Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Kabar

Merawat Muruah Rempah Nusantara lewat Riset Genetika

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
2 Juli 2026
A A
kuis rempah rempah

Ilustrasi rempah-rempah. (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Sejak ribuan tahun lampau, Indonesia masyhur sebagai episentrum rempah dunia. Kekayaan plasma nutfah, mulai dari pala, cengkih, lada hitam, hingga ketumbar, menjadi magnet ekonomi masa lalu yang sejarahnya masih diromantisisasi hingga kini. 

Namun, di balik narasi kejayaan itu, industri rempah Nusantara tengah diuji oleh erosi genetik dan ancaman patogen mutakhir.

Iklan

Lebih dari sekadar bumbu dapur, kekayaan rempah adalah fondasi masa depan untuk pengembangan varietas unggul, pangan fungsional, dan farmasi bertaraf global. 

“Rempah Nusantara bukan semata warisan sejarah, melainkan sumber daya strategis yang harus digali lewat riset agar mangkus menyejahterakan masyarakat,” tegas Dekan Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Dr. Budi Daryono, dalam Seminar Nasional Biologi Tropik ke-10 di UGM, Rabu (1/7/2026) kemarin.

Ketua Konsorsium Biologi Indonesia (KOBI) itu menyoroti ihwal krusialnya penguatan riset molekuler untuk konservasi genetika lokal. Salah satu buktinya adalah riset endemik pala Sangihe. 

Melalui pendekatan morfologi dan genetik, akademisi berhasil memetakan lima morfotipe utama pala tersebut: bulat tebal, bulat tipis, oval tebal, oval tipis, dan biji kembar.

Pemetaan yang disinggung Prof. Budi ini sejalan dengan penelitian Widya L. Legoh dalam Jurnal Agri-Sosioekonomi (2020) yang membuktikan bahwa mutasi genetik dan faktor ekotipe lokal di Kepulauan Sangihe menciptakan keragaman bentuk buah pala yang unik. 

Tanpa data dasar taksonomi dan perlindungan Indikasi Geografis (IG), kekayaan genetik semacam ini rentan punah ditelan zaman atau diklaim oleh negara lain.

Rempah kita rentan terserang penyakit

Di sisi lain, melestarikan genetika rempah tak akan ada artinya jika tanaman tak mampu bertahan di lahan. Pakar dari Mie University Jepang, Prof. Chiharu, melontarkan peringatan keras: tanaman rempah kita teramat rentan terserang penyakit akibat minimnya pemantauan berkala.

Dari sembilan jenis tanaman rempah yang dikaji di Indonesia, setidaknya tercatat 34 jenis penyakit yang mengintai. Ironisnya, sebagian besar pendataan penyakit tanaman rempah di Indonesia rupanya dilakukan sebelum tahun 1996. 

Akibatnya, informasi persebaran penyakit maupun perubahan tata nama ilmiah patogen banyak yang usang.

“Pembaruan data taksonomi dan inventarisasi patogen mutlak diperlukan agar upaya pengendalian penyakit lebih akurat,” tutur Chiharu, dalam acara yang sama.

Peringatan Chiharu sangat beralasan. Sebagai contoh nyata, komoditas lada hitam nasional kerap hancur akibat penyakit Busuk Pangkal Batang (BPB). 

Merujuk pada publikasi Dodo Gustianto jurnal Agrosasepa (2023), BPB disebabkan oleh serangan jamur patogen Phytophthora capsici yang mampu mematikan tanaman secara massal dalam waktu singkat. Tanpa pembaruan data inventarisasi penyakit yang presisi, petani rempah kita praktis berperang dengan mata tertutup menghadapi patogen-patogen ganas tersebut.

Iklan

Ujung-ujungnya, eksportir akan kesulitan menembus pasar global yang menuntut standardisasi kesehatan komoditas yang amat ketat.

Daun salam menjadi sanitizer alami

Meski dirundung tantangan penyakit dan data konservasi, potensi bioprospeksi rempah Nusantara sesungguhnya nirbatas. Jika diteliti lebih jauh, satu jenis dedaunan saja bisa mengguncang industri pangan. 

Pakar dari Universiti Putra Malaysia, Prof. Yaya, memaparkan temuan mutakhir ihwal daun salam (Syzygium polyanthum).

Penelitian Yaya membuktikan bahwa ekstrak daun salam sanggup menjadi sanitizer (bahan sanitasi alami) penghambat pertumbuhan bakteri dan jamur penyebab penyakit bawaan pangan (foodborne illness). Ekstrak tersebut bekerja mematikan dengan cara merusak dinding sel mikroorganisme.

Secara farmakologis, mekanisme ini masuk akal. Studi klinis oleh Wahyudi dalam Indonesian Journal of Pharmaceutical Education (2024) mengonfirmasi bahwa daun salam kaya akan senyawa bioaktif seperti flavonoid, tanin, alkaloid, dan minyak atsiri. 

Kombinasi flavonoid dan tanin inilah yang bertindak sebagai agen antibakteri mematikan bagi patogen.

Istimewanya, pemanfaatan ekstrak daun salam sebagai sanitizer sama sekali tidak merusak warna, tekstur, atau aroma bahan pangan, bahkan memperpanjang masa simpan produk.

 “Temuan ini membuktikan bahwa tanaman rempah tidak sekadar bermakna di meja makan, tetapi berpeluang besar dikembangkan sebagai sanitizer alami pengganti bahan kimia sintetik,” pungkas Yaya.

Menjaga rempah Nusantara kini tak bisa lagi sekadar mengandalkan kebiasaan tanam warisan lelulur. Diperlukan sinergi antara pemutakhiran data patogen di hilir dan inovasi genetika di hulu, agar komoditas kita tak sekadar menjadi narasi kejayaan masa lalu, tetapi terus berjaya di masa depan.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Rzea

BACA JUGA: Jelajahi 7 Titik Jalur Rempah, Bawa Saya Mandi Khatulistiwa hingga Minum Air Kehidupan atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 2 Juli 2026 oleh

Tags: daun salamjalur rempahrempahrempah-rempahriset genetika rempahriset rempahUGM
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

donasi ekonomi.MOJOK.CO
Urban

“Rakyat Bantu Rakyat” Menguat, tapi Jangan Jadi Alasan Pemerintah Lepas Tangan dan Abai Pada Nasib Masyarakat

14 Juli 2026
Mila lulusan Fapet UGM. MOJOK.CO
Sekolahan

Dobrak Keraguan Perempuan Tak Pantas Jadi Peternak, Alumnus Fapet UGM Ini Berhasil Raih Rp700 Juta di Tuban

29 Juni 2026
Menurut Pakar UGM, Pelatihan Dasar Militer (Latsarmil) calon manajer Koperasi Desa Merah Putih (Kopdes Merah putih/KDMP) harus dievaluasi MOJOK.CO
Kabar

Pelatihan Militer ke Manajer Kopdes Merah Putih Perlu Didesain Ulang, Harus Lebih Relevan dengan Tata Kelola Koperasi agar Tak Ada Korban Lagi

29 Juni 2026
UGM.MOJOK.CO
Sekolahan

Berhasil Kuliah Gratis di Jurusan Mahal UGM Berkat Kebiasaan Belajar Pukul 3 Pagi dan Hobi “Nongkrong” di Perpus Hingga Malam Hari

24 Juni 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kerajinan lokal Yogyakarta di INACRAFT. MOJOK.CO

INACRAFT Jogja: Jembatan bagi Perajin Lokal Menembus Pasar Global Lewat Karya yang Tak Biasa

15 Juli 2026
Pengalaman buruk investasi saham habis 50 juta cuma untung 27 ribu MOJOK.CO

Pengalaman menyedihkan investasi saham habis 50 juta cuma untung 27 ribu per bulan bikin saya kapok dan memutuskan pindah ke deposito demi ketenangan hidup

16 Juli 2026
Milenial di Job Fair Yogyakarta 2026 cari peluang kerja di luar negeri. MOJOK.CO

Muak dengan Syarat Kerja di Indonesia: Gaji Numpang Lewat hingga Terbatas Usia, Milenial Pilih Cari Kerja ke Luar Negeri

16 Juli 2026
Daripada Acungkan Senjata di Jalan, Remaja Kreak Semarang Lebih Baik Naik Ring Adu Pukulan MOJOK.CO

Daripada Acungkan Senjata di Jalan, Remaja Kreak Semarang Lebih Baik Naik Ring Adu Pukulan

16 Juli 2026
Nasi Kuning Muna Cung dan Kisahnya yang Membuat Wisatawan Rela Berjalan Kaki dari Malioboro MOJOK.CO

Nasi Kuning Muna Cung dan Kisahnya yang Membuat Wisatawan Rela Berjalan Kaki dari Malioboro

22 Juli 2026
Pom mini warung madura kini jadi solusi di tengah antrean panjang SPBU yang tidak masuk akal MOJOK.CO

Strategi Hindari Antrean SPBU Tak Efektif Lagi, Isi Bensin di Pom Mini Warung Madura Jadi Solusi Asal Tak Pakai Logika Takaran

18 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.