Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Sosok

Sisi Gelap Kerja di Australia Tak Seindah Konten Medsos, Sadar bahwa Bahagia Tak Melulu soal Gaji Ratusan Juta

Aisyah Amira Wakang oleh Aisyah Amira Wakang
2 Mei 2026
A A
5 tahun pakai WHV di Australia, kena mental. MOJOK.CO

ilustrasi - 5 tahun pakai WHV di Aussie, akhirnya pulang karena telepon dari ibu. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Merasa tak punya bakat menjadi guru usai menyelesaikan kuliahnya, Firli Khoirul (28) memutuskan kerja serabutan di Australia. Setelah pontang-panting mencari kerja selama 3 tahun pakai Working Holiday Visa (WHV), Firli mengaku kena mental dan akhirnya pulang karena “pengakuan” dari ibu lewat telepon.

Kena PHK setelah 2 hari kerja

Firli menginjakkan kakinya di Australia tahun 2023 setelah memenuhi syarat WHV. Ia pun langsung mendapat kerja di sebuah perkebunan apel. Sebetulnya, pekerjaan Firli sederhana tapi baru 2 hari bekerja, ia dan teman-temannya kena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK).

“Kami nggak memenuhi target kerja dan dinilai lelet. Untungnya, kami mendapatkan pekerjaan baru seminggu setelahnya,” kata Firli yang berjuang memperoleh WHV dari Mei 2023. 

Tugas Firli di pekerjaan barunya tak jauh berbeda. Ia harus memisahkan buah yang bergerombol sampai tersisa 2-3 buah supaya pohon tersebut tumbuh dengan maksimal. Satu bulan berselang, Firli tuntas melaksanakan pekerjaan tersebut seiring dengan sesi penjarangan buah apel yang sudah selesai. 

Ia pun harus bergegas mencari pekerjaan lain. Untungnya, Firli tak perlu lama menganggur karena ia mendapat tawaran kerja sebagai pack runner di salah satu perusahaan tomat dan timun pada akhir Januari 2024. Tugasnya pun cukup mudah, yakni mengangkat dan memindahkan box yang sudah dikemas oleh packer. 

Namun, kegusaran Firli tak berhenti sampai di situ. Setelah musim panas berakhir, Firli berujar akan lebih sulit mencari pekerjaan terutama di sektor perkebunan, karena tak banyak tanaman yang tumbuh maksimal pada musim dingin.

“Alhasil, jam kerjaku cuma 3-4 hari dalam seminggu. Tentu saja itu juga memengaruhi penghasilanku setiap minggu,” kata Firli. 

Pontang-panting cari kerja di Australia

Lagi-lagi, Firli tertolong oleh temannya yang baru saja dapat kerja di peternakan ayam. Temannya itu merekomendasikan Firli ke atasannya karena memiliki lisensi mengemudi. Dari sana, Firli turut belajar beternak hingga mendapat pekerjaan di tempat lain.

“Tugasku ambilin telur setiap hari dari ujung ke ujung shed dari pagi hingga menjelang sore,” ucapnya. 

Jujur saja, pekerjaan itu terasa membosankan dan monoton. Hingga akhirnya, Firli resign dan melanjutkan kerja sebagai pemerah susu di tempat lain. Kali ini, jabatannya tak main-main. Ia mendapat amanah sebagai tim leader, tapi baru 5 bulan berselang, Firli menyerah. 

“Kerjaku memang 7 hari dalam 2 minggu di Australia, tapi aku merasa mentalku udah nggak sehat. Berat badanku turun kurang lebih 7 kilogram, wajahku berubah seperti tidak ada energi untuk menjalani hidup,” jelas Firli.

“Padahal, aku bukan tipe orang yang mudah menyerah saat ada masalah. Justru, saat ada tekanan aku malah tertantang dengan hal-hal baru yang belum pernah kulakukan sebelumnya,” tutur Firli.

Kerja di Australia kena mental

Baca Halaman Selanjutnya

Halaman 1 dari 2
12Next

Terakhir diperbarui pada 4 Mei 2026 oleh

Tags: AussieAustraliakerja di LNpekerja lepasresignvisavisa habisWHVWNI
Aisyah Amira Wakang

Aisyah Amira Wakang

Jurnalis Mojok.co asal Surabaya. Pernah menempuh pendidikan di S1 Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Menaruh perhatian pada isu pendidikan, sosial, perkotaan, dan kelompok-kelompok marjinal. Di luar rutinitas liputan mengisi waktu dengan berlari dan menjelajah alam.

Artikel Terkait

Anak muda alias gen z dan milenial kini tolak kejar jabatan. MOJOK.CO
Urban

Anak Muda Tolak Karier Elite dengan Jabatan Tinggi, Pilih Side Job yang Jamin Gaji Stabil di Masa Kini

19 Mei 2026
pekerja, gen z, kerja, PNS di desa lebih menyenangkan. MOJOK.CO
Mendalam

Dilema Gen Z: Resign Kerja Kena Mental karena Mulut Ortu dan Tetangga, tapi Bisa “Gila” Kalau Bertahan di Kantor yang Isinya Orang Toksik

4 Mei 2026
WHV di Australia ternyata berat. MOJOK.CO
Sosok

Kerja Mati-matian di Australia, Tabungan Sampai Setengah Miliar tapi Nggak Bisa Dinikmati dan Terpaksa Pulang usai Kena Mental

4 Mei 2026
Lulusan S2 Jepang nggak mau jadi dosen, pilih kerja di Australia. MOJOK.CO
Sekolahan

Lulusan S2 di Jepang, Pilih Kerja sebagai Koki di Australia daripada Jadi Dosen di Indonesia karena Terlalu Senioritas

29 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Anak Muda Ogah Angkat Panggilan Telepon, Dianggap Ganggu dan Cuma Bikin Cemas Mojok.co

Anak Muda Ogah Angkat Panggilan Telepon, Dianggap Ganggu dan Cuma Bikin Cemas

18 Mei 2026
mahasiswa autis Fakultas Peternakan UGM. MOJOK.CO

Mahasiswa Autis UGM Sulit Berinteraksi Sosial, tapi Buktikan Bisa Lulus usai 6 Tahun Lebih dan Buka Usaha Ternak Kambing di Kampung Halaman

20 Mei 2026
Janji Bodong Revolusi Industri: Aplikasi AI Mulai Membantai Pekerja Kreatif Lokal MOJOK.CO

Janji Bodong Revolusi Industri: Aplikasi AI Mulai Membantai Pekerja Kreatif Lokal

18 Mei 2026
Babi, Anjing, dan Pink Floyd Versi Cadas yang Lahir dalam Wujud Perempuan Bernama Gabriëlle.MOJOK.CO

Babi, Anjing, dan Pink Floyd Versi Cadas yang Lahir dalam Wujud Perempuan Bernama Gabriëlle

20 Mei 2026
omong kosong srawung di desa.MOJOK.CO

Omong Kosong Slogan “Srawung” di Desa: Cuma Jahat ke Warga Miskin, Kalau Kamu Tajir Tak Perlu Membaur buat Dihormati

18 Mei 2026
Duta Besar Belanda. dan Jerman terkesan usai bersepeda menyusuri desa di Prambanan, Klaten MOJOK.CO

Bersepeda Susuri Desa di Prambanan Klaten bikin WNA Terkesan Ramahnya Warga Jateng, Sampai Usulkan Kota Ramah Sepeda

21 Mei 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.