enam tahun di Jakarta.
Jogja membuat segalanya nyantai
Di sini ada sesuatu yang tidak bisa saya jelaskan pakai nalar, tapi terasa banget di batin: semua masalah kayak punya cara sendiri untuk tidak kelihatan menakutkan.
Masalah-masalah yang kelihatan serem di Jakarta, di sini jadi kelihatan lucu kayak para teletubbies yang lagi lari-larian di Dunia Tubby.
Awalnya saya kira ini hanya tahap adaptasi, tapi ternyata tidak. Semakin lama tinggal di Jogja, semakin saya ahli dalam satu hal baru, yaitu menunda panik.
Tagihan datang? Nanti dulu.
Ada kebutuhan mendesak? Nanti dulu.
Ada kewajiban yang sebenarnya sudah jelas harus diselesaikan? Ya… nanti dulu juga.
Yang aneh, saya tidak merasa sedang mengabaikan kenyataan. Saya hanya merasa semua itu akan selesai dengan sendirinya. Entah bagaimana caranya.
Istri saya, yang orang Jogja, beberapa kali mulai memperhatikan hal ini. Ia pernah bilang dengan nada yang sangat tenang (yang justru lebih menusuk daripada marah), bahwa saya ini tipe orang yang cenderung menggampangkan masalah.
Saya tidak membantah. Karena mungkin dia benar.
Di Jakarta pakai mode darurat, di Jogja pakai mode, tenang dulu
Di Jakarta dulu, saya bisa stres hanya karena tagihan listrik yang belum dibayar. Rasanya seperti ada lonceng kecil di kepala yang terus berdentang, mengingatkan bahwa hidup sedang tidak baik-baik saja. Bahkan sebelum masalahnya benar-benar besar, tubuh sudah lebih dulu lelah.
Di Jogja, suara lonceng itu seperti mengecil volumenya… sampai hampir tidak terdengar.
Padahal kalau dipikir-pikir, masalahnya tetap sama. Tagihan tetap datang. Kebutuhan tetap jalan. Tanggung jawab tetap berdiri di depan mata, menunggu diselesaikan, bukan diabaikan.
Hanya saja reaksi saya yang berubah.
Dan perubahan itu kadang bikin saya sendiri bingung.
Saat ini misalnya, saya seharusnya sedang memikirkan dengan serius bagaimana membayar uang kuliah Rasha, anak sulung saya. Tahun ini Rasha mulai kuliah di salah satu universitas negeri ternama di Jogja.
Ini bukan jumlah kecil, dan secara rasional ini termasuk kategori “harus cepat diselesaikan sebelum terlambat”.
Tapi hidup di Jogja, kepala saya justru tetap tenang.
Bukan menjadi tenang, tapi telat panik
Bukan karena tidak peduli. Bukan karena tidak paham beratnya. Tapi karena ada keyakinan samar yang tidak pernah benar-benar bisa saya jelaskan: bahwa nanti akan ada jalan.
Kalau di Jakarta, saya sudah masuk mode darurat. Hitung sana-sini, geser pos ini, cari tambahan itu, bahkan sebelum masalahnya sempat benar-benar nangkring di depan saya.
Di Jogja, proses itu seperti tidak pernah benar-benar dimulai.
Yang lebih lucu, kadang saya sadar satu hal: saya ini bukan tenang… saya hanya telat panik.
Istri saya pernah bilang, mungkin Jogja itu tidak bikin orang jadi bijak, tapi bikin orang jadi terlalu percaya bahwa hidup itu baik-baik saja sampai kenyataan yang sebaliknya muncul belakangan.
Saya tidak tahu itu pujian atau peringatan, entahlah.
Karena memang suasana Jogja sendiri mendukung hal itu. Ritme hidupnya berbeda. Tidak ada tekanan yang terasa berlari.
Warung manapun baik angkringan maupun warmindo, biasanya tidak menagih kita untuk segera pergi. Tukang sayur atau penjual apa pun dan di manapun, kalau saya kurang bayar seribu atau dua ribu, biasanya bilang “Yo wis sesuk wae, atau yo wis digowo wae” (ya udah besok saja, atau ya udah dibawa saja/bahasa Jawa).
Obrolan tidak selalu mengejar efisiensi. Bahkan orang-orang di sekitar kita seperti punya kesepakatan tak tertulis untuk tidak terlalu tergesa-gesa.
Bahaya yang mengintai karena santai
Saya ingat dulu waktu awal-awal kuliah di Jogja, jam sudah mau pukul 7 pagi, waktu ujian dimulai, teman saya yang orang Jogja, biasanya terlihat santai, dan bilang “Nyantai wae, wis, rasah kesusu.”
Saya yang sebelumnya sudah ngebut naik motor dari kos, jadi ikutan santai.
Begitu seterusnya sampai sekarang. Kalau lagi di Jogja, saya biasanya tidak terlalu kemrungsung.
Saya jadi orang yang lebih sering bilang “nanti dulu saja” daripada “sekarang juga”. Bahkan untuk hal-hal yang jelas-jelas tidak bisa ditunda.
Kadang saya sadar, ini sudah agak berbahaya. Karena hidup tetap berjalan seperti biasa, hanya saja saya berjalan sedikit lebih santai di dalamnya.
Saya jadi sering bertanya ke diri sendiri: ini ketenangan, atau hanya bentuk lain dari penundaan?
Karena ada perbedaan tipis antara “tenang menghadapi masalah” dan “terlalu lama tidak menghadapi masalah”.
Dan saya mulai curiga, saya sedang berada di garis tipis itu.
Hidup tak berubah karena kita memilih untuk lebih santai di Jogja
Tapi jujur saja, ada bagian dari diri saya yang menikmati keadaan ini. Tidak selalu hidup dalam tekanan membuat kepala terasa lebih ringan. Tidak semua hal terasa seperti harus segera diselesaikan dalam satu malam.
Namun di saat yang sama, ada juga rasa tidak nyaman yang pelan-pelan muncul. Karena saya tahu, hidup tidak benar-benar berubah hanya karena kita memilih untuk lebih santai.
Tagihan tetap punya tanggal jatuh tempo. Biaya kuliah tidak bisa ditawar-tawar dengan suasana kota. Dan kenyataan tetap akan datang, cepat atau lambat.
Hanya saja di Jogja, semuanya terasa seperti datang dengan langkah pelan, seperti teman saya yang orang Jogja tadi saat waktu hampir jam tujuh pagi.
Mungkin yang berubah bukan hanya kota tempat saya tinggal, tapi cara saya ngelihat tekanan hidup itu sendiri.
Termasuk cara saya menunda panik secara istiqomah alias konsisten, bahkan tanpa rencana apa-apa.
Mungkin Jogja tidak membuat saya tenang.
Mungkin Jogja hanya membuat saya merasa semua masalah masih punya waktu… padahal tidak selalu begitu.
Dan kalau dipikir-pikir lagi, mungkin masalah sebenarnya bukan di tagihannya.
Tapi di saya yang sekarang ini lebih sering berkata: “Mengko sik wae”
Penulis: Harsa Permata
Editor: Agung Purwandono
BACA JUGA Pamer Harta Sudah Ketinggalan Zaman: Tren Terbaru Ibu-Ibu Gang Kampung Adalah Flexing Utang Bank dan tulisan menarik lainnya di kanal Esai.













