ADVERTISEMENT

Gen Z Ogah Promosi Jabatan Bukan karena Enggan Berkembang, Tapi Punya Makna Lain “Keberhasilan” dan Desain Pekerjaan Ideal

Gen Z tolak promosi atau naik jabatan di kantor-perusahaan bukan karena tidak ingin berkembang. Tapi punya makna lain "keberhasilan" melalui work-life balance MOJOK.CO

Kecenderungan Gen Z menolak promosi jabatan di kantor-perusahaan bukan berarti menandakan mereka enggan berkembang. Namun karena Gen Z memiliki definisi lain soal keberhasilan. 

***

Menerima promosi jabatan merupakan tanda bahwa seseorang telah berkembang dan dianggap memiliki kompetensi potensial di kantor-perusahaan. Selain itu, naiknya jabatan, sering kali juga diasosiasikan dengan kenaikan finansial (karena gaji ikut naik). 

Dengan kata lain, promosi jabatan adalah simbol keberhasilan. Begitulah pandangan umum yang mengakar di dunia kerja selama ini. 

Akan tetapi, bagi Gen Z, keberhasilan tidak melulu diukur dari tingginya jabatan yang diemban di kantor. Cara pandang itulah yang kemudian membuat banyak Gen Z cenderung enggan menerima promosi jabatan. 

Gen Z tolak promosi jabatan bukan karena tidak ingin berkembang

Menyoroti fenomena tersebut, Dosen Ilmu Keluarga dan Konsumen IPB University, Rahmi Damayanti, menyebut bahwa keengganan Gen Z terhadap kenaikan posisi lantaran harus dibayar dengan berkurangnya waktu untuk keluarga, kehidupan pribadi, kesehatan, dan pengembangan diri alias work-life balance. 

Rahmi menegaskan, keputusan tersebut tidak serta-merta menunjukkan bahwa Gen Z tidak ambisius atau tidak ingin berkembang. 

“Yang terjadi sebenarnya adalah adanya pergeseran orientasi mengenai makna keberhasilan dalam bekerja,” kata Rahmi. 

“Bagi sebagian Gen Z, keberhasilan tidak lagi semata-mata diukur dari kenaikan jabatan, besarnya tanggung jawab, atau posisi struktural, tetapi juga dari kemampuan memperoleh keseimbangan antara pekerjaan, keluarga, kehidupan pribadi, kesehatan, dan pengembangan diri,” ujar Rahmi dalam paparan tertulisnya di IPB University. 

Tak ingin tuntutan pekerjaan membuat waktu-energi untuk diri sendiri dan keluarga terbuang

Lebih lanjut Rahmi menjelaskan, dalam perspektif ilmu keluarga pekerjaan merupakan salah satu bagian penting dalam kehidupan individu dan keluarga. Sehingga, ketika tuntutan pekerjaan semakin besar sementara waktu dan energi untuk keluarga maupun kehidupan personal semakin berkurang, seseorang dapat mempertimbangkan kembali pilihan kariernya.

“Karena itu, menurut saya, keputusan menolak promosi dapat menjadi bentuk prioritas terhadap kualitas hidup, bukan semata-mata menunjukkan keengganan untuk menerima tanggung jawab atau berkembang dalam karier,” beber Rahmi. 

Terlebih, Gen Z memasuki dunia kerja dalam konteks perubahan besar: digitalisasi, tuntutan kerja yang semakin cepat, fleksibilitas kerja, serta meningkatnya kesadaran mengenai pentingnya kesehatan dan kesejahteraan. Dalam segala tuntutan dan tekanan tersebut, tidak pelak jika work-life balance menjadi pilihan yang diambil ketimbang menduduki jabatan struktural tertentu di kantor-perusahaan. 

Family-Friendly Workplace: desain pekerjaan “idaman” Gen Z

Sebenarnya masih banyak Gen Z yang tetap memiliki aspirasi untuk memimpin. Hanya saja mereka menginginkan model kepemimpinan yang lebih fleksibel, manusiawi, dan kolaboratif tanpa harus mengorbankan kehidupan pribadi atau keluarga.

Oleh karena itu, menurut Rahmi, tantangan kantor-perusahaan bukan semata-mata membuat Gen Z mau menerima promosi jabatan, tetapi bagaimana organisasi dapat mendesain pekerjaan dan posisi kepemimpinan yang lebih sehat dan berkelanjutan. 

Salah satunya melalui penerapan pekerjaan ramah keluarga (family-friendly workplace), yaitu sistem, kebijakan, dan lingkungan kerja yang mendukung seseorang tetap produktif dan berkembang dalam karier, sekaligus tetap dapat menjalankan fungsi dan tanggung jawab keluarganya. 

“Hal tersebut dapat diwujudkan melalui fleksibilitas kerja, pengelolaan beban kerja yang sehat, dukungan terhadap kebutuhan keluarga, cuti, dan waktu kerja yang lebih adaptif, serta budaya organisasi yang tidak menjadikan bekerja berlebihan sebagai ukuran loyalitas,” jelas Rahmi.

Pekerjaan ramah keluarga bukan berarti mengurangi produktivitas

Jangan salah paham dengan konsep pekerjaan ramah keluarga. 

Gagasan tersebut sebenarnya telah lama diinisiasi dan terus diadvokasikan oleh Guru Besar IPB University di bidang Ketahanan dan Pemberdayaan Keluarga, Euis Sunarti. Ia menempatkan keluarga sebagai bagian penting yang perlu diperhatikan dalam kebijakan dan praktik dunia kerja.

Pentingnya pendekatan tersebut juga diperkuat oleh hasil penelitian Rahmi bersama Euis Sunarti dan Istiqlaliyah Muflikhati mengenai family-friendly policies

Penelitian itu menunjukkan bahwa dukungan kebijakan ramah keluarga berperan dalam meningkatkan keseimbangan kerja-keluarga, keberfungsian keluarga, dan kesejahteraan subjektif keluarga, tapi tidak tidak mengganggu produktivitas kerja. 

“Pekerjaan ramah keluarga bukan berarti mengurangi produktivitas atau tuntutan profesional. Justru, pendekatan ini mendorong terciptanya sistem kerja yang memungkinkan seseorang tetap produktif dan berkembang dalam karier tanpa harus mengabaikan fungsi dan tanggung jawabnya dalam keluarga,” tegas Rahmi.

Wanti-wanti untuk Gen Z: work-life balance harus dimaknai secara tepat

Dengan begitu, menurut Rahmi, dunia kerja saat ini juga perlu menyediakan jalur karier yang beragam. Tidak hanya jalur manajerial, tetapi juga jalur keahlian profesional atau individual contributor. Regenerasi kepemimpinan dapat dipersiapkan melalui mentoring, coaching, pengembangan kompetensi, dan pengalaman memimpin secara bertahap.

“Solusi krisis kepemimpinan bukan dengan menyalahkan Gen Z karena tidak mau naik jabatan, tetapi dengan membangun sistem kerja yang membuat kepemimpinan tetap kompatibel dengan kehidupan keluarga dan kualitas hidup,” paparnya.

Menurut Rahmi, fenomena Gen Z menolak promosi jabatan juga dapat menjadi momentum bagi dunia kerja untuk mendefinisikan kembali “keberhasilan” secara lebih multidimensional. Yakni bagaimana karier tetap penting, tetapi keluarga, kesehatan, kehidupan sosial, waktu personal, dan kesejahteraan juga merupakan bagian dari kualitas hidup yang harus diperhatikan. 

“Bagi Gen Z, work-life balance juga perlu dimaknai secara tepat. Keseimbangan bukan berarti mengurangi tanggung jawab atau membatasi pengembangan diri, tetapi mampu mengelola pekerjaan dan kehidupan secara sehat, tetap bertanggung jawab, dan terus bertumbuh,” tekan Rahmi. 

“Yang perlu kita bangun bukan generasi muda yang ‘dipaksa mengejar jabatan’, tetapi generasi muda yang memiliki kapasitas dan kemauan untuk memimpin karena mereka melihat kepemimpinan sebagai sesuatu yang bermakna, bukan sebagai pengorbanan terhadap kehidupan mereka,” pungkasnya.

Sumber: IPB University

BACA JUGA: Gen Z Suka Jajan buat Self-Reward, Memang Redakan Stres tapi Harus Sadar Ancaman Finansial Masa Depan atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

 

Terakhir diperbarui pada 18 September 2026 oleh .

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.