Kerja sebagai housekeeping di hotel Dubai, Uni Emirat Arab, menjadi pilihan seorang pemuda desa berusia 19 tahun untuk mengejar peruntungan karena menawarkan gaji hingga 2 digit. Sebab, tidak banyak harapan yang bisa ia semai jika terus-menerus mengandalkan rupiah, terutama di situasi ekonomi dan politik seperti saat ini. Juga keputusasaan terhadap janji 19 juta lapangan pekerjaan.
***
Setengah jam sebelum keberangkatan KA Sri Tanjung dari Stasiun Jombang dengan tujuan akhir Stasiun Lempuyangan, Jogja, seorang pemuda berusia 19 tahun dengan santun bertanya saya perihal beberapa hal.
Sore itu, Minggu (17/5/2026) adalah kali pertama ia naik kereta api ke Jogja. Ia hendak mengurus sejumlah berkas di kantor Balai Pelayanan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI) Jogja.
“Inysaallah bulan depan saya berangkat kerja di Dubai, Mas, jadi housekeeping hotel,” ujarnya santun. Panggil saja namanya Riki, seorang pemuda asal sebuah desa di Jombang, Jawa Timur.
Lulusan SMK tak punya gambaran kerja di Indonesia
Riki adalah lulusan SMK. Jurusannya otomotif. Tapi sejak sebelum lulus, ia sudah merenung, rasa-rasanya susah mencari kesejahteraan hidup jika bekerja di Indonesia.
Bayangan paling mentok bagi lulusan SMK jurusan otomotif, apalagi di kabupaten kecil seperti Jombang, adalah bekerja di bengkel atau dealer motor.
“Akhirnya ke-trigger saudara yang sudah lebih dulu kerja di luar negeri, ada saudara yang jadi housekeeping di kapal pesiar,” tutur Riki.
Lebih-lebih, ada satu teman desanya yang sudah lebih dulu kerja di luar negeri: menjadi housekeeping di sebuah hotel internasional di Dubai.
Jika mendengar cerita dari si teman, yang kemudian terbayang di kepala Riki adalah kesejahteraan. Itu lah kenapa, sejak lulus SMK, ia lantas langsung mengikuti pendidikan di sebuah LPK di Tulungagung, Jawa Timur, yang dikenal menyalurkan anak-anak muda Indonesia untuk bekerja di negara-negara Timur Tengah.
“Pas aku mengutarakan niatku kerja di Dubai ke orang tua, mereka nggak masalah. Ya gimana, Mas, memang kondisinya menuntut punya pemasukan besar,” kata Riki.
Riki anak ketiga dari empat bersaudara. Dua kakaknya sudah berumah tangga. Ia masih punya satu adik yang baru akan masuk SMP. Sementara keuangan orang tua, di tengah kondisi ekonomi seperti sekarang, tidak bisa jadi sandaran utama untuk hidup. Oleh karena itu, kerja ke dubai menjadi pilihan nekat yang Riki ambil. “Namanya juga butuh, Mas,” ucapnya dengan senyum getir, sebelum kemudian menenggak sekaleng kopi yang ia beli dari minimarket stasiun.
Gigih berjuang di LPK demi kerja di Dubai karena menyerah dengan rupiah
Sebelum di tahap sekarang (beberapa tahap lagi menuju keberangkatan), Riki sebenarnya sudah melewati beberapa kegagalan.
Riki sebenarnya merasa tidak mengalami kendala serius ketika mengikuti pendidikan di LPK. Mulai dari pendidikan keterampilan kerja di sektor housekeeping, bahasa asing, hingga pemahaman budaya dan etika kerja.
Namun, beberapa kali langkahnya tersandung di tahap interview. Baru dua bulan lalu lah ia berhasil lolos interview dan dipastikan bisa berangkat kerja di Dubai.
“Untungnya kalau LPK ke Dubai ini, Mas, gagal interview, bisa langsung ikut lagi di tahun yang sama. Kalau untuk ke Jepang, menurut pengalaman beberapa temanku, gagal tahun ini artinya ya harus ngulang di tahun berikutnya,” jelas Riki.
Berkali-kali gagal interview tidak sedikit pun membuat Riki berpikir untuk menyerah dan berhenti mengejar target kerja di Dubai: lalu bekerja sekadarnya di Indonesia sendiri.
Pasalnya, ia jauh lebih menyerah dengan nilai rupiah. Tidak hanya berkaitan dengan kabar melemahnya kurs rupiah belakangan ini, dalam kondisi normal pun rupiah rasanya tidak begitu berharga.
Bagaimana tidak. Misalnya begini: jika Riki bekerja di Jombang, gajinya paling-paling di bawah Rp3 jutaan. Sementara, kita hidup di era ketika uang Rp1 juta rasanya tidak jauh berbeda dengan uang Rp100 ribu: cepat ludes untuk harga-harga kebutuhan pokok yang meningkat.
Riki pesimis bisa membantu ekonomi orang tua dan sekolah adiknya jika ia bekerja dengan gaji rupiah. Oleh karena ia hendak mengejar mata uang dirham.
Kerja di Dubai untuk gaji 2 digit dan membuka jalan cuan lebih besar di kapal pesiar
Riki memang baru akan berangkat. Tapi ia sudah tahu potensi gaji yang bakal ia terima selama kerja sebagai housekeeping hotel di dubai nanti. Jelas lebih besar jauh dari gaji-gaji lulusan SMK di Indonesia.
Riki dan beberapa temannya yang akan berangkat bakal disodori kontrak selama dua tahun. Di tiga bulan pertama, gajinya berkisar di angka Rp6 juta-Rp7 jutaan. Namun, setelahnya, gajinya bisa meningkat hingga Rp12 jutaan perbulan. Belum jika ada tips atau bonus tambahan.
“Itu sudah utuh hitungannya, Mas. Karena ada fasilitas tempat tinggal (mess), makan, nggak ada potongan administrasi juga,” beber Riki.
“Cuma memang untuk tiket pesawat pulang, pakai uang sendiri,” sambungnya.
Untuk saat ini, Riki mengaku menjadikan kerja di Dubai sebagai ruang untuk mempertebal pengalaman kerjanya. Ia masih punya bayangan kerja di kapal pesiar sebagaimana saudaranya.
Pasalnya, jika mendengar cerita dari saudaranya, gaji menjadi housekeeping di kapal pesiar jauh lebih menggiurkan. Bisa di angka Rp20 jutaan ke atas perbulan. Tentu sangat memungkinkan bagi Riki untuk membuat keluarganya hidup sejahtera, meskipun itu artinya ia harus terpaut jarak begitu jauh dan sangat jarang pulang.
“Kalau harga yang harus dibayar seperti itu, saya siap, Mas. Mumpung masih muda juga,” ucap Riki.
Celah cuan di negara orang di saat putus asa dengan janji 19 juta lapangan pekerjaan
Riki mengaku sempat mengikuti pelatihan keterampilan kerja sebagai barber. Beberapa waktu lalu, melalui sambungan telepon, temannya yang sudah lebih dulu kerja di Dubai memberi tahu bahwa cukur rambut menjadi celah cuan yang potensial di Dubai.
Oleh karena itu, Riki sudah kepikiran, rasa-rasanya jika sudah kerja di Dubai nanti, ia tidak hanya akan mengandalkan gaji dari menjadi housekeeping hotel. Jika ada celah cuan lain, terutama di bidang yang ia kuasai, akan coba ia jalani.
“Kalau cukur rambut kan aku ada basic-nya, jadi ya bisa lah kalau ada celah cari tambahan dari situ,” selorohnya.
Obrolan kami terpotong saat pengeras suara stasiun mengumumkan kedatangan KA Sri Tanjung. Kami terpisah gerbong. Tapi sebelum berpisah, Riki menyampaikan terima kasih karena rokok yang saya tawarkan sekaligus mohon doa agar jalannya mengejar rezeki untuk kesejahteraan keluarga dimudahkan oleh Tuhan.
“Karena memang harus begini (merantau ke luar negeri), Mas. Aku dan mungkin banyak anak muda di Indonesia nggak bisa kalau mengandalkan janji 19 juta lapangan pekerjaan itu,” tutupnya di peron, sebelum kami naik ke gerbong masing-masing.
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Merelakan Gaji Besar dari Perusahaan di Dubai daripada Mental Rusak karena Tekanan Hidup dan Pilih Slow Living di Gunungkidul atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














