Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Kilas

Jogja dan Produksi Pengetahuan Lewat Ratusan Penerbit Buku, Modal Jadi Ibu Kota Buku UNESCO

Redaksi oleh Redaksi
16 Mei 2026
A A
Melalui Seminar Literasi di Pesta Buku Jogja, IKAPI DIY dorong Yogyakarta jadi Ibu Kota Buku UNESCO karena punya ratusan penerbit MOJOK.CO

Ilustrasi - Melalui Seminar Literasi di Pesta Buku Jogja, IKAPI DIY dorong Yogyakarta jadi Ibu Kota Buku UNESCO karena punya ratusan penerbit. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK, Jogja – Selama ini Jogja memang dikenal sebagai daerah pusat produksi pengetahuan. Itu lah kenapa sampai ada julukan Kota Pelajar. Namun, selain itu, keberadaan ratusan penerbit buku juga menjadi pijakan bagi Jogja, tidak hanya sebagai pusat produksi pengetahuan, tapi juga menjadi Ibu Kota Buku UNESCO. 

Gagasan perihal Jogja sebagai World Book Capital (Ibu Kota Buku) memang tengah gencar-gencarnya didorong oleh Ikatan Penerbit Indonesia Daerah Istimewa Yogyakarta (IKAPI DIY).

Di momen Hari Lahir IKAPI ke-76 dan Hari Buku Nasional 2026 ini IKAPI DIY kembali menghelat rangkaian Pesta Buku Jogja. Di antara rangkaian event tersebut adalah: Seminar Literasi bertajuk “Mengukuhkan Jogja Menjadi World Book Capital” di Art Gallery Zona D, GIK Universitas Gadjah Mada, Sabtu (16/5/2026).

 

Lihat postingan ini di Instagram

 

Sebuah kiriman dibagikan oleh PESTA BUKU JOGJA (@pestabukujogja)

Hadir dalam seminar tersebut: Ketua IKAPI DIY Wawan Arif Rahmat, Sekretaris Daerah DIY Ni Made Dwipanti Indrayanti, Guru Besar Politik dan Pemerintahan FISIPOL UGM Prof. Dr. Purwo Santoso, M.A., serta Rektor UII Prof. Dr. Fathul Wahid.

Seminar tersebut dirancang sebagai forum dialog antara pemerintah, akademisi, penerbit, komunitas literasi, pengelola perpustakaan, pegiat budaya, mahasiswa, pelajar, dan masyarakat umum. Diskusi difokuskan pada pemetaan kekuatan dan tantangan ekosistem buku di Daerah Istimewa Yogyakarta serta penyusunan langkah strategis menuju pengajuan resmi ke UNESCO.

Melalui seminar ini, IKAPI DIY berharap lahir dukungan publik yang luas, terbentuk jejaring kolaborasi lintas sektor, serta tersusun rekomendasi penguatan ekosistem literasi yang dapat memperkuat posisi Yogyakarta sebagai kota budaya, kota buku, dan pusat produksi pengetahuan tingkat dunia.

Jogja punya modal kuat jadi Ibu Kota Buku UNESCO

Seminar tersebut menjadi ruang konsolidasi gagasan untuk memperkuat langkah Jogja menuju pengajuan sebagai World Book Capital UNESCO. Gagasan tersebut lahir dari keyakinan bahwa Jogja memiliki modal kuat sebagai kota pendidikan, kota budaya, dan ruang hidup ekosistem literasi yang tumbuh dari kampus, penerbit, komunitas, perpustakaan, pegiat sastra, hingga gerakan literasi masyarakat.

Ketua IKAPI DIY, Wawan Arif Rahmat, menegaskan bahwa Jogja sesungguhnya tidak memulai dari nol. Jogja telah memiliki infrastruktur sosial perbukuan yang tumbuh selama puluhan tahun. Menurutnya, kekuatan Jogja bukan hanya terletak pada banyaknya kampus atau komunitas literasi, tetapi pada keberadaan ekosistem penerbitan yang hidup dan tersebar.

Melalui Seminar Literasi di Pesta Buku Jogja, IKAPI DIY dorong Yogyakarta jadi Ibu Kota Buku UNESCO karena punya ratusan penerbit MOJOK.CO
Melalui Seminar Literasi di Pesta Buku Jogja, IKAPI DIY dorong Yogyakarta jadi Ibu Kota Buku UNESCO karena punya ratusan penerbit. (Dok. IKAPI DIY)

Data IKAPI menunjukkan terdapat sekitar 2.494 penerbit anggota IKAPI di Indonesia yang tersebar di 31 provinsi. Dari jumlah itu, Daerah Istimewa Yogyakarta memiliki sekitar 224 penerbit anggota IKAPI dan termasuk lima daerah dengan jumlah penerbit terbesar di Indonesia.

Menurut Wawan, angka tersebut bukan sekadar statistik organisasi. Di baliknya terdapat rantai pengetahuan yang panjang. Ada penulis, editor, desainer, percetakan, toko buku, perpustakaan, kampus, komunitas baca, hingga ruang diskusi publik yang membentuk kehidupan intelektual Jogja.

Iklan

“Jika ratusan penerbit di Yogyakarta bergerak dan menghasilkan ribuan judul buku, maka yang dibangun bukan hanya industri. Yang dibangun adalah ingatan kolektif, ruang gagasan, dan identitas kebudayaan,” beber Wawan.

Warisan dunia perlu dihidupkan melalui produksi pengetahuan

Wawan juga mengaitkan gagasan World Book Capital atau Ibu Kota Buku dengan status Jogja sebagai pemilik Warisan Dunia UNESCO Sumbu Filosofi Yogyakarta. Menurutnya, selama ini Sumbu Filosofi lebih banyak dipahami dalam konteks tata ruang dan warisan fisik. Padahal warisan tersebut juga menyimpan gagasan, pengetahuan, dan cara pandang hidup masyarakat Yogyakarta.

Melalui Seminar Literasi di Pesta Buku Jogja, IKAPI DIY dorong Yogyakarta jadi Ibu Kota Buku UNESCO karena punya ratusan penerbit MOJOK.CO
Melalui Seminar Literasi di Pesta Buku Jogja, IKAPI DIY dorong Yogyakarta jadi Ibu Kota Buku UNESCO karena punya ratusan penerbit. (Dok. IKAPI DIY)

Ia menjelaskan bahwa posisi IKAPI tidak berhenti sebagai organisasi profesi penerbit. IKAPI dapat berperan sebagai penghubung antarlembaga sekaligus penggerak agenda strategis menuju World Book Capital UNESCO.

IKAPI DIY, lanjut Wawan, dapat mengonsolidasikan kekuatan penerbit lokal, memperluas festival buku, membangun jejaring internasional, mendorong penerbitan berbasis riset, serta memperkuat hubungan antara industri buku dengan ruang budaya dan pendidikan.

“Warisan dunia tidak cukup dijaga lewat penanda ruang atau bangunan. Warisan dunia perlu dihidupkan melalui produksi pengetahuan. Buku menjadi salah satu cara paling kuat untuk merawat ingatan itu,” kata Wawan.***(Adv)

BACA JUGA: Siasat Kelompok Pencuri Buku di Jogja: Robin Hood atau Krimininal? atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 16 Mei 2026 oleh

Redaksi

Redaksi

Artikel Terkait

Pom mini warung madura kini jadi solusi di tengah antrean panjang SPBU yang tidak masuk akal MOJOK.CO
Sehari-hari

Strategi Hindari Antrean SPBU Tak Efektif Lagi, Isi Bensin di Pom Mini Warung Madura Jadi Solusi Asal Tak Pakai Logika Takaran

18 Juli 2026
Kita Membeli Sabun karena Wanginya, Bukan karena Tahu Kandungannya MOJOK.CO
Esai

Kita Membeli Sabun karena Wanginya, Bukan karena Tahu Kandungannya

18 Juli 2026
Kerjabilitas, Jembatan bagi Pencari Kerja Difabel Menembus Tembok Diskriminasi Industri.MOJOK.CO
Urban

Kerjabilitas, Jembatan bagi Pencari Kerja Difabel Menembus Tembok Diskriminasi Industri

17 Juli 2026
Ketika Syarat "Sehat Jasmani dan Rohani Menjadi Tembok Diskriminasi yang Menjegal Difabel di Bursa Kerja.MOJOK.CO
Urban

Ketika Syarat “Sehat Jasmani dan Rohani” Menjadi Tembok Diskriminasi yang Menjegal Difabel di Bursa Kerja

17 Juli 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Jumirah dan suami merupakan pemulung di TPA Troketon, Klaten. MOJOK.CO

“Nrimo ing Pandum” ala Ibu Jumirah: Berteman dengan Belatung dan Diabetes di Tengah 150 Ton Sampah Residu Warga Klaten

12 Juli 2026
Merayakan Sofistikasi Djent ala Bless The Knights yang Keras Kepala.MOJOK.CO

Merayakan Sofistikasi Djent ala Bless The Knights yang Keras Kepala

13 Juli 2026
Kita Membeli Sabun karena Wanginya, Bukan karena Tahu Kandungannya MOJOK.CO

Kita Membeli Sabun karena Wanginya, Bukan karena Tahu Kandungannya

18 Juli 2026
Daripada Acungkan Senjata di Jalan, Remaja Kreak Semarang Lebih Baik Naik Ring Adu Pukulan MOJOK.CO

Daripada Acungkan Senjata di Jalan, Remaja Kreak Semarang Lebih Baik Naik Ring Adu Pukulan

16 Juli 2026
Kisah sebuah desa di Kebumen, Jawa Tengah, yang bangkit dari kemiskinan MOJOK.CO

Cerita Desa di Kebumen Bangkit dari Kemiskinan: Punya Rumah Layak Huni, Modal Usaha, hingga Pengembangan Peternakan

14 Juli 2026
Yamaha Gear Ultima, Motor Underrated tapi Tangguh: Andalan Para Ibu Rumah Tangga bahkan Cocok Bagi Bikers Pecinta Touring.MOJOK.CO

Yamaha Gear Ultima, Motor Underrated tapi Tangguh: Andalan Para Ibu Rumah Tangga bahkan Cocok Bagi Bikers Pecinta Touring

12 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.