Gara-gara pilih menjadi tukang cukur rambut rumahan dan barbershop sekaligus saat teman sebaya kerja di luar negeri langsung diicap pemalas oleh tetangga. Tapi setelah buktikan hidup berkecukupan malam dicurigai.
***
Di antara tidak banyak pilihan pekerjaan sebagai lulusan SMA dan dari kabupaten kecil, Zari (28) memutuskan menjadi tukang cukur rambut. Saya menemuinya di sebuah barbershop di Jombang selatan, Jawa Timur, pada Jumat (17/7/2026) siang.
Zari mengaku berasal dari sebuah desa di Kediri (yang berbatasan langsung dengan Jombang selatan). Hanya saja, dari pagi-sore, ia menghabiskan waktunya menjadi tempat cukur milik temannya di Jombang.
“Terus sorenya saya buka tempat cukur sendiri di rumah. Saya punya juga tempat cukur di rumah Kediri,” ujar Zari.
“Loh, berarti dobel, dong? Kok nggak yang di rumah itu dibuka dari pagi aja, Cak?” tanya saya.
“Nah, begini ceritanya…,” balas Zari.
Jadi tukang cukur dobel untuk cari alasan keluar rumah, muak dengan cap pemalas
Zari sebenarnya sudah lebih dulu membuka tempat cukur rambut di rumahnya di sebuah desa di Kediri. Jam bukanya bahkan bisa lhos: dari pagi sampai tengah malam.
Hanya memang, karena di desa, sirkulasi pelanggan yang datang ke tempat cukur rumahan miliknya tidak sebanter barbershop di pusat kecamatan. Alhasil, sering kali pekerjaan Zari tersebut telihat santai-santai saja.
“Ya cukup-cukup saja kok, Mas, hasilnya. Toh saya juga sambil jualan online alat-alat cukur, terus kayak perkakas tangan (hand tools) lain juga jual,” ungkap Zari.
Tentu aktivitas Zari di dalam rumah tidak banyak yang tahu. Yang orang lihat, tempat cukur rumahan Zari tersebut lebih sering slow-nya ketimbang rapetnya.
Tapi jahatnya mulut tetangga dan saudara, Zari mengaku justru mendapat cap sebagai pemalas. Karena pekerjaannya terlihat begitu-begitu saja. Alhasil, Zari mencoba mencari-cari alasan untuk keluar rumah.
“Akhirnya ya sudah kalau pagi sampai sore di barbershop teman di sini (Jombang), sore sampai malam buka di rumah. Niatnya ya biar orang-orang lihat, aku beneran kerja. Kalau ditanya, pagi-sore kerja di mana? Saya jawab saja, kerja di Jombang, di tempat teman,” beber Zari.
Gara-gara banyak pemuda Kediri kerja di luar negeri, jadi “tukang cukur internasional”
Tekanan semacam itu harus pemuda seperti Zari hadapi karena fakta bahwa banyak pemuda asal desanya yang kerja di luar negeri.
Kata Zari, kebanyakan anak-anak lulusan SMA/SMK/sederajat langsung mengincar bursa kerja di luar negeri: mendaftar LPK, lantas berangkat ke negara-negara nun jauh di sana, Eropa maupun Timur Tengah.
Mojok pernah memuat cerita seorang pemuda Kediri yang menjadi tukang cukur di Selandia Baru dalam tulisan berjudul, “Pemuda Kediri Nekat ke Selandia Baru sebagai Tukang Cukur usai Putus Cinta dan Ditolak Ratusan Lamaran Kerja“.
Selain itu, saya juga beberapa kali berbincang dengan anak-anak muda lulusan SMA/SMK/sederajat dari Kediri maupun Jombang, yang tengah mempersiapkan diri berangkat kerja ke luar negeri. Rata-rata di bidang housekeeping hingga jadi tukang cukur rambut pun ada. Dari menjadi tukang cukur rambut di sana, tentu pemasukan lebih dari yang bisa didapat dari tukang cukur di kabupaten kecil seperti Kediri.
“Ada omongan gini, Mas, kalau memang niat, nggak malas, bisa loh dari dulu daftar LPK, jadi tukang cukur di luar negeri, pasti sekarang punya uang banyak,” kata Zari.
Giliran berkecukupan malah dicurigai
Sejauh ini, dengan kerja dobel sebagai tukang cukur (di barbershop di Jombang dan rumahan di Kediri) serta jualan online, Zari mengaku sebenarnya kondisi ekonominya baik-baik saja. Pokoknya berkecukupan.
Dua tahun lalu Zari bisa menggelar pernikahan dengan biaya agak besar. Satu tahun lalu ia baru, sang istri lahiran di rumah sakit melalui metode operasi caesar juga dengan biaya tidak sedikit. Semua itu ia handle tanpa hutang. Murni mengandalkan uang yang ia kumpulkan.
Kebutuhan barang-barang besar di rumah tangga satu persatu juga bisa terbeli. Kulkas lah, mesin cuci lah, bahkan motor pun juga terbeli meskipun bekas.
“Apakah orang-orang kemudian berhenti menganggapku pemalas? Jelas tidak, Mas, hahaha, masih tetep saja, pekerjaanku dianggap gitu-gitu aja, diremehkan lah,” kata Zari.
Parahnya, Zari malah dicurigai tetangga dan sejumlah saudara jauh kalau uang yang ia miliki diperoleh dari cara-cara tidak halal. Salah satunya melalui metode pesugihan.
“Aku cuma bisa geleng-geleng kepala wis karena sudah sejauh itu,” lanjutnya.
Masih tidak tertarik kerja di luar negeri, memang mau cari apa sih?
Rezeki tidak akan tertukar. Zari memegang betul prinsip tersebut. Maklum, ia dulu pernah tiga tahun nyantri (semasa SMP). Ikatannya terhadap unsur spiritual sedikit/banyak masih melekat.
Itulah kenapa, hingga saat ini ia masih tidak tergiur untuk kerja di luar negeri. Walaupun beberapa temannya sudah membuktikan hasilnya: kerja di luar negeri membuat keuangan lebih lancar.
“Tapi sambatan mereka itu sama, Mas, mesti bilang kangen rumah, kangen suasana Kediri, begitu-begitu lah. Jadi kalau yang di sana saja tetep nyari kenyamanan dan suasana rumah, terus aku yang ada di rumah mau cari apa di sana,” ungkap Zari.
Satu-satunya rencana Zari meninggalkan desanya di Kediri itu hanyalah berpindah agar tidak berada di lingkungan toksik tetangganya.
“Kebetulan orang tua saya punya tanah di Jombang selatan sini, Mas. Itu kan dikasihkan ke saya, niatnya mau dijadikan rumah. Jadi saya pindah ke Jombang,” kata Zari.
Seturut pengalaman Zari bersinggungan dengan teman-temannya di Jombang, Jombang itu cenderung tidak ikut campur urusan orang lain. Tetap guyub dan terhubung dengan tetangga, tapi tidak lantas membuat satu sama lain saling menyatroni.
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Pemuda Desa 19 Tahun Nekat Kerja di Hotel Dubai: Jaminan Gaji 2 Digit usai Nyerah dengan Rupiah dan 19 Juta Lapangan Kerja atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














