Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Urban

Nasib Orang Haven’t: Ingin Jadi Maba Tanpa Sponsor Orang Tua, Harus Alami Kerja di Warung Mie Ayam 16 Jam Upah 30 Ribu

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
7 Agustus 2026
A A
Perjuangan orang haven't ingin jadi mahasiswa baru (maba) tanpa sponsor orang tua melalui beasiswa KIP Kuliah MOJOK.CO

Ilustrasi - Perjuangan orang haven't ingin jadi mahasiswa baru (maba) tanpa sponsor orang tua melalui beasiswa KIP Kuliah. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Sebagai orang haven’t, alias tidak berpunya, keinginan menjadi mahasiswa baru (maba) memang tidak mesti mendapat “sponsor” dari orang tua. Pilihannya hanya dua: kuliah gratis dengan beasiswa atau tidak lanjut kuliah untuk bekerja. Dilema itulah yang dihadapi oleh Ardio (23) ketika berkeinginan untuk lanjut kuliah beberapa tahun lalu. 

“Keinginanku kuliah waktu itu sebenarnya sederhana. Aku anak terakhir dari tiga bersaudara. Aku pengin jadi perwakilan keluargaku yang bisa jadi sarjana,” ujar Ardio bercerita belum lama ini, Kamis (6/8/2026). 

Namun, dengan alasan bukan orang haven’t (istilah populer di media sosial untuk menyebut orang tidak berpunya), orang tua Ardio langsung menyatakan tidak setuju. “Dari mana uangnya?!” Kira-kira begitulah kekhawatiran mereka. 

Disuruh kerja saja, tapi nekat daftar kuliah

Orang tua Ardio secara terang-terangan memintanya lulus SMA langsung bekerja. Toh selama ini, pendidikan anak-anak muda di desa Ardio di Jawa Timur memang hanya mentok sampai SMA. Yang hanya selesai di SMP pun masih banyak. 

“Kalau kata orang tuaku yang memang orang haven’t, orang susah itu nggak usah sekolah tinggi-tinggi. Yang penting bisa nyari duit buat bertahan hidup,” ungkap Ardio. 

Lebih dari itu, jika Ardio langsung kerja setelah lulus SMA, artinya melepas beban tanggungan orang tua karena tidak harus mengeluarkan biaya lagi untuk pendidikannya. Syukur-syukur, dengan Ardio bekerja, maka jika orang tua kesulitan secara ekonomi masih bisa mengandalkan Ardio. 

Tapi tekad Ardio untuk kuliah sudah terlanjur bulat. Dan ia bertekad tidak meminta sponsor dari orang tua jika sepanjang masa kuliahnya nanti. Maka diam-diam ia mendaftar kuliah di sebuah PTN di Surabaya melalui jalur beasiswa KIP Kuliah. 

Menanti masa jadi mahasiswa baru (maba), kerja di warung mie ayam dengan upah Rp30 ribu sehari 

Sembari menunggu hasil pengumuman kuliah, Ardio “mengikuti” apa kata orang tuanya untuk menjajal bekerja. Saat itu Ardio ikut bekerja di sebuah warung mie ayam milik saudaranya. 

Kata Ardio, orang tuanya saat itu tampak senang sekali, saat melihat Ardio meninggalkan rumah sejak jam 7 pagi untuk bekerja di warung mie ayam tersebut. Meski di sisi lain, Ardio sebenarnya tidak semangat-semangat amat karena mimpi menjadi mahasiswa yang terhalang dukungan orang tua.

“Tapi ya nggak apa-apa, waktu itu kuniatkan ya cari pengalaman lah, sambil nunggu pengumuman buat jadi mahasiswa baru (maba),” tutur Ardio. 

Masalahnya, pekerjaan yang akhirnya Ardio jalani di warung mie ayam milik saudaranya tersebut terasa sangat tidak masuk akal. Ia justru merasa dieksploitasi habis-habisan. 

Bagaimana tidak. Ardio harus merangkap banyak pekerjaans sekaligus: mulai dari meracik mie ayam, mengantarkan, membersihkan meja dan mangkuk kotor. Apalagi jika pelanggan sudah banyak 

Durasi kerjanya pun sangat panjang. Berangkat jam 7 pagi untuk persiapan buka warung, dan baru pulang di jam 12 malam. 

“Gilanya, dengan kerja sepanjang itu, dan sebanyak itu, aku sehari cuma dikasih upah Rp30 ribu sehari,” ujar Ardio dengan geleng-geleng kepala. 

Iklan

Badan remuk dan keputusan penuh perjudian

Baru beberapa hari bekerja di warung mie ayam itu, badan Ardio sudah terasa remuk. Sampai di rumah lewat tengah malam, Ardio langsung terkapar di kasur kerasnya. 

Namun, rasanya belum nyenyak tidur, ujug-ujug sudah pagi lagi. Ia pun bangun dengan kondisi mata masih sepet dan sekujur badan yang masih terasa nyeri sana-sini. Tapi ia harus tetap berangkat kerja di jam 7 pagi. 

Ardio tidak bertahan lama bekerja di warung tersebut. Meski belum ada kepastian apakah ia lolos seleksi sebagai maba penerima beasiswa KIP atau tidak, tapi ia sudah benar-benar tidak kuat. Akhirnya, belum sampai satu bulan bekerja, ia memutuskan berhenti. 

“Itu juga keputusan penuh perjudian. Karena aku belum jelas bakal lolos kuliah atau nggak,” ucap Ardio. 

“Tapi waktu itu aku juga mikir, ya walaupun nggak lolos beasiswa KIP Kuliah dan nggak bisa jadi mahasiswa, masa aku bakal kerja di warung mie ayam gila itu. Nggak lah. Cari kerjaan lain lah,” sambungnya. 

Untungnya, tidak berjarak lama dari berhenti bekerja, pengumuman mahasiswa baru penerima beasiswa KIP Kuliah memberi kabar baik bagi Arido. Ia dinyatakan lolos: kuliah tanpa biaya. Di titik itu, orang tua Ardio tidak punya alasan lagi untuk menghalang-halangi karena ia bakal kuliah tanpa meminta biaya serupiah pun dari orang tuanya. 

Hikmah: jadi orang haven’t tahan banting tanpa sponsor orang tua

Ardio sudah lulus kuliah sejak tahun 2025 lalu. Kini pun ia sudah bekerja di bidang ia sukai: teknologi digital. 

Kalau dipikir-pikir, mie ayam gila itu di satu sisi memang membiasakan tubuhnya untuk bekerja keras dan tahan banting. Sebab, setelah akhirnya resmi menjadi maba, sebagai orang haven’t tanpa sponsor orang tua, ia harus benar-benar tahan banting untuk bertahan hidup di perantauan. 

Setiap pekerjaan yang bisa menghasilkan uang tambahan, ia ambil. Kalau memang sedang tidak punya uang, ia bisa tahan lapar hingga makan hanya sekali sehari. Pokoknya wani perih kata Ardio, karena itu satu-satunya cara bagi orang haven’t sepertinya untuk bertahan hidup. 

Mentalitas dan ketahanan tersebut pada akhirnya terbawa hingga ia bekerja. Meski sudah mendapat pekerjaan dengan gaji layak, tapi Ardio tetap tahan bercapek-capek mengambil sejumlah side job. 

“Ya walaupun orang tua nggak biayai aku kuliah, tapi orang tua tetaplah orang tua. Mereka juga punya sisi baik. Jadi aku sekarang bisa ambil banyak kerjaan itu karena buat nabung dan sesekali ngasih ke orang tua buat hidup sehari-hari,” tutupnya. 

Penulis: Muchamad Aly Reza

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Tak Cukup Satu Gaji, Gen Z Rela “Side Hustle” dan Kehilangan Kehidupan demi Rasa Aman dan Puas Punya Pekerjaan Sesuai Keinginan atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan


Terakhir diperbarui pada 7 Agustus 2026 oleh

Tags: cara dapat kip kuliahkip kuliahkuliah gratismabamahasiswa baruorang havent
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Anak penjual tahu kuliah di ITB. MOJOK.CO
Sekolahan

Perjuangan Mutiara Belajar Mandiri dan Andalkan Buku Panduan dari Sang Ayah Penjual Tahu hingga Tembus ITB

27 Juli 2026
Saat mengantar anak mencari kos untuk persiapan kuliah di PTN Jogja: anak antusias jadi mahasiswa baru (maba), orang tua justru menyimpan kecemasan yang tidak hanya persoalan UKT mahal MOJOK.CO
Catatan

Saat Antar Anak Cari Kos dan Tak Sabar Jadi Maba, Ortu Tampak Antusias tapi Diam-diam Sembunyikan Cemas

8 Juli 2026
Rasyiid, mahasiswa penerima Beasiswa KIP Kuliah UMSURA yang sisihkan uang untuk modal usaha MOJOK.CO
Sekolahan

Sisihkan Uang Beasiswa KIP Kuliah buat Modal Usaha, Kuliah Sambil Topang Ekonomi Keluarga hingga bikin Ibu Bangga

2 Juni 2026
Mahasiswa dapat beasiswa KIP Kuliah bohongi orang tua demi uang saku dobel MOJOK.CO
Sekolahan

Dapat Beasiswa KIP Kuliah Jalur FOMO, Bohongi Ortu biar Dobel Uang Saku karena Gaya Hidup Tak Cukup Rp750 Ribu

20 Mei 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

10 Tahun Persahabatan Berujung Cut Off Mengajari Saya Satu Hal: Kita Bukan Jahat, tapi Memang Sudah Tak Sejalan MOJOK.CO

10 Tahun Persahabatan Berujung Cut Off Mengajari Saya Satu Hal: Kita Bukan Jahat, tapi Memang Sudah Tak Sejalan

31 Juli 2026
Kemiskinan DIY menurun. MOJOK.CO

Jumlah Orang Miskin di Yogyakarta Berkurang, Penurunannya Jadi yang Tertinggi di Jawa pada Maret 2026

6 Agustus 2026
Pengamen di Jalan Malioboro Jogja kayak orang malak MOJOK.CO

Saya Jauh Lebih Rispek ke Pengamen Lampu Merah di Jogja daripada Pengamen Malioboro karena Dua Alasan

6 Agustus 2026
Nasirun, pelukis-seniman maestro berpulang dengan meninggalkan ingatan kebaikan MOJOK.CO

Hadiah Lukisan Topeng dari Membetulkan Antena TV dan Laku Hidup Seorang Nasirun

1 Agustus 2026
Sri Sultan HB X dan Dubes Qatar siapkan kejutan program event di Yogyakarta dari kerja sama di bidang kesenian dan kebudayaan MOJOK.CO

Usai Temui Sri Sultan HB X, Dubes Qatar Siapkan Kejutan Program Event Kebudayaan di Yogyakarta

3 Agustus 2026
Elang Jawa terbang bebas di Gunung Gede Pangrango, tapi masih berada dalam ancaman MOJOK.CO

Konsultasi Publik di Bandung Hasilkan Masukan Strategis Konservasi Elang Jawa 2026-2036

3 Agustus 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.