Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Kabar

Riset: Kerja Berlebihan (Workaholic) Tidak Selalu Merusak Kebahagiaan, Asalkan Dapat 2 Situasi Ini di Lingkungan Kerja

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
6 Juni 2026
A A
Hasil riset FEB UGM: workaholic alias kera berlebihan tidak selalu merusak kebahagiaan MOJOK.CO

Ilustrasi - Hasil riset FEB UGM: workaholic alias kera berlebihan tidak selalu merusak kebahagiaan. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Riset Guru Besar Departemen Manajemen dan tim Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM) menyebut: workaholic alias kerja berlebihan tidak selalu merusak kebahagiaan tanpa nunggu work life balance dulu

Realitas dunia kerja saat ini memang semakin kompetitif dan penuh tekanan. Seiring itu, perusahaan atau organisasi kerja pun dituntut untuk mencapai target kinerja tinggi tanpa mengacuhkan kesejahteraan para pekerjanya. Tantangannya adalah bagaimana menciptakan lingkungan kerja yang memungkinkan karyawan tetap merasa bahagia, berkembang, dan produktif di tengah banyaknya tuntutan pekerjaan tersebut?

Workaholic tetap bisa bahagia di luar urusan work life balance, asal thriving at work

Tim riset FEB UGM belum lama ini merampungkan riset yang berjudul “Inclusive Leadership and Workplace Happiness: Thriving as Mediator and Workaholism as Moderator in Indonesia”. Riset tersebut mengkaji peran kepemimpinan inklusif dalam menciptakan kebahagiaan kerja di tengah budaya kerja yang cenderung menuntut dedikasi tinggi.

Salah satu tim periset FEB UGM, Reni Rosari, membeberkan bekerja berlebihan tidak selalu merusak kebahagiaan, tidak perlu menunggu sepenuhnya work life balance dulu. Hasil dari penelitiannya yang melibatkan lebih dari 400 karyawan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di Indonesia menunjukkan: Individu yang memiliki kecenderungan workaholic justru dapat merasakan tingkat kebahagiaan kerja yang lebih tinggi.

Situasi tersebut bisa dicapai karena mereka mengalami thriving at work. Artinya, selama pekerjaan tersebut memiliki kesempatan untuk berkembang di lingkungan yang positif, kerja keras di luar urusan work life balance dapat menjadi sumber makna dan kepuasan.

“Bekerja keras tidak selalu identik dengan penderitaan (karena sering diidentikkan tidak bisa hidup dengan pola work life balance). Dalam konteks budaya kolektivitas seperti Indonesia, kerja keras bisa menjadi sumber makna, selama ada rasa berkembang dan dukungan dari pemimpin yang inklusif,” paparnya sebagaimana laporan tertulis di UGM.

Inclusive leadership ciptakan rasa aman psikologis

Lebih lanjut, Reni mengungkapkan bahwa realitas organisasi di Indonesia memiliki karakteristik yang unik. Struktur organisasi yang hierarkis, target kerja yang tinggi, serta budaya kerja yang keras kerap dipandang sebagai bentuk loyalitas. Oleh karena itu, kepemimpinan memiliki peran yang sangat penting dalam membentuk pengalaman kerja karyawan.

“Dalam konteks seperti ini, kepemimpinan bukan hanya soal mencapai hasil, tetapi juga tentang bagaimana manusia diperlukan dalam proses mencapai hasil tersebut. Di sinilah, konsep inclusive leadership menjadi penting,” jelasnya dalam Program Research Series bertajuk Kepemimpinan Inklusif dan Kebahagiaan di Tempat Kerja.

Reni menjelaskan, konsep inclusive leadership merupakan gaya kepemimpinan yang terbuka, adil, mudah diakses, dan secara aktif melibatkan karyawan dalam proses kerja.

Menurutnya, pimpinan yang inklusif bukan sekadar baik, tetapi juga menciptakan rasa aman secara psikologis, di mana setiap individu merasa dihargai dan didengar. “Menariknya, kepemimpinan inklusif tidak langsung membuat karyawan bahagia. Ada mekanisme psikologis penting, yaitu thriving work (tadi),” jelas Reni.

Dengan begitu, bagi Reni, pemimpin organisasi kerja memiliki peran yang cukup krusial. Kehadiran pemimpin penting untuk memastikan bahwa ada keadilan, dukungan, dan ruang untuk bertumbuh di balik tuntutan yang tinggi yang membuat seseorang melalukan workaholic kerja berlebihan.

Maka, meningkatkan kebahagiaan kerja di tengah tuntutan untuk workaholic tidak cukup dilakukan melalui penyediaan fasilitas atau insentif semata. Reni menegaskan, organisasi perlu membangun kualitas relasi yang sehat antara pemimpin dan karyawan.

“Pada akhirnya, inclusive leadership mengajarkan satu hal yang sederhana tetapi juga mendalam. Ketika manusia diberi ruang untuk bertumbuh, bahkan kerja keras sekalipun bisa menjadi sumber kebahagiaan,” tegas Reni.

Sumber: Universitas Gadjah Mada (UGM)

Iklan

BACA JUGA: Overwork-Multiple Jobs: Keterpaksaan Pekerja demi Hidup dari Upah Tak Layak, Masih Tanggung Kesehatan Diri Sendiri Tanpa Jaminan atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 6 Juni 2026 oleh

Tags: FEB UGMkerja berlebihanriset ugmUGMwork-life balanceworkaholic
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Frugal Living, healing, MOJOK.CO
Sehari-hari

Salah Kaprah soal Healing: Anak Muda Terjebak Keborosan, padahal “Penyembuhan Sejati” Itu Gratis dan Sering Kali Tak Estetik

26 Mei 2026
Usia 68 Tahun Merasa Gaptek dan Tertinggal dari Anak Muda demi Gelar S2, Akhirnya Lulus dengan IPK 3,98 di UGM MOJOK.CO
Sekolahan

Usia 68 Tahun Merasa Gaptek dan Tertinggal dari Anak Muda demi Gelar S2, Akhirnya Lulus dengan IPK 3,98 di UGM

22 Mei 2026
Anak tunggal dari pengusaha toko kelontong diterima di UGM. MOJOK.CO
Sekolahan

Lolos UGM Justru Dilema karena Tak Tega Tinggalkan Ibu untuk Merantau dan Buka Toko Kelontong Sendirian

21 Mei 2026
mahasiswa autis Fakultas Peternakan UGM. MOJOK.CO
Sekolahan

Mahasiswa Autis UGM Sulit Berinteraksi Sosial, tapi Buktikan Bisa Lulus Usai 6 Tahun Lebih dan Buka Usaha Ternak Kambing di Kampung Halaman

20 Mei 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Peluncuran program pendidikan koperasi (perkoperasian) untuk sekolah-sekolah yang dipelopori Pemerintah Provinsi Jawa Tengah (Pemprov Jateng) MOJOK.CO

Jawa Tengah Bikin Pendidikan Koperasi di Sekolah: Bekal Kewirausahaan dan Alternatif Lapangan Kerja untuk Gen Z-Gen Alpha

5 Juni 2026
Kerja di Jakarta, Cara Terbaik Buat Melihat Sisi Buruk Manusia adalah Kerja di F&B.mojok.co

FnB di Jakarta Bikin Sengsara Pekerjanya: Bisnis Elite tapi Gaji Karyawannya Seuprit, yang Dimiliki Artis bahkan Lebih Tak Manusiawi

2 Juni 2026
Adegan horor tiap awal bulan di kehidupan dewasa. Gajian ludes seketika karena kebutuhan MOJOK.CO

Awal Bulan di Kehidupan Dewasa Itu Horor: Setelah Gajian Gaji Langsung Ludes di Kalkulator

2 Juni 2026
pekerja kantoran.MOJOK.CO

Akal-akalan “Kantor adalah Keluarga”, Menguras Mental dan Menggerogoti Karier

4 Juni 2026
Instruksi Belajar Bahasa Prancis: Taktik Genius Mengenal Perjuangan Rakyat Prancis MOJOK,CO

Instruksi Belajar Bahasa Prancis: Taktik Genius untuk Mengenal Perlawanan Rakyat Prancis

1 Juni 2026
Sebat Bareng menjadi upaya sederhana merespons kampanye Hari Tanpa Tembakau Sedunia (HTTS). Berlangsung di 16 daerah MOJOK.CO

Sebat Bareng di 16 Kabupaten/Kota: Cara Sederhana Tolak Hari Tanpa Tembakau Sedunia, Pengingat Industri Kretek Masih Dibutuhkan Indonesia

31 Mei 2026

Video Terbaru

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026
Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

21 Mei 2026
Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

17 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.