Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Edumojok

Rela Melepas Upah 75 Juta di Prancis demi Pulang ke Tanah Air, Kini Menikamti Hidup Sebagai Pengajar Bergaji Pas-pasan

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
10 Maret 2026
A A
Rela Melepas Upah 75 Juta di Prancis demi Pulang ke Tanah Air, Kini Menikamti Hidup Sebagai Pengajar Bergaji Pas-pasan.MOJOK.CO

Rela Melepas Upah 75 Juta di Prancis demi Pulang ke Tanah Air, Kini Menikamti Hidup Sebagai Pengajar Bergaji Pas-pasan (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Pernahkah kamu membayangkan berada di posisi ini: mendapat tawaran pekerjaan di luar negeri dengan gaji puluhan juta rupiah, fasilitas lengkap, dan karier cemerlang di depan mata. 

Apakah kamu akan menerimanya, atau justru memilih pulang ke kampung halaman yang gajinya jauh lebih kecil? Bagi kebanyakan orang, jawabannya mungkin sudah jelas. Namun, tidak bagi Prof. Dr. Tran Thi Thanh Van.

Pada awal tahun 2025, nama Tran Thi Thanh Van ramai diperbincangkan. Ia baru saja dinobatkan sebagai profesor perempuan termuda di Vietnam untuk bidang Fisika. Di balik gelar mentereng tersebut, terselip sebuah kisah pilihan hidup yang berani. 

Ia rela meninggalkan tawaran menggiurkan di Prancis dan memilih kembali mengabdi di negaranya sendiri.

Tak pernah membayangkan jadi profesor

Kisah ini bermula dari sebuah desa di Provinsi Binh Dinh. Van tumbuh sebagai gadis desa biasa yang punya rasa ingin tahu besar terhadap dunia di sekitarnya. 

perempuan karier menolak gaji tinggi.MOJOK.CO
Potret Van, profesor perempuan yang menolak gaji tinggi di Prancis demi mengabdi ke negara asal, Vietnam. (dok. Vietnam.vn)

Ketertarikannya pada ilmu fisika tidak lahir dari rumus-rumus rumit di papan tulis, tetapi dari fenomena alam sehari-hari yang ia temui. 

Misalnya, ia mengaku takjub melihat bagaimana pelangi bisa terbentuk setelah hujan atau bagaimana cahaya bisa membiaskan bayangan di dalam air.

perempuan karier menolak gaji tinggi.MOJOK.CO
Van mengaku, cita-citanya sangat sederhana: ia hanya ingin lulus kuliah dan menjadi guru fisika biasa di sekolah menengah. Bukan pekerja di luar negeri dengan gaji besar. (dok. Vietnam.vn)

Berangkat dari rasa penasaran itulah, ia mulai menekuni fisika. Menariknya, saat itu Van remaja sama sekali tidak punya ambisi besar untuk menjadi seorang profesor atau ilmuwan kelas dunia. 

“Cita-cita saya sangat sederhana. Saya hanya ingin lulus kuliah dan menjadi guru fisika biasa di sekolah menengah,” akunya sebagaimana Mojok kutip dari laman Vietnam.vn, Selasa (10/3/2026).

Tolak gaji besar di Prancis

Namun, jalan hidup membawanya terbang jauh hingga ke Prancis untuk menempuh pendidikan doktor (S3). Begitu masa studinya selesai, sebuah tawaran emas datang menghampiri. 

Ia ditawari pekerjaan sebagai peneliti di Prancis dengan bayaran sekitar 2.500 Euro per bulan (sekitar 75 juta Dong atau Rp42 juta). Angka ini tentu sangat besar, apalagi selama masa studi ia hanya hidup dari uang beasiswa sebesar 700 Euro.

Ada satu momen yang sangat membekas di ingatan Van, yakni percakapan terakhirnya dengan sang dosen pembimbing di Prancis. Dosen tersebut bertanya dengan nada realistis, “Berapa mereka akan membayarmu jika kamu pulang ke Vietnam?”

Mendengar pertanyaan itu, Van terdiam. Ia merasa sedikit malu untuk mengakui fakta yang sebenarnya. Saat itu, gaji di kampusnya di Vietnam bahkan tidak sampai 5 juta Dong sebulan. Agar tidak terdengar terlalu miris, Van akhirnya “membulatkan” angka tersebut saat menjawab.

“Saya mengatakan gaji saya di Vietnam sekitar 6 juta Dong,” ungkapnya.

Iklan

Sang pembimbing terkejut. Beliau meminta Van memikirkan ulang keputusannya karena selisih antara 2.500 Euro (75 juta Dong) dan 200 Euro (6 juta Dong) sangatlah jomplang, lebih dari 10 kali lipat. Meski begitu, tekad Van sudah bulat. Baginya, selesai menimba ilmu berarti sudah waktunya untuk pulang ke rumah.

Pulang kampung, rela jadi pengajar dengan gaji 10 kali lebih sedikit

Tentu saja, realita pulang kampung tidak selamanya manis. Pada masa-masa awal kembali ke Vietnam, Van harus berhadapan dengan kenyataan hidup yang cukup berat. 

Selain gaji yang pas-pasan, kondisi kesehatannya saat itu juga sedang kurang baik. Semuanya terasa menumpuk dan menjadi beban pikiran.

Beruntung, ia berada di lingkungan yang tepat. Guru-guru senior dan rekan sejawatnya di kampus memberikan dukungan penuh hingga ia berhasil melewati masa-masa krisis tersebut.

Selain lingkungan kerja, peran keluarga juga menjadi kunci utama. Suami Van, yang bekerja di bidang berbeda, sangat memahami ritme kerja istrinya. 

perempuan karier bergaji rendah.MOJOK.CO
Ketika pulang ke Vietnam, situasi Van serba sulit. Selain gaji yang pas-pasan, kondisi kesehatannya saat itu juga sedang buruk. (dok. Vietnam.vn)

Sang suami tidak segan untuk mengambil alih urusan rumah tangga dan mengasuh dua anak mereka ketika Van harus lembur, rapat, atau pergi dinas ke luar negeri. Kerjasama inilah yang membuat Van bisa tetap fokus pada penelitiannya tanpa harus mengorbankan kehangatan keluarga.

Seimbangkan peran sebagai pengajar sekaligus ibu

Di kampus, ia adalah seorang profesor fisika yang disegani. Namun, di rumah, ia adalah seorang ibu biasa yang juga menghadapi berbagai tantangan pengasuhan. Suatu hari, anaknya pernah melancarkan protes ringan kepadanya. “Ibu jadi profesor malah bikin aku tertekan. Ibu terlalu ketat!” keluh sang anak. 

Rupanya, anak-anaknya hanya ingin Van menjadi sosok ibu pada umumnya, tanpa embel-embel gelar akademis yang seolah menuntut kesempurnaan.

perempuan karier gaji rendah di Vietnam.MOJOK.CO
Potret Van, perempuan yang menolak gaji besar di Prancis, saat menerima penghargaan dari pemerintah Vietnam. Baginya, menyeimbangkan peran sebagai ilmuwan dan ibu memang butuh seni tersendiri. Rahasianya: berdamai dengan keadaan dan mencari kebahagiaan-kebahagiaan kecil di tengah rutinitas harian untuk melepas penat. (dok. Vietnam.vn)

Protes jujur itu justru menjadi teguran positif bagi Van. Ia menyadari bahwa anak-anaknya butuh ruang untuk tumbuh secara alami. 

Sejak saat itu, gaya asuhnya menjadi jauh lebih santai. Ia tidak pernah menuntut anak-anaknya untuk selalu mendapat nilai sempurna atau memaksa mereka mengikuti berbagai macam les tambahan. 

Bagi Van, menyeimbangkan peran sebagai ilmuwan dan ibu memang butuh seni tersendiri. Rahasianya: berdamai dengan keadaan dan mencari kebahagiaan-kebahagiaan kecil di tengah rutinitas harian untuk melepas penat.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

Sumber: Vietnam.vn

BACA JUGA: Curhatan Alumni LPDP yang Merasa “Downgrade” Ketika Balik ke Indonesia, Susah Cari Kerja Hingga Banting Setir demi Bertahan Hidup atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 10 Maret 2026 oleh

Tags: gaji besargaji dosengaji gurugaji pengajargaji profesorkerja di luar negerimengabdi di dalam negerimenolak gaji besarperempuan karierprofesor perempuan
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

Guru CLC di Malaysia sejahtera daripada guru kontrak. MOJOK.CO
Edumojok

WNA Pilih Jadi Guru di Luar Negeri dengan Gaji 2 Digit daripada Kontrak di Indonesia dan Mengabdi untuk Anak Pekerja Migran di Sana

21 April 2026
Gen Z kerja di desa untuk merawat ibu. MOJOK.CO
Urban

Tinggalkan Pekerjaan Gaji Puluhan Juta demi Merawat Ibu di Desa, Dihina Tetangga tapi Tetap Bahagia

10 April 2026
Ironi WNI Kerja di Arab Saudi: Melihat Teman Senasib yang “Pekok” Nggak Mau Pulang ke Tanah Air dan Nekat Melanggar Visa MOJOK.CO
Sehari-hari

Ironi WNI Kerja di Arab Saudi: Melihat Teman Senasib yang “Pekok” Nggak Mau Pulang ke Tanah Air dan Nekat Melanggar Visa

9 April 2026
Pilih resign dan kerja jadi penulis di desa ketimbang kerja di luar negeri di Singapura
Urban

Resign dari Perusahaan Bergaji 3 Digit di Luar Negeri karena Tak Merasa Puas, Kini Memilih Kerja “Sesuai Passion” di Kampung Halaman

2 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Mahasiswa UNJ lulus setelah gagal seleksi PTN jalur SNBT

Penyandang Disabilitas Gagal Diterima PTN Jalur SNBT, Kini Lulus Sarjana Pendidikan di UNJ Berkat “Antar Jemput” Ayah

19 April 2026
Gaji Jakarta 12 Juta Bikin Gila, 3 Juta di Magelang Hidup Waras MOJOK.CO

Daripada Menyiksa Diri Hidup di Jakarta dengan Gaji 12 Juta Sampai Setengah Gila, Pindah ke Magelang dan Hidup Waras Cukup dengan Gaji 3 Juta

16 April 2026
Derita perempuan di grup WA mahasiswa FH UI. Isinya kekerasan seksual. MOJOK.CO

Nasib Perempuan di Tongkrongan dan Grup WA yang Isinya Laki-laki Mesum: Jelek Dihina, Cantik Dilecehkan

15 April 2026
Mahasiswa S2 PAUD UNJ, WNA Malaysia

WNA Malaysia Pilih Lanjut S2 di UNJ, Penasaran Ingin Kuliah di PTN karena Dosen Indonesia yang “Unik”

21 April 2026
Atlet pencak silat Unair, Faryska Ozi Faradika. MOJOK.CO

UKM Pencak Silat Unair Selamatkan Mimpi Atlet PSHT, Gelanggang Pertandingan Lebih “Menyeramkan” daripada Ruang Kelas Kuliah

20 April 2026
Derita orang Jember kerja di Jakarta: teralienasi karena dianggap tertinggal MOJOK.CO

Orang Jember Kerja di Jakarta: Mencoba Berbaur tapi “Tersisihkan”, Dianggap Tertinggal dan Tak Tersentuh Pendidikan

16 April 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.