MOJOK.CO, JOGJA – Unggahan Ikatan Penerbit Indonesia Daerah Istimewa Yogyakarta (IKAPI DIY) menuai kritik keras dari sejumlah toko buku dan reseller di Jogja.
Selasa (4/8/2026), IKAPI DIY mengunggah materi promosi yang dinilai kontroversial untuk acara Jogja Book Fair yang dijadwalkan berlangsung pada 29 Agustus-8 September 2026 di halaman Grhatama Pustaka DPAD DIY.
Materi tersebut terdiri dari beberapa slide. Dibuka dengan informasi umum soal waktu dan lokasi acara, lalu informasi soal diskon besar yang ditawarkan, dan ditutup dengan tulisan: “Harga Buku Lebih Murah dari Toko Langgananmu.” Slide terakhir inilah yang kemudian memicu kritik dari sejumlah reseller dan tuku buku di Jogja.

Saat toko buku dijadikan pembanding negatif
Kritik kepada IKAPI DIY di antaranya dilayangkan oleh Dana Gumilar, pendiri toko buku indie Berdikari Book. Melalui surat sikapnya, Dana mengatakan bahwa seharusnya pameran buku menjadi ruang untuk memperluas pembaca, bukannya menggiring narasi yang membuat publik malah mencurigai toko buku langganan sebagai pihak yang membuat harga buku menjadi mahal.
Selama ini, lanjut Dana, toko buku telah bekerja sepanjang tahun untuk merawat pembaca. Lalu pameran buku datang dengan mengobral harga murah yang terasa meremehkan kerja panjang itu.
“Murah bukan masalah. Yang culas ialah menjadikan toko buku pembanding negatif. Seolah keberlangsungan ekosistem pantas dikorbankan demi keramaian sesaat belaka,” ujarnya dalam surat sikapnya yang juga diunggah di akun Instagram resmi Berdikari Book, Rabu (5/8/2026).
“Toko buku sudah dihimpit biaya admin marketplace yang menjulang tinggi. Ironisnya, IKAPI sebagai organisasi perbukuan justru menusuk dari sisi lain,” sambungnya.
Slogan yang mendidik pembaca menunggu obral alih-alih menghargai ekosistem
Dana menyayangkan betul narasi “…Lebih murah dari toko buku langgananmu” dari IKAPI DIY. Sebba, baginya, IKAPI mestinya melindungi mata perbukuan, bukan ikut memasarkan ilusi bahwa toko buku langganan adalah hambatan antara pembaca dan harga buku murah.
IKAPI, sebagai organisasi perbukuan, juga seharusnya dan sekaligus diharapkan menjaga ekosistem. Tapi narasi promosi pameran buku tersebut, menurut Dana, justru mengajari sebaliknya: mengajari pasar meminggirkan toko buku.
Yang harus dicatat, reseller dan toko buku menanggung sewa, pegawai, promosi, retur, serta stok buku yang mengendap. Maka ketika pameran buku menjual buku lebih murah sambil menyindir toko buku, Dana menyebutnya: yang sedang ditonton bukanlah literasi, tetapi kanibalisme di dalam industri buku itu sendiri.
“Akses buku murah itu penting. Tetapi menjadikan toko buku sebagai musuh harga adalah cara malas memahami biaya, kerja, dan keberlanjutan industri,” tegas Dana.
“Kalau ekosistem perbukuan direduksi menjadi adu murah, jangan heran pembaca akhirnya mencari bajakan,” tambahnya.
Kalimat itu tidak seharusnya keluar
Tidak hanya Dana, sejumlah toko buku dan pelaku buku di Jogja turut menyuarakan keresahan serupa. Tidak lama berselang, KIP DIY akhirnya menurunkan materi promosi tersebut.
Melalui klasifikasi tertulisnya, pihak IKAPI DIY menyampaikan permohonan maaf karena telah menyinggung sejumlah pihak.
“Tidak ada maksud kami menyinggung pihak tertentu. Kalimat itu tidak seharusnya keluar dari kami,” tulis IKAPI DIY.
IKAPI DIY juga menegaskan, sebagian bagian dari ekosistem perbukuan di Jogja, pihaknya selalu mengajak semua pihak yang ada di dalam ekosistem buku (penulis, penerbit, toko buku, reseller, dll) untuk menjadi bagian dari program IKAPI DIY.
“Terimakasih kepada semua pihak yang sudah kritik dan masukan kepada kami untuk terus berproses. Kami sangat terbuka dengan semua masukan,” tegas IKAPI DIY.
BACA JUGA: Gen Z di Indonesia, Generasi Paling Aktif Membaca tetapi Paling Tak Terliterasi atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














