Beberapa peserta Klaten International Cycling Festival (KLIC Fest) 2026 yang berasal dari berbagai daerah mulai tiba berangsur-angsur pada Jumat (22/5/2026) pagi. Mereka tampak puas setelah mengayuh sepeda selama berhari-hari, demi menghadiri perhelatan sepeda internasional terbesar yang pertama kali diadakan di Indonesia itu.
Gemerlap nusantara dari sepeda ontel klasik
Mada Komar (41) adalah salah satu peserta KLIC Fest 2026. Laki-laki asal Bojonegoro, Jawa Timur itu senang bukan main saat tiba di Lapangan Candi Sewu, kompleks Candi Prambanan, Klaten.
Sembari tersenyum lebar, tangannya melambai-lambai ke peserta lain dari atas sepeda ontel klasik miliknya, disusul dengan senyum peserta dari berbagai daerah.
Tak hanya kehadiran Mada yang disambut hangat, tapi keunikan dari sepedanya juga menarik hati pengunjung. Mereka ingin melihat langsung ornamen yang menghias sepedanya. Salah satu benda unik yang terpasang di bagian depan setangnya adalah tengkorak kepala sapi.
“Ini saya dapat dari teman-teman kesenian yang berasal dari Makassar,” kata Mada saat ditemui Mojok, Jumat (22/5/2026).
“Tengkorak kepala sapi ini melambangkan kekuatan dan keberanian,” lanjutnya.

Selain tengkorak kepala sapi, Mada juga memasang gitar, gamelan, kendi, dan sejumlah ornamen yang menunjukkan ciri khas daerah tertentu. Ia berujar butuh waktu selama 2 tahun untuk mengumpulkan itu semua.
“Konsepnya memang ingin menunjukkan kesenian, agar kita ingat ke alam karena alam itu jujur,” ucap Mada yang mengayuh sepedanya selama 3 hari.
Khusus pada momen KLIC Fest 2026 yang digelar pertama kali di Klaten, Mada juga ingin mengenalkan kebudayaan Indonesia ke peserta mancanegara. Selama ini, Mada berujar sering dianggap gila karena penampilan sepedanya.
Namun, lewat acara KLIC Fest 2026, Mada berhasil membuktikan bahwa sepedanya termasuk karya seni.
“Orang-orang bule waktu lihat ini senang, mereka bilang ‘it is amazing, crazy, beautiful’,” kelakar Mada mengingat respons dari onthelis internasional.
Jalin silaturahmi di KLIC Fest 2026, Klaten
Begitu pula Dede Susilo (60). Laki-laki asal Cianjur yang mengayuh sepeda jenis penny farthing itu rela mengayuh selama 7 hari demi bisa hadir di KLIC Fest 2026, Klaten. Untuk mengayuh sepeda jenis itu, kata Dede, tidaklah mudah.
“Penny farthing ini kan ban depannya besar dan ban belakangnya kecil, terus nggak ada rantai makanya bisa lebih berat. Jadi fisiknya juga harus dijaga,” jelas Dede.
Selain Dede yang mengayuh sepeda dari Cianjur ke Klaten, Asep Mukhsin (35) juga menempuh perjalanan jauh menggunakan sepeda klasiknya. Ia mengaku butuh waktu 4 hari dari Majalengka ke KLIC Fest 2026, Klaten.

Saban pagi hingga sore, Asep mengayuh bersama teman-teman komunitasnya. Menjelang malam, mereka biasanya istirahat di masjid, mushola, atau POM bensin.
Untuk mengikuti rangkaian acara KLIC Fest sejak Jumat (22/5/2026) hingga Minggu (24/5/2026), mereka menginap di tenda-tenda yang telah disediakan panitia di sekitaran Candi Prambanan.
“Kami menyewakan tenda dan tikar. Harganya Rp75 ribu untuk satu malam. Untuk fasilitas lain seperti meja, kursi, alat masak, biasanya peserta bawa sendiri,” kata Sani, pemilik sewa tenda.
Menurut Sani, penyewaan tenda ini biasanya hanya dijadikan opsi kedua bagi peserta sebab mereka lebih suka menyewa penginapan. Namun, ada saja peserta berjiwa petualang seperti Asep yang memilih tidur di tenda.
Ada pula peserta dari luar negeri yang menyewa tenda karena kehabisan penginapan.
“Kemarin ada peserta laki-laki dari Jerman yang menyewa tenda selama satu hari,” kata Sani.
Pengalaman mahal dari gowes sepeda ke Klaten

Selama gowes untuk menghadiri KLIC Fest 2026, Asep mengaku tak menemui kesulitan yang berarti karena jalanan di Klaten sudah bagus. Hanya saja, jalan yang menanjak seringkali memperlambat pacenya. Lepas dari itu, semuanya berjalan aman.
“Alhamdulillah sepeda kami nggak ada masalah selama perjalanan. Roda nggak ada yang pecah, rantai nggak putus, lancar,” ujar Asep bangga.
Meski terlihat tua dan reot, Asep berujar sepeda jenis fongers miliknya tak kalah kuat dengan sepeda modern, asal rutin dirawat. Perawatannya pun tak susah, cukup dibawa bengkel seperti sepeda pada umumnya.
“Pokoknya kalau mau gowes jauh, tinggal dicek-cek saja,” kata Asep.
Semua itu rela dilakukan Asep agar bisa bertemu onthelis lain di KLIC Fest 2026. Sebelum ini, ia pernah melakukan perjalanan terjauh ke Bali. Berkat gowes dengan sepeda tuanya, kata Asep, ia jadi bisa bertemu banyak orang dengan cara pandang yang berbeda.
“Pengalaman itulah yang mahal,” tegasnya.
KLIC Fest, Klaten jadi pengalaman baru yang tak terlupakan

Sesuai dengan kesan yang didapat Asep dan para pesepeda klasik lain, Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo berharap KLIC Fest 2026 mampu menjadi ajang silaturahmi bagi onthelis. Tak hanya peserta dari nusantara, tapi juga para delegasi International Veteran Cycle Association (IVCA).
Sebab, kata dia, ada banyak kegiatan yang bisa dilakukan seperti parade sepeda dengan kostum internasional, berkeliling ke desa-desa, belajar membatik hingga mencicipi makanan tradisional.
“Dengan sepeda kita dapat menjalin kebersamaan, dengan bersepeda juga menghilangkan pembatas di antara kita. Klaten akan selalu terbuka bagi pesepeda dari seluruh penjuru dunia,” kata Hamenang di hari penutupan KLIC Fest 2026, Minggu (24/5/2026).
Sementara itu, Vice President IVCA, Filip Pauwels mengaku senang dengan keramahtamahan yang ditunjukkan warga Klaten. Pun demikian dengan keanekaragaman budaya dan tradisinya.
KLIC Fest 2026 kali ini, kata dia, menjadi pengalaman baru yang tak akan terlupakan.
“Terima kasih masyarakat Klaten, atas sambutannya. Keramahtamahan ini menunjukkan bahwa Klaten dapat menjadi daerah tujuan saat berwisata di Indonesia,” ungkapnya.
Penulis: Aisyah Amira Wakang
Editor: Muchammad Aly Reza
BACA JUGA: Belajar Makna “Paseduluran” dari Penjual Onthel Lawas yang Sudah Tiga Dekade Hidup dari Pit Kebo atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan













